
Buana Asparaga Tbk, pukul 10.45 WITA
Haidar duduk bermenung dikursi kerjanya. di meja, tertumpuk file-file yang harus segera diselesaikannya, namun sama sekali belum disentuhnya. konsentrasinya tak sepenuhnya terpusat pada hari itu. Haidar kemudian mendesah lagi dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap langit-langit ruangan yang dihiasi lampu neon kualitas terbaik.
bayangan tentang Haanish bermain-main dibenak pikiran pemuda itu. ungkapan bahwa ia tak akan tinggal lagi bersama Haidar di kediaman Lasantu. pemuda itu menerima konsekuensi tinggal dinegeri kakeknya di jepang demi sebuah jabatan kepala keluarga sekaligus kepala klan Hasegawa. selain itu, ungkapan berikutnya tentang ketidak cocokan dirinya dengan Mahreen dan Aisyah yang dianggap lebih mampu membimbing Haidar dalam bahtera kehidupan rumah tangga dan memahami perasaan pemuda itu.
Haidar bangkit lalu melangkah keluar dari ruangannya. ia menyusuri HRD dan tiba di lift. pemuda itu berdiri sejenak hingga pintu lift membuka sendiri. ia masuk dan menatap piranti kecerdasan buatan yang terletak ditepi pintu lift.
"Antarkan aku ke bagian produksi!" pinta Haidar.
🔊 "Haidar Ali Lasantu, Direktur Human Resource Department, ijin diberikan." jawab piranti kecerdasan buatan tersebut.
lift itu bergerak ke lantai satu dan pintu lift membuka sesampainya disana. ia menyusuri ruangan yang dipenuhi kubikel-kubikel karyawan dan berhenti disalah satu kubikel dimana Aisyah sementara sibuk mencatat pemasukan-pemasukan barang dijurnal online perusahaan.
"Bisa kita bicara?" ujar Haidar.
Aisyah kaget mendengar suara lelaki itu tiba-tiba, terhenyak dari kursinya. hampir saja ia mengumpati pemuda itu kalau tak ingat itu adalah tempat kerja. Aisyah menenangkan hatinya sejenak, mengelus dadanya lalu menatap Haidar dan tersenyum tipis.
"Pak, kalau menyapa itu ya, pakai salam dulu." tegur Aisyah dengan lembut namun menohok, "Saya kaget lho pak. untung saja nggak jantungan." sambungnya dengan senyum manis tapi tatapan tajam menusuk.
Haidar menjepit kedua bibirnya sejenak lalu menjawab. "Maafkan aku... assalamualaikum..." ujarnya pelan.
"Naah... gitu dong." puji Aisyah membuat wajah Haidar memerah, antara malu dan tersipu sebab ditatapi sejenak oleh beberapa karyawan disitu. Aisyah menghentikan kegiatannya dan duduk santai menyandarkan lengannya di meja kubikel itu, menatap Haidar. "Apa sih yang mau di omongkan, Pak?" tanya Aisyah dengan lembut membuat detak jantung Haidar berdegup kencang lagi. ia tergagap.
"B-bisakah kita b-bicara na-nanti?" tanya Haidar dengan gagap. kok kenapa aku yang gugup ya?
Aisyah tersenyum. "Bicaranya disini saja Pak. tanggung. saya masih kerja." Aisyah menunjuk jam dinding. "Tuh, belum waktunya check clock out."
"Aku menunggumu nanti... kau bawa kendaraanmu?" tanya Haidar.
"Tentu saja Pak... kalau nggak bawa itu, saya naik apa kemari?" tukas Aisyah.
Haidar mengangguk-angguk. "Nanti kusuruh bagian sekuriti, mengantarkan kendaraanmu ke asrama. kau naik mobilku."
Aisyah mengangkat alisnya sebelah. "Kok gitu sih Pak? nggak ah, saya nggak mau." Aisyah menatap para karyawan yang juga menatapinya. jilbaber itu lalu menatap Haidar. "Orang-orang nanti akan berpikir bahwa Bapak tuh pilih kasih." ujarnya lirih sambil mengangguk-angguk memberikan penegasan.
Haidar mendengus dan menatap karyawan diruangan produksi itu. "Kalian keberatan aku membawa perempuan ini bersamaku? katakan dengan jujur!" ujarnya dan serentak para karyawan baik laki-laki maupun perempuan menggeleng dan menyibukkan diri sendiri supaya tak ditatapi pemuda itu. Haidar kembali menatap Aisyah.
