
Lara memilih untuk diam saja. Ia lebih suka menikmati perdebatan Alex dan Fiona malam ini tanpa mau ikut campur.
“Wanita ini. Bisa-bisanya dia muncul secepat ini. Padahal aku masih memberinya waktu untuk bersenang-senang menikmati uang hasil penjualan dokumen perusahaan itu,” gumam Lara di dalam hati.
“Alex, aku ingin kau kembali padaku!” ucap Fiona. Wanita itu seperti tidak ada harga dirinya lagi. Padahal jelas-jelas selama ini ia tidak pernah mencintai Alex. Tetapi, ketika pria itu berpaling dan lebih memilih Lara. Rasa cinta itu muncul di dalam hatinya. Kini Fiona tidak lagi memikirkan harta. Ia hanya ingin Alex kembali padanya. Menyayangi dan memujanya seperti dulu lagi.
“Itu tidak mungkin, Fiona. Aku dan Lara sudah menikah. Kami ingin memperbaiki rumah tangga kami,” jawab Alex. Rangkulannya di pinggang Lara semakin erat.
“Jika kau tidak mau kembali padaku, aku akan bunuh diri!” ancam Fiona.
“Terserah kau saja. Tapi, lakukan hal itu di belakangku. Karena aku tidak mau terlibat dalam aksi bunuh dirimu itu.” Alex memandang wajah Hana dan tersenyum kecil. “Sepertinya kalian bekerja sama. Fiona, apa kau mau tahu darimana aku mendapat video itu?”
Hana terlihat pucat. Jika saja bisa kabur, mungkin wanita itu udah kabur detik ini juga. “Gawat! Tuan Alex pasti akan memberi tahu Nona Fiona kalau aku adalah orang yang sudah mengirim video tersebut,” gumam Hana di dalam hati.
“Alex, aku tidak peduli siapa yang mengirim video itu. Aku belum menjual dokumen itu. Aku masih menyimpannya.” Fiona melangkah lebih dekat lagi. Ia ingin membujuk Alex agar mau memaafkannya dan kembali menjalin hubungan dengannya. “Alex, ini memang anak Bram. Aku akan mengugurkan anak ini jika kau tidak menyukainya. Yang terpenting, kau mau kembali padaku.” Fiona berusaha memegang tangan Alex, namun pria itu menghindar.
“Cukup, Fiona! Hubungan di antara kita sudah berakhir. Aku harap kau bisa menerima semua keputusan ini. Soal dokumen itu, aku akan memaafkanmu dan tidak akan menyeretmu ke kantor polisi jika kau berjanji untuk tidak memberikannya ke perusahaan lain.”
“TIDAK!” teriak Fiona. “Aku ingin kau kembali padaku!”
Lara menghela napas. Walau sebenarnya tontonan di depannya itu terasa sangat menyenangkan, tetapi Lara tidak mau berlama-lama menyaksikan pertengkaran seperti itu. Apa lagi tadi sempat terdengar kalimat kalau Fiona rela mengugurkan anak yang ada di dalam kandungannya. Hal itu membuat Lara menjadi tidak tega.
“Kak Alex, ayo kita pergi,” ajak Lara dengan suara manja.
__ADS_1
“Baik, Sayang. Maafkan aku ya karena sudah membawamu dalam situasi sulit seperti ini,” jawab Alex mesra. Lara hanya mengangguk. Namun, ketika mereka berdua sama-sama melangkah Fiona ingin menampar wajah Lara. Tetapi tangan wanita itu berhasil di tahan oleh Alex. Bahkan tanpa segan-segan Alex membalas perbuatan Fiona.
PLAKKK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Fiona. Menyisakan rasa sakit yang bukan hanya di pipi saja. Tetapi di lubuk hati yang paling dalam. Rasa kecewa dan sakit hati melebur menjadi satu. Fiona tidak menyangka kalau Alex setega itu padanya.
“Kau berani menamparku?” tanya Fiona tidak percaya.
“Aku bahkan bisa melakukan lebih dari itu jika kau berani menyentuh Lara!” jawab Alex. Ia memandang wajah Lara. “Sayang, masuk ke mobil dulu ya. Aku harus bicara dengan Fiona sebentar.”
