
Haidar mengencangkan rahangnya. cerita Aisyah memancing kelelakiannya terhasut. wanita itu sekarang sudah menjadi istrinya, namun masih juga diminati orang lain. lelaki itu menatap Aisyah.
"Katamu, dia hendak mengambil Aya Sofia dari kita? begitu?" tanya Haidar sekali lagi.
"Aku kuatir, ia akan mewujudkan keinginannya." jawab Aisyah dengan wajah cemas.
BUKKKKK!!!
Haidar meninju lantai menyebabkan permukaan lantai itu retak. kekuatan lelaki itu memang luar biasa, apalagi setelah dirasuki darah dewa. mata Haidar yang putih tiba-tiba mulai memancarkan pendaran cahaya kekuningan. rahangnya gemeletuk dan tubuhnya gemetar.
Aisyah dapat dengan jelas melihat murka diwajah suaminya dan jilbaber itu terkejut.
"Sayang. matamu..." tegur Aisyah.
pendaran cahaya kekuningan yang menyelimuti mata Haidar menghilang. lelaki itu menatap istri yang dinikahinya secara siri itu.
"Apa kau bilang tadi?" tanya Haidar seperti tersadar.
"Matamu... mirip mata kucing. tadi aku lihat..." ujar Aisyah dengan heran.
Haidar menepis, "Hanya halusinasimu saja."
"Tapi beneran aku lihat..." ujar Aisyah berkeras.
"Mana Sofi? aku tak melihatnya tadi." tanya Haidar.
"Tidur dikamar. aku melarangnya sekolah hari ini." jawab Aisyah. "Aku masih takut, Joni akan datang mengambilnya." sambungnya dengan galau.
"Aku akan menyuruh Tante Imel untuk menemanimu." ujar Haidar. "Aku yakin laki-laki itu pasti akan datang kembali menagih keinginannya."
"Apakah Tante Imel, mau?" tanya Aisyah.
"Kamu jangan melihat penampilannya yang seperti pelayan gaya belanda itu. gitu-gitu, dia itu murid Mama. ia tingkat tiga sabuk hitam himitsu kempo!" ujar Haidar.
Aisyah terhenyak mendengar keterangan suaminya. pantas saja gaya bicara dan sikap Tante Imel terlihat agak arogan dan sinis. Haidar kemudian mengeluarkan kartu dari dompetnya.
"Pakai saja uang dari sini untuk belanja." ujar Haidar menyerahkan kartu itu kepada Aisyah. "Kalau kurang, minta sama saya.... bukan sama orang lain..." sindirnya membuat bibir Aisyah menjadi manyun.
"Sudah, nggak usah manyun begitu." tegur Haidar. "Bilang saja kalau milikmu itu minta dimasuki. nggak usah pakai-pakai password."
Aisyah mendengus lalu bangkit hendak pergi ketika tangan Haidar menahannya. Aisyah menatapnya.
"Masuk kamar!" perintah Haidar.
Aisyah langsung tersenyum ditengah bibir manyunnya. libido suaminya naik lagi. wanita itu menuruti keinginan suaminya. ia masuk kamar dan Haidar menyusul.
tak lama kemudian terdengar desah napas bercampur lenguhan dan tiga jam kemudian, berakhir dengan auman keras ketika Haidar menumpahkan hasratnya ditubuh Aisyah siang itu.
...*********...
jet pribadi yang membawa Inayah dan Mahreen yang pingsan bersama Haanish dan Marissa tiba di Gorontalo pada pukul 4 sore WITA. pesawat itu menggunakan metode vertical take-off and landing (VTOL) sehingga bisa mendarat di halaman depan kediaman Ali yang memang agak luas.
tim medis yang dihubungi Inayah telah menanti dua jam sebelumnya, dilayani sepenuhnya oleh para pelayan dibawah perintah Tante Imel sebagai kepala pelayannya.
ketika pesawat mendarat, pintu membuka dan tim medis muncul langsung menyambut Mahreen yang masih tertidur pingsan dibaringkan pada tandu stretcher. mereka membawanya ke dalam kediaman Ali.
mereka mendorong tandu itu lalu menaiki tangga menuju lantai dua dan masuk ke kamar Mahreen. sesampainya disana, Mahreen dipindahkan di ranjang. seorang perawat datang mulai memeriksa kondisinya. setelah itu tim medis mulai memasangkan perangkat infus.
Inayah menyerahkan impul kaca berisi cairan obat buatan Ikram kepada salah satu dokter. ia menyerap cairan dalam impul kaca itu dengan alat injeksi lalu menyuntikkan cairan itu melalui alat infus tersebut.
