The Blood Of God

The Blood Of God
PLAY FOR ME # 28


__ADS_3

Marina menatap sepupunya itu. "Maksudmu?... dia... menyukaiku?"


Haanish mengangkat alis dan mengangguk-angguk. Marina menghela napas lalu mengangguk pelan.


"Awal yang bagus untuk memulai hubungan." gumam Marina.


Haanish menautkan alisnya, "Marina... jangan main-main dengan sebuah hubungan." tegur Haanish, "Konsekuensinya besar. lihat apa yang pernah terjadi pada kau dan Chouji."


"Itu bukan konsekuensi dari sebuah hubungan, Eiji. tapi itu adalah solusi. aku dan Chouji tak ditakdirkan bersama. jika memang Mikail memiliki perasaan terhadapku... aku akan menjajakinya, secara syar'i tentunya." ungkap Marina.


"Secepat itu kau melupakan Chouji?" desis Haanish.


Marina melengos sejenak. lalu menatap kembali pemuda berambut panjang setengkuk itu. "Eiji... kau menyayangiku sebagai sepupumu, kan?"


"Tentu. kau keluargaku. mengapa kau tanyakan hal semacam itu?" tanya Haanish tak paham.


"Kau ingin aku bahagia, kan?" pancing Marina dengan memelas. Haanish mulai paham arah pembicaraan itu. ia diam. Marina mencondongkan tubuhnya ke arah sepupunya itu. "Kau ingin aku bahagia, kan?"


"Aku paham..." ujar Haanish pada akhirnya. "Baiklah... bagaimanapun, kau berhak bahagia."


Marina tersenyum dengan mata yang basah. "Terima kasih." ujarnya dengan lirih.


"Tapi aku tak mau kau melakukan pendekatan duluan." tandas Haanish. "Ingat, Marina. keberadaan kita disini karena urusan perusahaan. bukan urusan pribadi. jika si Mikail memang memiliki perasaan kepadamu, dia akan melakukannya dengan cara laki-laki. aku juga akan mengawasinya untuk memastikan kau tak akan kecewa untuk kedua kalinya."


"Terima kasih, Eiji... kau memang seperti ayah kedua bagiku. hanya kau yang mengerti perasaanku. terima kasih. aku akan mengikuti alur yang kau inginkan." ujar Marina dengan lembut. Haanish tersenyum.


"Bagiku... kau adalah adik perempuan yang tak kumiliki lewat Ibu maupun Mama... itulah kenapa, aku sangat protektif kepadamu." ungkap Haanish lalu melengos menatap pemandangan diluar jendela mobil. "Maafkan jika sikapku, agak merepotkanmu."


Marina tersenyum. "Bagaimana dengan Marinka dan Marissa? apakah kau tak akan seprotektif itu kepada mereka?" pancing gadis itu.


Haanish tertawa, "Mereka sudah punya Om dan Bibi. aku nggak perlu terlalu protektif seperti itu." pemuda itu kemudian menatapi Marina. "Tapi kenapa kau mengungkit keduanya dihadapanku?"


"Keduanya menyimpan perasaan yang sama kepadamu." jawab Marina dengan jujur membuat Haanish tertawa lagi.


"Aku tak mau mengulangi tragedi Teri Meri Prem Kahani jilid dua." ujar Haanish. "Aku sudah menyaksikan betapa menderitanya kalian berdua. aku tak mau terseret hal semacam itu.... itu sangat mengerikan."


Marina kembali tersenyum. "Kuharap, mereka berdua tak akan mengalami apa yang kualami sebelumnya."


kendaraan itu terus melaju menuju Moskwa. Haanish menatap Marina. "Lalu, berapa lama kamu akan berada disini? jangan katakan padaku, bahwa kau akan ikut bersamaku ke Dagestan." selidik Haanish.


"Aku akan mengawasimu dari Moskwa. aku akan menginap di Four Season." ujar Marina menyebut salah satu hotel elit di kota Moskwa, beberapa blok dari Kremlin (gedung pusat pemerintahan Negara Federasi Rusia). "Disana aku akan memantaumu. mikrochip dalam tubuhmu itu terhubung pada piranti digawaiku, dan Arklab. jadi, bukan hanya aku yang memantau segala perkembangan misimu, melainkan Abi juga."


"Oh, baguslah kalau begitu. kupikir, aku akan bergerak sendiri." ujarnya lalu tersenyum semangat. "Tapi tenanglah. aku tak akan melibatkan kalian dalam pertarungan ini. aku akan memastikan segala hal yang berhubungan dengan misi akan terlaksana dengan baik."


"Berjuanglah!" ujar Marina.


