The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 39


__ADS_3

Pangeran Asahiko melangkah menyusuri taman didampingi oleh Haanish. dibelakangnya Danjo Sakamoto mengawasi beberapa meter.


"Aku sudah mendengar keterangan dari Danjo perihal kamu yang ingin di tempatkan di Badan Intelijen." ujar Pangeran Asahiko membuka percakapannya. "Mengapa kamu tak mau menjadi Sangi? padahal Naikaku Sori Daijin sudah menyetujui proposalku tentang itu."


"Aku hanya tak ingin menimbulkan kesan dikalangan para senior, bahwa aku memanfaatkan anda untuk pansos." jawab Haanish tersenyum.


"Pansos?" gumam Pangeran Asahiko.


"Pansos... panjat sosial." ujar Haanish. "Itu ungkapan baru dalam tata bahasa kami bagi orang yang mencari-cari perhatian supaya dikenal. dalam ajaran agamaku, disebut Sum'ah dan riya'."


Pangeran Asahiko tertawa. "Ternyata kau tahu membawa diri. baiklah. aku tak akan memaksamu lagi. aku akan membicarakan hal ini kembali dengan Naikaku Sori Daijin. tapi, jawablah pertanyaanku."


Haanish menatap Pangeran Asahiko. lelaki berusia lima puluh tahun itu bertanya, "Mengapa kau ingin menjadi direktur badan intelijen?"


"Untuk memastikan tak ada ancaman kepada pihak pemerintah atau kerajaan, atau memastikan tidak ada ancaman apapun yang dapat menggoncangkan stabilitas negara." tandas Haanish. "Lagi pula, saya bukan seorang samurai tulen. saya juga seorang shinobi. maka pekerjaan apakah yang cocok bagi seorang shinobi, kecuali hal-hal yang berhubungan dengan gerakan intelijen?"


pangeran Asahiko mengangguk-angguk. "Aku paham. baiklah. tunggu dalam beberapa hari. kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan."


"Terima kasih atas pengertian Yang Mulia kepada saya." jawab Haanish sambil membungkuk.


"Kudengar kau hendak ke Indonesia. Mengapa?" tanya pangeran Asahiko.


"Menamatkan pendidikan saya. lalu saya akan menimba studi ke Universitas Madinah. setelah itu, kembali ke Jepang dan berdiam di Shiga." jawab Haanish.


"Rupanya kau memang ingin berniat melepaskan diri dari keluarga Hasegawa." ujar Pangeran Asahiko.


"Karena Klan Koga membutuhkan saya, lebih dari pada Klan Nagato." ujar Haanish. "Banyak keluarga dalam klan itu yang berpotensi menjadi pimpinan. mereka hanya sungkan kepada kakekku saja."


"Sudah kau bicarakan dengan kakekmu?" pancing Pangeran Asahiko.


"Saya sementara mencari waktu." jawab Haanish.


"Diupayakan bicara dengan Ryoma. mumpung keadaannya sekarang luang." saran Pangeran Asahiko.


"Saya upayakan." ujar Haanish.


"Kurasa pihak Kedubes Indonesia sudah meloloskan visa kamu. silahkan ke Shinjuku." ujar Pangeran Asahiko.


"Sekali lagi, terima kasih atas perhatian Yang Mulia kepada saya." jawab Haanish sambil membungkuk lagi. pangeran Asahiko mengangguk dan keduanya kembali melangkah menyusuri taman.


...******...


Marissa sedang menghubungi keluarganya. dikamar itu, ia mengaktifkan VC lewat gelang yang melekat dipergelangan tangannya.


📲 "Jadi kalian akan ke Indonesia?" tanya Airina sekali lagi.


📲 "Ya, Umi. kami akan singgah dulu di Padang, lalu akan terus ke Gorontalo. Uda hendak menamatkan pendidikannya yang tertunda." jawab Marissa dengan senyum lebar.


Airina mengangguk.


📲 "Umi dan Abi akan menunggu kalian." ujar Airina lagi.


📲 "Jangan lupa oleh-oleh ya?" sela Akram.


📲 "Abi mau minta oleh-oleh apa?" tanya Marissa.


📲 "Tes kehamilan kamu." jawab Akram membuat Marissa langsung tersipu.


📲 "Ih, Abi, kok nyinggungnya ke situ? kami masih dalam tahap kesitu. sabarlah Abi." pinta Marissa lagi dengan senyum tersipu.


📲 "Abi dan Umi sudah nggak sabar menggendong cucu. kakak kau berdua ini, masih lama prosesnya." ujar Akram sambil tertawa sampai-sampai Airina langsung memukul lengan suaminya.


