The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 32


__ADS_3

malam itu adalah perayaan Maulid Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam. dari menara masjid dikawasan Puri Manggis Residence itu terdengar jelas suara-suara lantunan syair dikili yang dibacakan hingga semalam suntuk oleh kaum-kaum tua.


tradisi memperingati hari kelahiran Sang Nabi yang legendaris itu disebut walima, jika diartikan menurut bahasa aslinya, arab, berarti adalah pesta. dan memang walima sebenarnya perayaan mirip pesta adat untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wa Salam.


perayaan ini memang sudah dilaksanakan sejak abad ke 17 ketika tanah Gorontalo diislamkan. para kaum tua yang sangat teguh memegang adat itu melestarikan adat budaya ini sebagai bentuk penghargaan atas warisan masa lalu.


hal yang paling menarik adalah pembuatan tolangga yang meniru bentuk-bentuk seperti kapal laut atau pesawat terbang. dalam tolangga kemudian diletakkan berbagai macam kue khas seperti kolombeng, curuti (kue cucur), buludeli, wapili (kue wafel sederhana yang dibuat dari adonan tepung dan gula merah) dan beberapa sisir pisang. kemudian tolangga itu diarak ke masjid untuk didoakan oleh imam dan para penghulu agama kemudian dibagi-bagikan kepada fakir miskin dan masyarakat sekitar.


sekarang bentuk tolangga mulai ditinggalkan karena disinyalir mengikuti gaya upacara talabuik di Sumatera Barat yang beraliran syi'ah. untuk menyiasatinya, pemerintah propinsi mengusulkan mengganti tolangga dengan toyopu, yaitu loyang berukuran besar baik dari bahan plastik atau logam seng yang di isi beberapa kue khas dan dihias dengan berbagai panji (umbul-umbul) kertas warna warni dan bendera Merah-Putih.


Buana Asparaga Tbk sebagai perusahaan besar dan terkenal di Gorontalo, ikut andil dalam setiap kegiatan adat yang berlangsung. sejak masa kepemimpinan Adnan Lasantu sebagai pendiri dan pemilik Buana Asparaga terdahulu hingga kini perusahaan itu dipegang Haidar, tak pernah absen sebab telah menjadi tradisi.


Buana Asparaga akan tetap menjadi pemasok tolangga dalam kegiatan walima (maulidan) hingga sampai Allah menentukan ajalnya tiba (bangkrut) ....


itu adalah kata-kata Adnan yang kini menjadi sabda bagi semua keturunannya atau pemimpin Buana Asparaga untuk tetap menjalankan tradisi tersebut.


Inayah sebagai pimpinan dewan direksi memerintahkan para pengrajin untuk membuat tolangga berbentuk kapal pinisi besar, lengkap dengan layarnya yang didibuat dari kain dan dicetak lambang perusahaan Buana Asparaga Tbk. sedangkan diujung tiang dipasangi bendera Indonesia dan bendera propinsi Gorontalo. didalam tolangga itu dijejali dengan berbagai jenis kue tradisional Gorontalo, hingga penuh tak bersisa ruang kosong dalam geladaknya.


dengan mobil truk, tolangga tersebut dibawa ke Masjid Agung Baiturrahim Gorontalo untuk diberkati. masyarakat paling menunggu bingkisan dari perusahaan ini sebab isinya yang lebih banyak dan bermutu. kuenya tidak asal dibuat. tapi benar-benar kue khas kelas satu.


Haidar sudah menekankan untuk jangan pernah berlaku kikir dalam melakukan sedekah. ia mengancam para karyawannya jika kedapatan kikir dalam bersedekah, ia tak segan memotong gaji dan tunjangan para karyawannya. tapi, meski diancam atau tak diancam, tak ada satupun karyawan yang melanggar kesepakatan itu. sebab mereka tahu benar manfaatnya. kehidupan mereka terasa lapang dan Buana Asparaga tak pernah kesepian job kerja, baik dari para investor, para parnert kerja dan pemerintah.


...******...


Inayah duduk diberanda depan, bersama-sama Aya Sofia. dua perempuan beda generasi itu menikmati suasana malam yang syahdu, sambil menikmati alunan lagu dan lirik-lirik dikili yang dibahasakan dalam logat Gorontalo yang halus.



"Umma..." panggil Aya Sofia.


"Hm?" gumam Aisyah menatap putrinya.



Aya Sofia menatap angkasa malam. Aisyah mengamati wajah putrinya yang memang telah mulai menampakkan kecantikan alamiah. sedikit lagi usianya mencapai 13 tahun dan akan menyelesaikan pendidikan dasarnya.


