
Haidar menatap wajah Aisyah yang merona merah. jilbaber itu menyusuti air matanya yang membasahi pipinya. pemuda itu tersenyum datar sedang Haanish tersenyum lebar. penghulu itu ikut tersenyum.
"Nanti setelah ini, kalian boleh resmikan pernikahan di KUA, supaya nanti tidak ada masalah dikemudian hari." pesan penghulu tersebut.
"Itu gampang pak." sela Haanish, "Yang penting sah dulu."
penghulu itu mengangguk-angguk lalu bangkit. "Saya tinggalkan anda disini sejenak. silahkan jika ada yang ingin diutarakan." ujarnya lalu melangkah meninggalkan ruangan tersebut.
Haidar menatap Haanish. "Kamu sekarang memegang rahasiaku. jangan katakan pernikahan ini kepada Mama... maupun Mahreen." pinta Haidar.
Haanish menatap Aisyah sejenak, kemudian menatap kakaknya. "Kenapa?" tanya pemuda itu kemudian mengerling lagi ke arah Aisyah yang menunduk.
"Tak ada alasan untuk itu." jawab Haidar.
Haanish menatap Aisyah. "Kakak ipar, bisakah kakak ke mobil? ada hal pribadi yang hendak saya diskusikan dengan suamimu ini." pintanya.
Aisyah mengangguk lalu menatap Haidar. "Aku menunggumu di mobil."
"Sebentar lagi aku akan menyusulmu." jawab Haidar.
Aisyah mengangguk lalu melangkah meninggalkan ruangan itu. Haanish mengekori kepergian Aisyah hingga ia masuk kedalam mobil lalu kembali menatap Haidar.
Haanish menghela napas. "Bro. kamu nggak kasihan dengan istrimu ini?" pancingnya. "Bagaimanapun sekarang Aisyah sudah sah jadi istrimu... kalau perkara jangan bilang sama Mama, okey, aku akan menurutimu... tapi kurasa kau tak pantas bicara hal semacam itu dihadapan Aisyah."
"Aku punya alasan lain yang sebenarnya tak bisa aku katakan disini." kilah Haidar.
"Bro, besok kita akan berangkat ke Padang. aku mau menikahi Marissa." ujar Haanish, "Apa kau tak mau membawa serta Aisyah?"
Haidar menggeleng. "Akan banyak menimbulkan pertanyaan terutama bagi Mama, apalagi Mahreen."
"Berarti hanya kau dan Mama yang akan mendampingiku." ujar Haanish.
"Aku akan membawa Mahreen." ujar Haidar.
"Gila kau!" umpat Haanish. "Nggak terbelit jaringan otakmu itu sehingga kau lebih memilih mengikutsertakan Mahreen ketimbang Aisyah yang notabene sudah menjadi istrimu?" tukasnya.
"Mengajak Mahreen ikut, akan memperkecil peluang bocornya rahasia ini." ujar Haidar. "Aku janjikan padamu... setelah semuanya selesai, aku akan halalkan secara negara, pernikahanku dengan Aisyah, tapi bukan saat ini." tandas pemuda itu. "Saat ini, aku hanya ingin mengangkat statusnya dan putrinya agar Sofi tidak minder dalam pergaulannya."
Haanish memicingkan matanya. "Kuharap kau berkata yang sebenarnya. ucapanmu akan kujadikan hujjah untuk menuntut kamu kelak jika kau tak memenuhi tanggung jawabmu itu." ancamnya.
"Aku janji... aku tak akan memungkirinya." ujar Haidar dengan sungguh-sungguh.
"Bagus. nah pergilah sekarang, nikmati malammu dengan Aisyah. soal bagaimana dirimu dengannya itu menjadi urusanku. aku jamin Mama nggak akan mengetahuinya dari lisanku." ujar Haanish.
"Baiklah..." Haidar bangkit menatap Haanish. "Aku pergi dulu."
