
Djalenga menatap langit-langit kamar. benaknya kembali melintas ke ingatan dimana ia ditemui secara pribadi dikediaman mereka disaksikan oleh Inaq-Amak nya.
"Apakah kau mencintai putriku? dengan setulusnya?" tanya Inayah.
Djalenga menelan salivanya sejenak lalu mengangguk. Inayah balas mengangguk-angguk pula.
"Kalau begitu... segeralah meminangnya." pinta Inayah.
"Dalam adat Sasak, saya harus menculiknya dahulu." jawab Djalenga.
"Mengapa bisa begitu?" tukas Inayah mengerutkan alisnya.
"Memang begitu adat di negeri ini, Ibu." jawab Maryati mewakili putranya. "Setelah menculiknya, pihak kami akan memberitahu pihak anda bahwa kami telah menculiknya dan kemudian kita dua keluarga ini pun bermusyawarah untuk menyelesaikan hal tersebut, memutuskan berapa mahar dan biaya nikah lalu dilanjutka dengan nyongkolan atau pelamaran yang disatukan dengan acara pernikahan." tutur wanita parobaya itu.
Inayah mengangguk-angguk pelan lalu tersenyum. "Kalau begitu, lakukanlah besok malam."
"Tapi, ibu, kegiatan memari itu tidak boleh diketahui pihak keluarga perempuan. tapi nyata justru ibu yang menyuruh saya melakukan memari." tukas Djalenga dengan senyum tersipu.
"Anggap saja keluarga Lasantu tak mengetahui, kamu menculik Dinara." balas Inayah memelototkan matanya lalu tersenyum lagi.
"Ah, Ibu. terima kasih telah mempercayakan saya." ujar Djalenga, namun Inayah kembali menggeleng-gelengkan kepala dan jemarinya.
"Sudah ibu bilang, Djalenga." ungkit Inayah, "Ibu masih belum percaya kepadamu sampai kau benar-benar bisa membuktikan bahwa kau layak untuk Dinara."
"Saya pastikan Ibu, sayalah yang pantas disisi Dinara." jawab Djalenga dengan mantap.
"Kalau begitu, Ibu tunggu kau menyatakan niatmu itu." tantang Inayah.
Djalenga mendesah lagi. malam mulai larut dan suara burung malam mulai bersahut-sahutan. menjelang jam tiga dini hari, Djalenga terlelap.
...********...
sekelompok pria berpakaian hitam-hitam menyusup masuk ke dalam bangunan tersebut. seseorang yang memakai penutup wajah itu kemudian mengarahkan anak buahnya menyusuri setiap ujung bangunan untuk menemukan letak kamar yang dihuni oleh targetnya.
sementara itu Inayah yang terjaga langsung bersiaga. ia memicingkan mata sejenak ke arah pintu. kakinya turun dari ranjang dan berdiri tegak disisi ranjang. sejenak ia menatap Dinara yang tertidur lelap.
Inayah kembali melangkah dengan pelan tanpa suara. wanita itu menuju nakas dan mengambil pistol kebanggaannya, Revolver Raging Bull 454 warisan ayahnya yang tergeletak pada holster yang berada di nakas. wanita itu memeriksa peluru dalam pistol itu lalu bergerak menuju pintu.
Inayah membuka pelan daun pintu untuk memastikan keadaan dan...
PRANGGGG!!!!
seketika kaca jendela pecah disusul dengan melompatnya beberapa orang bertopeng. Dinara terbangun kaget mendengar suara nyaring itu namun tak mampu lagi bergerak sebab syok.
Inayah mengambil inisiatif mengarahkan moncong pistolnya dan...
DOR DOR DOR DOR DOR
beberapa orang bertopeng kembali menyeruak masuk kali ini menyandang senjata sejenis batonstick. Inayah melempar pistol yang sudah tak berpeluru. dengan percaya diri, wanita parobaya itu maju merangsek ke arah beberapa orang bertopeng bersenjata tongkat itu.