📲 "Memangnya Aciek tuo dan Uni angah belum ada yang lamar?" ledek Marissa membuat Marinka panas.


📲 "Hei jangan sembarangan waang ya?!" seru Marinka yang kebetulan berada disisi ibunya langsung menudingkan jarinya ke arah Marissa yang makin tersenyum lebar.


📲 "Habisnya, Uni juga lama benar menerima pemuda." ledek Marissa. "Keburu tua, tahu nggak?!"


📲 "Bontot lancang! berani waang merendahkan kakakmu sendiri?! kemari waang, biar denai kasih pelajaran mulut tak becus itu." tantang Marinka.


"Inka..." tegur Airina.


Marinka sekali lagi hanya bisa mengencangkan rahangnya. memang dikeluarga Williams, ia lah yang paling dididik Syafira dengan keras dan ketat soal tata krama. sebagaimana ia hendak dijadikan calon bundo kanduang di keluarga Williams.


Marissa tertawa.


📲 "Nah, begitu dong. bibir tuh diketup. tenang diam anteng." ledek Marissa lagi.


"Aaarrrghhh..." jerit Marinka dengan gemas. "Lama-lama disini, denai bisa senewen meladeni waang." umpat gadis itu lalu berbalik meninggalkan tempat tersebut.


Marissa tertawa melihat kakaknya berlalu, sementara Airina hanya menggeleng-gelengkan kepala saja sedangkan Akram juga hanya bisa tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya.


📲 "Jangan meledek kakakmu." tegur Airina.

__ADS_1


📲 "Iya, Umi." jawab Marissa. "Maafkan denai ya?" ujar Nyonya muda itu mengatupkan kedua tangannya di dada.


📲 "Kamu ini." gerutu Airina. "Sudah jadi Nyonya, kelakuanmu masih saja kayak masih belum nikah saja. untung saja Haanish nggak mempermasalahkan kelakuanmu itu."


📲 "Oh, kalau Uda nggak begitu, Umi. beliau sangat sayang, hormat, dan mencintai denai." jawab Marissa dengan mantap. "Nggak salah denai menaruh hati sama dia."


📲 "Ah, memang dasar anak yang beruntung." ujar Airina sambil tersenyum.


📲 "Kan rejekinya anak sholeh, Umi." ujar Marissa dengan senyum manisnya. "Umi, tahu kenapa Aciak dan Uni angah belum dapat jodoh?" pancing Marissa.


📲 "Memangnya kenapa?" tanya Airina.


📲 "Karena terlalu jaim." jawab Marissa dengan tenang.


📲 "Jadi, mereka berdua harus seperti kamu, yang nyelonong masuk kekamar laki-laki tanpa permisi?" tukas Airina dengan alis berkerut.


📲 "Bukan begitu Umi. Aciak terlalu menarik harga tinggi. beliau mencari seseorang yang standarnya seperti Uda Haidar. padahal, semua laki-laki sebenarnya sama. tergantung kita saja." jawab Marissa.


📲 "Ooo... jadi Abi sama juga dengan Haanish dan Haidar, begitu?" pancing Akram sambil tersenyum.


📲 "Ih, Abi kok nimbrung? sudah, ini urusan denai sama Umi. Abi nggak boleh turut campur." omel Marissa.


Akram tertawa melihat Marissa yang berlagak mengusirnya. ia menatap istrinya. "Kelihatannya, ini memang pembicaraan para nyonya." ujarnya meledek Marissa membuat gadis itu mengeruh wajahnya. Akram mencium sejenak kepala istrinya. "Abi mau ke kamar ya?"


Airina mengangguk dan tersenyum sejenak lalu menatap lagi Marissa dengan tatapan datar.


📲 "Kamu jangan begitu kepada Abi. jangan karena kamu sudah menikah, maka seenaknya pada orang tua." tegur Airina. "Awas kamu. kalau kemari..."


📲 "Umi, denai kan..." ujar Marissa.


📲 "Sudah, Umi nggak mau dengar. kita bicarakan hal ini setelah kamu tiba di Padang." tukas Airina kemudian mengucapkan salam dan mengakhiri pembicaraan via video call tersebut.


Marissa benar-benar keruh wajahnya. ibunya kelihatannya marah kepadanya. tak lama kemudian pintu bergeser dan masuklah Haanish. lelaki itu melihat wajah istrinya yang ditekuk.



"Assalamualaikum sayang kecilku." sapa Haanish.


