The Blood Of God

The Blood Of God
ALONE # 08


__ADS_3

Djalenga melangkah meninggalkan kokpit menuju kabin. disana Dinara sedang duduk menunduk. lelaki sasak yang mengenakan armor buatan Ark Industries itu kemudian duduk disisi Dinara.


"Hai..." sapa Djalenga.


Dinara mengangkat wajah dan menoleh. "Bagaimana? apa kita sudah sampai?"


"Kita akan melakukan penerjunan. kau sudah siap?" tanya Djalenga meraih pelan jemari Dinara dan meremasnya.


Dinara menatap Djalenga dengan tatapan yang lama. lelaki itu kemudian tersenyum. "Kenapa? kok memandangiku seperti itu?"


"Kau tak menyesal mencintaiku?" tanya Dinara.


"Aku telah menetapkan hatiku untuk mencintaimu." tandas Djalenga. "Apakah kau juga menetapkan hatimu untuk mencintaiku?"


Dinara tersenyum. "Aku tak pernah meragukan keputusanku. aku hanya kuatir, kau akan berbelok hati."


Djalenga tertawa. "Aku nggak pernah seberuntung ini memilikimu. aku hanya berharap kau mencintaiku dari hatimu, sebab tampangku jelek khas orang Indonesia timur."


Dinara tertawa. "Ya, kau memang jelek."


Djalenga terdiam. Dinara kemudian balas meremas jemari tangan lelaki itu yang terbalut armor.


"Tapi aku justru jatuh cinta padamu. kenapa ya?" goda Dinara.


"Mana aku tahu?" jawab Djalenga dengan wajah keruh.


Dinara tertawa dan menyentil hidung Djalenga yang besar itu. "Marah ya?" godanya.


"Nggak." jawab Djalenga langsung, namun nadanya datar.


"Pasti marah..." ujar Dinara sambil berdiri dan melangkah ke pintu. terdengar suara pilot dari speaker.


🔊 "Kita sudah berada dititik koordinat! lakukan penerjunan!"


seketika pintu pesawat membuka. Djalenga langsung berdiri hendak menahan Dinara. tiba-tiba gadis itu langsung melompat.


DINARAAAAA....


Djalenga berseru sambil ikut melompat. ia mengaktifkan helm nanotek yang kemudian menyelimuti kepalanya. sekarang nampak diangkasa kedua pasangan itu melayang. satunya tanpa peralatan parasut.


dalam aksi melayang itu, Djalenga mendekati Dinara. "Mengapa kau terjun?!" seru Djalenga.


"Karena kau marah padaku!" seru Dinara dengan keras.


"Aku nggak marah." jawab Djalenga. "Aku hanya mengakui kata-katamu barusan."


"Tapi aku tetap merasa kau marah padaku." rajuk Dinara dengan suara keras.


"Harus dengan apa aku membuktikan jika aku tak marah?" tanya Djalenga.


Dinara tersenyum lalu mengembangkan tangannya. tubunya lebih meluncur jauh sebab membelakangi permukaan bumi. Djalenga ikut menukik mengejar tubuh Dinara yang meluncur dengan cepat. begitu tubuh keduanya sejajar, Djalenga langsung mengembangkan tangan dan memeluk Dinara.


"Kamu itu kenapa sih?" tegur Djalenga. "Aku nggak marah sama kamu. aku cinta sama kamu."


Dinara tak mengomentari perkataan Djalenga. ia hanya tersenyum lalu memonyongkan mulutnya seakan minta dicium. Djalenga mendesah lagi dan menekan bagian sisi kiri dari helm. klep yang menutup kemudian membuka mempertontonkan wajah Djalenga.


"Ini hukuman untuk kamu!" ujarnya kemudian menekan sesuatu pada pinggangnya sambil terus memeluk Dinara. sebuah piranti pipih muncul dan melingkari tubuh Dinara membuatnya tertempel ketat ke armor milik Djalenga.


seketika Djalenga mengaktifkan peralatan flying fox pada armornya. ia merentangkan keempat tungkai tubuh dan muncullah selaput mirip sayap tupai terbang. wajah Djalenga mendekat hendak mencium bibir dinara.


tiba-tiba terdengar suara panggilan dari minset yang terpasang pada helmnya.