Inayah mampu mendesak mereka. bagaimanapun di usia yang sudah memasuki setengah abad itu, Inayah masih cakap menggunakan segala macam teknik dalam aliran Koga Koryu Bujutsu. ia adalah murid tunggal Sang Kembang Kematian, Chiyome Mochizuki (Azkiya Fatriyanti Lasantu) selain mendiang suaminya dan adik iparnya.
beberapa kali tinju dan tamparan yang dilayangkan Inayah mengenai beberapa orang itu berhasil membuat mereka kewalahan dan jatuh tak berkutik.
kesempatan itu dimanfaatkan Inayah yang langsung maju menarik dan menyeret Dinara yang ketakutan keluar dari kamar itu. kedua wanita itu menyusuri koridor berupaya menemukan ruangan kamar kedua putranya.
sementara di kamarnya masing-masing, kedua putra Lasantu itu juga mengamuk. Haidar dengan gampang mempecundangi para penyerang tersebut. kemampuan fisiknya yang kuat ditambah darah dewa yang merasuki dirinya membuat Haidar menghabisi semua penyerang itu, melepaskan nyawa-nyawa mereka tanpa ampun.
Aisyah yang ketakutan memeluk Aya Sofia yang duduk meringkuk gemetaran. Haidar yang sudah selesai membunuhi para penyerang gelap itu menatap Aisyah.
"Bawa Sofi keluar. cepat!" seru Haidar.
Aisyah cepat-cepat bangkit dan membawa Sofi keluar kemudian disusul oleh Haidar. ketika mereka keluar, mereka berpapasan dengan Inayah dan Dinara.
"Mama!" seru Haidar mendekat.
"Jangan kesana! Mama baru melumpuhkan beberapa orang disana." jawab Inayah, "Mana Haanish?" tanya wanita itu.
"Mungkin masih dikamarnya. mari kita segera keluar dari bangunan ini. kelihatannya kita sudah dikepung." ujar Haidar yang sudah bertelanjang dada.
mereka mengangguk dan dipandu oleh Haidar, mereka menyusuri lorong demi lorong untuk tiba dilantai satu.
"Jangan gunakan lift." cegah Haidar. "Keberadaan kita akan benar-benar terjebak dalam sangkar dan gampang dibekuk." ujarnya saat Aisyah hendak menuju lift dengan alasan agar perjalanan bisa dipersingkat.
"Jika hanya mengandalkan Chouji, kita tak bisa keluar dari gedung ini." tukas Inayah.
dan sekali lagi, mereka berhenti melangkah karena dihadapan mereka telah menggerombol lagi pasukan bertopeng dan bersenjata gladius, sejenis pedang pendek yang sering digunakan para serdadu romawi kuno.
"Kemarilah kalian!" seru Haidar yang kemudian maju hendak menyongsongnya.
SWINGGG....
tiba-tiba sebilah pedang meluncur dari arah belakang Haidar dan melewatinya kemudian meluncur kearah kerumunan lawan bertopeng yang maju menyerang.
JLEB!
salah satu dari orang bertopeng itu tertancap pedang tersebut. Haidar menoleh ke belakang.
disana nampak Haanish yang berdiri santai sedang Marissa yang telah melapisi tubuhnya dengan armor WM01 tanpa helm telah melindungi Inayah dan lainnya.
__ADS_1
"Lama sekali kau datang!" umpat Haidar.
"Maaf, kami saja baru tiba." kilah Haanish dengan terkekeh. "Bagaimana kalau kita berpesta. masih ingatkah pertempuran kita berdua melawan orang-orang Dracna di pesta aqiqahnya Marinka?"
Haidar tersenyum. "Ayo kalau begitu."
tiba-tiba Haanish maju melesat mengembangkan tangannya dan mengaktifkan armor Ark-Narsys miliknya. seketika armor gaya tosei gusoku menyelimuti tubuh lelaki itu.
"Berubahlah Chouji! tampakkan pada mereka bahwa kamulah Sang Dewa!" seru Haanish.
terhasut oleh ucapan Haanish, Haidar berseru keras mengeluarkan ajian Bahan Penggetar Sukma yang berefek mengguncang dan mengacaukan metabolisme musuh. selesai Haidar berteriak, mendadak tubuhnya berubah bentuk menyerupai humanoid bersisik mirip reptil.
Inayah terkejut melihat perubahan wujud putranya itu, begitu juga dengan Aya Sofia. Aisyah memang terkejut tapi ia sudah bisa memprediksi hal itu. hanya Marissa yang tak terkejut. wanita itu langsung menyelimuti kepalanya pula dengan helm dari armor WM01 miliknya.
sementara makhluk perwujudan Haidar maju mengamuk bersama Haanish yang sudah berbaju jirah samurai kuno dan mengamuk pula mengayunkan kedua pedangnya. semua penyerang tak ada yang bisa berkutik menghadapi sepasang pendekar itu.