"Wa alaikum salam." jawab Marissa dengan datar.



alis Haanish mengerut. tak biasanya sang istri menjawab salam dengan datar. apakah ada sesuatu yang salah?


lelaki itu melepas haori dan menyampirkannya di rak. ia kemudian duduk disisi Marissa.


Marissa menatap suaminya. lelaki itu melihat mata samg istti berkaca-kaca. lelaki itu langsung respon mendekat dan merengkuh Marissa, memeluk dengan lembut dan menyandarkan kepala istrinya ke dada.


"Katakan...ada apa?" tanya Haanish.


"Umi..." jawab Marissa dengan serak dan mulai terisak-isak.


"Ada apa dengan Umi?" tanya Haanish dengan lembut.


Marissa menceritakan semuanya sementara Haanish mendengarkannya dengan cermat dan beberapa saat kemudian mengangguk-angguk setelah Marissa menyelesaikan keterangannya.


"Mungkin maksud Umi, kamu jangan terlalu ikut campur dengan kehidupan Marinka dan Marina." jawab Haanish.


"Habisnya gara-gara Abi juga, tanya kalau denai sudah hamil apa belum. kan denai malu ditanya begitu." jawab Marissa. "Makanya denai bilang sama Abi dan Umi supaya Aciak dan Uni angah dinikahkan saja supaya bisa momong anak."


"Kehamilan, kelahiran anak, itu termasuk dalam wilayah kekuasaan Allah. jika memang sudah saatnya, Allah pasti akan memberikan kita momongan." sahut Haanish membelai bahu istrinya. "Jangan terlalu diambil hati, omongan orang tua. hidup kita, kita yang menjalani. jadi kita lebih tahu apa yang ada dalam diri kita."


"Uda..." panggil Marissa.


"Hm?" jawab Haanish.


"Uda kecewa, denai belum menampakkan tanda-tanda kehamilan?" tanya Marissa.


"Itu hanya perasaanmu saja." ujar Haanish. "Kan sudah kubilang, kita jalani saja hidup. kehamilan, kelahiran itu adalah urusan Allah. kita hanya melakukan ikhtiar, usaha kearah sana. kita jangan memaksakan takdir. jalani saja kehidupan seperti air mengalir."


Marissa tambah menenggelamkan dirinya dalam pelukan suaminya.


...*******...


Salman duduk dengan santai disisi Cholil, menikmati makanan yang disuguhkan Callista. bale tani untuk tamu itu kini ramai ditinggali karena bertambah dengan Inayah dan Mahreen.


Cholil memutuskan tidur di bale bonter menemani kepala kampung. begitu juga dengan lelaki itu. Callista menatap sang pujaan yang dengan begitu nikmat menghabiskan sajian makanannya. gadis itu tersenyum. Cholil menatap adik kembarnya itu dan mencibir sejenak.


Callista menatap Cholil dan membelalakkan matanya menyuruh kembarannya diam saja. sementara itu Salman telah menghabiskan makanan itu dan mencuci tangannya dalam mangkuk kobokan.


"Enak, Uda?" tanya Callista.


Salman mengangguk mengiyakan membuat Callista makin tersenyum lebar sementara Cholil memperlihatkan gaya hendak muntah dan langsung diam lagi saat dipelototi Callista.

__ADS_1


"Makasih sudah menikmati sajian saya." ujar Callista.


"Aden yang harus berterima kasih kepada adiek. hidangan ini sangat enak dan... sangat menyentuh dihati." jawab Salman lalu tersenyum lebar.


"Lebaaayyyy..." ujar Cholil tanpa suara.


Callista kembali memelototi saudara kembarannya. Salman menoleh menatap Cholil. "Semestinya waang bangga punya saudari ulet macam ini."


"Ulet?" ujar Cholil lalu terkekeh. "Dia ulet kalau didepanmu. kalau didepan Ibunda dan Ramanda, manjanya minta ampun." jawab Cholil.


"Rakanda!" bentak Callista dengan ketus.


"Aku hanya..." ujar Cholil.


"Bro. adik waang itu adalah wanita yang baik." sela Salman. "Aden cinta sama dia."


"Aaahhh... lagakmu itu macam orang mabuk kecubung saja." olok Cholil. "Nanti kalau kalian berumah tangga.."


"Aden akan membawanya menjauh dari waang." jawab Salman dengan tenang.


"Lho? kenapa?" tanya Cholil.


"Masa aden biarkan istri aden tinggal dengan orangtua? aden mampu membelikannya rumah." jawab Salman.


Callista langsung menjulurkan lidah kepada Cholil. Salman hanya tersenyum melihat kelakuan Callista. ia menyahut lagi. "Jangan dirubah gayanya ya? aden suka gaya adiek begitu."


ucapan Salman membuat Callista tersipu-sipu. Cholil ganti menjulurkan lidah. Salman menatap keduanya dan menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa pelan.