🎧 "Djalenga! Djalenga? kamu dimana?" tanya suara itu. Djalenga mengenal suara tersebut. itu suara Haanish. kelihatannya setelah menyelesaikan pertempuran, keduanya teringat kepada Djalenga dan Dinara. Djalenga mendengus jengkel dan menarik wajahnya yang nyaris menyentuh Dinara.


🎧 "Ya. ini saya, Djalenga. ada apa?" tanya Djalenga dengan datar sedang Dinara hanya tertawa tanpa suara menutup bibirnya dengan tangan sedang tangan satunya memeluk leher lelaki Sasak tersebut.


🎧 "Apa Dinara bersamamu?" tanya Haanish. "Jika kau tak berhasil menyelamatkan Dinara, aku akan mencincangmu dengan halus hingga kau kujadikan bahan pelengkap bumbu masak!" ancam lelaki itu.


🎧 "Tentu saja Dinara ada bersamaku." jawab Djalenga, "Aku sudah menculiknya dari kalian. jika kalian bersedia..."


🎧 "Bersedia apa katamu? kau menculiknya? kau mau kubunuh?!" sela Haanish dengan ketus dan mengancam. "Kembalikan dia!"


🎧 "Nggak. aku nggak akan mengembalikan dia kepada kalian. aku sudah melakukan adat memari kepadanya." ujar Djalenga.


🎧 "Memari apaan itu? aku nggak perduli! kembalikan dia atau..." ancam Haanish namun perkataannya tak berlanjut sebab suara lain juga menyelanya.


🎧 "Baiklah. silahkan kau culik dia." ujar suara itu yang tak lain milik Haidar. "Setelah ini, kami berdua akan langsung mengunjungi kalian berdua. pernikahan akan dilaksanakan di Sade...."


🎧 "Terima kasih, Kakak." ujar Djalenga dengan senyum.


🎧 "Aaaah, tak ada terima kasih-terima kasihan! aku akan menagihnya kepadamu!" sela Haanish kembali menyela dan mengancam.

__ADS_1


🎧 "Jika anda tak menyetujuinya, aku akan menantang anda perang tanding." balas Djalenga dengan tenang sedangkan Dinara tersenyum sambil memperlihatkan jempolnya kepada lelaki Sasak itu.


🎧 "Apa?! kau menantangku?!" tukas Haanish dengan suara melengking. "Karung semang! kuladeni tantanganmu! sebutkan dimana tempatnya, kuladeni kau!" sambungnya dengan ketus.


🎧 "Eiji, apa-apaan sih?!" terdengar suara Haidar menyela dan mengomeli adiknya. terdengar suara tawa Haanish.


🎧 "Nggak kok. aku hanya menggertaknya." elak Haanish, "Seriusan amat sih? amat saja nggak serius!"


🎧 "Oke, Djalenga. aku senang, Dinara ada bersamamu. jaga dia baik-baik! dalam tiga hari, keluarga Lasantu akan mengunjungimu, menuntut adat nyongkolan kamu! paham?!" tandas Haidar.


🎧 "Terima kasih, Kakak." jawab Djalenga dengan senyum lagi. "Saya janji akan memperlakukan Dinara dengan baik."


🎧 "Aku nggak akan percaya, sebelum kusaksikan sendiri." tukas Haidar. "Dan pesan ini sekaligus ancaman buatmu, Djalenga. jika tanpa alasan yang benar, kau membuat Dinara menetaskan airmata, camkan benar-benar di otak kepalamu itu... AKU AKAN MEMBUNUH KAMU! kau paham?!"


🎧 "Saya paham, Kakak. terima kasih." jawab Djalenga.


🎧 "Bagus!..." jawab Haidar dan percakapan lewat transmisi radio itu berakhir.


Djalenga menghela napas lalu menatap Dinara yang melingkarkan keempat tungkainya ketubuh Djalenga. gadis itu tersenyum.