"Bagaimana?" tanya Inayah.
"Nanti kita tunggu reaksinya bagaimana." jawab dokter tersebut. "Siapa yang membuat obat ini?" tanya dokter tersebut.
"Saudara dari iparku, dr. Ikram Williams, pemilik Ikram Pharmaceutic." jawab Inayah.
mata dokter itu membelalak. " Anda berbesanan dengan keluarga Williams itu?"
"Ya, putra kedua saya menikahi putri bungsunya Akram Williams." jawab Inayah.
"Betapa beruntungnya ibu." puji dokter itu.
"Sudahlah, bagiku itu tak penting." tepis Inayah. "Mereka bukan orang lain bagiku." wanita itu menatap dokter. "Maukah anda menjagai anak perempuan saya ini?"
"Benarkah ini anak perempuan anda?" pancing dokter. "Setahuku tak ada tanda kemiripan anda diwajahnya. wajah anda kearaban sedang perempuan ini lebih ke struktur wajah orang eropa."
"Sudahlah, itu tak penting." ujar Inayah lagi. "Bagaimana caranya anda bisa membuatnya siuman. aku sudah memberikan anda salah satu obat tinggal bagaimana caranya Mahreen bisa bangun."
dokter itu mengangguk. "Kita doakan bersama bu."
__ADS_1
Inayah mengangguk pula lalu beranjak meninggalkan kamar tersebut. wanita itu menyusuri lantai dua dan menuruni tangga menuju lantai satu. diruang keluarga telah menanti Haanish dan Marissa.
pemuda itu berdiri menyambut Inayah. "Bagaimana keadaan Mahreen, Ma?" tanya Haanish.
"Belum sadar sepenuhnya. kita berdoa saja, semoga anak itu cepat siuman." jawab Inayah.
"Ma... bagaimana jika Chouji berkeras hendak menikahi Mahreen?" pancing Haanish.
"Tidak boleh! dia tak boleh menikahi perempuan itu. bencana besar akan menimpa keluarga kita jika hal itu terjadi!" tegas Inayah. "Bagaimanapun caranya, cegah Chouji menikahi Mahreen."
"Kalau begitu, segera nikahkan dia dengan orang lain Mama." desak Haanish. "Dengan begitu, Chouji tak akan lagi memikirkan Mahreen."
"Lalu siapa perempuan yang harus kunikahkan dengannya? Mama sekarang sangat pusing memikirkan Chouji yang begitu keras kepala akhir-akhir ini." keluh Inayah sambil mondar-mandir diruangan itu.
"Ada perempuan yang sangat cocok dengan Chouji, Ma." usul Haanish. "Wanita itu sangat dewasa dan putrinya sangat disayangi Chouji."
wajah Inayah langsung cerah. "Aisyah! ya! Aisyah!" seru Inayaj kemudian menepuk pundak Haanish. "Kau cerdas, nak! kau cerdas. ya, perempuan itu. aku akan segera menikahkannya dengan Chouji!"
"Apa Mama nggak terganggu dengan status jandanya?" pancing Haanish.
"Hah! Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam menikahi Sayyidah Khadijah al-Kubra yang janda, tak ada yang memprotes." ujar Inayah dengan wajah agak kesal.
Haanish kali ini diam saja dan tersenyum. Mama, nggak usah kuatirkan apapun... mereka memang sudah menikah... meskipun secara siri...
Inayah kemudian menatap sepasang suami istri itu. "Kalian sementara tinggal disini ya? temani Mama dan Mahreen." pinta Inayah.
Haanish menoleh kepada Marissa. istrinya langsung mengangguk dan menyunggingkan senyum lebar. Haanish menatap Inayah.
"Oke Ma... kami menetap disini. setelah urusan selesai, kami akan langsung ke jepang." ujar Haanish dengan mantap.
Inayah mengangguk sambil tersenyum.
...******...
Denada menjalani hari-harinya kini bersama Wijaya Tanuwirdja. ia hanya mengikuti saja keinginan kedua orang tuanya. keberadaan Wijaya Tanuwirdja mulai jarang hadir sebab seminggu lagi pernikahan akan dilaksanakan.
gadis itu kini lebih sibuk memeriksa beberapa kado dan hadiah yang diperuntukkan oleh keluarga Tanuwirdja. besan mereka itu memang termasuk keluarga tionghoa yang berpengaruh, dekat dengan kelompok Sembilan Naga yang menguasai jaringan ekonomi negara.
gadis itu mengenakan gaun merah, hadiah dari Wijaya sebagai bentuk persiapan dalam melangsungkan pernikahan nanti. tak lama muncullah Johannes Wie, sang ayah.
