Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 104. Penyerangan Udara


__ADS_3

Lara dan Greta sama-sama terjatuh ke lantai ketika ledakan itu sangat dekat dengan jendela kamar. Dua wanita itu berpelukan dengan wajah takut. Kepulan asap mulai memenuhi kamar tamu yang akan digunakan Greta untuk istirahat.


"Kak, apa yang terjadi? Kenapa mereka melempar bom?"


"Kakak juga gak tahu. Sepertinya kita gak aman jika bertahan di kamar ini. Greta, kita harus pergi," ajak Lara. Greta hanya mengangguk saja. Ketika mereka berdua berdiri, tiba-tiba terdengar suara tembakan. Kaca hias yang ada di dekat mereka pecah. Tembakan itu berasal dari pria yang masih duduk di helikopter.


"Greta, awas!" teriak Lara. Ia menarik Greta lagi hingga posisi mereka berdua tiarap. Kali ini lutut Lara berdarah karena terbentur lantai dengan begitu keras. Sedangkan Greta bagian kepalanya yang terkena lantai. Namun tidak sampai terluka.


"Sepertinya kita tidak bisa kabur dari kamar ini," ucap Greta tanpa bisa memandang wajah Lara.


"Kita harus bersembunyi agar kita tidak terkena peluru," jawab Lara.


Secara perlahan, Lara dan Greta sama-sama merangkak menuju ke kolong tempat tidur. Ketika suara tembakan sudah tidak terdengar lagi, Greta memandang ke arah luar jendela. Alis wanita itu saling bertaut ketika ia melihat Mark di salah satu helikopter yang kini menyerang mansion Fabio.


"Kak Alex," ucap Greta. Ia masih belum sadar kalau pria itu adalah Mark. Padahal jelas-jelas Greta sudah pernah bertemu dengan Alex dan Mark kala itu. "Kak Alex!" teriak Greta. Tanpa izin dari Lara, Greta bangkit dan lari ke jendela. Wanita itu ingin berteriak dan meminta Kakak kandungnya agar tidak melanjutkan penyerangan ini.


"Greta, apa yang ingin kau lakukan?" teriak Lara panik.

__ADS_1


Greta berdiri di depan jendela. "Kak Alex! Hentikan!" teriak Greta melalui jendela.


Mark memandang ke arah Greta. Memang sejak kemarin ia sudah tidak suka melihat Greta. Pria itu mengarahkan senjatanya ke arah Greta. Ia ingin membuat Greta tewas untuk membalaskan rasa sakit hatinya.


Greta mematung melihat ujung senjata itu mengarah ke arahnya. Namun, untuk bergerak Greta tidak bisa. Kakinya seperti ada lemnya hingga membuat dia tidak mampu untuk melangkah.


Ketika Mark menarik pelatuknya, di waktu yang bersamaan Walter menarik Greta untuk menghindar. Peluru yang di kirim Mark meleset.


Walter dan Greta terjatuh ke lantai. Tangan Walter melindungi kepala Greta agar tidak terbentur. Berbeda dengan Mark sendiri yang justru terkena ujung lemari hingga menimbulkan rasa sakit yang lumayan.


Lara kembali bernapas lega melihat Greta selamat. Fabio yang saat itu menatap wajah Lara dengan wajah khawatir hanya bisa menggeram karena sudah tidak sabar untuk membalas perbuatan Mark.


"Kak Bi, kenapa Kak Alex menyerang mansion?" tanya Lara kepada Fabio.


Fabio memandang wajah Lara sejenak sebelum memandang ke depan. "Mungkin dia ingin membawa calon pengantinku pergi," jawab Fabio. Hal itu membuat Lara diam dan tidak berani bertanya lagi.


Beberapa pengawal yang ikut bersama dengan Fabio dan Walter melempar beberapa bom ke arah helikopter. Perang akan segera di mulai. Kini Fabio tidak lagi memikirkan kondisi mansionnya. Pria itu hanya ingin menang. Musuh yang sudah berani masuk ke wilayahnya harus siap untuk menanggung akibatnya.

__ADS_1


Setelah berjalan cukup jauh karena memang kali ini Fabio tidak menggunakan lift menuju lantai bawah, akhirnya mereka berdua tiba di kamar pribadi Fabuo. Fabio meletakkan tubuh Lara di atas tempat tidur dengan hati-hati. Sejak tiba di kamar tidur milik Fabio, wanita itu masih tidak banyak bicara.


Greta duduk di sofa yang tidak jauh dari tempat tidur. Walter berjaga di depan kamar. Hanya ada mereka bertiga di kamar itu.


"Chubby, jangan pernah keluar dari kamar ini apapun yang terjadi. Aku akan mengunci kamar ini dan menutupnya hingga tidak terlihat seperti pintu. Namun, pintu ini akan terbuka jika kau membukanya dari dalam. Selama kau tetap diam di dalam, tidak akan ada yang tahu kalau kau ada di dalam kamar ini," ucap Fabio dengan wajah serius. Pria itu mengambil kapas dan masih sempat-sempatnya membersihkan luka yang ada di lutut Lara.


"Kak Bi, hati-hati," pinta Lara.


Fabio mengangguk. Ia beranjak dari tempat tidur masih dengan memandang wajah Lara. "Jika dalam 24 jam aku tidak muncul di kamar ini, kau boleh pergi."


Lara mengernyitkan dahi. "Apa maksud Kak Bi?" Wanita itu setengah protes. "Kak Bi harus berjanji kalau semua akan baik-baik saja. Kak Bi pasti bisa mengalahkan Alex Moritz!"


Greta mengangkat kepalanya mendengar jawaban Lara. Wanita itu mengepal kuat tangannya karena tidak mau sampai kakak kandungnya tewas di tangan Fabio.


"Semua akan baik-baik saja jika kau tersenyum," ucap Fabio dengan ekspresi dinginnya. Lara mengambil tangan Fabio dan meletakkannya di pipi.


"Kita akan menikah. Kembalilah dalam keadaan selamat," pinta Lara.

__ADS_1


"Aku janji akan kembali. Tapi, ingat. Sebelum 24 jam jangan pernah keluar dari kamar ini." Fabio memandang kamar mewah miliknya. "Bahkan jika mansion ini di bakar atau di ledakkan. Kamar ini akan tetap utuh. Kau pasti akan aman ada di tempat ini," ucap Fabio dengan penuh percaya diri.


Greta memalingkan wajahnya ke arah lain. "Sekarang apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan Kak Alex. Pria gila itu yang salah. Kak Alex sama sekali tidak bersalah. Kak Alex hanya ingin Kak Lara. Aku yakin, Kak Alex gak akan pernah kepikiran untuk menyerang mansion mewah ini," gumam Greta di dalam hati.


__ADS_2