
Pagi harinya. Lara terbangun di kamar yang sebelumnya ia tempati. Kali ini kepalanya tidak terlalu sakit seperti semalam. Lara justru terlihat jauh lebih segar pagi ini. Ia duduk di atas tempat tidur dan memandang ke depan. Lara berusaha mengingat kejadian sebelum ia pingsan. Tiba-tiba saja kedua matanya melebar. Itu semua nyata. Bukan sekedar mimpi buruk yang akan hilang ketika ia membuka mata.
“Pria itu!” ucap Lara.
“Pria mana?” sahut Fabio. Lagi-lagi tanpa disadari Lara, pria itu sudah ada di sana menjaga Lara sampai bangun. Ia duduk di sebuah sofa dengan tatapan yang sangat tenang.
“Tuan, anda sudah kembali? Anda harus tahu satu hal.” Lara segera turun dari tempat tidur hingga membuat Fabio memutuskan untuk berdiri.
“Ada apa, Nona?”
“Pria itu. Dia jahat. Dia memegang senjata api. Anda harus segera menghubungi polisi!” ujar Lara dengan wajah yang begitu tegang.
“Maksud anda, dia?” Fabio menunjuk seorang pria yang berdiri di dekat pintu. Memang posisinya sedikit terselip hingga Lara tidak sadar kalau pria itu ada di sana. Lara yang ketakutan segera berjongkok dan menunduk. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Jangan tembak saya!” Lara melihat Fabio yang masih berdiri santai. Ia menarik tangan Fabio agar ikut berjongkok dengannya. Hingga akhirnya Fabio ikut berjongkok. Mereka saling berhadapan.
“Tuan, cepat telepon polisi,” bisik Lara.
Fabio menatap wajah Lara dengan saksama sebelum tersenyum. Senyum pria itu sangat manis hingga membuat Lara seketika terdiam. Rasa takut yang sejak tadi menyelimutinya seakan hilang entah ke mana.
“Dia Walter. Orang yang paling saya percaya,” jawab Fabio.
“Walter?” Lara masih tidak percaya. “Tapi dia penjahat.”
Fabio menggeleng. “Dia bukan penjahat. Walter memang memiliki senjata karena tugasnya melindungi semua orang yang ada di rumah ini. Termasuk saya dan anda Nona.”
__ADS_1
“Itu tidak mungkin. Dia ingin menembak saya. Dia bahkan.” Lara menahan kalimatnya. “Dia membunuh pria yang ada di ruang gelap itu.”
Fabio mulai kehabisan cara untuk membuat Lara lupa. Bagaimanapun juga Fabio tidak mau Lara tahu kalau sebenarnya ia seorang bos mafia.
“Nona, bisa kita bisa bicara sambil duduk? Kaki saya pegal jika berjongkok terlalu lama.” Lara segera berdiri. Walau sedikit kesulitan, tetapi ia berhasil berdiri dengan sendirinya.
Fabio duduk di sofa dan memanggil Walter. Pria itu menatap Walter dengan ekspresi tidak terbaca. Tiba-tiba saja Walter menunduk hormat di depan Lara.
“Maafkan saya, Nona. Saya sudah membuat anda takut dan merasa tidak nyaman tinggal di rumah ini,” ucap Walter.
Lara melangkah mundur. Ia melirik senjata api yang ada di pinggang Walter. “Apa anda seorang polisi?”
Fabio tersenyum lagi. Lara yang polos membuat moodnya kembali baik. Padahal tadinya ia terlihat tidak bersahabat dan ingin marah kepada semua orang karena misinya di luar negeri gagal.
“Saya ….” Walter memandang Fabio untuk meminta bantuan.
“Ya, dia seorang polisi. Polisi bayaran,” sahut Fabio.
“Tentu saja bisa. Dia polisi,” jawab Fabio lagi. Ia tahu kalau Walter bukan tipe pria sabar ketika menghadapi ocehan aneh seorang wanita seperti Lara.
“Mengambil rumah dari orang yang merebutnya? Apa anda bisa?”
