
"Apakah waang berhasil melukainya?" selidik Salman.
Haanish menggeleng. "Makhluk itu terlalu lincah. tapi herannya, ia sepertinya bukan makhluk biasa. kelihatannya ia memiliki perasaan sebagaimana makhluk cerdas lainnya. makhluk itu tak pernah berniat membalas seranganku. justru ia melarikan diri dengan melompat tinggi san memghilang dihamparan perkebunan milik Mama."
"Kau sudah menceritakan hal ini kepada Mama?" tanya Haidar.
"Nggak. aku tak mau membuat gempar. bisa-bisa para pekerja semua langsung mengajukan pengunduran diri dan perkebunan Mama menjadi tak terurus." ujar Haanish kemudian menatap Salman. "Makanya aku meminta bantuanmu Bro. kita sama-sama akan menangkap makhluk itu."
Salman mengangguk-angguk lalu menjawab, "Baiklah. semoga Allah memberikan hamba-Nya kemudahan dalam menciduk makhluk tersebut."
Haanish melakukan toss five dengan Salman lalu menatap keduanya. "Besok, pagi-pagi... aku akan ke Padang, menjumpai Marissa."
"Selamat atas pernikahan waang dengan adik bontotku itu. jaga inyo baik-baik. orangnya memang manja, tapi inyo akan sangat menurut kepada orang yang inyo cintai. waang adalah orang yang inyo cintai. jadi, aden hanya minta, waang cintailah inyo, sayangi inyo. jangan pernah membuat inyo menangis, meskipun inyo tu selalu menampakkan wajah tersenyum. jangan sekali-kali waang menyakiti hatinya, paham?!" pesan Salman dan mengakhirnya dengan ancaman.
Haanish tertawa. "Tenang bro. aku akan menjaganya dengan jiwa ragaku."
Haidar mencebik. "Dasar playboy. hati kasur kamu! gampang benar beralih ke lain hati."
Haanish tersenyum. "Aku sudah merelakan Denada untuk Wijaya Tanuwirdja. biarkan saja ia makan ampasku. toh dia sendiri yang mau." Haanish memajukan punggungnya. "Kelak, aku akan membuat mereka tunduk menghormati kita. kau akan menyaksikan semuanya."
"Yakin sekali kau." sindir Haidar menjebikan bibirnya.
"Bro. aku sekarang adalah kepala keluarga sekaligus kepala klan keluarga Hasegawa. maka setiap perkataanku harus sesuai dengan perbuatanku. dan jika aku katakan akan membuat mereka menunduk kepada kita, maka itu akan kulakukan. paham kau?!" ujar Haanish menudingkan telunjuknya kepada Haidar. Haanish kemudian menyandarkan kembali punggungnya disandaran kursi. "Satu lagi.... kedepannya, aku tak akan tinggal lagi disini."
"Tentu saja." ujar Haidar tersenyum lalu mengangguk ke arah Salman dan Salman tersenyum mengangguk pula. "Kau akan tinggal di Kediaman Ali..."
Haanish menggeleng. "Nggak..."
"Lalu? dimana kamu akan tinggal kelak? dirumah Papa di Puri Manggis?" tanya Haidar.
"Nggak juga." jawab Haanish.
"Eh, kau itu masih menjabat direktur Tangan Ketiga Buana Asparaga Tbk! memang dimana lagi kamu tinggal jika bukan didua kediaman itu?!" erang Haidar lagi.
"Atau kau akan tinggal di Padang?" tebak Salman lagi.
"Aku akan tinggal di jepang, selama-lamanya sampai wafat." jawab Haanish dengan tenang menatap keduanya yang terkejut. "Syarat diangkatnya aku sebagai katoku sekaligus toryo keluarga Hasegawa, adalah menjadi warga negara jepang. jadi, setelah aku menikahi Issha, aku akan membawanya ke jepang dan tinggal disana."
"Nggak mungkin! itu nggak boleh terjadi!" seru Haidar. "Aku sebagai kakakmu, melarangmu pulang ke jepang!"
Haanish tersenyum. "Semua sudah terjadi, Chouji." ujar pemuda itu. "Aku hanya berpesan kepadamu. jangan pernah lagi mendekati Mahreen. aku sudah katakan padamu sekali lagi, jangan dekati Mahreen... itu saja."
"Mengapa dengan Mahreen? mengapa aku tak boleh mendekati Mahreen? aku dan dia saling mencintai." tegas Haidar. "Aku sudah cukup menderita, saat aku melepaskan Marina. aku tak mau menderita lagi Eiji!"
