
“Silahkan, Nona.” Seorang wanita berpakaian rapi dan sopan membawa Lara menuju ke lift. Wanita itu adalah sekretaris pribadi Walter. Tugasnya hanya mengurus apa saja yang diperintahkan dan dibutuhkan oleh Walter setiap harinya.
“Terima kasih,” ucap Lara dengan senyuman manis. Dia ikut masuk ke dalam lift dengan debaran jantung yang tidak karuan.
“Nona, Tuan Walter masih di jalan menuju ke sini. Anda bisa menunggu sebentar,” ucap wanita itu.
“Di jalan?” Lara mengeryitkan dahi. Tadinya ia pikir kalau Walter dan Fabio ada diperusahaan itu. Lara ke sana untuk menemui mereka dan meminta maaf secara langsung kepada Fabio.
“Benar, Nona.”
“Lalu, apa Tuan Fabio ada di ruangannya?” tanya Lara untuk kembali memastikan.
Wanita itu menggeleng. "Tidak ada, Nona." Ia melangkah keluar lift bersama Lara ketika pintu terbuka. “Tuan Fabio jarang datang ke perusahaan ini, Nona. Hanya Tuan Walter yang setiap harinya datang ke perusahaan. Itu juga tidak terlalu lama. Hanya beberapa jam saja.”
“Tadinya aku pikir aku bisa bertemu dengan Kak Bi. Ternyata hanya ada Walter di perusahaan ini. Apa yang ingin aku bicarakan bersama Walter? Kami tidak pernah akrab,” gumam Lara di dalam hati.
“Nona, itu Vera. Sekretaris Tuan Fabio. Dia yang mengatur semua urusan yang berhubungan dengan Tuan Fabio.”
“Vera?” Lagi-lagi Lara membeo. Ia memandang ke depan dan memperhatikan wanita yang kini sedang berdiri dengan posisi membelakanginya.
“Ya, Nona. Tadi Tuan Walter meminta saya untuk mengantar anda ke ruangan pribadi Tuan Fabio. Anda akan di bantu oleh Vera selama ada di ruangan Tuan Fabio nantinya.”
Lara mengangguk. Ia berhenti ketika sudah semakin dekat dengan Vera. “Apa dia Vera teman kuliahku dulu?” batin Lara penasaran.
“Vera, ini Nona Lara. Tuan Walter meminta saya untuk mengantar Nona Lara ke ruangan Tuan Fabio.”
Vera memutar tubuhnya dengan senyuman yang sangat indah. Wanita itu memandang ke arah sekretaris Walter sebelum memandang ke arah Lara. “Lara?” celetuknya tidak percaya.
Lara diam mematung melihat Vera yang kini ada di depan matanya adalah teman satu sekolahnya dulu. “Ternyata benar. Berarti Vera bekerja di perusahaan Kak Bi. Kenapa aku baru tahu. Pantas saja selama ini dia sangat sombong. Ternyata dia bekerja sebagai sekretaris Kak Bi,” gumam Lara di dalam hati.
“Ya, ini Nona Lara. Aku masih banyak kerjaan. Apa kau bisa menemani Nona Lara di ruangan Tuan Fabio sampai Tuan Walter tiba?”
Vera mengangguk pelan. “Baiklah,” jawabnya dengan suara pelan. Ia memandang wajah Lara dengan saksama. “Lara, kenapa namanya sama dengan si gendut. Tapi, penampilannya sangat jauh berbeda. Tidak mungkin kan wanita gendut itu berubah kurus dalam waktu kurang dari satu tahun?” gumam Vera di dalam hati.
__ADS_1
“Nona Lara, mari ikuti saya,” ajak Vera.
“Ternyata Vera tidak mengenaliku. Baguslah kalau begitu. Aku tidak perlu menjelaskan apapun padanya,” gumam Lara di dalam hati. Vera membawa Lara masuk ke dalam ruangan pribadi Fabio. Ia membuka jendela berukuran besar yang ada di dekat sofa tamu.
“Nona, silahkan duduk. Anda mau minum apa?”
Lara mengukir senyuman lagi. “Apa aja.”
“Baiklah, Nona. Saya akan ambilkan minum untuk anda.” Vera bersikap sprofesional mungkin di depan Lara. Entah apa yang akan terjadi jika Vera tahu kalau wanita yang kini ada di depan matanya adalah wanita yang selama ini sering ia bully.
Lara memperhatikan ruangan tersebut dengan saksama. Berbeda jauh dengan ruangan kerja yang dimiliki Alex. Walau di ruangan itu tidak ada kamar pribadi, tetapi ukurannya jauh lebih luas jika dibandingkan ruangan kerja Alex di kantornya. Lara memandang keluar jendela. Pemandangan di sana sangat menarik. Ia beranjak agar bisa berdiri di depan jendela kaca berukuran luas tersebut.
“Nona, ini minumnya.” Vera meletakkan jus jeruk yang baru saja ia buat untuk Lara. Vera tidak perlu keluar ruangan, karena mini bar ada di ruangan tersebut. Minuman apa saja sudah tersedia di sana.
“Terima kasih.”
Vera lagi-lagi merasa ada yang aneh. Suara itu mirip dengan suara Lara. Namun ia tidak berani bertanya secara langsung karena sudah pasti orang yang bisa masuk ke ruangan kerja Fabio bukan orang sembarangan.
