
Walter muncul di detik yang begitu tepat. Ia segera menembak musuh tepat di organ vitalnya. Hanya satu tembakan saja sudah berhasil membuat musuh tergeletak tidak bernyawa di lantai.
Lara memeluk Fabio dengan begitu erat. Tubuhnya gemetar ketakutan. Lagi-lagi suara tembakan terdengar begitu jelas di telinganya. Walau tubuhnya tidak ada yang terluka, tapi batinnya sangat syok. Hal menegangkan seperti ini baru pertama kalinya di alami Lara. Mungkin kalau mendengar suara orang marah-marah sudah biasa.
"Aku tidak mau mati. Aku belum menikah lagi. Aku tidak mau mati. Aku mau hidup," rintih Lara dengan suara pelan bahkan nyaris tidak jelas. Kedua matanya terpejam. Ia bahkan tidak sadar siapa yang ia peluk saat ini.
Fabio bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Lara. Ia ingin memegang rambut Lara dan mengusapnya, namun ketika Walter muncul Fabio mengurungkan niatnya.
"Bos, anda baik-baik saja?" tanya Walter cepat. Pengawal yang ada di mansion sudah berkumpul dan membersihkan kekacauan tersebut.
Fabio mengangguk pelan. Ia menunduk lagi melihat Lara yang memeluknya justru semakin kuat. Walter mengikuti arah pandang Fabio. Pria itu menaikan satu alisnya melihat tingkah Lara. Wanita itu seperti tidak mau melepaskan pelukannya walau jelas-jelas keadaan sudah aman.
"Panggilkan dokter!" perintah Fabio tiba-tiba.
Walter kaget bukan main. Dari apa yang ia lihat tidak ada darah di sana. Namun, jika Fabio sampai memberi perintah untuk panggilkan dokter sudah pasti karena pria itu tidak bisa menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Baik, Bos." Tanpa banyak kata lagi, Walter segera mengeluarkan ponselnya. Pria itu ingin menghubungi dokter yang selalu merawat Fabio.
Beberapa pelayan wanita juga muncul. Fabio semakin bingung melihat bawahannya muncul di sana. Ia menepuk pelan pundak Lara. "Chubby, apa kau sudah tidak takut lagi?" bisiknya pelan.
"Aku masih takut," jawab Lara.
Fabio menghela napas pelan. Ia bingung bagaimana melepas pelukan Lara. Jika ia melepasnya dengan paksa, itu akan membuat Lara salah paham.
"Kita sudah aman. Ada banyak orang di sini," ucap Fabio lagi.
Lara mengangkat wajahnya. Ia melepas pelukannya secara perlahan setelah melihat pelayan dan pengawal yang ada di sana. Mereka menunduk hormat tanpa ada yang berani menatap wajah Lara maupun Fabio secara langsung.
__ADS_1
"Pria tadi di mana?" tanya Lara. Ia memperhatikan lorong tempat pria itu berdiri.
"Dia sudah di tangkap," jawab Fabio. "Sekarang pergi ke kamar dulu ya. Pelayan akan membawa makan siangmu ke kamar. Ada banyak hal yang harus aku urus," ucap Fabio dengan suara lembut.
"Bagaimana dengan Kak Bi?"
"Aku akan baik-baik saja."
Lara mengangguk pelan. Tanpa mau bicara lagi, wanita itu memutar tubuhnya dan berjalan menuju ke kamar. Pelayan wanita segera mengikuti Lara di belakang.
Fabio berjalan menuju ke lorong yang begitu gelap dan sunyi. Ekspresi wajah pria itu sudah berubah dingin dan menakutkan. Walter segera mengikuti Fabio di belakang. Begitu juga beberapa pengawal yang memiliki tugas melindungi Fabio. Semua orang tidak lagi bisa bernapas tenang. Kecerobohan mereka bukan merupakan kesalahan yang bisa dengan mudah dimaafkan.
Fabio mungkin akan memukul, menembak atau yang paling mengerikan menyiksa mereka hingga tewas. Fabio tidak pernah membiarkan pekerja yang teledor. Nyawa semua orang yang ada di mansionnya sangat berharga. Bagi Fabio semua pekerjanya adalah orang-orang yang harus dilindungi dan dijaga keselamatannya.
Fabio menuju ke sebuah pintu besar berwarna hitam. Seorang penjaga membuka pintu tersebut untuk memberi jalan kepada Fabio dan yang lainnya. Pria itu menunduk hormat tanpa berani memandang wajah Fabio secara langsung.