Haanish menatap Haidar dengan senyum iba. "Chouji... setelah ini, aku tak akan berada disampingmu. kita berdua akan menjalani takdir kita masing-masing. aku hanya bisa memberimu nasihat. kembalilah kepada Allah, Chouji."
"Kau bicara seakan-akan aku melakukan sebuah dosa besar yang sulit tertanggungkan. jujurlah padaku Eiji. apa yang ditugaskan Mama kepadamu? mengapa aku tak boleh mengetahuinya? aku juga kakakmu!" desak Haidar.
Haanish terkekeh namun matanya telah basah. "Chouji... aku terikat sumpah untuk tak mengatakan apapun. meskipun ingin, aku tak akan bisa mengatakannya. tapi aku hanya ingin kau tahu, aku mencintaimu sebagai saudaraku lebih dari jiwaku sendiri. aku rela menumbangkan diriku untukmu. tapi, aku tak akan rela kau menjerumuskan dirimu sendiri dalam kebinasaan." pemuda itu bangkit. "Besok, aku akan menemui Marissa, menuntaskan rasa rinduku padanya." Haanish menerawang lalu menarik isakannya dan tersenyum. "Anak bandel itu, akan menjadi pendamping hidupku kelak. ia akan melepaskan marganya dan menyandang margaku kelak...." Haanish menatap Haidar. "Chouji... aku selalu mendoakanmu, semoga kau akan selalu bahagia disetiap langkah hidupmu. takdir keluarga Lasantu-Mochizuki, bergantung kepadamu. kaulah kepala keluarganya. kau adalah presdir Buana Asparaga Tbk kedepan, bukan aku. jadi, setiap langkah, pikirkan baik-baik."
Haanish kemudian melangkah hendak meninggalkan tempat itu ketika Haidar memanggilnya.
Haanish berbalik dan menatap Haidar. "Chouji... berhati-hatilah dalam melangkah... jika kau ingin mencari kedamaian, ada seorang wanita yang lebih bisa memahami kamu ketimbang Mahreen."
"Siapa?" tanya Haidar.
Haanish menghela napasnya sejenak lalu menatap saudaranya. "Wanita yang putrinya sangat kau sayangi." setelah mengucapkan kalimat itu, Haanish beranjak pergi.
Haidar terdiam saat Haanish menyindirnya. Salman ikut mengangguk-angguk membuat Haidar menatap lelaki asal Padang itu.
"Kenapa kau mengangguk-angguk?" tanya Haidar.
__ADS_1
Salman tersenyum. "Perkataan saudara adalah kalimat yang benar sebagaimana ucapan seorang sahabat. aku menyarankan waang mendengarkan dan memetik hikmah dari itu." pemuda itu bangkit lalu mengambil sekaleng minuman lagi lalu melangkah pergi meninggalkan Haidar sendirian disana ditemani oleh beberapa kaleng minuman yang tersisa.
Haidar memungut sekaleng lagi dan membuka klepnya laou menandas habis isi kaleng tersebut.
...*******...
Airina heran melihat penampilan Marissa yang begitu lain pada hari itu. gadis itu mengenakan pakaian yang biasanya digunakan untuk pakaian pernikahan.
"Umi heran denganmu hari ini." ujar Airina melihat Marissa mematut-matut diri dicermin besar dinding kamarnya. "Kok kamu pakai limpapeh nan gadang. apa kau mau pergi ke acara pernikahan?"
"Nggak Umi." jawab Marissa sambil memperbaiki tingkuluak yang memahkotai rambutnya dan suntiang yang menghiasi tingkuluak tersebut.
Airina menatapi baju batabue yang berhiaskan benang-benang minsie. gadis itu elok benar mengenakan pakain itu. bagai terlihat seorang ratu dalam rumah gadang. memang menurut adat minangkabau yang bercorak matriarki, kedudukan perempuan menjadi sangat penting dalam keluarga.
Marissa berbalik. "Bagaimana Umi? cantikkah denai?" ujarnya mematut-matut diri dihadapan ibunya.
Airina tersenyum lalu bangkit memperbaiki letak salempang dan dukuah yang agak sedikit tak elok terlihat. salempang itu adalah kain songket khas keluarga Alkatiri.
"Anaknya Umi terlihat sangat cantik." puji Airina.
"Wah, jangan terlalu over memuji denai, Umi..." ujar Marissa, "Nanti Uni Tou dan Uni Angah cemburu. dikiranya Umi lebih sayang denai ketimbang mereka." ujarnya menyebut perihal Marina dan Marinka.
"Apa waang pikir, waang yang paling cantik sedunia?" ujar suara didepan pintu, membuat Marissa dan Airina menoleh.
