Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 10. Pembelaan Tuan Moritz


__ADS_3

Hari yang melelahkan bagi Lara. Ia baru saja turun dari taksi yang mengantarkannya pulang ke rumah. Dengan wajah penuh semangat, Lara membawa barang-barang belanjaannya masuk ke dalam rumah. Ia sudah tidak sabar untuk mandi dan mencoba semua baju yang baru saja ia beli tadi.


Beberapa pelayan yang melihat kedatangan Lara lagi-lagi tersenyum menghina melihatnya. Mereka berbisik-bisik seperti sedang menceritai Lara. Namun Lara tidak peduli. Mulai dari sekarang ia harus kuat karena di rumah itu memang terlalu banyak cobaannya.


Sambil berjalan, Lara kembali memeriksa barang belanjaannya. Ia takut ada yang ketinggalan. Hingga tanpa sepengetahuan Lara, di depan sudah ada Greta yang juga berjalan tanpa lihat-lihat. Wanita itu fokus pada ponselnya. 


Bruakkk


Lara menabrak tubuh Greta. Hal itu membuat Greta terjatuh karena terbentur tubuh Lara yang tinggi besar. Bukan hanya Greta saja. Barang belanjaan Lara yang berisi aneka makanan juga terjatuh. Hingga semua makanan itu berserak di lantai.


Greta terbelah kaget melihat Lara ada di depan matanya. Wanita itu melihat barang-barang belanjaan Lara termasuk makanan yang kini berserak di lantai. Greta bahkan tidak tahu harus bicara apa. 


"Kamu tidak apa-apa? Sini aku bantu berdiri," ucap Lara sembari mengulurkan tangannya.


Greta mengepal tangannya. "MAMA! TOLONG AKU MAMA. PAPA!" teriak Greta. Wanita yang terlihat modis itu kini merengek seperti anak TK minta mainan. Greta tidak mau bangkit sebelum kedua orang tuanya tiba dan melihat apa yang terjadi.


Karena kebetulan kamar Ny. Moritz dan Tuan Moritz ada di lantai bawah. Jadi mereka bisa mendengar dengan jelas teriakan Greta. Keduanya keluar bersamaan dari kamar dan segera berlari menuju tempat di mana Greta berteriak.


"Greta, apa yang terjadi? Kenapa kau duduk di lantai seperti ini?" Ny. Moritz segera membantu Greta berdiri. Tuan Moritz berdiri di sana dengan wajah bingung. Ia melihat barang belanjaan Lara dan makanan yang berserak di lantai.


"Mama, Lara mendorongku. Padahal aku hanya tanya dia darimana. Kenapa beli makanan sebanyak ini!"


Lara melebarkan kedua matanya. Belum sempat ia menjawab, Ny. Moritz sudah lebih dulu menghakiminya.


"Lara, kau apakan putriku? Kau memang wanita yang tidak tahu berterima kasih! Kalqu saja-"


"Mama, cukup!" teriak Tuan Moritz.


"Pa, papa masih berani belain wanita ini?" sahut Ny. Moritz tidak terima. 

__ADS_1


Keributan itu memancing semua orang yang ada di rumah untuk berkumpul. Namun, mereka menyaksikan kejadian itu secara diam-diam. Bersembunyi di balik guci raksasa dan lemari. Termasuk Hana. Wanita itu sebenarnya tahu kalau sejak awal Lara tidak ada mendorong Greta. Ia merasa sangat puas melihat Lara di pojokan seperti itu oleh Greta.


"Ma, papa gak belain siapapun di sini. Papa hanya ingin mendengar jawaban dari Lara dulu," ucap Tuan Moritz. Ia memandang wajah Lara yang kini menunduk takut. "Lara, apa benar yang dikatakan Greta?"


Lara diam sejenak. Ia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Greta. Wanita itu menatap Lara dengan tatapan tajam seolah sedang mengancam.


"Benar, Pa."


"Papa dengar sendiri kan?" ujar Ny. Moritz semakin emosi.


Tuan Moritz mengeryitkan dahi. Walau ia sudah mendengar sendiri jawaban dari menantunya. Tapi, ia tahu kalau Lara sedang berbohong. Ia menepuk pelan pundak Lara dan tersenyum. 


"Lara, papa tahu kalau kau sedang berbohong. Kau sengaja membenarkan tuduhan Greta agar tidak ada keributan di rumah ini bukan?"