"Sudah percakapannya?" tanya Dinara dengan suara keras ditengah deru udara. Djalenga hanya mengangguk.


"Bisa kita lanjutkan?" tanya Dinara.


alis Djalenga terangkat. Dinara kembali memonyongkan bibirnya, isyarat minta dicium. Djalenga tersenyum dan mendekatkan wajahnya. bibir keduanya kemudian menyatu, saling menghisap, saling mengulum, saling merasakan sensasi ditengah udara angkasa. tubuh Djalenga terus meluncur menyusuri angkasa diatas kepulauan Nusa Tenggara.


...******...


"Kurasa kita akan terus melakukan pertarungan." ujar Haidar yang memikul golok Ailesh dipundaknya.


keduanya melangkah melintasi hamparan rumput hijau yang menyelimuti permukaan tanah pulau Staffa. Haanish tersenyum.


"Tentu saja." jawab Haanish.


"Kurasa, aku juga harus terus mengawasimu." tukas Haidar lagi sembari menatap Haanish.


dan beberapa saat kemudian, pulau itu sudah dipenuhi rombongan pria bertopeng yang menggenggam berbagai jenis senjata tajam. Haidar dan Haanish terkepung. namun dengan tenang mereka menatap serombongan besar pasukan bertopeng itu. keduanya berdiri saling membelakangi.


"Hamba-hamba tak berguna." cetus Haanish. "Mereka ini mungkin sudah dipersiapkan untuk mati."


"Itu lebih baik bagiku." tukas Haidar, "Kita kasih saja, apa yang mereka mau!"


seketika keduanya berubah bentuk. sekali lagi Haidar mengaum memperdengarkan ajian Bahana Penggetar Sukma miliknya dan disusul teriakan keras Haanish yang melesat sambil menghunus Si Penebas Angin dan menghambur kearah para rombongan pengepung itu.


Marina sedang menikmati roti croissant. sesekali ia mengambil cangkir berisi kopi dan menyeruput isinya. didepannya, Marinka hanya diam menatap kakaknya yang tenang sambil membaca koran digital.


"Kak..." panggil Marinka.


"Hm..." jawab Marina yang masih sibuk membaca artikel bisnis.


"Denai akan dilamar..." ujar Marinka.


sejenak Marina mengerling ke arah adiknya itu lalu kembali membaca artikel bisnis. "Siapa? kapan?" tanya gadis itu dengan acuh.


"Puncan Karnaaq dari Tenggarong.... inyo akan melamar denai besok." jawab Marinka.


Marina hanya mengangguk-angguk sambil tetap membaca artikel bisnis tersebut. Marinka mendengus.


"Kok segitu saja responnya?" rajuk Marinka.


Marina kembali menatap Marinka sambil menutup aplikasi berita bisnis pada gawainya dan menyimpannya di tas. "Lalu? denai harus bilang 'wow' gitu?"


Marinka melengos. Marina tersenyum lalu membelai lengan adiknya. "Segitu saja marah. waang kalah sama Marissa. si usil itu kini sudah hamil. kita berdua terlambat, gara-gara inyo."


"Kenapa bawa-bawa Issha, sih?" tanya Marinka. "Inyo di Gorontalo tenang-tenang saja. sampai sekarang nggak menghubungi kita. kelihatannya, anak itu mulai lupa kacang akan kulitnya."


"Jangan sembarangan menuduh." tegur Marina. "Seharian ini waang senewen terus. apa gara-gara tadi respon denai biasa saja?"


Marinka kembali melengos. Marina menatap adiknya. "Waang itu calon bundo kanduang. bersikaplah seperti itu sebab waang telah digadang-gadang mewarisi gelar adat dalam keluarga kita."


Marinka tetap tak menanggapi. Marina mengalihkan tatapan ke panggung pelaminan. nampak disana, Salman Attar Williams berdiri dengan gagah memakai pakaian adat bersama istrinya, Callista Waroka yang berdiri berdampingan dengannya. disisi kanan pengantin itu, nampak Ikram Williams dan istrinya, Hayati Rudianto. sedang disisi kiri berdiri Dewinta Basumbul dan suaminya, Cornell Waroka. mereka sedang menjalani sesi pemotretan.


di deretan kursi depan panggung pelaminan itu duduk Syafira Alkatiri dan suaminya, Kevin Williams bersama sahabatnya, Rudi dan istrinya. di pesta itu, tak terlihat Akram dan Airina. keduanya berada di Gorontalo, menemani Marissa di kediaman Lasantu.


