
Alex berenang ke tepian dan segera naik ke atas. Tubuhnya yang basah kuyup terlihat mengigil karena dinginnya air kolam di malam hari. Bibirnya sampai pucat. Pria itu segera berdiri untuk mengejar Lara. Ia mematung ketika melihat pasukan Fabio sudah menodongkan senjata api mereka ke arahnya.
Sebenarnya bukan masalah besar bagi Alex melihat senjata itu kini mengincarnya. Namun, ia tidak bisa tenang lagi ketika melihat wanita yang ia cintai ada di pelukan pria lain. Melihat Fabio memeluk Lara dengan begitu erat, membuat rasa cemburu di dalam harinya. Emosinya memuncak hingga sorot mata pria itu kembali tajam.
"Lara, apa yang kau lakukan? Kembalilah padaku sayang." Walau sudah jelas-jelas emosinya kini membara. Tetapi Alex tidak mau membuat Lara takut. Ia berusaha bersikap tenang agar Lara mau kembali padanya.
Lara melepas pelukannya dengan Fabio. Ia memutar tubuhnya dan segera memeluk lengan Fabio dengan perasaan takut. "Gak, Lara gak mau sama Kak Alex!" teriak Lara. "Lara mau sama Kak Bi saja."
Alex menatap wajah Fabio sejenak sebelum memandang Lara lagi. "Kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku, sayang."
"Berhentilah memanggil calon istriku dengan sebutan mesra seperti itu, Tuan. Karena sampai kapanpun Lara tidak akan kembali pada anda. Sebaiknya jangan pernah buang-buang waktu anda hanya untuk mengharapkan cinta dari wanita yang akan segera menikah!"
Lara mengeryitkan dahi. Wanita itu memandang wajah Fabio dengan tatapan protes. Sebenarnya ia tahu kalau semua ini hanya untuk mengelabuhi Alex saja. Tapi, apa pantas jika mengelabuhi musuh dengan cara seperti ini? Bawa-bawa soal pernikahan yang bahkan berpacaran saja mereka belum.
__ADS_1
"Dia istriku!" ketus Alex tidak terima.
"Dia calon istriku. Mantan istri anda!" tegas Fabio tidak mau kalah.
"Kami belum bercerai!" Alex maju ke depan. Namun, semua orang segera memegang pelatuk mereka dengan waspada. Alex berhenti dengan tangan terkepal kuat. Tiba-tiba saja pria itu tertawa hingga tawanya menggelegar memecah kesunyian. "Lara istriku. Dia milikku!"
"Kak Alex, kenapa Kak Alex menjadi seperti ini?" gumam Lara di dalam hati. Hatinya menjadi tidak tega. Walau dulu apa yang dilakukan Alex sangat menyakitkan. Tapi, ia tahu kalau rasa sakit yang kini dirasakan Alex jauh lebih sakit dari yang dulu ia rasakan. "Seharusnya aku senang melihat Kak Alex menderita seperti sekarang. Tapi, kenapa justru hatiku menjadi tidak tega?"
Walter memandang Fabio untuk menunggu perintah. Mereka tidak tahu harus apa. Tidak ada yang menakutkan di sana. Hanya sekali tembak saja mungkin Alex akan tewas. Sekuat apapun pria itu, kalau sendirian pasti kalah.
"BERHENTI!" teriak Alex ketika Fabio ingin pergi membawa Lara.
Teriakan Alex membuat Fabio kembali memutar tubuhnya dan memandang ke arah Alex. Tiba-tiba saja Alex menatap Fabio dengan tatapan yang sangat tajam. "Aku ingin bertarung. Yang menang akan mendapatkan Lara!"
__ADS_1
Lara melebarkan kedua matanya. Tentu saja ia tidak setuju. Sudah pasti akan ada yang terluka. Selain takut Fabio terluka, Lara juga tidak mau sampai Alex menang dalam pertarungan.
"Kak, jangan ya," bujuk Lara.
Fabio diam sambil memikirkan sesuatu. Tentu saja jika ia menolak, harga dirinya di depan Alex dan di depan semua pasukannya akan jatuh. Tetapi, jika dia menerima, Lara akan menjadi sedih. Kesedihan Lara adalah kelemahan Fabio.
"Anda tidak berani, Tuan?" ledek Alex. "Anda tidak akan bisa keluar dari tempat ini karena tempat ini wilayah saya."
Tiba-tiba saja gerombolan pria bersenjata keluar dari segala arah. Walter dan pasukannya kaget bukan main. Mereka sangat yakin kalau sejak mereka tiba di sana, tidak ada yang mencurigakan. Tetapi, kini apa yang mereka lihat sungguh sulit di percaya. Pria-pria bertopeng itu muncul dengan senjata yang tidak kalah canggih dari pasukan milik Fabio. Mereka yang sekarang gantian mengepung Fabio dan pasukannya.
"Saya akan membantai semua orang yang ada di sini." Alex mengukir senyuman yang begitu menakutkan. "Termasuk saya sendiri. Kita semua akan mati!"
Di bawah ini rekomendasi Novel temen author ya. Semoga suka.
__ADS_1