Inayah menatap nanar kearah mereka yang diamuk keeua putranya. Marissa menenangkan mertuanya.
"Mama tenang saja. suamiku dan ipa bisa mengatasi mereka. mari sekarang kita harus keluar dari tempat ini. hubungi Polda Nusa Tenggara Barat!" seru Marissa.
Inayah terhenyak. "Ah, kamu benar juga." serunya namun kemudian wanita itu mendesah kecewa. "Ah, sayangnya, gawai Mama tertinggal dikamar."
Marissa tercenung sejenak. "Uhm, benar juga ya? baik kalau begitu, mari kita susuri lagi lorong ini, mencari tangga darurat." ajak wanita itu.
namun baru saja Marissa berbalik, sebuah berkas cahaya tiba-tiba membenturnya membuat wanita itu terlempar menghantam dinding membuatnya menggelosor ke lantai. Marissa pingsan akibat hantaman sinar photon itu. untung saja armor WM01 melindungi tubuh Marissa hingga tak membuatnya cedera.
Inayah menatap tubuh menantunya yang tergeletak diam itu. ia menatap si pelontar sinar photon tersebut. seorang lelaki yang berdiri tegap menyandang sebuah senapan besar. ujung moncong senapan itu mengeluarkan sinar yang berkedip-kedip.
"Siapa kau?!" hardik Inayah yang kemudian bersikap siaga.
"Aku adalah hukuman Tuhan yang dikirimkan kepada kalian." ujar lelaki itu dengan datar.
"Hukuman Tuhan?" ujar Inayah kemudian meludah. "Cih, jangan bercanda! memangnya, kami punya kesalahan apa hingga Allah mengutusmu untuk menghukum kami?"
lelaki itu tersenyum dan melepaskan senapan besar itu ke lantai. ia melangkah dengan santai dan pelan, seakan menikmati setiap langkah yang dibuatnya menciptakan teror yang mengguncang-guncang degup jantung para wanita itu.
"Kedatanganku kemari karena makhluk itu." jawab lelaki itu menganggukkan kepala ke arah Haanish dan Haidar yang sementara bergelut dengan lawan-lawannya.
Inayah sejenak memandang ke belakang tanpa menoleh, kemudian menatap kembali lelaki itu.
"Kau datang... karena... Darah Dewa?" tebak Inayah.
"Tepat sekali Nyonya." jawab lelaki itu dengan senyum. "Biar ku tebak. kau pastilah.... Inayah Amalia Ali, istri pertama dari lelaki bernama Saburo Koga Mochizuki. benar, kan?" tebaknya.
"Tak salah." jawab Inayah. "Dan kau pastilah anaknya Serhey Basarab."
"Dari mana kau mendapatkan informasi tentang kami?" selidik Inayah.
"Mencari keberadaan kalian, bagi kami hanya seperti mencari sepotong roti dalam piring yang tersaji." jawab lelaki itu mengembangkan tangannya. "Kelihatannya sangat tidak sopan jika aku tak memperkenalkan nama."
"Terserah padamu." tukas Inayah.
"Aku, Nikolai Basarab, putra Sergey Basarab, pemilik sah Benteng Poenari di Transylvania." ujar lelaki itu memperkenalkan diri.
"Berarti kau yang membunuh Miriam!" tukas Dinara dengan tatapan benci.
Nikolai tertawa. "Semestinya, anak perempuan itu memberitahukan keberadaan Mahreen." ujar lelaki itu kemudian memicingkan mata ke arah Dinara.
"Apakah kau yang bernama Mahreen Nurmagonegov?" tanya Nikolai.
Dinara tersenyum mengejek. "Kau terlambat menemukannya. Mahreen sudah wafat tadi siang. kami baru saja mengupacarakan kematiannya."
Nikolai terkekeh. "Wah, sayang sekali." lelaki itu kemudian menatap Dinara. "Kalau begitu, aku akan membawamu saja."
ucapan Nikolai membuat Dinara menciut. Inayah langsung memperisainya. "Apa kau pikir gampang membawa lari putriku? kau harus melangkahi mayatku dulu."
Nikolai tertawa."Aku tak keberatan!" ujarnya kemudian kembali maju menghambur ke arah kumpulan para wanita itu.
"HAIDAAARRRR!!!!" teriak Aisyah dengan kencang.
