Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 52. Belum Berakhir


__ADS_3

Alex masuk ke kamar hotel yang tadinya ia persiapkan untuk malam pertamanya bersama Lara. Melihat dekorasi yang begitu romantis di dalam kamar membuat Alex ingin marah. Pria itu menghempaskan bunga-bunga yang ada di dekatnya.


"Aargh!" teriak Alex. "Kenapa aku begitu bodoh! Kenapa aku bisa tidak sadar dan menandatangani surat cerai itu. Kalau saja aku belum bercerai dengannya, dia tidak akan bisa menikah dengan pria lain."


Alex mengambil ponselnya dari dalam saku. Ia ingin meminta bantuan seseorang. "Aku mau kau selidiki pria yang sekarang dekat dengan Lara. Setelah berhasil kabari aku secepatnya!" perintah Alex. Setelah selesai memberi perintah, Alex melemparkan ponselnya ke tempat tidur yang dipenuhi kelopak mawar. Setelah itu dia berjalan ke sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Wajah cantik Lara lagi-lagi mengganggu pikirannya.


"Lara. Ternyata dia masih marah padaku!" Alex tersenyum licik. "Aku pasti akan berhasil mendapatkan hati Lara lagi. Bagaimanapun juga, Lara pernah mencintaiku. Aku yakin, dia tidak akan melupakanku begitu saja," gumam Alex di dalam hati.


Ponsel Alex berdering. Alex memandang layar ponselnya dan beranjak dari sofa. Pria itu mengeryitkan dahi melihat nomor telepon tidak dikenali.


Tanpa pikir panjang, Alex segera mengangkat panggilan telepon tersebut. "Hallo, siapa ini?"


"Apa benar ini dengan Tuan Alex Moritz?"


"Ya. Ada apa?"


"Kami dari rumah sakit California, Tuan. Kami mendapatkan kartu identitas anda di dalam tas Nona Fiona. Apa anda mengenal Nona Fiona?"


"Fiona? Ya, saya kenal. Apa yang terjadi dengan Fiona?"


"Nona Fiona telah tewas karena bunuh diri. Beliau melompat dari atas gedung apartemen."

__ADS_1


"Bunuh diri?" Alex tercengang. Ia tidak menyangka kalau korban bunuh diri yang tadi sempat menghalangi jalannya adalah Fiona.


"Benar, Tuan. Jika anda kenal dengan Nona Fiona, saya harap anda segera ke rumah sakit untuk mengurus administrasi di rumah sakit."


"Baiklah, saya akan segera ke sana." Alex memutuskan panggilan telepon tersebut. Ia mengusap wajahnya dengan tangan. "Fiona. Kenapa pikirannya sependek itu? Fiona yang aku kenal bukan wanita yang mudah menyerah."


Alex memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Aku harus ke rumah sakit itu sekarang juga untuk memastikan apakah benar korban bunuh diri itu adalah Fiona."


Di sisi lain, Hana telah berhasil mendapatkan dokumen rahasia yang sempat di curi Fiona. Ia juga berhasil mendapatkan alamat pengusaha yang ingin di datangi Fiona tadi siang.


Hana segera menghubungi nomor yang tertera di kartu nama dan mengatur waktu ketemuan. Tidak di sangka, respon pria itu sangat cepat. Hana di jemput dan di bawa menuju ke rumah pengusaha kaya raya tersebut malam itu juga.


Hana kini sudah ada di halaman samping sebuah rumah mewah milik pengusaha ternama untuk melakukan transaksi jual beli dokumen milik perusahaan Moritz agar bisa mendapatkan uang. Tadi Hana sempat mengatakan nominal yang dia inginkan. Tanpa banyak menawar, pengusaha itu segera menyetujuinya. Hak itu membuat Hana semakin semangat untuk menjualnya.


"Baiklah. Ini dokumennya." Hana memberikan dokumen itu tanpa pikir-pikir. Ia memandang keadaan sekitar yang kelihatannya sangat menyeramkan.


Pria yang ada di hadapan Hana segera memeriksa dokumen tersebut dengan teliti. Setelah selesai, ia masih menggenggam dokumen itu dan memandang wajah Hana dengan senyuman penuh arti.


"Bagaimana Tuan? Apa anda sudah puas? Sekarang berikan uang itu kepada saya," ujar Hana dengan wajah tidak sabar. "Setelah uang ini ada di tanganku, aku akan kabur ke luar kota. Dengan uang yang begitu banyak, aku bisa hidup tenang tanpa harus bekerja," gumam Hana di dalam hati.


Pria itu tiba-tiba saja tertawa keras. Seorang pengawal datang dan berdiri di samping pria itu. "Bawa dokumen ini ke dalam!" perintah pria tadi kepada pengawalnya.

__ADS_1


Hana merasa ada yang tidak beres. Namun, wajahnya tetap terlihat tenang walaupun debaran jantungnya sudah tidak karuan.


"Dokumen itu memang dokumen yang selama ini saya cari. Saya tidak suka dengan keluarga Moritz. Sejak perusahaan mereka berdiri, perusahaan saya tidak bisa sesukses dulu lagi," ucap Pria itu. "Sekarang, setelah saya berhasil mendapatkan dokumen itu. Saya tidak mau ada yang tahu, kalau dokumen ini telah jatuh ke tangan saya!"


"Tidak akan ada yang tahu, Tuan. Saya akan jaga rahasia ini sebaik mungkin. Saya pastikan hanya kita dua yang tahu," jawab Hana.


"No! No! Saya tidak mau ada satu orangpun yang tahu. Termasuk anda!" jawab pria itu dengan sorot mata penuh arti.


"Apa maksud Anda, Tuan?" Hana mulai tidak tenang. Di tambah lagi di depan sana ada dua orang pria yang berjalan menuju ke tempatnya berada.


"Saya mau, anda menghilang dari muka bumi ini!" jawab pria itu mantap.


Hana melebarkan kedua matanya dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan. Jangan lakukan itu! Jangan bunuh saya."


Pria itu tertawa semakin kencang. Ketika dua pria itu semakin dekat, Hana segera beranjak dari kursi dan berusaha kabur. Sayang, kini dia sudah ada di kandang singa. Tidak ada tempat untuk menyelamatkan diri dan bersembunyi lagi.


"Tolong! Tolong!" teriak Hana.


"Berteriaklah sekuat mungkin!" jawab pria tadi dengan wajah bahagia.


Hana berontak ketika dua pria itu memegang tangannya dengan begitu erat. Tubuhnya di seri paksa menuju ke halaman belakang rumah. Hana menangis dengan hati yang dipenuhi penyesalan. Ia tidak menyangka kalau impian untuk bahagia akan berakhir dengan peristiwa menyedihkan seperti ini.

__ADS_1


"Tuan, tolong lepaskan saya," pinta Hana dengan wajah memohon. Tetapi pria itu tidak lagi peduli. Ia beranjak dari kursinya dan masuk ke dalam rumahmu Sedangkan Hana terus saja di seret paksa menuju ke halaman belakang. Entah apa yang akan terjadi padanya. Yang pasti, keserakahan Hana membuat dirinya berada dalam masalah.


__ADS_2