Marina kembali menatap Marinka. "Besok, Abi sama Umi mungkin pulang."


Marinka menggeleng. "Keduanya belum akan pulang sebelum Sutan Pamenan balik dari Inggris. acara lamaran dipegang langsung Inyiak dan ninik-mamak." jawabnya dengan suara yang agak gemetar.


"Kenapa? waang gugup?" tanya Marina.


"Tentu saja. ini momen pertama kali dalam hidup denai, justru Abi dan Umi tak berada disisi denai." ujar Marinka yang mulai nampak menangis.

__ADS_1


Marina tersenyum. "Waang itu harus lebih kuat dan tegar. masa seorang calon bundo kanduang cengeng? ingat kan dua belas sumbang yang diajari inyiak kepada waang?"


Marinka mengangguk pelan. Marina kemudian mengangguk pula. "Bagus. mulai dari sekarang, waang harus menegakkan wajah dan tubuh. kamu calon kepala keluarga dalam keluarga kita. denai sendiri percaya, waang bisa membawakan adat dengan baik dan benar."


Marinka akhirnya mengangguk meski hatinya masih ragu. tak lama kemudian muncul Puncan yang membawa sebuah piring berisi kue. Marina berdiri saat melihat pemuda itu mendekati tempat duduk mereka.


"Denai pergi dulu. nanti kapan-kapan kita bicara lagi." ujar Marina dengan datar dan melangkah pergi. sesaat kemudian Puncan duduk ditempat mula Marina duduk tadi. ia menatap ke arah Marinka.


"Kamu habis menangis ya?" tanya Puncan.


Marinka hanya menatapnya lalu senyum datarnya terbit dan gadis itu menggeleng. Puncan hanya tersenyum lalu menatap ke arah panggung pengantin.


"Kelak setelah ini, kita berdua akan menyusul sepupumu, duduk dipanggung itu." ujar Puncan mengangguk ke arah panggung pelaminan. Marinka hanya tersenyum menanggapi ucapan pemuda Tenggarong itu.


sementara Marina melangkah meninggalkan tenda. ia pergi ke suatu tempat yang masih disekitar pekarangan Kediaman Williams. disana Mikail sedang menunggunya. kedatangan Marina membuat lelaki Rusia itu membalikkan tubuh dan tersenyum.


"Kupikir, kau tak akan datang." ujar Mikail.


"Aku justru berpikir kau datang dengan cara pengecut." sindir Marina sambil tersenyum. "Mengapa kau tak mendekati tenda tempat pesta berlangsung?"


"Aku memang tak berniat datang kesana. aku berniat datang menemuimu." ujar Mikail dengan wajah serius.


Marina tertawa pelan. "Santailah sedikit." goda gadis itu. "Apakah ini kunjungan bisnis atau..."


Mikail berlutut dihadapan Marina dan mengeluarkan sebuah kotak hitam dari kantung jasnya. ia menyodorkan kotak itu sambil membukanya memamerkan sebuah cincin emas 22 karat bermata berlian.


"Marina Williams... maukah kau menikahiku?" todong Mikail menatap Marina yang terdiam dengan aksi lelaki Rusia itu. Marina masih tak mampu menjawabnya.


panggilan kedua dari Mikail menyadarkan Marina dari bungkamnya. gadis itu menatap Mikail. "Kau sungguh-sungguh?" tanya gadis itu dengan lirih.


"Aku harus membuktikan apa lagi untuk menunjukkan kesungguhan aku kepadamu?" tanya Mikail.


Marina mengulurkan jemari lentiknya. "Sematkan ke jariku." pintanya.


dengan senyum, Mikail melepaskan cincin itu dari kotak dan menyematkan cincin itu dengan perlahan dijemari manis gadis itu.


