The Blood Of God

The Blood Of God
WE ARE UNITY # 15


__ADS_3

TOK... TOK...TOK...


Aisyah baru saja hendak beranjak menuju kamarnya untuk beristirahat ketika terdengar suara ketukan dipintu. sejenak Aisyah berhenti menatap pintu.


TOK... TOK... TOK...


kembali terdengar ketukan. Aisyah kembali teringat kejadian kedatangan Joni. ia menyahut. "Siapa?!" serunya.


"Aisyah! buka pintu, cepat!" seru seseorang dari balik pintu.


Aisyah terhenyak. suara itu sangat dikenalnya. bergegas ia menuju pintu dan membuka pintu tersebut. disana berdiri Haanish yang sedang memapah Haidar yang pingsan. keduanya basah kuyup bekas hujan. Aisyah terperangah.


"Kak Haanish?! Sayang?!" pekik Aisyah dengan kaget langsung menghambur ikut memapah Haidar masuk kedalam rumah.


"Masukkan dulu dia ke kamar." pinta Haanish.


Aisyah mengangguk lalu keduanya memapah Haidar ke dalam kamar jilbaber tersebut. lelaki itu dibaringkan diranjang dan Aisyah melucuti semua pakaian yang melekat basah ditubuh suaminya itu kemudian menyelimuti tubuh Haidar yang telanjang itu dengan selimut tebal. Haanish mengisyaratkan wanita itu agar mengikutinya keluar kamar.


keduanya meninggalkan kamar itu dan Aisyah kemudian menyerahkan sebuah handuk kepada Haanish.


"Makasih." ujar Haanish kemudian mengambil handuk itu dan membersihkan dirinya. benda itu kemudian dikembalikan lagi kepada Aisyah.


setelah menerima handuk itu, Aisyah bertanya. "Ada apa dengan suamiku?"


"Dia mengalami syok berat akibat sebuah kebenaran mengerikan yang dialaminya." jawab Haanish.


"Kak, Haidar sekarang adalah suamiku. aku berhak mengetahui apapun yang berkaitan dengan dirinya, dulu, sekarang bahkan kelak kedepannya." tuntut Aisyah.


Haanish menghela napas sejenak sambil menatapi Aisyah. "Berjanjilah dengan sungguh-sungguh bahwa kau akan merahasiakan hal ini dari siapapun!" tandas Haanish.


"Rahasia tentang apa?" tanya Aisyah. "Aku tak mau memegang rahasia yang aku tak mampu emban."


Haanish mendecak kesal. "Kau mengaku sebagai istrinya, namun kau tak mau memegang rahasianya?" sindir Haanish. "Istri macam apa kau?"


Aisyah mengerutkan alisnya. "Baiklah... katakan apa rahasia suamiku?" tantang jilbaber.


"Mahreen Nurmagonegov adalah adik kandung kami!" jawab Haanish membuat Aisyah terhenyak. Haanish menyambung. "Aku disuruh Mama menyelidiki identitas Mahreen yang sesungguhnya. nama aslinya adalah Julia Fedora Bushra. ia putri ayahku dan seorang wanita bernama Ivanka Korkov. Julia kemudian diadopsi keluarga Nurmagonegov dan diberikan nama baru, Mahreen."


"Aku tak menyangka." desis Aisyah. "Bukankah Haidar dan Mahreen memiliki suatu hubungan?"


"Maka tugasmu adalah menghilangkan kenangan tentang Mahreen dibenak Haidar, bagaimanapun caranya!" tandas Haanish.


"Ihhh, kak! itu paling susah saya lakukan." keluh Aisyah. "Kemarin saja dia sempat membentak saya hanya gara-gara saya membandingkan status Mahreen dengan diri saya." jilbaber itu menundukkan kepalanya.


"Aisyah... ketulusan seorang istri, akan bisa merubah kekerasan hati seorang suami. aku yakin, suatu saat Haidar akan menerimamu sepenuhnya.... jika tidak, kau boleh menyebutnya patung hidup yang tak memiliki perasaan." ujar Haanish kemudian berbalik menuju pintu. didepan pintu, lelaki itu menoleh sejenak.