"Ganbatte.." balas Haanish kemudian berbisik menggoda Marina. "Begitu juga dengan... cintamu..."


"Aaaaa.... Eiji, apaan sih?!" sergah Marina dengan malu lalu melengos menyembunyikan senyumnya dengan menatap pemandangan yang terpampang diluar jendela.


...*******...


Wie Fen Ying menggebrak meja. rahangnya mengencang dan matanya melotot marah. dihadapannya Denada duduk bersimpuh dengan gemetar. perempuan itu dikepung begitu rupa oleh keluarganya.


"Bukankah Papa sudah bilang padamu, Aanchi?! lelaki itu nggak pantas untukmu. Tan Chen Tung lebih pantas untukmu! dia dan kamu sebangsa dan sesuku pula. Keluarga Tan juga sudah banyak memberikan sumbangsih bagi keluarga kita. apa yang kurang lagi baginya dimatamu?!" hardik Wie Fen Ying.


Denada masih diam. Wie Fen Ying, yang bernama lain Johannes Wie itu menghela napas lalu berkata lembut. "Apalagi dia tidak seakidah denganmu." tambah lelaki parobaya itu. "Apakah kau ingin mempersulit hidupmu sendiri dan keluargamu?"


Denada mengangkat wajah. "A thia... mengapa A thia selalu menempatkan uang diatas kasih sayang? apakah rasa cinta tak ada artinya bagi A Thia?"


"Dalam keluarga Wie, cinta adalah nomor dua nak." jawab Johanes Wie kepada putrinya. sang ibu, Suriyati Wang, kemudian menyahut.


"Membangun rumah tangga memang membutuhkan cinta." sahut Suriyati Wang, "Namun untuk menjaga cinta itu tetap utuh, harus dibutuhkan uang dan kekayaan materi, nak." Suriyati menggoyang-goyangkan telunjuk. "Sebab untuk memenuhi kebutuhanmu... membeli segala kebutuhan dipasar, nggak pake kata l love you... kau paham?"

__ADS_1


"Tapi mengapa harus Wijaya Tanuwirdja?" protes Denada.


"Aanchi... dengarkan Papa." tekan Johanes Wie. "Pernikahan kamu dengan Wijaya akan melunasi semua hutang budi kita kepada keluarga itu. dan dengan itu pula, kau bisa menolong perusahaan kita terus mendapat suntikan dana dari mereka."


"A Thia sama saja dengan menjualku kepada keluarga Tanuwirdja!" protes Denada dengan wajah marah. "Bukankah sebagai anggota keluarga Wie, aku juga punya hak berpendapat. mengapa keinginanku tak hendak kalian dengarkan?! keadilan macam apa ini?!"


Kakak lelaki Denada, Jaques Wie berdiri. "Berarti kau hendak menentang keputusan keluarga?! kau hendak mendurhakai A Thia dan A Nia?! kau taruh dimana otakmu hah?!" sergah lelaki itu yang sudah muntab mendengar kalimat penentangan dari adiknya.



"Koko, aku bukan menentang, tapi aku memprotes sikap kalian yang tak mengijinkan aku mengeluarkan pendapatku sendiri." sahut Denada dengan tegas. "Memangnya kenapa dengan Haanish? apa hanya karena dosa leluhur itu membuat dia tak terterima di keluarga ini?! apa hanya karena dia keturunan dari Mamoru Minamoto, algojo yang diperintahkan Jenderal Yoshijiro Umezu untuk membantai warga Nanjing, membuatnya memiliki cacat sedemikian besar dimata keluarga ini?"


"Itu karma yang selalu berulang, Aanchi!" sela Johanes Wie. "Perlu kau tahu, Mamoru Minamoto dulunya menjalin hubungan cinta dengan salah satu leluhur kita bernama Wie Jiao. dia salah satu kapten dalam pasukan kekekaisaran jepang yang berdiam di Kwantung. namun tiba-tiba dia membunuh Wie Jiao bersama warga lokal lainnya atas perintah Yoshijiro Umezu berdasar instruksi Pangeran Asaka." Johanes kembali mencondongkan tubuhnya. "Sekarang katakan padaku Aanchi. apakah cinta bisa mengekalkan sebuah hubungan?"


"Dan kau tahu bagaimana ia melakukannya?" pancing Suriyati Wang. "Sambil tertawa tak henti-hentinya, Mamoru Minamoto menggunakan pedangnya, Tamashi Koi*) ia membantai semua warga lokal dilapangan. terakhir, ia membunuh Wie Jiao dengan pedang itu."