Lara mengangguk pelan. "Maafkan Lara, Pa. Lara tidak bermaksud membuat Greta celaka. Tadi Lara terlalu asyik melihat belanjaan Lara jadi tidak tahu kalau Greta ada di depan."


Ny. Moritz lagi-lagi tidak terima. "Papa masih mau membela dia."


"Greta mau pergi. Greta sudah terlambat." Greta mengecup pipi Ny. Moritz dan pergi begitu saja. Ia tidak mau memperpanjang masalah ini lagi.


Ny. Moritz sendiri tidak mau berlama-lama melihat wajah Lara. Ia kembali ke kamar setelah Greta memutuskan pergi.


Kini yang tersisa hanya Lara dan Tuan Moritz saja. Mereka saling memandang dengan pemikiran masing-masing.


"Lara, apa Alex yang menyuruhmu belanja semua ini?"


Lara mengangguk. "Kak Alex memintaku untuk membeli baju yang layak di pake di rumah ini. Tapi, dia tidak menyuruhku membeli makanan ini. Aku hanya mengambil Rp. 300.000 saja dari uang yang diberikan Kak Alex. Aku juga tidak menghabiskan semua uangnya. Masih banyak sisanya, Pa."


"Papa tidak mempermasalahkan uangnya. Papa hanya ingin memberi tahumu. Di rumah ini ada koki yang bisa memasak makanan apapun yang kau inginkan. Kau tidak perlu membeli makanan sebanyak ini di luar. Jika kepingin, kau bisa datang ke dapur dan mengatakan makanan apa yang kau inginkan. Beli makanan di luar juga tidak selamanya sehat, Lara."

__ADS_1


"Maafkan Lara, Pa. Lara tidak tahu."


"Ini hari pertamamu tinggal di rumah ini. Mungkin kau belum terbiasa saja dengan semua orang dan lingkungan yang ada. Papa beri tahu. Mama sama Greta memang seperti itu sifatnya. Papa yakin, mereka juga tidak akan mungkin mencelakaimu. Jika kau tidak tahan dengan Omelan mereka. Kau bisa menghindari masalah dengan mereka."


"Baik, Pa."


"Papa ke kamar dulu ya. Sebaiknya kau segera mandi dan istirahat. Papa tahu, kau pasti capek karena seharian belanja barang-barang ini." Tuan Moritz pergi meninggalkan Lara sendirian. Lara merasa bahagia bisa memiliki Papa mertua seperti Tuan Moritz. Jika saja di rumah itu tidak ada satu orangpun yang membelanya mungkin ia tidak akan betah tinggal di sana.


Ketika keadaan telah sunyi, Hana berlari menghampiri Lara. Wanita itu tersenyum ramah kepada Lara.


"Nona, anda baru pulang belanja ya? Sini saya bawain barang belanjaannya." Tanpa persetujuan Lara, Hana segera mengambil barang belanjaan Lara. Ia juga meminta pelayan lain untuk membersihkan makanan yang berserak di lantai.


"Terima kasih, Hana."


"Sama-sama, Nona. Maafkan saya karena tidak berani membela anda tadi Nona. Padahal saya sendiri lihat kalau Nona Greta yang salah."


"Jangan bahas itu lagi ya Hana. Saya tidak mau ada yang salah paham," pinta Lara. 


"Baik, Nona." Mereka berdua berjalan menaiki tangga. Lara berjalan sambil memikirkan apa yang tadi dikatakan Tuan Moritz. 


"Hana, apa kau mau menemaniku besok?"


"Ke mana Nona?" tanya Hana bingung.


"Saya ingin mengelilingi rumah ini. Saya ingin mengenal semua orang yang ada di rumah ini."


"Baik, Nona. Dengan senang hati. Saya akan menemani anda besok," jawab Hana dengan senyuman. 


Lara tidak curiga sama sekali dengan Hana. Selain Tuan Moritz, Hana lah orang kedua yang di anggap Lara orang baik. Sisanya terlihat menghina dan selalu menertawakan fisik Lara.

__ADS_1


"Pelan-pelan aku akan memahami sifat semua orang yang ada di rumah ini agar bisa mengetahui cara meluluhkan hati mereka."


Diusahakan update jam 12 siang dan jam 12 malam. Terima kasih


__ADS_2