"Uni..." gumam Marissa.
Marinka berdiri melipat tangannya didada dan tersenyum jahil. Marissa menatapnya lalu bercakak pinggang. "Memang denai yang paling cantik." ujarnya menantang.
"Huh, angkuh benar. untung saja denai nggak egois." ujar Marinka kemudian melangkah masuk dan duduk ditepi ranjang.
"Egois? apanya yang egois?" gumam Marissa dan sejenak ia pun terhenyak lalu memasang tampang masam kearah Marinka. "Jangan bilang kalau Uni juga suka sama..." tukasnya.
"Denai nggak mau merebut jodohnya waang." sela Marinka, "Bisa-bisa ngamuk dan ngambek seumur hidup kalau jodohnya diambil orang." goda Marinka lalu tertawa cekikikan.
"Ih, sadis benar waang jadi orang." tukas Marinka memeluk sang ibu meminta perlindungan. "Kurasa kamu bukan keturunan Williams, tapi keturunan Yajuj dan Majuj!"
"Umiiiii... Uni bilang denai bukan anaknya Umi dan Abi." tiba-tiba Marissa menghambur memeluk ibunya dan berlagak menangis. "Jika memang begitu, denai ini anaknya siapa?"
"Hush! kalian berdua ini bercandanya sudah keterlaluan." sergah Airina kepada Marinka dan Marissa namun tetap memeluk mereka. "Kalian itu berdua anak Umi sama Abi. Kalian keturunan Alkatiri dan Mochizuki. keturunan para ulama dan pendekar! paham?!"
"Umiii... Uni jahat!" adu Marissa.
Airina menatap Marinka. "Kamu juga! jangan bikin adikmu kebakaran j****t dong!" tegur sang ibu membuat Marinka tertawa cekikikan.
"Ah, kalau j****tnya yang terbakar sih nggak apa-apa." tangkis Marinka, "Asal jangan otaknya! bisa blang nanti dan Uda Haanish batal nikah sama dia."
Airina dan Marinka tertawa sedang Marissa hanya cemberut dan menghentak-hentakkan kakinya, kesal digoda ibu dan kakaknya.
"Hah! denai adukan sama Abi!" ujar Marissa.
"Halaah... Umi, inikah seorang gadis yang nantinya akan menjadi seorang istri?" sindir Marinka. "Sedikit-sedikit mengadu, sedikit-sedikit mengadu... walaah... bisa repot Uda Haanish kalau begini."
ucapan Marinka segera membuat Marissa mengurungkan niatnya. gadis berpakaian adat itu kini hanya diam dengan wajah yang keruh, bingung hendak melakukan apa. Airina menatap Marissa.
"Kelak, kalau sudah jadi istri. segala permasalahan dalam rumah tangga, harus diselesaikan sendiri, secara bersama-sama. ingat, pendapat boleh berbeda, tapi visi keluarga mesti tetap satu. paham nak?" nasihat Airina.
Marissa menunduk kembali mempermainkan ujung pakaian batabue miliknya. Airina kembali melanjutkan. "Haanish memiliki penyakit patologis tertawa. jadi, kalau dia tertawa, jangan kamu pikir dia sedang gembira, justru mungkin ia berada dalam kemarahan yang memuncak. tapi, seiring waktu, kamu akan bisa membedakan, mana tertawanya yang menyiratkan rasa sayang, suka, senang, bahagia dan mana tertawanya yang menyiratkan rasa marah, murka, sedih dan berduka."
__ADS_1
"Wah, selamanya waang akan menjadi seorang pelajar." olok Marinka. "Sebaiknya, pilih saja kuliah dijurusan psikologi, supaya dapat memahami jiwa suamimu itu nanti."
Marissa menatap Marinka dengan senyum angkuh. "Hah! denai akan bisa memahaminya tanpa harus mempelajari psikologi. kedekatan fisik dan hati adalah terapi psikologo yang lebih manjur dari pada teori-teori."
Airina menatap Marinka sejenak lalu kembali menatap Marissa. "Uni kamu hanya memberikan usul dan saran. jangan langsung ditolak. dipikirkan lebih dulu. dan setiap langkah yang nanti kau ambil, bicarakanlah dengan suamimu itu nanti." nasihat wanita parobaya tersebut.
Marissa tersenyum menatap ibunya. "Nasihat Umi selalu denai perbahasakan dalam bejana bertabur tilam." jawab anak itu membuat Airina tersenyum namun Marinka mencebikkan bibir.
"Aaa... Umii... Uni jahat!" adu Marissa lagi. "Inyo mencebikkan bibir ke denai!"
"Inka..." tegur Airina.