"Kabarnya setelah itu tak diketahui lagi. barusan dari kerabatku yang bekerja di Departemen Arsip Nasional di Nanjing, aku diberitahu kalau ia dipindahkan ke Armada Laut Kedua di Sulawesi." sahut Johanes, "Dia menjalin hubungan dengan seorang jawara, bekas pasukan rimba bernama Ridhwan Mantulangi. paska kemerdekaan, ia kembali ke jepang dan setelah itu kabarnya tak diketahui."


Suriyati mengeluarkan sebuah forokopian berkas. ia menyerahkan berkas itu pada Denada. "Ini kuberikan padamu sebagai salah satu fakta, agar matamu melek dengan kenyataan sesungguhnya tentang siapa pemuda yang kau cintai itu."


Denada mengambil berkas tersebut. itu adalah salinan kartu keluarga, akta nikah, dan beberapa berkas lain yang berhubungan dengan keluarga Lasantu dan Mochizuki.


"Aku punya kolega di dukcapil dan kedutaan jepang di Makassar." ujar Johanes. "Sekarang. kau harus paham, mengapa kami menentang hubungan kalian?"


Denada mencampakkan surat-surat itu. "Aku tetap pada keputusanku. aku tetap mencintai dia. kalian tak bisa melarangku mencintai lelaki yang kucintai."


semua yang mendengarnya kontan murka seketika. Johanes bahkan bangkit hendak menampar putrinya jika saja Denada tidak menudingkan telunjuknya ke wajah ayahnya.


"Jangan berani menamparku A Thia!!" Denada kemudian menatap semua anggota keluarganya. "Kalian tidak akan bisa melarangku. aku dan Haanish sudah terikat dalam tali perkawinan."


"Apa?! tali perkawinan katamu?!" pekik Johanes Wie dengan kaget. Denada tersenyum sinis.


"Ya A Thia... aku telah menyerahkan diri kepadanya." jawab Denada dengan senyum puas.


Denada memekik saat tamparan keras yang dilayangkan sang ayah menghantam pipi gadis itu. ia terjengkang. baru saja hendak bangkit, gadis itu terjengkang lagi saat Jaques, kakaknya melayangkan tendangan kedada perempuan itu.


"Pu Tuo, jangan lakukan itu!" seru Suriyati, menyebut Jaques dengan nama tionghoanya.


Jaques terpaksa menahan amarahnya membiarkan Denada bangkit dan duduk memegang perutnya yang terasa mulas. Johanes menatap putranya. "Pingit anak ini! aku tak mau dia keliaran lagi sampai tiba hari pernikahannya dengan Tan Chen Tung."


berbekal perintah, Jaques akhirnya menyekap dan memasung Denada di gudang. sejak itu Denada tak bisa lagi menghirup udara bebas demi cintanya yang terlanjur melekat kepada Haanish Lasantu.


...******...


Haidar mengajak Aya Sofia memasuki dojo keluarga itu. Aisyah sendiri membiarkan saja. toh putrinya begitu akrab dengan lelaki kekar itu.


Aya Sofia sendiri terpesona melihat pemandangan dojo itu. meatanya tak henti-hentinya menatapi sekitaran ruangan yang lebarnya dua kali ukuran kelas belajar. tatapan anak itu terhenti pada Oyoroi yang terdapat di sisi papan mufudakake. tatapannya terarah penuh kekaguman. Haidar menyadari kekaguman yang terpancar dalam tatapan anak itu. didekatinya Sofia.


"Kamu suka dengan benda ini?" pancing Haidar.



"Apakah ini patung, Om?" tanya Aya Sofia.


"Ini baju besi jaman dulu, lalu disusun membentuk mirip patung orang." jawab Haidar.


"Lukisan di rompi itu bagus ya, Om?" tunjuk Aya Sofia pada lukisan kamon keluarga Mochizuki. Haidar tersenyum lalu berlutut dihadapan Aya Sofia.


"Kamu suka gambar itu?" tanya Haidar.


Aya Sofia menatap Haidar lalu mengangguk. Haidar tersenyum dan mengangguk-angguk.


"Insya Allah, nanti Om hadiahkan gambar itu sama kamu." kata Haidar dengan tegas.

__ADS_1


raut kegembiraan seketika terbit diwajah Aya Sofia. "Benarkah Om?" pekiknya. Haidar tersenyum dan mengangguk-angguk. seketika Aya Sofia langsung menghambur memeluk Haidar.


"Makasih Om!!!" seru Aya Sofia dengan gembira.


bersandarkan pada bilah pintu shoji, Aisyah tersenyum kearah dua orang itu. terpancar benar aura kebapakan Haidar yang protektif terhadap Aya Sofia.


