Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 47. Pergi Kalian!


__ADS_3

Lara tiba di rumah utama keluarga Moritz. Masih ada di depan pintu saja sudah membuat semua pekerja yang ada di rumah itu ketakutan. Salah satu pelayan yang melihat kejadian ketika Lara mengancam Hana, telah menceritakan sifat Lara yang sekarang kepada seluruh pekerja yang di rumah itu.


"Bukankah itu Nona Lara? Kenapa dia bisa ada di sini lagi?" bisik salah satu pelayan yang bertugas membersihkan taman.


"Kecilkan suaramu. Jika Nona Lara sampai dengar, bisa kacau. Kita bisa kehilangan pekerjaan kita. Apa kau mau bernasip seperti Hana?"


Dua pelayan itu menunduk takut ketika Lara melempar pandangan ke arah mereka. Namun Lara tidak mau berurusan dengan dua pelayan seperti mereka. Ia memutuskan masuk ke dalam rumah.


Ketika tiba di dalam di rumah, Lara berdiri dan memandang sekeliling rumah dengan tatapan penuh arti. Ada senyum kemenangan di bibirnya. Tidak lama setelah Lara berada di rumah, beberapa mobil berhenti di depan rumah. Segerombolan pria berbadan tegap turun dari mobil. Mereka segera masuk ke dalam rumah. Berbaris rapi di belakang Lara menunggu perintah.


Lara melipat kedua tangannya. "Usir semua orang yang ada di rumah ini. Tidak peduli laki-laki atau perempuan. Kecuali wanita yang ada di dalam kamar," perintah Lara.


"Baik, Nona."


Mendengar perintah Lara gerombolan pria berbadan tegap itu masuk ke dalam. Mereka menuju ke bagian dapur dan sebagian ke luar rumah.


Lara tersenyum puas melihat hasil kerja bawahannya. Semua orang yang pernah menyakitinya kini akan menjadi orang paling menderita. Kabar terakhir yang di dapat oleh Lara, semua pelayan dan pengawal yang pernah ada di pihak Lara waktu itu sudah di usir dari rumah dengan cara yang begitu keji. Kini Lara ingin membuat semua orang yang tersisa merasakan hal yang sama.


"Aku sengaja memilih hari ini untuk mengusir mereka, karena aku tahu kalau Greta pergi ke luar kota untuk urusan kuliah. Aku tidak akan sanggup melakukan semua ini jika Greta ada di depan mataku. Walau Greta sempat jahat, tapi dia sudah berubah. Dia bahkan ada di pihakku ketika aku belum berubah seperti sekarang.


Namun, aku tidak bisa membiarkan Nyonya Moritz ikut bersama Greta. Aku akan mengirimkannya ke rumah sakit jiwa. Aku sudah mempersiapkan seorang dokter yang sangat ahli dalam bidang kejiwaaan. Aku yakin, tidak lama lagi Ny. Moritz akan sembuh. Aku harap setelah Ny. Moritz sembuh dia bisa mengerti tujuanku melakukan semua ini apa. Aku hanya ingin membuat Kak Alex merasakan penderitaan yang pernah aku rasakan. Berjalan di tengah jalan tanpa tahu tujuannya mau ke mana."


Beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


Lara melangkah menuju ke pintu untuk meninggalkan ruang kerja Alex. Surat yang ia persiapkan telah di tanda tangani oleh Alex. Lara menawarkan diri untuk mengantarkan dokumen tersebut ke bawah. Tanpa rasa curiga sedikitpun Alex mengizinkan Lara membawa dua dokumen tersebut.


Tanpa sepengetahuan Alex, ternyata dokumen yang satu berisi surat penyerahan rumah milik keluarga Moritz kepada Lara. Sedangkan surat satunya lagi adalah surat cerai. Lara tidak mau terburu-buru seperti ini awalnya. Permainannya belum lama.


Tetapi, kini Lara juga memiliki tugas baru. Ia harus segera menyelesaikan urusannya dengan Alex agar ia bisa segera pergi meninggalkan mansion Fabio dan tidak merepotkan pria itu lagi. Lara akan memikirkan cara agar bisa membalas kebaikan Fabio terhadap dirinya.