Haidar menoleh dan menggeram melihat Nikolai yang maju hendak menyerang ibunya. seketika makhluk itu mengaum keras dan melesat meninggalkan Haanish yang sedang sibuk menghabisi para begundal yang seakan tak ada habisnya.
Makhluk penjelmaan Haidar itu maju dan menyerang Nikolai. langkah lelaki itu terhenti ketika melihat makhluk penjelmaan Haidar yang maju menghambur ke arahnya.
"Majulah!!!" seru Nikolai.
AAARRRGHHH....
makhluk penjelmaan Haidar itu maju mengayunkan cakarnya mengancam titik-titik pada tubuh Nikolai. dengan gesit lelaki itu menghindari setiap ayunan cakar yang dilayangkan Haidar kepadanya.
kelemahan dari wujud makhluk itu adalah gerakannya yang meskipun cepat namun dapat dinetralisir oleh Nikolai dengan gerakan yang lebih gesit lagi. Nikolai sendiri hanya menyeringai memamerkan kesenangannya bisa bermain-main dengan makhluk hasil pengefektifan sel-sel Darah Dewa.
Haidar tetap tak menyerah. makhluk itu terus saja mengayunkan cakar mendesak Nikolai agar segera meninggakkan tempat itu.
Aisyah memeluk Aya Sofia yang gemetar. jilbaber itu menatapi suaminya yang sedang bertarung seru dengan Nikolai, kemudian tatapan Aisyah kembali beralih ke arah Marissa yang masih pingsan dan Haanish yang kelihatannya tak kerepotan meski dikepung oleh pasukan bertopeng itu.
"Mama... Mari kita meninggalkan tempat ini." ajak Aisyah.
__ADS_1
Inayah menatap menantunya dan akhirnya mengangguk. wanita itu berbalik mendekati Marissa yang pingsan dan mengangkat wanita itu. ia memanggulnya dibantu oleh Aisyah.
mereka meninggalkan tempat itu membiarkan Haidar dan Haanish menghabisi kumpulan orang-orang Dracna tersebut. mereka kembali menyusuri lorong.
sementara Haanish telah menghabisi semua penyerang itu. dinding lorong sudah penuh dengan darah yang membasahi. Haanish menatap ke arah Haidar yang sedang sibuk melayani Nikolai Basarab.
lelaki itu menonaktifkan kembali armornya. ia bergerak menyusul ibunya dan Marissa yang dipapah oleh Aisyah. sementara pertarungan antara Nikolai dan Haidar masih terus berlangsung.
Nikolai tersenyum lalu melompat menjauh. Haidar berdiri tegap seakan menantang lelaki Transylvania tersebut.
"Pergilah! aku memberikan kau kesempatan." ujar Haidar yang bersuara berat.
Nikolai tertawa. "Justru kedatanganku kesini adalah untuk memastikan Darah Dewa kembali ke sisi Klan Dracna." tukas lelaki itu, "Kau tak pantas atas darah istimewa itu."
makhluk itu menyeringai. "Tapi aku sudah memilikinya. kau tak bisa merenggutnya dariku."
"Aku memang tak bisa merenggutnya darimu. tapi, sebagai gantinya, aku akan merenggut orang-orang terkasihmu sebagai pelajaran bagimu bahwa Darah Dewa bukan merupakan hal yang main-main." ujar Nikolai.
"Kau yang harus mampus!" seru Haidar kembali maju.
namun langkah makhluk itu tiba-tiba terhenti saat Nikolai mengembangkan tangan dan seketika tubuhnya berubah menjadi gumpalan asap kemudian memudar. Haidar membelalakkan mata lalu mendongak dan meraung keras.
...*******...
Inayah yang kesulitan memapah Marissa meski dibantu Aisyah, tetap saja memaksakan diri menyusuri lorong itu. dan kembali langkahnya terhenti saat menyadari lorong yang dilaluinya dipenuhi asap pekat.
tiba-tiba dari balik tabir asap yang menggumpal itu muncul sebuah tangan membentuk cakar yang langsung meraih tubuh Dinara.
MAMAAAA....
pekikan Dinara menyadarkan Inayah yang langsung dengan refleks bergerak menahan tubuh Dinara yang melayang tepat disisinya. cengkraman pada tubuh Dinara terlepas. gadis itu terjatuh dilantai.
makhluk dibalik tabir asap itu menggeram dan kembali mengayunkan cakarnya dan berhasil mencengkeram tengkuk Inayah. sedangkan Aisyah dan Aya Sofia dibuat pingsan dengan menghirup asap tersebut. keduanya bersama Marissa yang masih pingsan menggeletak dilantai itu.