Lara mengangguk. Ia memandang wajah Fiona sekilas sebelum masuk ke dalam mobil. Tanpa ikut bicara ia sudah merasa puas melihat Fiona. Alex memandang punggung Lara sampai wanita itu masuk ke dalam mobil. Setelah Lara masuk dan duduk manis di dalam, Alex memandang wajah Fiona dengan tatapan menikam.
“Fiona, ini yang terakhir. Aku tidak mau bertemu denganmu lagi ke depannya!”
“Alex, apa salahku? Aku tidak selingkuh dengan Bram. Dia memaksaku untuk melayaninya. Aku di ancam. Apa kau tahu?”
Fiona melebarkan kedua matanya. Ia melempar tatapan menuduh ke Hana. “Hana, apa benar yang dikatakan Alex?”
Hana mengangguk ragu-ragu. “Maafkan saya, Nona.”
“Hana, kau-”
“Aku harus pergi. Kau bisa menyelesaikan masalahmu dengan Hana sekarang. Yang pastinya tanpa melibatkan namaku.” Alex melangkah beberapa langkah sebelum berhenti lagi. “Oh ya, Fiona. Malam ini aku akan umumkan Lara di depan media. Semua orang akan tahu kalau Lara adalah istriku. Sebaiknya mulai sekarang kau tidak lagi muncul di hadapanku karena aku tidak mau orang lain salah paham.” Alex masuk ke dalam mobil. Pria itu melajukan mobilnya tanpa rasa bersalah sama sekali.
__ADS_1
Fiona menangis sedih ketika mendengar kalimat-kalimat menyakitkan yang keluar dari mulut Alex. Ia terjatuh di bawah dan menangis sejadi-jadinya.
“Nona, maafkan saya,” ucap Hana. Fiona memandang wajah Hana dan mendorong Hana dengan keras hingga wanita itu terjatuh. “Pergi, jangan dekati saya. Kau pengkhianat, Hana. Pengkhianat!” Fiona menjambak rambutnya sendiri. Hana kembali berdiri.
“Sepertinya aku tidak bisa bekerja sama lagi dengan Nona Fiona. Sebaiknya aku ambil dokumen itu secara diam-diam dan aku jual sendiri saja. Dengan begitu, aku bisa mendapat banyak uang. Sedangkan di mata hukum, nama Nona Fiona yang mencuri,” gumam Hana di dalam hati. Ia segera pergi meninggalkan Fiona tanpa peduli keadaan wanita itu saat ini.
Lara membisu sambil membayangkan perlakuan Alex terhadap Fiona. Tiba-tiba saja hatinya merasa sangat kasihan hingga memiliki keinginan untuk menolong Fiona saat ini. “Fiona dalam keadaan hamil. Jiwanya sangat terguncang. Aku kasih padanya. Kak Alex sangat-sangat kejam. Dia satu-satunya pria yang tidak punya hati yang pernah aku temui,” gumam Lara di dalam hati.
“Sayang, kenapa diam saja?” Alex memandang wajah Lara sekilas sebelum memandang ke depan.
“Lara ….” Lara membisu ketika melihat gerombolan orang memenuhi jalanan di depan pintu keluar. Alex memberhentikan mobilnya karena memang di depan macet.
“Apa yang terjadi?” umpat Alex kesal. Pria itu menekan klaksonnya hingga berkali-kali agar mobil depan melaju.
“Sepertinya ada kecelakaan,” jawab Lara. Ia membuka kaca mobil untuk bertanya kepada security yang kebetulan ada di dekat mobilnya. “Pak, ada apa di depan?”
“Ada yang bunuh diri, Nona.”
“Bunuh diri?” Lara mengeryit.
“Ya, seorang wanita muda lompat dari lantai parkiran.”
Deg.
__ADS_1
Lara mematung. “Fiona? Apa dia Fiona?”
“Tidak sayang, itu tidak mungkin Fiona,” jawab Alex. Alex kembali menutup jendela mobil dan melajukan mobilnya. Pria itu sama sekali tidak peduli dengan gerombolan orang yang kini sedang mengelilingi mayat seorang wanita yang baru saja melompat dari lantai atas.