"Lara, tunggu!" Lara berhenti dengan debaran jantung tidak karuan ketika Alex memanggilnya lagi. Padahal dokumen penting itu sudah di tangannya. Lara bisa ketahuan jika Alex ingin memeriksa isi di dalam dokumen itu.


"Ada apa Kak Alex?" tanya Lara. Ia berusaha keras menyembunyikan dokumen itu agar Alex tidak melihat isinya.


"Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu." Alex menyelipkan rambut Lara di balik telinga.


"Apa?" Lara melangkah mundur. Namun, dengan cepat Alex memegang pinggang rampingnya hingga tubuhnya terkunci dan tidak bisa melangkah mundur lagi.


"Aku akan mengadakan pesta nanti malam. Acara ini aku persembahkan untukmu, Sayang." Alex mendekati wajahnya dengan Lara. Bibir pria itu berhenti di dekat telinga Lara. "Aku ingin memberi tahu semua orang kalau kau adalah istriku."


"Apa?" Alex mengeryitkan dahi.


"Setelah kita rujuk, Lara pasti akan kembali ke rumah utama. Lara tidak mau bertemu dengan orang-orang yang pernah menghina Lara. Lara ingin mereka pergi."


"Terserah kau saja sayang. Kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan. Mulai detik ini aku serahkan urusan rumah kepadamu. Oh ya, biar tidak menggangu. Sebaiknya kirim saja mama ke rumah sakit jiwa. Dia sangat tidak berguna."


Lara membisu sejenak. Ia tidak menyangka kalau Alex sekejam itu. Bahkan terhadap wanita yang sudah melahirkannya.

__ADS_1


"Baiklah, jika itu permintaan Kak Alex."


Alex tersenyum memandang Lara. "Nanti malam dandan yang cantik ya. Aku ingin semua orang tahu, kalau bidadari cantik ini adalah milikku. Alex Moritz."


Lara mengangguk. "Baik, kak."


...***...


"Nona."


Lara tersadar dari lamunan singkatnya. Wanita itu memandang pria yang berdiri di sampingnya. "Ada apa?"


"Kami sudah selesai membereskan mereka. Apa ada lagi perintah yang harus kami kerjakan?"


"Ya. Bawa wanita yang ada di kamar ke rumah sakit ini." Lara memberikan alamat rumah sakit jiwa yang akan di huni Ny. Moritz.


"Baik, Nona." Pria itu melangkah ke kamar.


Lara segera berjalan menuju ke lantai atas. Ia ingin melihat kamar yang pernah ia tiduri saat ia masih berstatus sebagai istri Alex.


Ketika ingin melangkah ke arah tangga, tiba-tiba Lara ingat akan sesuatu. Ia mengeluarkan jam milik Tuan Moritz. Setelah Lara bertanya kepada Fabio, pria itu bilang kalau jam itu menyimpan uang yang jumlahnya sangat fantastis. Lara menemukan kode brangkas rahasia yang dimiliki Tuan Moritz. Brangkas itu tidak diketahui siapapun termasuk Alex.


Dengan bantuan Fabio, Lara berhasil menemukan brangkas rahasia tersebut dan memiliki semua uang milik Tuan Moritz. Lara menggunakan uang itu untuk melancarkan semua rencananya. Tentu saja Lara bukan tipe wanita yang serakah. Lara sudah menyimpan uang itu untuk Greta. Walau pada akhirnya nanti rumah ini berhasil ia jual, Greta tetap tidak akan hidup sengsara.

__ADS_1


"Pa, Lara tidak menyangka kalau papa sudah menyiapkan uang sebanyak itu untuk Lara. Terima kasih, Pa. Tanpa bantuan papa Lara tidak akan bisa kuat seperti sekarang," gumam Lara di dalam hati.


Lara menghapus air mata yang sudah menetes di pipi. Mencium jam tangan itu dengan mata terpejam. Kini ia merasa sangat rindu dengan Tuan Moritz. Andai saat itu ia memiliki kekuatan seperti sekarang, mungkin detik ini Tuan Moritz masih hidup. Lara tidak perlu mengadu dan menangis di depan Tuan Moritz. Tapi, semua sudah takdir. Kini Lara hanya bisa minta maaf melalui doa.


__ADS_2