Kali ini Fabio terdiam. Sedikit demi sedikit ia tahu masalah apa yang dimiliki Lara.
“Apa yang terjadi? Apa anda mau menceritakannya kepada saya, Nona Lara? Saya akan meminta Walter untuk membantu anda nanti,” ucap Fabio.
Lara menghela napas berat. Tanpa di suruh wanita itu duduk di sofa yang ada di depan Fabio. “Ceritanya panjang, Tuan. Anda tidak akan memiliki banyak waktu untuk mendengar cerita tidak berguna saya ini.”
__ADS_1
“Siapa bilang? Hanya orang spesial yang bisa masuk ke rumah saya ini, Nona.”
Lara merasa bahagia. Dari sekian banyak orang yang pernah ia temui hanya Tuan Fabio yang menganggapnya sebagai orang yang spesial. Walau Lara sendiri tidak tahu pria itu berkata bohong atau jujur, tapi setidaknya Lara bisa bahagia.
“Tubuh saya membuat semua orang menjadi sial. Saya senang anda tidak memandang saya demikian.” Lara memandang ke jendela. Kedua matanya mulai berkaca-kaca.
“Saya yatim piatu. Wanita berbadan besar yang berasal dari keluarga menengah ke bawah. Saya menikah dengan seorang pria kaya beberapa waktu yang lalu. Tadinya saya pikir hidup saya akan bahagia setelah menikah. Ternyata hidup saya menjadi berantakan setelah menikah. Suami saya mencintai wanita lain. Wanita itu cantik, seksi dan kurus. Tidak seperti saya. Padahal saya sudah menurunkan harga diri saya di depan suami saya. Tetapi, dia tidak pernah memandang saya sebagai istrinya. Dia memperlakukan saya layaknya sampah. Satu-satunya orang yang selalu membela saya adalah papa mertua saya. Sayangnya dia sudah meninggal. Tepat di hari kepergiannya, suami saya menceraikan saya dan mengusir saya dari sana. Bukan itu saja. Ia juga mengambil alih rumah warisan kedua orang tua saya. Hingga akhirnya saya tidak tahu harus ke mana.”
Fabio terdiam. Cerita Lara mengingatkannya akan sesuatu hingga membuatnya terlihat menahan marah. “Siapa nama pria itu?”
“Alex Moritz!” jawab Lara pelan.
Walter menatap wajah Fabio. Sedikit saja kode yang diberikan Fabio, maka pria itu akan pergi untuk menghabisi nyawa Alex detik ini juga. Sayangnya Fabio tidak memberikan perintah apapun saat itu.
“Nona, apa yang anda inginkan? Anda ingin kembali dengan suami anda?”
Lara menggeleng. “Saya ingin membuatnya menyesal. Saya ingin dia mengejar-ngejar saya seperti apa yang selama ini saya lakukan. Tapi, itu semua mustahil. Aku ini apa? Wanita jelek yang terlalu banyak bermimpi.” Lara menghapus air matanya yang terjatuh.
“Anda bisa,” sahut Fabio. “Anda bisa melakukan itu semua. Tapi, bukankah anda bilang anda sudah cerai, kenapa anda masih ingin bertemu dengannya?”
“Kami belum bercerai. Surat cerai itu tidak saya tandatangani. Saya ingat pesan papa mertua saya. Ia tidak mau sampai Kak Alex menikah dengan kekasihnya. Hanya itu yang bisa saya lakukan agar mereka tidak pernah bisa menikah,” jawab Lara apa adanya.
“Nona, itu sangat mudah. Kalau boleh saya tahu, kapan anda mau datang menemuinya untuk membalas semua yang sudah ia lakukan?”
“Secepatnya,” jawab Lara.
“Bagaimana kalau enam bulan?”
__ADS_1
“Boleh,” jawab Lara cepat. Namun, ia kembali tersadar. “Apa yang akan terjadi dalam waktu enam bulan?”
Fabio tersenyum lagi. “Anda akan berubah menjadi bidadari yang sangat cantik!”