"Saya sudah mantap, A Thia." jawab Denada dengan pendek.
Johannes Wie mengangguk-angguk paham. ia mendesah pelan lalu menatap kembali putrinya. "Kau tak marah lagi kepadaku?"
Denada hanya tersenyum datar. "Apa yang harus kusesali, A Thia? semuanya telah terjadi." jawabnya dengan nada getir, "Kami berdua telah menyerah pada jalan masing-masing."
"Undangan sudah tersebar. dalam seminggu keluarga besar kita sudah mempersiapkan ini semua. sebentar lagi, kau akan menjadi menantu keluarga Tanuwirdja." ujar Johannes dengan bangga, "Keluarga lain tentu akan iri dengan kita yang mendapat kehormatan ini."
"Benarkah undangannya sudah disebar?" tanya Denada sekali lagi.
"Tentu saja. semua keluarga tionghoa di Gorontalo telah ku undang semua." jawab Johannes Wie dengan heran.
"Undangan untuk keluarga Lasantu?" tanya Denada.
"Untuk apa lagi mengundang mereka, Denada?" tanya Johannes dengan nada sabar. "Toh mereka tak akan menyanggupi undangan ini. keluarga kita dengan mereka sudah terlibat dalam perseteruan."
"Bagaimanapun... mereka harus diundang, A Thia." sahut Denada bersikeras. "Agar tak ada ganjalan dihati masing-masing keluarga."
"Baiklah," jawab Johannes pada akhirnya. "Aku akan mengirim mereka undangan melalui seseorang."
Denada menggeleng. "Tidak. Aku yang akan mengantar undangan ini secara langsung."
"Mana boleh begitu?" bantah Johannes. "Aku kuatir, Haanish tak akan berela hati melihatmu membawa kertas undangan itu."
Denada tersenyum. "Haanish nggak sepicik itu, A Thia. aku mengenalnya dengan baik."
Johannes menatap lama kepada Denada hingga akhirnya ia menyanggupinya. "Tapi aku mau Jaques menemanimu. jika kau tak mau, maka lebih baik undangan kepada mereka tak diberikan." tandas Johanes.
Denada menarik napas lalu mengangguk-angguk. "Baiklah, A Thia. yang penting, amanat keluarga tersampaikan. aku hanya tak ingin ada ganjalan didua keluarga ini nanti."
Johanes Wie mengangguk-angguk lalu pergi meninggalkan Denada.
...********...
Haanish sedang menyusuri jalanan perkebunan saat seorang pelayan mendatanginya. Haanish menyambutnya.
"Ada apa?" tanya Haanish dengan lembut dan santun.
__ADS_1
"Ada Denada, datang berkunjung." ujar pelayan itu memberitahu. "Sekarang diterima oleh Nyonya diruang tamu."
"Nyonya? Mama?" tebak Haanish.
"Nyonya muda. istrinya Tuan muda." jawab pelayan itu.
"Ayo kita kesana." ajak Haanish.
keduanya melangkah cepat menyusuri jalanan perkebunan. mereka tiba di beranda belakang dan langsung masuk. sementara itu Marissa dan Denada nampak akrab bercakap-cakap.
"Rupanya kalian sudah menikah?" ujar Denada lalu tertawa pelan. "Keterlaluan Haanish... dia tak memberitahuku."
Marissa hanya tersenyum, "Mungkin dia tak sampai hati memberitahu anda. bukankah kalian dulu memiliki suatu hubungan? namun hubungan itu ditentang keluarga anda."
Denada mengangguk-angguk. "Anda bahagia dengannya?"
"Kebahagiaan itu dicari, Nona. bukan diraih." jawab Marissa. "Setiap kita punya pilihan-pilihan untuk mencari kebahagiaan itu. kalau kau tanya perasaan pribadiku, tentu aku akan mengatakan bahwa aku bahagia, namun entah dengan suamiku itu. aku pun tak memaksakan dirinya untuk melupakanmu... perasaan itu tidak bisa dipaksa... tapi, aku yakin... aku akan bisa membuatnya mencintaiku sepenuhnya." pungkas Marissa dengan mantap dan tersenyum lebar.
"Kau pun cantik... Haanish tak akan menyesal beristrikan kamu." ujar Denada.
Marissa baru saja hendak menjawab ketika Haanish muncul. ia berdiri menatap wajah wanita yang pernah singgah dihatinya itu.
"Hai... Haanish..." sapa Denada dengan lembut.