*andaikan dia, ayah dari putriku....


deg...


ada apa ini?! kok*?!


Aisyah tersentak sendiri dan seketika wajahnya memerah. lebih merona lagi ketika tatapannya beradu dengan tatapan Haidar yang tanpa sengaja juga ikut menatapnya. seketika Aisyah langsung melengos dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu sambil menekan pipinya yang sudah bersemu merah sejak itu.


...******...



Republik Dagestan adalah satu dari sekian republik yang bergabung dalam kedaulatan federasi Rusia. uniknya, warga republik ini didominasi benar oleh orang-orang beragama islam aliran mazhab syafi'iyyah.


Haanish tiba di Makhachkala, ibukota republik Dagestan. langkah pemuda itu terayun santai. ia menyandang tas selempang merk Navy Club dan gulungan kain yang menyembunyikan Si Penebas Angin diikatkan pada bagian lain dari tas selempang itu.


pemuda itu mulai mencari-cari info tentang keluarga Nurmagonegov. pemuda itu, berdasarkan petunjuk beberapa orang, menemukan letak kediaman keluarga Nurmagonegov. ia kemudian mengetuk pintu rumah tersebut.


tak lama kemudian pintu membuka dan muncullah seorang lelaki tua yang menatap heran penuh curiga kepada Haanish. dengan sopan, pemuda itu menyapa menggunakan bahasa inggris.


"Assalamualaikum... Kek..." sapa Haanish.


"Wa alaikum salaam..." balas kakek itu masih tetap menatap pemuda dihadapannya namun sudah mau mengulurkan tangan.


"Saya, Haanish Hermawan Lasantu, dari Gorontalo, Indonesia." ujar Haanish mengulurkan tangan menjabat tangan kakek itu. "Saya teman dari Mahreen Nurmagonegov, dan dia saat ini tinggal diKediaman kami si Gorontalo."


mendengar nama Mahreen, kakek itu terkejut dan hendak menutup pintu, namun keburu ditahan Haanish. keduanya saling berkutat dan bertahan.


"Kakek, ada apa ini? tolong jelaskan!" pinta Haanish.


"Kami tidak mengenal siapa itu Mahreen Nurmagonegov! pergilah dari saya." seru kakek tersebut.


"Tapi kalian mengenalnya! buktinya Kakek tak mempersilahkan aku untuk masuk!" sergah Haanish.


"Pergilah anak muda! jangan pernah mencari tahu!" seru kakek itu. dengan jengkel, Haanish mendorong dengan sekuat tenaga hingga kakek itu terpental sejauh lima meter dan Haanish masuk dengan cepat.


tiba-tiba Haanish merasakan serangkum hawa menusuk kepermukaan tengkuknya. Haanish memiringkan kepalanya dan sekepalan tangan yang menggenggam belati, lolos tak berhasil menikam kepala pemuda itu.


BUAAGHHH....


dengan cepat Haanish menghujamkan ushiro enpi uchi tepat menghantam uluhati lawan hingga terkena stun jatuh seketika. seketika muncul diruangan itu beberapa orang pria menggunakan belati. mereka menatap Haanish dengan tatapan pembunuh.


Haanish memicingkan mata mencermati penampilan mereka dan sebuah ikon nampak disemua lelaki itu. mereka mengenakan sebuah liontin bercetak naga gaya eropa pada sebuah logam baja hitam.



"Kalian dari klan Dracna rupanya..." gumam Haanish dengan senyum yang sulit diartikan lawannya.


"Serahkan Darah Dewa kepada kami." seru salah satu lelaki itu. Haanish tertawa.


"Dah delapan juta delapan ratus delapan puluh delapan ribu delapan ratus delapan puluh delapan kali aku mendengar istilah tersebut, sejak jaman ayahku masih hidup..." jawab Haanish, "Dan sekarang kalian datang meminta lagi benda yang sama? mana kutahu dimana benda itu? kalian salah alamat menanyakannya!"


"Kalau begitu, kau harus mati, menyusul Jabir Nurmagonegov dan keluarganya!" seru si kakek itu.


Haanish terkekeh, "Kakek... rupanya kau pengkhianat ya?" geramnya sambil melepaskan tas selempang itu dan mengeluarkan Si Penebas Angin dari dalam gulungan kain, tapi Haanish tak menghunusnya.


Kakek itu terkekeh. "Orang yang bijak, tahu kemana angin bertiup, nak." ejeknya.

__ADS_1


"Meskipun harus menaruh kehormatanmu serendah tanah?" ujar Haanish, "Kalau begitu, aku tak akan segan berlaku bengis kepada kalian semua!"[]


__ADS_2