"Dan setelah ini, aku ingin kau menyatakan lamaranmu kepada ninik-mamak." sambung Marina.


"Ninik-Mamak?" tanya Mikail dengan lirih, tak mengerti.


"Maksudku kepada keluarga besarku." ralat Marina. "Sekarang! mumpung masih dalam perhelatan dan suasana bahagia. kau bersedia?" pancing Marina.


Mikail langsung bangkit berdiri. digenggamnya jemari gadis itu. "Mari kita menghadap kepada keluargamu... maksudku ninik-mamak itu. aku akan melamarmu, sekarang!"


Mikail langsung melangkah sambil menarik tangan Marina mendekati tenda pesta, sedang Marina yang melangkah dibelakang Mikail hanya tersenyum-senyum saja.


...******...


di Pulau Staffa itu masih berlangsung pertarungan. tapi kali ini perang tanding antara Haidar melawan Haanish. Haidar mengayunkan goloknya bersamaan dengan Haanish yang juga mengayunkan Si Penebas Angin.


TRANGGGG ....CRIIIIINGGGG....


kembang api terlihat saat kedua bilah senjata itu berbenturan. Haidar maju menghujamkan goloknya mengincar dada Haanish. serta merta Haanish menyilangkan Si Penebas Angin didepan dadanya.


TRANGGGG.... CRRRIIIIIIINGGGG...


terjadi benturan ujung golok Ailesh menghantam permukaan bilahan Si Penebas Angin. akibat hantaman itu, Haanish terjejer jauh ke belakang dan berlutut sambil menghujamkan ujung pedangnya ke tanah meredam daya dorong dari energi hantaman golok tersebut.


napas kedua makhluk jelmaan itu tak beraturan. Haidar perlahan menegakkan tubuhnya.


"Skor untukku... satu kosong." ujar Haidar sembari memikul Golok Ailesh dipundaknya.


"Gimana sih cara menghitungmu?" sergah Haanish menudingkan jemarinya kepada Haidar. "Kita imbang!" tandasnya.


Haidar menghela napasnya meredakan napasnya yang mulai terasa sesak. perlahan ia kemudian duduk dihamparan rumput itu.


"Kau tahu?...kurasa kita harus segera mengakhiri uji tanding ini." ujar Haidar kemudian menancapkan Golok Ailesh ke tanah lalu menatap angkasa malam yang bergerak menuju dini hari.


"Mungkin...." ujar Haanish, "Kita masih punya waktu yang berharga..."


Haidar menatap si makhluk biru itu lalu terkekeh dan kembaki bangkit menegakkan dirinya. begitu pula dengan Haanish. Haidar mencabut Golok Ailesh dari tanah dan mengacungkan ujung senjata itu kepada Haanish. sedang Haanish kemudian berdiri dengan gaya ushiro in no gamae. keduanya saling menatap tajam. mata Haidar memendarkan cahaya kuning kemerahan sedangkan kedua mata Haanish memendarkan cahaya biru keputih-putihan.


diiringi oleh teriakan dan auman, Haidar dan Haanish maju bersama dan mengayunkan senjatanya. terdengar bunyi logam beradu diselingi oleh pancaran bunga api. berkali-kali keduanya mengayunkan senjata mereka tanpa henti.


namun sekali lagi, kesenangan kedua kakak beradik itu tertunda dengan kemunculan serombongan pasukan lagi. namun kali ini, pasukan itu adalah sekumpulan makhluk hasil rekayasa genetika darah dewa yang merupakan proyek milik Ordo Dracna.


kumpulan makhluk itu menggeram dan mendesis. mereka mengapung Haidar dan Haanish yang langsung menghentikan pertarungan mereka. tiba-tiba keduanya melesat memisahkan diri dan langsung menghambur ke arah makhluk-makhluk yang juga menyerang.


"Seperti yang kalian inginkan!" seru Haanish.


"Kemarilah!!!!" sambung Haidar.

__ADS_1


dan pertempuran pun kembali tak terhindarkan. entah berhenti sampai kapan. []


...***** END *****...


__ADS_2