Haanish mengangguk. Haidar membalik langkahnya dan meninggalkan ruangan itu. tinggal Haanish sendirian diruangan tersebut. tak lama kemudian terdengar mesin Tuatara V33K dihidupkan dan terdengar deru kendaraan itu meninggalkan kediaman penghulu.
tak lama muncullah penghulu. Haanish bangkit dan menatap penghulu itu. "Rahasiakan hal ini dari siapapun. kau akan membawa rahasia ini sampai ke liang kuburmu." ujar Haanish kemudian menyerahkan amplop tebal. "Kau hanya boleh bicara, jika kuperintahkan. paham?!"
penghulu itu mengangguk-angguk sambil tersenyum lebar saat menerima amplop tersebut. lekas ia menyimpannya dan menatap Haanish dengan sorot mata berterima kasih. Haanish berbalik dan melangkah meninggalkan tempat itu. tinggallah sang penghulu yang kemudian mengeluarkan amplop itu dari sakunya dan membuka amplop itu. ia menemukan tiga gepok tebal uang kertas bernominal seratus ribuan. ia tersenyum-senyum lagi lalu mengangguk dan berbalik meninggalkan ruangan tamunya.
...********...
Marissa mondar-mandir dikamarnya. ini adalah hari yang dinantikannya. para periasnya sendiri kebingungan melihat yang hendak dirias malah tak tenang dan berjalan mondar-mandir dikamarnya itu.
"Sory Non. tapi kalau Nona terus saja mondar-mandir disini, kami kuatir tak bisa merias nona sebab Nona tak tenang saja kelihatannya." tegur si perias itu dengan lagak bahasa feminin.
Marissa mengerling ke arah perias itu. ia memicingkan mata membuat perias itu menciut nyalinya. Marissa akhirnya memahami tak ada gunanya tak tenang dan memilih duduk kembali disisi ranjang.
__ADS_1
"Ya, sudahlah... rias kembali denai. tapi bedaknya tipis ya?" pesan gadis itu.
"Memang nggak usah ditebalin. kan cantiknya alami." komentar perias itu lalu mulai merias wajah dan akhirnya mengepas pakaian pengantin. gadis itu mengenakan pakaian pengantin yang telah dipesankan langsung oleh kedua orang tuanya.
Marissa menggunakan tikuluak talakuang, semacam kerudng tebal warna merah marun yang dihias dengan benang emas, baju terusan yang dihias salempang dan berbagai perhiasan yang menghiasi pergelangan tangan dan leher jenjangnya.
sementara diluaran telah tiba utusan pengantin laki-laki. Inayah yang didampingi Haidar dan Mahreen bersama beberapa tetua dari keluarga Lasantu dan Ali membawa putra keduanya Haanish memasuki kediaman Alkatiri.
mereka diterima ninik-mamak keluarga Alkatiri sebagai perwakilan dari keluarga Williams, sebab Airina sebagai istri Akram tidak memenuhi syarat adat sebab ia seorang anggota keluarga Lasantu. para utusan itu kemudian diperlakukan diruangan luas yang disebut anjuang.
setelah perhelatan adat digelar, disambung dengan akad nikah. Akram maju membacakan akad dan ijab-kabul disaksikan oleh penghulu adat, ninik-mamak dan pegawai syariah. Haanish menyanggupi syarat adat dalam ijab-kabul tersebut. setelah itu semuanya disahkan oleh para hadirin yang hadir, maka resmilah dan sah, Marissa Williams sebagai istri dari Haanish Hermawan Lasantu.
Inayah mengucurkan air mata bahagia. lepas sudah beban moralnya menjadi penjaga garis keturunan suaminya. ia menengadahkan wajahnya.
Rosemary.... sudah selesai tugasku menjaga putramu... damailah kau disana...
Haidar memperhatikan sang ibu yang berurai air mata bahagia itu. ia tersenyum datar.
Mama... aku harap, Mama akan sama bahagianya dalam mengucurkan airmata saat aku menikahi Mahreen nanti.
Mahreen sendiri hanya tersenyum-senyum melihat Haanish dibawa oleh ninik-mamak keluarga Alkatiri menuju kamar dibagian lanjar, kamar dimana Marissa dipingit dan keduanya kemudian dipersandingkan.
sepanjang perhelatan itu selalu nampak Haanish selalu tersenyum lebar membuat para ninik-mamak berpikir bahwa urang semenda mereka itu mungkin terlalu bahagia sehingga urat tawanya korslet, makanya ia terus saja tersenyum lebar. sementara Marissa disisinya sejak tadi begitu ceria dan menggandeng suaminya itu seakan ia takut dipisahkan sedetik saja.
disana, selain keluarga Lasantu dan Ali yang menjadi pengiring, terdapat Salman yang membawa Callista setelah mendapat ijin dari kedua orang tuanya. keduanya juga bersuka cita. Ikram yang turut hadir bersama istrinya hanya mengomentar, "Nampaknya kau pun akan ikut sejarah mamak kamu itu, memperistri wanita Gorontalo."
sang ibu, Hayati Rudianto menyalami Callista. "Kamu orang pertama yang singgah dihatinya." ujar Hayati membuat Callista tersanjung dan tersipu. Hayati menyambung, "Anakku ini sangat pemilih... bahkan.." Hayati tertawa menatap Ikram. "Sayang, apa kau masih ingat sesumbar anak kita ini waktu kau mendesaknya agar segera mencari jodoh?" pancing Hayati.