Saat Vera baru keluar, tiba-tiba pintu kembali terbuka. Merasa ada yang datang dan berjalan mendekatinya, Lara segera memutar tubuhnya dan melihat sosok tersebut.
Wanita itu mematung melihat Fabio kini berdiri di hadapannya. “Kak Bi ….” Hanya kalimat itu yang kini keluar dari bibir Lara ketika ia bertemu dengan Fabio. Bibirnya tidak mampu mengeluarkan banyak kata.
“Duduklah,” perintah Fabio dengan lembut.
Dengan cepat Lara menganggukkan kepalanya. Hatinya masih tidak percaya, melihat Fabio kini berdiri di hadapannya dan tersenyum manis. Padahal jelas-jelas tadi malam pria itu terlihat sangat menyeramkan.
“Apa semua akan baik-baik saja? Kau sudah menerima kartu yang aku berikan, Chubby?”
Lara mengangguk pelan, hatinya kembali di penuhi rasa takut. Tatapan mata Fabio saat tadi malam kembali terngiang di dalam ingatannya. Di tambah lagi kini mereka hanya berdua di ruangan luas tersebut. Suasana yang tadi dingin karena AC, kini berubah menjadi panas. Lara menyelipkan rambutnya di belakang telinga, untuk mengurangi sedikit groginya. Kepalanya tertunduk dalam, dan tidak berani memandang ke arah Fabio.
“Kau marah padaku, Chubby?” Fabio tahu ada yang aneh dari sifat Lara. Lara yang selama ini ia kenal adalah Lara yang ceria dan murah senyum.
“Lara … Lara minta maaf kak. Tidak seharusnya Lara muncul di ruangan itu. Padahal sejak awal Kak Bi udah ngelarang,” jawab Lara tanpa berani memandang.
__ADS_1
“Aku melarangmu muncul di tempat itu karena aku tidak mau kau melihat apa yang tidak seharusnya kau lihat, Chubby ….” Fabio beranjak dan melangkah ke arah jendela. Memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan menatap tajam pemandangan kota. “Pemandangan di dalam ruangan itu tidak pernah indah. Aku tidak mau kau terus memikirkan apa yang kau lihat di dalam sana. Ruangan yang dingin dan penuh darah. Hal seperti itu tidak pantas di lihat oleh wanita sepertimu.”
Lara menatap punggung Fabio, tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sejak tadi Fabio tidak ada menjawab kata-kata maaf yang terucap dari bibir Lara. Entah pria itu sudah memaafkan Lara atau belum.
“Kak, Kak Bi harus tahu kalau Lara masuk ke ruangan itu karena Greta sempat menelepon Lara dan memberi tahu Lara foto pria yang sudah membawa Kak Alex. Wajah pria itu mirip dengan Walter.” Fabio terbelalak kaget mendengar perkataan Lara. Kini ia harus ekstra hati-hati menyembunyikan keberadaan Alex agar Lara tidak pernah tahu keberadaan pria itu. “Tapi sepertinya Lara hanya salah paham saja.”
Lara beranjak dari duduknya dan melangkah pelan. Mendekat ke arah tubuh Fabio yang masih dalam posisi membelakanginya.
“Kak Bi … maafin Lara.”
Perlahan Fabio memutar tubuhnya menghadap ke Lara. Dia menatap Lara yang kini sedang menunduk dengan wajah bersalah. “Kau menangis lagi?” Fabio mengangkat dagu Lara dan mengusap air matanya dengan lembut. “Kenapa kau menangis, Chubby?” tanya Fabio lembut dengan suara dipenuhi rasa bersalah.
Lara terlihat sesenggukan menahan tangisnya.”Lara gak mau Kak Bi marah. Sekarang Lara sebatang kara. Hanya Kak Bi yang Lara punya.” Lata mengatur napasnya. Entah kenapa semakin bercerita terasa semakin sesak. Bibirnya gemetar ketika ingin melanjutkan kalimatnya. “Lara … Lara.”
Fabio semakin merasa bersalah. Ia meletakkan kedua tangannya di kiri dan kanan telinga Lara. “Aku gak akan pernah meninggalkanmu, Chubby,” jawab Fabio dengan wajah yang serius dan sungguh-sungguh.
“Janji?”
Fabio mengangguk. “Janji.”
“Gak marah lagi?” tanya Lara untuk memastikan. Fabio hanya menggeleng dengan bibir tersenyum.
Lara mulai bisa tersenyum. Wanita itu berhambur ke dalam pelukan Fabio tanpa permisi. Sepertinya rasa takut yang sempat memenuhi pikirannya telah hilang. “Terima kasih Kak Bi.”
Fabio memejamkan matanya untuk mengatur debaran jantungnya. Ia tidak mau Lara sampai dengar kalau kini jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Tidak lama kemudian, Lara melepas pelukannya.
“Kak Bi, tapi sepertinya Lara sudah salah paham dengan Walter. Lara juga harus minta maaf kepada Walter.”
“Salah paham?” Fabio mengeryit.
“Ya. Tadinya Lara pikir Walter yang menculik kak Alex. Ternyata Kak Alex tidak di culik. Tadi Lara bertemu dengan Kak Alex,” jawab Lara dengan wajah polosnya.
Fabio terlihat kaget mendengar penjelasan yang dikatakan Lara. “Kau bertemu dengan Alex Moritz?”
__ADS_1