Marinka tertawa lalu kemudian memeluk lengan ibunya. "Umi. kapan waktunya denai? iri juga denai melihat adiek sudah dilamar orang. Uni Tuo juga pasti dah dapat pasangan di Inggris sana. denai yakin, calonnya tu pasti kan datang menyambangi kita." rajuk Marinka membuat Marissa tertawa cekikikan.
"Kenapa waang tertawa?!" sergah Marinka.
"Hah! Uni bicara begini dan begitu, menakut-nakuti denai perihal sisi lain Uda Haanish, ternyata takut juga jadi perawan tua!" olok Marissa lalu tertawa lagi.
"Heh! denai pasti akan mendapat jodoh juga, lebih tampan dan beriman dari suami-suami kalian itu!" tangkis Marinka.
"Waang menantang denai?!" pekik Marissa bercakak pinggang.
"Kalau memang iya, kenapa?!" balas Marinka langsung berdiri juga dan mencakak pinggangnya. keduanya saling menatap tajam.
"waang akan menyesal!" seru Marissa langsung mengaktifkan armor WM01 miliknya. seketika gadis itu diselimuti oleh baju jirah.
"Heh, kalau itu, denai juga bisa!" sergah Marinka juga mengaktifkan armornya. seketika tubuh gadis itu juga diselimuti oleh pakaian tempur.
"Eh, darimana kau punya armor?" tanya Marissa menudingkan telunjuknya kepada Marinka.
"Memang waang saja yang punya? ini armor buatan denai sendiri. Abi nggak turut campur didalamnya! armor ini kunamai MALAM01, tahu?!"
"MALAM? memangnya armornya dibuat malam hari?" olok Marissa.
"Heh, apa pedulimu?!" pungkas Marinka.
Airina berdiri. "Kalian mau pamer armor, apa mau berkelahi?!" sergah Airina juga mengaktifkan armor YUKI02 Couple miliknya.
kini ketiga perempuan itu sudah berselimutkan baju baja pelindung dari bahan nanoteknologi.
"Kalau mau berkelahi, sana diluar! bukan di kamar!" seru Airina.
Marissa dan Marinka menatap ibunya dan keduanya kembali menonaktifkan armor miliknya masing-masing. setelah itu giliran Airina yang menonaktifkan armornya sendiri.
"Kalian berdua itu sudah besar! sudah bisa memahami mana yang benar dan mana yang salah." tegur Airina. "Masalah jodoh saja kalian seperti orang panik tak mendapat jatah ransum dari pemerintah saja."
"Umi... kalau jatah ransum pemerintah, kita nggak perlu." ujar Marinka. "Masa keluarga Williams merengek minta ransum ke pemerintah?!" perkataan gadis itu diaminkan pula oleh adiknya.
"Aaahhh.... kalian berdua ini biar dijelaskan juga nggak mau mengerti." gerutu Airina dengan kesal. wanita itu beranjak meninggalkan ruangan. Marinka menyusul ibunya sambil tak lupa menjulurkan lidahnya pada Marissa, mengolok gadis itu.
Marissa membuang napas kesal, lalu kembali mematut-matut dirinya dicermin.
sementara itu Haanish yang mempergunakan perangkat teleporticon terbaru pemberian Akram, mengaktifkan alat itu dan menteleportasi dirinya hingga tiba dilapangan lebar halaman belakang kediaman Williams. sambil menenteng Si Penebas Angin, pemuda itu mengembangkan tangan, mengumpulkan ki dan menekannya ke pusar kemudian berseru mengeluarkan kakegoe.
"MARISSA BINTI AKRAM WILLIAMS!!! AKU, HAANISH BIN SANDIAGA HERMAWAN LASANTU... DATANG KEPADAMU..!!!"
suara itu bergema dalam kepekatan udara disekitarnya. diberanda belakang itu muncullah Marissa yang mengenakan pakaian adat berlari-lari menuju Haanish dan langsunh menghambur memeluk pemuda itu. lelaki itu balas memeluk.
"Kamu merindukan aku, calon istriku?" tanya Haanish dengan mesra.
"Denai sampai tak bisa tidur berhari-hari, memikirkan Uda." desahnya dengan mata yang basah.
__ADS_1
Haanish tersenyum dan matanya ikut membasah. dengan lembut ia kemudian mengecup bibir sensual Marissa, dan mendekapnya dengan erat. keduanya larut dalam komunikasi spiritual berisyarat cinta melalui pertemuan bibir yang dihiasi airmata kerinduan.
diberanda, keduanya disaksikan oleh Akram dan Airina beserta Marinka yang kaget sambil menutup mulutnya.[]