"Apa suka itu? dan apa cinta itu?" tanya Aya Sofia.


"Kenapa Aya tanyakan hal itu?" pancing Aisyah.



Aya Sofia menghela napas sejenak lalu berujar, "Karena saya bingung. saya mulai kebingungan menjelajahi perasaan saya sendiri, Umma." Aya Sofia kemudian menatap ibunya. "Aku nggak mungkin bilang ke Abah. hanya Umma yang mengerti sebab Umma se-kelamin dengan saya, kan?"


Aisyah tersenyum. "Memang... perasaan itu sangat rumit, Aya." ujar wanita itu, "Jangankan kamu, dulu Umma sendiri sempat bingung dengan perasaan itu saat mengenal Abahmu."


Aya Sofia memperbaiki cara duduknya. ia menghadapkan keseluruhan tubuhnya kepada sang ibu, seakan hendak menuntut pengetahuan baru tentang hati wanita. Aisyah akhirnya berujar lagi.


"Rasa suka, cinta dan sayang itu berbeda. rasa cinta dan sayang lebih besar kapasitasnya daripada rasa suka. contohnya seperti kamu dan Aidil itu." ujar Aisyah menyentil kasus anak itu.


"Ih, kok Umma malah menyentil Aidil dan aku sih?" protes Aya Sofia dengan kikuk.


Aisyah tersenyum. "Aidil dengan gampang bilang suka sama kamu, karena mungkin dia melihat, kamu adalah sosok yang ideal buat dia." tutur wanita itu memberi pemahaman pada putrinya yang sudah mulai dilanda pubertas itu. "Namun, itu bukan berarti Aidil memiliki rasa cinta dan sayang kepadamu."


"Kenapa bisa begitu, Mama?" tanya Aya Sofia dengan penuh minat.


"Suka... adalah hal yang menuntut. sedangkan cinta... adalah saling memberi dan menerima. adapun rasa sayang adalah sebuah kerelaan penuh." jawab Aisyah sambil membelai pipi putrinya.


"Berikan contohnya, Umma..." pinta Aya Sofia yang kemudian merubah duduknya menjadi berbaring menjadikan paha ibunya sebagai bantal.


Aisyah tersenyum lagi lalu membelai rambut Aya Sofia yang tak tertutup jilbab. rambut anak perempuan itu sama panjangnya dengan ibunya. panjang sepinggul. wanita itu kemudian bertutur lagi.

__ADS_1


"Rasa sayang, dapat kamu temukan pada diri Umma ke kamu, atau sebaliknya. perasaan sayang itu tak terbatas dan tanpa pamrih." jawab Aisyah dengan lembut."Perasaan sayang dan cinta itu agak mirip. kalau perasaan cinta, itu akan kau temukan diantara Umma dan Abah."


Aya Sofia mengangguk-angguk. Aisyah menatapnya. "Sudah paham?"


Aya Sofia tertawa. "Belum Umma... bisa dijelaskan lagi?" pintanya dengan manja.


Aisyah kembali tersenyum. "Misalnya dalam hal berpakaian, kamu ingin terlihat sesuai seperti yang dia inginkan, bahkan rela merubah jati dirimu demi perhatiannya... maka itu hanyalah rasa suka. sebab jika cinta, kamu tidak mementingkan penampilan. sebab sejelek apapun penampilanmu, dia akan tetap mencintaimu."


Aya Sofia mengangguk-angguk. "Paham, Umma. apa ada lagi contoh yang lain?" pancingnya.


"Misalnya dalam kebersamaan, jika kamu ingin menghabiskan waktu dengannya dan tak menginginkan ia membagi waktunya untuk yang lain, semisal sahabat dan keluarganya, maka itu hanyalah rasa suka, bukan cinta.... sebab jika cinta, kamu nggak akan mengekangnya. kamu akan memberinya kesempatan membagi waktunya untuk teman-temannya dan juga keluarganya." tutur Aisyah memberikan pemahaman.


Aya Sofia kembali mengangguk-angguk. "Paham Umma. tapi masih adakah contoh yang lain?"


Aisyah mengangkat wajah menatap angkasa. "Apa lagi ya? ummm... ahhh..." jilbaber itu kembali menatap putrinya. "Masih berhubungan dengan kebersamaan... jika kamu hanya ingin berduaan dan tak ingin ada yang lain mengganggumu... itu artinya hanya rasa suka. karena jika kamu cinta, kamu akan benar-benar membawanya masuk dalam ranah kehidupan kamu sepenuhnya. mengenal siapa teman-temannya dan teman-temanmu, keluarganya dan keluargamu, juga siapa saja yang dikasihinya dan siapa saja yang kau kasihi..."