Ikram tertawa dan mengangguk-angguk lalu menatap Callista. "Kamu tahu pistol besar hadiah dari pamannya?"
Callista menjawab, "Ya angku, dia memperlihatkan pistol itu pada saya setiap kali. ia menamainya Callista..." ujar gadis itu dengan wajah merona merah.
"Abah..." tegur Salman dengan tersipu.
"Hei, bolehkah Abah dan Amah cerita untuk calon mantu keluarga Williams?!" sela Ikram ngotot. Salman akhirnya membiarkan saja. ayahnya tak seperti pamannya yang energik. Ikram cenderung pendiam. untunglah ibunya seorang yang dinamis hingga rumah tangga keduanya tetap langgeng hingga saat ini. pamannya, Akram yang energik menikahi Airina yang cenderung pendiam diluaran.
Ikram menatap Callista. "Anak ini sesumbar... ia akan menemukan wanita bernama sama dengan pistolnya dan akan membawanya kehadapan kami." lelaki parobaya itu tertawa lagi, "Rupanya Allah punya rencana apik untuknya. ia menemukanmu dan... apakah kamu dan dia sudah resmi pacaran?"
Callista hanya menunduk tersipu ditanya demikian. Hayati menyentuh pundak suaminya. "Uda, kenapa tanya hal semacam itu pada anak perempuan kita ini? biarpun zaman berganti, sikap wanita tetap sama. jika diam, berarti memang iya." goda Hayati mengerling ke Callista yang tetap menunduk.
senang benar hati Callista disebut anak perempuan oleh Hayati. itu tandanya kedua orang tua Salman sudah setuju dan menyukainya.
Ikram menyenggol lengan putranya. "Eh, pokoknya Abah nggak mau tahu. dalam waktu seminggu ini, kau harus segera melamar anak perempuan kita ini? Abah menunggu kabar baiknya."
Callista makin tersipu sedang Salman terkekeh. "Sabarlah Abah. Denai saja baru pendekatan, Abah nak maksa denai mendahului takdir. pelan-pelan Abah. Insya Allah jika memang jodoh pastilah tak kemana."
Callista menatap Salman dan keduanya saling bertatapan. keduanya kembali menunduk. Hayati membelai pundak mereka berdua.
"Amah hanya bisa berdoa, kalian akan serius menuju pernikahan... bagaimanapun itu adalah takdir kalian berdua." ujar Hayati dan diiyakan oleh Ikram.
Ikram menyentuh tangan Callista. "Nak, jagalah putraku... sungguh dia anak yang baik dan tak macam-macam. paling hormat kepada ibunya dan pasti dia pun akan menghormatimu. suku kami, minangkabau menganut sistim matriarki, tentu sangat memuliakan anak perempuan. saya harap kalian berdua akan bahagia selamanya."
"Makasih Angku. jika memang Allah menetapkan kami berdua adalah jodoh, tentu kami akan tetap bersama." jawab Callista.
setelah acara ijab kabul itu diadakan acara makan bersama dengan seluruh keluarga. setelah itu malamnya, resepsi akan dilaksanakan di kediaman Williams. sejak siang para pekerja sibuk membangun tenda-tenda. konsep resepsinya adalah garden party. mahligai didirikan dibagian ujung pekarangan.
taman kediaman Williams sangat luas sehingga memungkinkan dilaksanakan resepsi dengan mengundang relasi-relasi perusahaan baik dari MLt. Group dan Ark Industries. perwakilan Buana Asparaga, hanya Dewinta bersama suaminya yang dihadirkan. kedua suami istri itu telah tiba siang dan menginap dihotel dibiayai secara khusus oleh Inayah.
Kediaman Alkatiri berangsur-angsur menjadi sepi. Inayah, Haidar dan Mahreen menginap dihotel sementara tetua-tetua dari keluarga Lasantu dan Ali kemudian diterbangkan ke Gorontalo setelah diberikan uang saku.
__ADS_1
...******...