"Aden suka melihat kalian berdua seperti itu." ujar Salman. "Jadi ingat masa kecil saat masih di Padang."


keduanya kembali cengar-cengir mendengar ucapan lelaki itu.


...******...


Mahreen membaringkan diri dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Inayah. wanita parobaya tersebut membelai rambut gadis itu.


"Senangkah kau disini sampai melupakan Mama?" rajuk Inayah sambil tersenyum.


"Maafkan saya, Mama." pinta Mahreen menengadah menatap wajah Inayah yang menunduk menatapnya.


Inayah tersenyum. "Dalam dua hari ini, persiapkan dirimu. Mama sudah menghubungi kaum adat keluarga kita sebelumnya untuk meminta mereka melakukan pembeatan untukmu."


"Mengapa Mama melakukan itu?" tanya Mahreen.


"Untuk menegaskan statusmu sebagai putriku." jawab Inayah. "Kau bersedia?"


"Apapun keinginan Mama, akan Mahreen turut. tapi bisakah Mahreen meminta sesuatu?" tanya Mahreen.


"Apa itu nak?" tanya Inayah.


"Mahreen ingin Kak Haidar dan Kak Haanish hadir di pembeatan itu." pinta Mahreen.


sejenak Inayah terdiam. Mahreen menatapnya.


"Mama..." panggil gadis itu.


Inayah sejenak menatap langit-langit lalu kembali menunduk menatap Mahreen.


"Apakah permintaan itu, terasa berat bagi Mama?" tanya Mahreen.


Inayah tersenyum. "Tidak. mereka berdua akan hadir di pembeatan kamu, bersama-sama keluarganya masing-masing."


Mahreen terdiam sejenak lalu melengos. Inayah masih tetap membelai rambut gadis itu.


"Marahkah kau pada Mama?" pancing Inayah.


Mahreen menatap wajah wanita parobaya tersebut. ia menghela napas lalu bertanya, "Apakah Kak Haidar menikahi Aisyah?"


Inayah mengangguk.


Mahreen melengos lagi dan Inayah dapat dengan jelas melihat mata gadis itu berkaca-kaca. Inayah tersenyum datar.


"Haidar bukan jodoh yang cocok untukmu... melainkan Djalenga." tukas Inayah menegaskan kembali agar hati Mahreen tak terbelok. "Mama sudah dengar cerita tentang kau dan Djalenga di acara parasean itu. sekarang jawab pertanyaanku dengan jujur nak. jangan mempermainkan hati orang lain dan jangan berharap pada sesuatu yang tak bisa kau gapai. jawab pertanyaanku.... apakah kau mencintai Djalenga dengan tulus, atau pemuda itu hanya sebuah pelarian saja bagimu?"


Mahreen kembali terdiam.


Inayah tersenyum lagi. "Mama beri kesempatan kau merenungkan hal itu. ingat baik-baik, Mahreen. jika ada seorang pemuda yang mendatangimu dengan hati yang tulus, mengapa harus menunggu seseorang yang tak bisa kau harapkan hatinya untukmu?"


"Apakah Mama memang telah memprediksi hubungan saya dengan Kak Haidar tidak akan bertahan lama?" selidik Mahreen memicingkan mata.


"Bahkan mustahil terlaksana." tandas Inayah. "Ada dinding yang tak akan bisa selamanya kau dam dia tembus. dan itu terus melingkupi nasib kalian berdua. pada saatnya nanti, kau akan mengetahui alasan mengapa Mama memisahkan kalian berdua. itu semua untuk kebaikan kita bersama."


"Apakah Kak Haanish juga mengetahuinya?" tanya Mahreen.

__ADS_1


"Haanish yang mengetahuinya pertama kali saat ia menyelidiki identitasmu ke Rusia waktu itu. Haanish tak bicara karena terikat sumpah dengan Mama." ujar Inayah. "Tapi, memang sudah saatnya kau akan mengetahui. biarlah, Haanish yang akan membeberkan semuanya dan ku harap kau tak akan membenci dirimu dan kami, Mahreen."


"Mama kini mengucapkan hal-hal yang membuatku penasaran. ada apa dengan diriku Mama? siapa sebenarnya aku? jika memang menurut Mikail, aku bukan anak dari keluarga Nurmagonegov, lalu siapa orang tuaku? siapa ibu kandungku? siapa ayah kandungku?" tanya Mahreen bertubi-tubi. []


__ADS_2