"Aisyah... aku sangat mengharapkan kamu bisa memberikan dukungan moril kepadanya untuk melipur dukanya. berlakulah sebagai istri seorang samurai, Aisyah... sebab kau menikahi salah satu anggota keluarga Mochizuki. kami berdua adalah keturunan Chiyome Mochizuki yang pernah menggemparkan Tokyo, tujuh dasawarsa yang silam. Haidar adalah putra pertama dari Saburo Koga yang membunuh Laksamana Chikaraishi Hasegawa dalam perang tanding dihadapan Yang Mulia Kaisar Reiwa Agung di halaman kastil Edo, empat dasawarsa silam.... maka kau harus bisa, semampumu mengemban amanat itu. semua terhampar dihadapanmu. suka tak suka, rela tak rela, kau wajib menerima kenyataannya." Haanish menjeda sejenak kalimatnya lalu menyambung lagi. "Bukankah sudah kubilang, kaulah yang lebih pantas bersanding dengannya. maka buktikan jika aku memang benar atau perkataanku lalu itu merupakan ungkapan seorang yang sedang mabuk saja."


Haanish membuka pintu dan keluar. pintu menutup lagi meninggalkan Aisyah sendirian disana. jilbaber itu menghela napasnya sejenak.


Kak Haanish benar... inilah saatnya aku menampilkan diri sebagai sosok istri yang diperlukan dan diharapkannya. aku tak boleh melewatkan kesempatan ini untuk membuktikan bahwa aku memang pantas disisinya.... baiklah! semangatlah Aisyah! SEMANGAT!!!!


Aisyah menghembuskan napas lalu melangkah memasuki kamar.


...********...


Inayah menjagai Mahreen dan memperlakukan gadis itu bagai putri kandungnya, sesuai amanat mendiang suaminya tujuh tahun yang lalu. Mahreen sendiri sempat heran namun ia mengabaikannya, sejak ia bertanya mengapa Inayah memperlakukan dirinya agak protektif.


"Kau sudah tak memiliki lagi keluarga diluaran sana. kau hanya memiliki aku. maka... bisakah kau menganggap aku sebagai ibumu? panggillah aku Ibu... maka dengan senang hati, aku akan rela menyebutmu putriku." ujar Inayah waktu itu dengan lembut.


bahkan saat Mahreen mempertanyakan tentang Haidar, sang wanita hanya menjawab, "Mulai saat ini... kau harus menata kehidupan yang baru, anakku. jangan memikirkan Haidar, atau siapapun. pikirkan dulu dirimu. bahagiakan dulu dirimu."


sejak saat itu, Mahreen menahan keinginannya untuk menanyakan keberadaan Haidar kepada wanita itu. ia memilih hendak menyelidiki sendiri tentang keberadaan Haidar.


Inayah bahkan hendak mengganti nama gadis itu. "Mahreen adalah masa lalumu. kau harus mati dan hidup kembali sebagai sosok yang baru... aku akan menyiapkan perangkat adat untuk membaiatmu dan memberikanmu nama yang baru. percayalah kepada ibumu ini... kau akan melangkah ke depan dengan lebih baik lagi."


maka Mahreen mulai menjalani hidupnya tanpa kehadiran Haidar disisinya, meski ia tahu, perasaan itu masih tetap ada dan tetap menyala. jika tiba saatnya ia berjumpa, maka ia akan merajut kembali asa yang sempat pudar. ketika mereka dipisahkan....


...*******...


senja itu, ketiganya duduk di gazebo besar yang digunakan Inayah untuk mengawasi para buruh yang bekerja diperkebunan miliknya. mereka berbincang ditemani suguhan kue dadara dan minuman kopi hangat.


"Jadi, sudah bulat tekadmu kembali ke Jepang?" tanya Inayah sekali lagi.

__ADS_1


Haanish menarik napas dan mengangguk-angguk pelan. Inayah menatap menantunya. "Issha... apa kamu juga sudah siap?"


"Tentu, Mama... denai bahkan lebih siap dari suami denai ini." jawab Marissa dengan semangat membuat Haanish terkekeh lalu membelai bahu istrinya.


Inayah mengangguk-angguk. "Mama nggak akan menghalangi kepergian kalian. berhati-hatilah dalam perjalanan." wanita itu menatap Haanish. "Eiji... jaga menantu Mama ini baik-baik. awas kalau kau lalai... Mama akan membunuhmu!"


"Perintah Mama, saya laksanakan dengan penuh khidmat." jawab Haanish dengan mantap.


Inayah mengangguk-angguk lagi. "Baiklah... besok kalian berangkat, sampaikan salam Mama kepada kakekmu, Eiji."


"Mama..." ujar Haanish. "Ada hal yang hendak kuberitahukan kepada Mama."


"Hal apa?" tanya Inayah dengan tenang.


"Ini tentang Haidar dan Aisyah..." jawab Haanish.


"Ada apa dengan mereka berdua?" pancing Inayah dengan hati berdebar. Haanish sejenak menatap Marissa lalu kembali menatap Inayah.