Aisyah sedang melayani kebutuhan Aya Sofia, ketika terdengar suara ketukan di pintu. ia menghentikan kegiatannya dan melangkah santai ke pintu dan membukanya.
seketika ia terkesiap melihat seorang lelaki berdiri didepan pintunya. lelaki itu menatapnya dan tersenyum dengan sejuk.
"Hai... Aisyah..." sapa lelaki itu.
"Joni..." gumam Aisyah.
tak lama kemudian Aya Sofia datang dan berdiri dibelakang Aisyah. "Bunda... siapa dia?" tanya anak perempuan itu.
"Bukan siapa-siapa, nak." sela Aisyah dengan cepat.
lelaki itu menatap Aya Sofia sejenak lalu menatap Aisyah. "Anak itu mirip denganku dan kau mengatakan padanya, aku bukan siapa-siapanya? tega benar kau Aisyah." kecam Joni.
"Kejam? kau mengataiku kejam? Kau!!!" ujar Aisyah yang akhirnya urung memuntahkan kemarahannya sebab ada Aya Sofia disisinya.
jilbaber itu menatap putrinya. "Aya... ke kamar ya?" pinta Aisyah, "Mama masih punya tamu."
Aya Sofia menatap lelaki yang menatapnya dengan tatapan sejuk itu lalu menatap ibunya yang mengisyaratkan ia agar segera menyingkir dari tempat itu. Aya Sofia kemudian berbalik dan masuk kedalam kamarnya.
sepeninggal Aya Sofia, lelaki itu hendak masuk namun ditahan Aisyah.
"Mau kemana kamu?" tanya Aisyah dengan ketus.
"Aku mau melihat putriku, Aisyah." ujar Joni, "Dia putriku, kan?"
"Ooo... putrimu? dia putrimu?" tanya Aisyah. "Kemana kamu saat dia bayi? kemana kamu saat kami berdua membutuhkan kehadiranmu?"
"Jangan menohokku dengan kata-kata itu Aisyah." ujar Joni. "Aku tahu, aku memiliki kesalahan padamu."
"Itu bagus." sela Aisyah dengan ketus.
"Tapi kau tak boleh melarangku bertemu dengan putriku. dia putriku, kan?" tanya Joni kali ini dengan suara yang agak meninggi.
"Dia putrimu yang tak kau anggap ada sebab kau lebih senang berasyik-mahsyuk dengan perempuan kaya itu." jawab Aisyah dengan datar. "Sekarang kau datang mengakuinya? sudah terlambat, bray!"
"Aku belum terlambat, Aisyah." ujar Joni. "Aku masih bisa memperbaikinya. kita baru talak satu, Aisyah. masih dalam kategori talak ba'in, masih bisa rujuk dan nikah kembali."
Aisyah tertawa membuat Joni tersinggung.
"Apa yang kau tertawakan? aku serius ingin membina kembali hubungan rumah tangga kita. apa kau pikir aku hanya bermain-main?" ujar Joni.
Aisyah menatap mantan suaminya itu. "Kau terlambat, Jon. kemarin, aku sudah mengikat pernikahan dengan seorang pemuda baik yang sangat menyayangi anakmu, seakan itu adalah anaknya!"
ucapan Aisyah barusan mengagetkan Joni. "Tak mungkin!" seru Joni.
"Terserah jika kau tak percaya. yang jelas, aku sekarang adalah milik pemuda itu. kau terlambat Jon... bahkan jika kau ingin kembali, aku tak akan mengijinkan kamu kembali menetap disisiku. aku sudah cukup sakit hati dengan segala perbuatanmu!" ujar Aisyah.
Joni terdiam. Aisyah tersenyum. "Jadi, Jon... pergilah... jalani sajalah hidupmu dengan perempuan itu. aku sudah ikhlas. pergilah."
"Tapi setidaknya, berikan aku kesempatan untuk melihat putriku, Aisyah... dia darah dagingku. kau tak berhak memisahkan aku dengannya." pinta Joni berkeras.
"Aku akan mengijinkan kau menjenguk Sofi, jika dihadapan suamiku. selain itu tak boleh." ujar Aisyah.
"Kau jangan mempersulitku seperti ini!" sergah Joni.
"Jangan menghardikku, Jon!" balas Aisyah tak kalah galak membuat Joni tersurut. "Berani kau melangkah masuk, aku akan langsung menelpon polisi. dan perlu kau ketahui Joni! suamiku adalah putra Wakapolda Gorontalo!"[]
__ADS_1