"Hai juga..." balas Haanish. "Kau sudah bertemu dengan istriku. bagaimana kabar Wijaya?"
"Seperti biasa. ia mengurusi bisnis keluarganya." jawab Denada dengan senyum.
masih adakah aku dihatimu... Haanish????
Haanish mengangguk-angguk lalu menatap Marissa sejenak. "Maukah kamu menjamu tamu kita?" pinta Haanish. Marissa tersenyum lebar.
"Tentu... " ujar Marissa langsung bangkit dan melangkah meninggalkan ruang tamu itu.
Haanish mengekori punggung istrinya lalu menatap Denada dan duduk di sofa. "Katakan padaku, ada perlu apa kau mendatangi kediaman ini?"
"Aku mencarimu ke kediaman Lasantu. tapi Bik Inah mengatakan kau berada disini... makanya aku mendatangimu disini." jawab Denada. "Kau.... kau tak merindukanku, Haanish?" tanya Denada dengan lirih.
"Apa kau mau aku mendapatkan dosa, merindukan istri orang lain? aku nggak sebejat itu." jawab Haanish. "Kau membuat pilihanmu Denada. untuk apa kau kirimkan aku password kita berdua hanya untuk melihatmu dilamar oleh Wijaya?" sindir Haanish.
Denada tersenyum. "Maafkan aku. kita berdua memang tak ada pilihan selain..."
"Selain menuruti saja?" sela Haanish. "Kau yang tak punya pilihan, Denada." pemuda itu diam sejenak. "Tapi biarlah. itu sekarang adalah masa lalu.... katakan padaku, ada perlu apa kau mendatangiku?"
"Untuk menyerahkan ini." jawab Denada kemudian menyodorkan sebuah kertas berwarna merah yang dihias warna emas.
Haanish menerima kertas undangan itu dan membukanya. ia menganggukkan kepala dua kali lalu melipat kembali kertas itu.
"Kau akan datang?" tanya Denada.
"Tentu.... bukankah aku akan melepaskanmu ke pelukan Wijaya?" jawab Haanish dengan senyum namun Denada dapat melihat urat timbul yang muncul ditengah dua alis pemuda itu, pertanda sebenarnya Haanish menahan emosinya.
Denada mengangguk-angguk. "Baiklah... aku tunggu kedatanganmu... bawalah istrimu ke pesta kami."
"Itu bisa kudiskusikan nanti dengan istriku." ujar Haanish.
tak lama kemudian, muncul Marissa membawa baki berisi tiga cangkir teh bersama setoples kue karawo. gelas itu diletakkan dimeja bersama setoples itu.
"Silahkan dinikmati. saya hendak ke belakang sebentar." ujar Marissa hendak pamit.
"Nggak, nggak... kau duduk disini bersamaku." pinta Haanish.
Marissa tersenyum lalu duduk disisi suaminya. Haanish mengacungkan telunjuknya. "Tunggu sebentar...." ujarnya kemudian bangkit dan melangkah meninggalkan Marissa dan Denada diruang tamu.
Denada menatap lagi Marissa. "Dia masih marah padaku."
Marissa tertawa, "Tentu saja... kamu mengkhianatinya."
"Aku tak punya lagi cara lain." kilah Denada. "Jika aku tak mengikuti kehendak ayahku, mereka pasti akan menekan keluarga Lasantu melalui Buana Asparaga Tbk."
"Buana Asparaga Tbk sudah berdiri sejak tiga generasi, Nona. ia tak akan gampang tumbang." jawab Marissa dengan tegas. "Tapi, kamu menumbangkan cinta kalian demi Wijaya. ah, itu bukan wilayah bahasanku... lebih baik aku diam saja. maafkan aku." ralat Marissa lalu diam lagi.
Haanish muncul membawa sebuah dokumen. ia menyerahkan dokumen itu pada Denada.
"Apa ini?" tanya Denada.
"Kebenaran yang dicari oleh ayahmu! kau akan menemukan kebenaran tentang salah satu leluhurmu... Wie Jiao..." ujar Haanish.
Denada mengangguk lalu bangkit. "Baiklah... aku akan memberikan ini pada A Thia. semoga dia bisa paham."
Denada pamit lalu melangkah meninggalkan ruangan tersebut sambil membawa dokumen yang diberikan Haanish. sepeninggal Denada, keduanya saling berpandangan.
"Ke kebun yuk." ajak Haanish. "Kita melihat-lihat pemandangan sekaligus memanen buah jika ada yang masak."
__ADS_1
"Ayo!" tanggap Marissa.
keduanya bergandeng tangan dan melangkah meninggalkan ruangan itu. []