Aya Sofia tetap menatap ibunya seakan menuntut lagi memberi contoh yang banyak. Aisyah bertutur lagi.


"Jika kamu menganguminya karena menganggapnya sebagai sosok yang ideal tanpa adanya cacat, itu hanyalah rasa suka. sebab, jika kamu cinta, maka kamu menyadari Bahwa dia juga manusia biasa yang memiliki kekurangan. namun kekurangan itu tak mempengaruhi kadar perasaanmu kepadanya." ujar Aisyah.



"Jika kau melakukan sesuatu hanya untuk membuatnya terkesan, maka itu hanyalah rasa suka. jika dalam pertengkaran, kamu mengedepankan emosi dan egois, maka itu hanyalah rasa suka. jika kamu ingin bersama disaat-saat yang menyenangkan saja, maka itu hanyalah rasa suka. saat dia tidak membalas chat kamu karena suatu sebab dan kamu malah marah-marah nggak jelas, maka itu hanyalah rasa suka. jika kamu sakit dan dia hanya mengirim pesan bernada kekhawatiran tanpa datang menjenguk dan melakukan apapun agar kau cepat sembuh, maka itu hanyalah rasa suka. dan jika itu sebuah cinta, jika kamu dan dia tidak menyadari bahwa kalian berdua sudah cukup lama bersama dan terlalu sering merasa nyaman, tak menyadarinya tahu-tahu merasakan bahwa waktu ternyata berjalan begitu cepat...." tutur Aisyah panjang lebar.


Aya Sofia tersenyum lalu mengangguk-angguk. "Saya sekarang paham, Umma. ke depan, insya Allah, saya tidak akan terjebak dan mampu mengukur derajat seberapa perhatiannya mereka terhadap saya."


"Semoga kamu setelah dewasa, mendapatkan jodoh yang dipilihkan Allah." ujar Aisyah.


"Aaamiiin..." balas Aya Sofia.


"Tapi bukan saat ini!" sela Aisyah menandas.


tak lama kemudian terlihat Tuatara V33K muncul dan membelok masuk ke pekarangan dalam kediaman dan berhenti di beranda, dekat Wuling E487L milik Aisyah.


pintu mobil membuka dan keluarlah Haidar mengenakan kemeja yang terbuka dadanya dan lengannya tergulung. Aya Sofia langsung bangkit duduk menatap ayah sambungnya yang melangkah mendekati mereka.


"Assalamualaikum..." sapa Haidar menampakkan senyumnya.


"Wa alaikum salam." jawab kedua perempuan itu berbarengan.


Aisyah menatapi penampilan suaminya. itu bukan pakaian yang dikenakannya saat pagi ke kantor menghadiri pelantikan dirinya sebagai Presdir Buana Asparaga Tbk. namun dihadapan Aya Sofia, wanita itu berupaya bersikap biasa dan tetap memasang senyum termanisnya.


Haidar duduk lalu mengecup pipi Aisyah dengan lembut duduk bersanding disisi istrinya. Aya Sofia langsung protes.


"Isssyyy.... si Abah, duduk langsung main nyosor nyiumin pipinya Umma. waduh, mata innocent ku ini langsung ternoda! astagfirullah..." seru Aya Sofia langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


Haidar tertawa, "Sori sayang kecilku. habis Abah terlanjur rindu sama Umma. jadi tak pakai jeda lagi langsung... jaaaaahhh..." ujarnya setengah menggoda.


Aya Sofia melengos. "Untung hanya aku yang lihat. coba kalau tetangga-tetangga sekitaran? duh, bisa-bisa Abah sama Umma langsung jadi the next gossip on the year dah."


"Biarin! Abah cium pipinya Umma, bukan pipinya perempuan lain. bukan urusan mereka." tukas Haidar. "Abah nggak perduli dengan mereka." lelaki itu langsung menuding-nudingkan jemari dan menekan-nekan lapisan marmer dilantai beranda. "Kamu mau tahu apa yang Abah lakukan bagi tetangga-tetangga karlota itu?"


"Memangnya Abah mau apakan?" pancing Aya Sofia sambil melipat tangannya didada.


"Akan Abah beginikan mereka!" seru Haidar dan...


DUUUT... DUUUTT... BREEETTETETETETETTE...TETETETE...


seketika Aya Sofia langsung membekap mulutnya. "Ih, Abah kentut ya?!"