"Mama.... aku menidurkan Haidar dirumah kost perusahaan yang dihuni Aisyah." jawab Haanish.


"Mengapa kau menidurkannya disana? bukankah ada kediaman Lasantu? terus, mengapa harus ditempatnya Aisyah? kamu akan membuat keduanya dipergoki dan dipermalukan oleh warga!" ujar Inayah dengan hati tak berkenan. wanita itu mengambil cangkir berisi minuman kopi hangat dan mulai meminumnya.


"Mama tak perlu meragukanku. semua sudah sesuai dengan rencana Mama..." ujar Haanish. "Perlu Mama tahu... keduanya sebenarnya telah menikah secara siri... aku jadi saksinya."


CEPROOOOTTT... UHUK-UHUK-UHUK-UHHHUUKKK...


Inayah tersedak dan terbatuk-batuk mendengar kalimat putra keduanya itu, begitupun dengan Marissa. kedua manik mata wanita parobaya tersebut membesar.


"Eiji! kenapa kamu menyembunyikan kebenaran ini?" pekik Inayah dengan kaget.


Haanish hanya tersenyum. "Mama.... aku hanya terikat sumpah untuk tak membeberkan hal ini. Haidar memaksaku untuk merahasiakannya." lelaki itu kemudian terkekeh. "Tapi kurasa, aku sudah bisa melepaskan sumpahku... Mama... Haidar dan Aisyah telah menikah di..." Haanish menyebutkan lokasi pernikahan dan nama dari penghulu yang menikahkan keduanya.


sekali lagi Inayah terhenyak mendengar informasi tersebut. dalam hati, wanita itu bergembira, sebab secara fisik Haidar telah melaksanakan kewajibannya yaitu menikahi Aisyah.


"Apakah Mahreen sudah tahu berita ini?" tanya Inayah.


"Dia tak mengetahuinya... dan untuk saat ini, ia tak boleh tahu bahwa Haidar telah menikah dengan Aisyah... Mama bisa memastikan itu, kan?" pinta Haanish.


Inayah langsung mengangguk. "Kalau begitu, untuk sementara Haidar diasingkan dulu bersama Aisyah disuatu tempat. nanti Mama akan mengunjungi mereka." ujar wanita itu dengan semangat.


...*******...


Haidar membuka mata perlahan. ia menatapi langit-langit ruangan itu berupaya mengidentifikasi tempat itu dan ia mengenalnya. itu adalah kamar Aisyah. lelaki itu perlahan bangkit dengan malas lalu duduk disisi ranjang.


tak lama kemudian, pintu membuka dan Aisyah masuk. sejenak jilbaber itu tertegun menatap Haidar yang duduk dalam keadaan telanjang bagai bayi kekar disisi ranjang. Haidar mengangkat wajah menatap jilbaber itu. tatapan lelaki itu begitu tajam menghujam membuat Aisyah merasa sedikit tidak nyaman. namun wanita itu berupaya tersenyum.


"Kamu sudah bangun ternyata." ujar Aisyah berupaya menyamankan dirinya, ditatapi Haidar bagai tersangka makar pengkhianatan terhadap dirinya.


"Sudah berapa lama aku tertidur disini?" tanya Haidar dengan pelan.


Aisyah melangkah mendekat. "Cukup lama." jawabnya. "Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam."


Haidar bangkit dan melangkah menuju lemari. ia membuka dan mengenakan pakaian yang disimpannya dikamar itu. Aisyah kembali mendekat, berdiri dibelakang lelaki itu.


"Kamu mau kemana?" tanya Aisyah. "Itu sudah larut malam. tidurlah disini." pinta wanita itu.


Haidar menggeleng. "Nggak, aku punya urusan dengan Mama... aku hendak ke kediaman Ali..."


"Mama tadi menghubungiku." sela Aisyah membuat Haidar menoleh sejenak. "Beliau menyuruhku untuk menahanmu semalam disini. esok beliau akan bertandang kemari."


"Apakah Mama sudah tahu tentang pernikahan siri kita?" tebak Haidar. "Kau menceritakan semua pada Mama?"


Aisyah menggeleng. "Kak Haanish yang menceritakan semua kepada Mama." jawab Aisyah.


"Adik durhaka!!!!" umpat Haidar menyergah. "Lelaki itu memang sudah tak bisa dipercaya lagi mengemban amanat."


"Justru Kak Haanish sangat kuat mengemban amanat." tangkis Aisyah. "Jika tidak, maka selamanya status pernikahan kita hanya selalu menggantung seperti ini."