"Nah, mereka tak keberatan. sekarang kamu mau kan pulang bersamaku?!" tanya Haidar sedikit memaksa.
Aisyah memicingkan mata kepada Haidar sejenak lalu akhirnya mengalah dan mengangguk. "Oke deh Pak."
"Bagus!" respon Haidar lalu berbalik melangkah meninggalkan ruangan itu. ia tiba kembali ke lift yang membawanya kembali ke ruangannya.
...******...
Arklab, pukul 13.20 WIB
Akram dan Haanish memperhatikan Si Penebas Angin yang sementara mengambang dalam alat tanpa grativasi. Akram menatap calon menantunya.
"Jadi, kau mau Papa mengubah molekul pedang ini dan mengekstraknya menjadi nanotech supaya bisa digabungkan dalam armor Ark01-Narsys, begitu?" pancing Akram untuk menegaskan.
"Yalah Papa..." jawab Haanish yang memaksa memanggil Akram dengan sebutan Papa. Akram juga menerima panggilan itu. ia tak keberatan. toh sedikit lagi, pemuda itu akan menjadi menantunya.
"Kalau begitu, aku akan mulai melakukannya." ujar Akram. "Namun ini membutuhkan waktu, sebab mengurai dan menyusun molekul suatu benda bukan seperti kamu menyusun mainan Lego. paham?"
"Saya paham, Pa..." jawab Haanish sambil tersenyum.
Akram mulai melakukan proses penguraian molekul. alat itu mulai bekerja. Haanish dapat dengan jelas melihat molekul Si Penebas Angin mulai terurai.
"Setelah ini terurai, Papa akan membuat ulang polanya. terpaksa, Papa harus mengeluarkan dulu mikrochip dalam perutmu itu." ujar Akram. "Papa akan mendesainnya ulang dan pedang warisan itu sudah menyatu dalam armor."
"Tapi modelnya jangan dirubah, ya Pa?" pinta Haanish. "Saya suka dengan pola model Tosei gusoku itu. serasa seperti samurai beneran yang mengenakan Oyoroi." ujarnya lalu tersenyum-senyum.
"Baiklah. Papa pikir kau suka pola futuristik." ujar Akram.
__ADS_1
"Piranti-piranti dalam armor itu saja yang dibuat canggih, jangan model jirahnya. setiap berapa kali saya harus melakukan updating data?" tanya Haanish.
"Setiap ada pemberitahuan." jawab Akram. "Nanti Papa kirim notifikasi updating. kamu tidak perlu repot kembali ke Arklab jika hanya ingin melakukan proses updating."
"Oke, makasih Pa." jawab Haanish.
"Nak. tak usah sungkan meminta. kamu sebentar lagi juga akan menjadi menantuku. apa yang kumakan, maka itu pula yang kau makan." sahut Akram.
Akram kemudian mengajak Haanish keluar sejenak dari Arklab. keduanya kembali ke ruang cengkrama keluarga. disana telah menanti Airina. wanita parobaya tersebut menyuruh Haanish duduk didepannya.
setelah Haanish mengambil tempat duduk, Airina kemudian bicara, "Aku dengar dari Mamamu... kau akan tinggal di jepang selama-lamanya. benarkah?" pancing Airina.
"Sebagai konsekuensi dari pengangkatanku sebagai kepala keluarga Hasegawa yang baru." jawab Haanish.
"Berarti, Marissa juga akan kau boyong kesana." sahut Airina. "Haruskah dia berganti kewarganegaraan?" tanya Airina juga menatap Akram.
"Untuk mengakses kemudahan sih semestinya begitu. tapi hal itu terserah kepada kalian." ujar Akram dengan serius.
"Aku tak akan mengijinkan Issha berganti kewarganegaraan. biar aku saja yang berganti kewarganegaraan. itupun masih kupikir-pikir." jawab Haanish. "Aku bahkan berpikir untuk menjadi seorang biparteid seperti mendiang Papa dulu." sambungnya sambil menatap Airina dan Akram. "Aku akan mencoba melobi pejabat kependudukan."
"Kami menyerahkan hal itu padamu. kau adalah kepala keluarga Hasegawa sekarang. tentu kau dapat menentukan yang terbaik bagi dirimu dan masa depan keluarga ke depan." ujar Akram dengan senyum.