"Mama!!!" pekik Dinara.
"Jangan mendekat!" cegah Inayah. "Pergi! pergi!"
Dinara hanya bisa tersedu-sedu tak mampu bergerak dan hanya berteriak memanggil Inayah. wanita itu hanya tersenyum dengan mata yang basah.
"Mama mencintaimu, nak..." ujarnya dengan lirih.
KREKKKK
sejenak kepala Inayah tersentak dan kedua matanya membelalak kemudian tubuh itu lunglai dan jatuh menggelosor dilantai tanpa nyawa lagi.
"Maaaaaa...." pekik Dinara dan saat itu ia merasakan seluruhnya terlihat gelap.
...*******...
Inayah memandang hamparan sabana hijau yang dedaunannya melambai. pandangannya menghampar menatap sejauh mata memandang. tempat itu bagai tak berujung.
dimanakah ini? kok terasa damai?
"Iyun..." sapa seseorang dibelakang Inayah yang membuat wanita itu langsung menoleh membalikkan tubuhnya.
dihadapannya kini berdiri seorang lelaki tampan dengan tubuh ceking yang kekar. permukaan tubuhnya dibalut rajahan irezumi. lelaki itu mengenakan pakaian tipis jenis toga putih yang menerawang. disisi kiri dan kanannya berdiri dua orang wanita. Inayah sangat mengenal ketiganya.
"Ayank..." sebutnya dengan lirih.
"Selamat datang, sayang." ujar lelaki itu, yang tak lain adalah Sandiaga Hermawan Lasantu.
"Halo, Kak..." sapa wanita berstruktur wajah yayoi disisi kanan Sandiaga. dia juga mengenakan gaun tipis warna putih pula. "Ketemu lagi deh. aku sudah kangen sama kakak."
"Rosemary..." gumam Inayah.
"Wah... sudah lama ya? aku sangat penasaran, siapa istri pertamanya Saburo. sekarang aku senang bisa melihatnya dengan mata kepalaku sendiri." ujar wanita disisi kiri Sandiaga. ia berambut merah bata dan matanya hijau kebiruan bagai safir.
"Kau pasti.... Ivanka." tebak Inayah yang masih kagok dengan keadaannya.
Sandiaga melangkah mendekat. "Kenapa? kau kaget?"
dengan jujur, Inayah mengangguk. Sandiaga tersenyum. "Nggak usah kaget. kamu sekarang telah berada di tempat yang penuh kedamaian." lelaki itu memegang kedua pundak Inayah. "Tak ada lagi rasa sakit. tak ada lagi rasa sedih."
"Apakah aku..." ujar Inayah.
"Tugasmu sudah selesai, Inayah Amalia Ali." ujar Sandiaga. "Tak ada lagi yang perlu kau kuatirkan."
"Tapi...." sela Inayah.
"Aku tahu...." jawab Sandiaga. "Tapi, hal itu bukan lagi urusanmu. mereka bertiga akan menyelesaikan semuanya. tak usah risaukan lagi."
Rosemary mendekat lalu memeluk Inayah. "Sekarang Kakak sudah disini. jangan kemana-mana lagi. kita berempat akan menghuni tempat ini sampai waktu yang dijanjikan Tuhan."
perlahan airmata menetes jatuh dari kedua mata wanita itu. kini sadarlah ia bahwa dirinya telah wafat. Rosemary kemudian memeluknya. Sandiaga lalu mengansurkan jemarinya ke arah Inayah.
"Kemarilah sayang.... kita sudah bersama-sama lagi. bukankah ini yang selalu kau rindukan?" ujar Sandiaga kemudian tersenyum.
Inayah kemudian tersenyum. ia menyusuti air mata dari pipinya. "Ya... aku merindukan pertemuan ini." jawabnya kemudian menyambut uluran tangan suaminya.
__ADS_1
Sandiaga melangkah sambil menggandeng pinggang Inayah, sedang Rosemary menggelayut manja dilengannya dan Ivanka melangkah disisi Sandiaga. keempatnya melangkah menyusuri sabana hijau itu hingga wujud mereka menjauh dan mengecil ditelan rimbunan sabana itu. []