"Karena aku mencintai menginginkan demikian!" tandas Haidar.


"Supaya kau bisa menikahi adik kandungmu sendiri?!" tohok Aisyah dengan nada tegas. Haidar terperanjat dan menoleh.


"Apalagi yang Eiji katakan kepadamu?!" desak Haidar mulai meninggi.

__ADS_1


"Haidar.... bukan, suamiku... jangan menyalahkan siapapun atas takdir jelek yang menimpamu. yang perlu kau lakukan adalah membenahi jalan agar nantinya apa yang kau harapkan.... kebaikan itu... akan kau dapatkan." ujar Aisyah.


"Tak usah kau mengkhutbah. aku paham semua apa yang kau katakan." sergah Haidar.


"Jika kau memang paham, lalu mengapa kau tak mau membuka hatimu?" tohok Aisyah. "Nyata sudah, Mahreen adalah adik kandungmu. lupakan dia. lupakan segala impian tentangnya. kau masih memiliki aku. apapun yang kau minta, akan kulakukan demi kamu... asal jangan kau minta aku menjadi dirinya!"


Haidar terdiam mendengar kata-kata istri sirinya itu. Aisyah menarik napas sejenak lalu mengucap, "Istirahatlah suamiku. istirahatlah.... istighfarlah.... relakan semua... agar kau mendapatkan semua yang kau inginkan kelak." Aisyah mendekat lalu perlahan tangannya terjulur membelai dada kekar suaminya. "Istirahatlah dalam pelukanku, Haidar.... kau tidak sendirian... kau memiliki aku... kau memiliki aku...."


perlahan namun pasti kemarahan lelaki itu surut dengan sendirinya dan akhirnya Haidar sendiri yang maju memeluk lembut Aisyah. melingkarkan lengan kekarnya ditubuh munhil istri sirinya itu.


"Maafkan aku.... maafkan aku...." ujar Haidar dengan lirih.


Aisyah menyapu punggung suaminya dengan lembut. sebelah tangannya meraih gawai dalam kantung dan mengeluarkannya. dengan cekatan jemari lentiknya membuka aplikasi musik dan mulai menekan tombol play pada layar sentuh gawai itu.


maka seketika mengalun lantunan musik dan lirik yang menohok perasaan Haidar. anehnya lelaki itu tak tersinggung, justru merasa damai dan memahami bahwa lantunan musik itu mewakili suara hati Aisyah.


🎶 aku... kan menjadi malam-malammu


'kan menjadi mimpi-mimpimu... dan selimuti hatimu...


yang beku...


🎶 Aku... 'kan menjadi bintang-bintangmu


'kan s'lalu menyinarimu... dan menghapus rasa rindumy...


yang pilu


🎶 aku bisa... untuk menjadi apa yang kau minta


untuk menjadi apa yang kau inginkan...


tapi ku tak bisa menjadi dirinya.... haaaa.... uuuuuu...


🎶 aku... 'kan menjadi embun pagimu...


yang 'kan menyejukkan hatimu...


dan 'kan membasuh hatimu.... yang layu...


🎶 aku bisa untuk menjadi apa yang kau minta


untuk menjadi apa yang kau inginkan


tapi ku tak bisa menjadi dirinya.... aaaaa.... uuuuuu....


🎶🎶🎶


tanpa sadar gerak kaki kedua sejoli itu mulai bergerak membentuk pola dansa pelan romantis. dalam posisi berpelukan, musik tetap mengalun, dan lirik kembali berlantun...


🎶 tinggalkan sejenak lalumu.... beri s'dikit waktu kepadaku


'tuk meyakinkanmu..... uuuuuu... hmmmm....


🎶 aku... kan menjadi malam-malammu...


'kan menjadi mimpi-mimpimu.... dan selimuti hatimu...


selimuti hatimu...uuuuu....


selimuti hatimu.........


selimuti hatimuuuuuu....


selimuti hatiiii muuuu....


selimuti...... hatimu.....


musik terus mengalun dan Haidar mendekatkan wajahnya ke wajah Aisyah. keduanya berciuman seiring lantunan lirik terakhir lagu itu.


🎶 selimuti.... hatiiii... muuuuu..... 🎶


dan malam yang larut kembali menjadi saksi perpaduan rasa diantara dua sejoli itu dalam menyatukan detak birahi mereka didalam hentak pinggul bertalu dan pancaran mata air kedalam dasar periuk cinta.

__ADS_1


malam itu menjadi saksi percintaan mereka. []


__ADS_2