"Tapi apakah Issha siap untuk tinggal jauh dari kedua orang tuanya?" tanya Haanish.
"Tanyakan saja padanya." jawab Airina. "Kalian akan menjadi suami-istri. segala persoalan nanti kalian selesaikan sendiri."
"Bisa saya bicara dengan Issha?" tanya Haanish.
Airina tertawa. "Kamu gimana sih? memangnya anak itu ada disini sekarang? dia kan menjalani pingitan di Kediaman Alkatiri." wanita parobaya tersebut kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan. "Dan jangan coba-coba kesana untuk ketemu calon istrimu itu. kau sudah pernah merasakan keganasan neneknya, kan?"
Haanish tertawa mengingat peristiwa diserangnya ia oleh Syafira Alkatiri saat keduanya bertandang ke Kediaman Alkatiri untuk yang pertamakalinya bagi Haanish.
"Baiklah... saya akan bicarakan hal tersebut setelah nikah." ujar Haanish.
Akram tertawa. "Ayo kita kembali ke Arklab. mungkin proses transmutasi molekul pedangmu sudah mencapai finis." ajak lelaki itu.
...******...
Haidar mengendarai Tuatara V33K miliknya, melaju dengan tenang dijalanan itu. mereka baru saja check clock out dan sesuai kesepakatan, kendaraan milik Aisyah dititipkannya kepada sekuriti yang diperintahkan Haidar mengantarkan kendaraan tersebut ke asrama kediaman Aisyah.
"Kita makan dimana?" tanya Aisyah.
"Saya sudah makan tadi siang." jawab Aisyah. "Saya selalu bawa bekal."
Haidar mengangguk-angguk. "Kalau begitu, saya makan dirumahmu, boleh nggak?"
Aisyah tersenyum. "Bilang saja kangen masakan saya. nggak usah gengsi begitu deh Pak." olok Aisyah membuat wajah Haidar merona merah.
Aisyah mencuri pandang wajah Haidar yang gugup. jilbaber itu menahan tawa hingga akhirnya ia berkata, "Ya, baiklah. nanti saya buatkan masakan kesukaan Bapak. saya masih ingat kok."
Haidar melengos pura-pura menatap pemandangan jalanan sementara Aisyah sesekali mencuri pandang sambil menahan tawa. ia langsung memasang lagak.
"Ah, kasihan... biasanya Sofi sudah menanti-nanti didepan asrama. kali ini ia harus menelan kekecewaan..." gumamnya agak keras supaya terdengar oleh Haidar.
"Kita singgah dulu ditoko." ujar Haidar. "Sudah lama aku tak membelikan Sofi, mainan."
mulut Aisyah membulat sejenak lalu membuang wajah dan tersenyum. Haidar terus menyetir. Aisyah mengolok lagi.
"Pak. kita nggak diuber Mahreen, kan?" pancing Aisyah. "Saya takut dia cemburu dan mengamuk ke saya. nanti saya dikatain pelakor lagi."
"Dia nggak akan begitu." sela Haidar. "Kamu nggak usah parnoan begitu. memang kenapa dengan Mahreen? kamu takut sama dia?"
"Takut secara fisik nggak sih Pak." kilah Aisyah. "Tapi kalau dipermalukan, kan bisa hancur apa yang saya bangun sejauh ini. orang-orang akan kembali mengingat Aisyah sebagai wanita pengganggu hubungan orang, padahal bukan kehendak saya kok."
"Kamu menganggap saya gampangan, begitu?" tukas Haidar yang mulai agak naik emosinya dan geraman khas kucing besar sesedikit terdengar.
"Bukan begitu Pak." kilah Aisyah. "Bapak nggak kasihan sama kami berdua? saya dan Mahreen itu sama-sama perempuan, Pak. memiliki hati yang sama dan insting yang sama."
Haidar memberhentikan kendaraannya. mereka sudah tiba ditoko mainan. Haidar menatap Aisyah, menyerahkan kartu kreditnya. "Kamu sendiri sajalah yang beli. aku menunggu di mobil saja."
__ADS_1
"Kenapa? takut kepergok Mahreen ya?" olok Aisyah lagi sambil tersenyum lebar. "Nggak ada gunanya sembunyi Pak. Mahreen pasti kenal mobilnya Bapak ini."
"Sudah, jangan banyak omong. pergi sana!" ujar Haidar mengusir.