"Ya! akan Abah kentuti mereka jika berani macam-macam dengan keluarga Abah!" seru Haidar dengan semangat.

__ADS_1


"Dasar! orang tua nggak punya Akhlak." gerutu Aya Sofia. "Bisa-bisanya kentut dihadapan anaknya."


Haidar hanya tertawa sedangkan Aisyah menyuruh Aya Sofia ke dapur. "Persiapkan makan malam nak." perintahnya.


"Siap, Umma!" seru Aya Sofia langsung bangkit dan meninggalkan beranda.


sepeninggal putrinya, Aisyah kembali menatap Haidar. "Jangan bilang kalau Abah..." tebaknya dengan cemas.


Haidar tersenyum dan kembali menyapu pundak Aisyah. "Joni tak akan lagi mengganggumu, begitu juga Aya."


"Abah... bibirmu berdarah." tukas Aisyah dengan lirih.


Haidar menyeka bekas darah yang masih basah dibibirnya. "Ini bukan darahku."


"Apa yang Abah lakukan terhadapnya?" tanya Aisyah dengan lirih. "Aku takut, Abah akan berbuat hal-hal diluar kendali. jangan sampai Darah Dewa kembali merasuki jiwa Abah." ujar Aisyah memperingatkan.


Haidar tersenyum lagi. "Menurutmu?"


"Aku hafal benar pakaian yang kupakaikan ke tubuh Abah waktu pagi ke kantor. dan pakaian Abah sekarang beda." ujar Aisyah. "Apakah Abah..."


"Ya. aku sudah mengirimkannya menghadap Allah. semoga dihadapan-Nya, Joni akan mengakui segala perbuatannya dan mendapatkan ampunan." jawab Haidar dengan jujur.


"Abah..." desis Aisyah dengan lirih.


"Tidak ada saksi mata, Aisyah." ujar Haidar. "Semuanya sesuai seperti yang kuharapkan."


"Tapi...." tukas Aisyah.


"Anggap saja dia sebagai orang hilang...." sela Haidar. "Lagipula kamu nggak akan menemukan jejaknya. ia lenyap seperti halnya Jenderal Soeharto melenyapkan lawannya."


Aisyah melengos. Haidar mengamatinya.


"Kau menyesal?" tanya lelaki itu memicingkan mata.


Aisyah menatap lagi suaminya. "Aku bukan memikirkan dia! tapi aku memikirkan Abah. aku nggak mau ditinggal Abah."


Haidar meraih dan merengkuh Aisyah dalam pelukannya. lelaki itu menatap angkasa malam.


"Aku akan melakukan apapun untuk memastikan keluarga kecilku aman dan tak mengalami ancaman apapun. aku siap mengarungi lautan neraka asal aku bisa memastikan kamu dan Aya tinggal enak di syurga." ujar Haidar pelan.


Aisyah menyandarkan kepalanya didada Haidar dan makin erat lelaki itu memeluknya.


"Siapapun yang berani macam-macam dengan keluargaku. ia menggali kuburannya sendiri." tandas Haidar dan geraman khas monsternya terdengar lagi.


Aisyah membuang nafas dan memejamkan mata. ia makin merapatkan tubuhnya dipelukan suaminya.


tak lama kemudian Aya Sofia muncul lagi diberanda dan bercakak pinggang.


"Ya Allah, belum bosan-bosannya peluk-pelukan disini?" tegur anak gadis itu. "Kasihan bintang dan rembulan."


Haidar menatap putri sambungnya. "Sudah selesai negur Abah?"


Aya Sofia kali ini hanya terkekeh saja. "Itu makanan di meja sudah siap. makan yuk Abah." ajak Aya Sofia. "Aku sudah lapar nih." keluh anak gadis itu dan disusul bunyi keruyukan diperutnya.


Haidar tertawa dan melepas pelukannya pada Aisyah lalu bangkit. "Ayo! Abah juga sudah lapar. kita balapan ya? siapa yang banyak nambahnya, akan mendapatkan voucher belanja dari Abah!"


"Oke kalau begitu! persiapkan saja isi kocek Abah! aku akan mengurasnya habis-habisan." ujar Aya Sofia meladeni tantangan ayah sambungnya.


Aisyah bangkit lalu menggandeng tangan suami dan putrinya. "Ayo kita makan, untuk mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada kita hari ini."


dan ketiganya masuk kedalam kediaman. pintu kemudian ditutup dan mereka melangkah menuju meja makan.[]

__ADS_1


__ADS_2