Fabio berdiri di tengah ruangan. Walter memilih untuk berdiri di samping Fabio. Pria itu menunduk seperti yang lainnya. Walau mungkin Fabio tidak akan menyalakannya atau melakukan hal apapun terhadapnya. Tetapi Walter kasihan dengan lima pengawal yang kini juga ada di ruangan tersebut.
"Apa kalian lupa tugas kalian? Kenapa musuh bisa masuk?" tanya Fabio dengan suara yang tenang. Pria itu belum memperlihatkan emosinya.
"Maafkan kami, Bos. Pria itu adalah koki yang sudah satu tahun bekerja di rumah ini. Selama ini tidak ada yang salah dengannya. Ia terlihat sama seperti pekerja lainnya. Kami juga tidak tahu darimana dia mendapatkan senjata," jawab salah satu pengawal.
"Kalau besok ada musuh yang muncul lagi di mansion ini kalian akan bilang dia adalah tukang kebun? supir atau apa lagi!" teriak Fabio emosi.
Pengawal hanya bisa menunduk ketakutan. Mereka tidak memiliki pembelaan apapun lagi jika Fabio sudah marah. Begitu juga dengan Walter. Pria itu tidak tega jika sampai pengawal di depannya harus di hukum. Selama bertahun-tahun mereka bekerja baru hari ini mereka melakukan kesalahan.
"Kami siap menerima hukumannya, Bos."
__ADS_1
Secara bersamaan, Ke lima pengawal itu berlutut. Mereka siap menerima hukuman dari Fabio karena memang kesalahan ini murni kesalahan mereka. Andai saja mereka tetap di sana menjaga Fabio mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi.
"Jangan ulangi lagi. Pergilah!"
Walter memandang wajah Fabio dengan tatapan tidak percaya. Sama dengan para pengawal. Mereka masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Fabio. Mereka takut ini semua hanya jebakan saja sebelum Fabio memukul wajah mereka.
"Aku tidak mau keluargaku terluka!" sambung Fabio lagi. Pria itu memutar tubuhnya dan memilih pergi meninggalkan ruangan tersebut. Walter juga segera mengikuti Fabio dari belakang. Ada rasa bahagia di hatinya karena Fabio tidak memberikan hukuman apapun hari ini.
"Bos Fabio sudah banyak berubah. Apa semua ini karena Nona Lara?" gumam Walter di dalam hati.
Setibanya di depan ruangan, seorang pria menunggu kedatangan Fabio. "Tuan, dokter yang anda hubungi sudah datang," ucap pria itu kepada Walter.
"Bawa dia ke ruanganku!" perintah Fabio. Walter tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengikuti Fabio dari belakang dengan wajah bingung.
"Apa sakitnya sangat parah hingga Bos Fabio memanggil dokter untuk memeriksa keadaannya?" gumam Walter di dalam hati dengan wajah yang semakin khawatir.
Tidak butuh waktu lama, Fabio dan Walter sudah tiba di ruangan tersebut. Seorang dokter duduk di kursi yang ada di dalam sana. Ia memainkan pulpen yang tersusun rapi di depannya. Sepertinya dokter itu juga bukan orang sembarangan. Ia memiliki peran penting di mansion tersebut.
Fabio duduk di kursi yang ada di balik meja. Ia memijat pangkal hidungnya dengan mata terpejam. "Aku tidak tahu kenapa sakitnya kadang hilang terkadang muncul," ucap Fabio tanpa memandang. "Jantungku mengalami masalah yang serius."
Dokter itu meletakkan satu pulpen terakhir di ujung hingga susunannya menyerupai sebuah pagar.
"Apa rasa sakitnya muncul ketika dia ada di dekatmu?" tanya dokter tersebut.
"Alfred, kenapa kau bisa tahu?" Fabio memandang wajah dokter Alfred dengan serius. "Ah ya. Kau adalah seorang dokter. Pasti kau tahu segala macam penyakit. Baiklah, sekarang katakan padaku. Sakit seperti apa ini? Apa ada obatnya? Seumur hidupku belum pernah merasakan sakit yang seperti ini."
Alfred tersenyum. Ia memandang Walter yang saat itu memasang wajah bingung. "Sepertinya Big Boss kita lagi jatuh cinta!"
__ADS_1