"Kalau untuk saya, ada nggak Pak? masa cuma anaknya yang dibeliin, mamanya, nggak?" goda Aisyah.
"Eh? dasar kuman." umpat Haidar, "Pergi sana!" usirnya tapi dengan senyum terkulum. Aisyah tertawa kecil dan membuka pintu lalu melangkah ke toko dan membeli berbagai boneka untuk Aya Sofia.
Aisyah tahu, Haidar tak mempermasalahkan seberapa banyak ia belanja. namun wanita itu tidak mau memanfaatkan terlalu banyak kebaikan lelaki tersebut. ia hanya membeli untuk kesenangan putrinya saja.
Haidar menunggu dimobil dan tak berapa lama, Aisyah muncul membawa beberapa boneka yang dipeluknya. wanita itu membuka pintu belakang dan memasukkan beberapa boneka.
"Cuma boneka?" komentar Haidar, "Kupikir kau belanja juga kebutuhanmu." sindirnya.
Aisyah tersenyum sambil menutup pintu belakang lalu menuju pintu depan dan membukanya lalu duduk di jok dan menyerahkan kartu kredit lagi kepada Haidar.
"Saya bukan penghisap kekayaan orang." jawab Aisyah.
Haidar tersenyum datar saja lalu kembali mengendarai Tuatara V33K itu melintasi jalanan. Haidar menoleh lagi.
"Sekalian saja belikan makanan yang dia suka." ujar Haidar. "Apakah kau sering membelikannya makanan kesukaannya?"
Aisyah menatapnya. "Okey, cukup sudah gaya paman kaki panjangmu itu." ujarnya. "Anakku sudah cukup besar untuk kau santuni. ini yang terakhir kalinya!"
"Memang siapa yang mau kusantuni? aku hanya kangen dengan Aya Sofia! memang kenapa denganmu?!" debat Haidar.
"Memang kamu siapanya Sofi?!" tantang Aisyah.
"Aku kan.... a-ay-ayahnya!!" balas Haidar dengan gagap.
Aisyah tertawa, "Ayah dari Hongkong?!" olok jilbaber itu sambil tertawa. "Muka saja nggak mirip, ngaku-ngaku jadi ayahnya."
Haidar geram dan menginjak rem.
CKIIIIITTTT...
Aisyah heran mengapa Haidar memberhentikan kendaraan dijalanan sepi. alis wanita itu berkerut.
"Eh, kenapa berhenti? asrama masih jauh." tegur Aisyah.
Haidar menghela napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. geraman khas kucing besar kembali terdengar membuat Aisyah sedikit bergidik.
mau apa laki-laki ini?
Haidar menoleh perlahan menatap Aisyah. "Rupanya... bibir kamu memang perlu disumpal..." setelah mengucap itu, Haidar menyeringai dan Aisyah dapat dengan jelas menyaksikan kedua mata Haidar memendarkan cahaya kekuningan.
"Pak... pak...." ujar Aisyah pelan mulai beringsut mundur.
namun gerakan Haidar lebih gesit dan menangkap tengkuk Aisyah membuatnya memekik kaget dan makin kaget ketika menyadari wajah Haidar telah begitu dekat dengannya.
"Paaaakkkk...." panggil Aisyah dengan gemetar.
"Apa aku harus menanamkan benihku ke uterusmu, agar Sofi bisa memanggilku... ayah?!" desis Haidar dan suara geramannya yang mirip macan itu terdengar lagi.
Aisyah menggeleng cepat. Haidar kembali menyeringai. "Jadi... kau bersedia jika Sofi... memanggilku ayah?!"
Aisyah langsung mengangguk-angguk cepat. Haidar ikut mengangguk-angguk pula. pemuda yang masih menatapi Aisyah yang mengkerut ketakutan.
"Kau cantik juga." puji Haidar.
"Makasih..." jawab Aisyah lirih.
"Aku ingin mengecup bibirmu. kau keberatan?!" ujar Haidar.
Aisyah meskipun ketakutan, namun menyangkut harga diri, wanita itu berani juga mengajukan keberatannya dengan anggukan kepala berkali-kali.
Haidar terkekeh. "Sayangnya... aku tak bisa menahan lagi."
dan pemuda itu langsung menerkam Aisyah yang tak sempat memekik. dan kendaraan yang mereka tumpangi mulai bergoyang, makin lama makin nyata, didalam serasa terkurung dalam gempa yang dahsyat.[]
__ADS_1