Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 60. Jangan Sentuh Aku!


__ADS_3

Lara duduk di kursi yang letaknya tidak terlalu jauh dari posisi Fabio berada. Wanita itu terlihat tidak berselera untuk menghabiskan makan siangnya. Ia bosan memakan menu makanan sehat seperti yang ada di hadapannya. Ingin sekali Lara makan donat, kentucky, pizza.


Namun, Lara tidak berani membeli semua makanan itu selama ia tinggal di rumah Fabio. Lara takut membuat Fabio kecewa. Pria itu sudah mengeluarkan uang banyak untuk mengubah penampilannya hingga menjadi seperti sekarang. Lara takut Fabio kecewa.


"Kenapa tidak di makan?" tanya Fabio bingung. Biasanya Lara terlihat sangat lahap. Tapi sekarang, wanita itu justru terlihat seperti orang sakit.


"Aku tidak selera makan, Kak," jawab Lara pelan. Ia meletakkan sendok di piring dan memandang wajah Fabio dengan saksama. "Kak Bi yakin gak mau periksa ke rumah sakit? Biar Lara temeni," tawar Lara. Ia tidak mau Fabio sampai sakit.


"Tidak," jawab Fabio singkat. Ia menunduk dan mencoba untuk menghabiskan makan siangnya. Walau sebenarnya terasa sulit karena kini ada sepasang mata yang memperhatikannya tanpa berkedip.


"Kak ...."


"Aku tidak sakit. Alfred berbohong tadi!" jawab Fabio membela diri.


"Kakak yakin?"


"Ya."


Lara bersandar dan memandang Fabio dengan wajah serius. "Aku yakin Kak Bi pasti lagi sakit. Ekspresi wajahnya terlihat seperti orang sakit. Tapi, bagaimana caranya agar aku bisa mengobati sakit Kak Bi? Saktinya saja aku tidak tahu di bagian mana," gumam Lara di dalam hati.


"Chubby, habiskan makan siangmu. Aku harus pergi karena ada urusan penting." Fabio membersihkan mulutnya dengan tisu.


"Kak, Lara mau izin. Lara pengen jalan-jalan ke mall," ucap Lara saat Fabio sedang meneguk air putih.


Fabio mengangguk. "Aku akan meminta supir untuk mengantarkanmu ke mall."


Saat Fabio berdiri, Lara juga ikut berdiri. Wanita itu mengambil ponsel Fabio yang belum sempat di masukkan ke dalam saku.


"Ini kak." Lara memberikan ponsel tersebut. Fabio hanya bisa mengangguk. Ia segera memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berjalan pergi.


Lara tersenyum ketika langkah Fabio sudah semakin menjauh. "Akhirnya aku bisa makan donat dan kentang goreng," gumam Lara di dalam hati. Ia segera memutar tubuhnya dan berjalan menuju ke lift. Lara ingin bersiap-siap sebelum berangkat ke mall.


Fabio melangkah cepat menuju ke mobil. Wajah pria itu terlihat tidak suka ketika melihat Alfred dan Walter masih asyik mengobrol di kursi yang ada di dekat kolam ikan.

__ADS_1


"Walter!" teriak Fabio.


Walter yang saat itu tidak menyangka kalau Fabio akan muncul segera berlari cepat. Sama halnya dengan Alfred. Pria itu seperti ingin segera menghilang dari hadapan Fabio. Ia takut mendapat masalah.


"Ada apa, Bos?" tanya Walter.


"Kenapa dokter gadungan itu masih ada di sini?" protes Fabio tidak suka.


Walter memandang Alfred yang sudah berhasil melajukan mobilnya. Ia terlihat sedang memikirkan alasan yang tepat untuk membela Alfred.


"Apa kalian membahas masalah tadi?" tuduh Fabio dengan emosi tertahan.


Walter tidak berani menjawab. Pria itu membukakan pintu mobil memberi jalan kepada Fabio. Setelah Fabio masuk, ia menutup pintu dan berlari kecil menuju ke samping mobil.


"Semoga Bos tidak membahas hal ini lagi di dalam mobil," gumam Walter penuh harap sebelum masuk ke jok kemudi dan melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi.


...***...


Lara tersenyum bahagia ketika pertama kali menginjakkan kakinya di salah satu mall yang ada di negara tersebut. Ketika melangkah beberapa meter, ia kembali ingat dengan apa yang pernah terjadi. Di mall itu dia membeli baju-baju ukuran big size dari uang yang diberi Alex. Bisa di bilang mall tersebut menyimpan banyak kenangan yang membuat Lara menjadi ragu untuk melangkah lebih jauh lagi.


Tiba-tiba seseorang memegang tangan Lara. Lara kaget bukan main karena ada tangan asing yang menggenggam tangannya. Wanita itu semakin kaget ketika melihat sosok yang sudah lancang memegangnya adalah Alex Moritz.


"Kenapa Kak Alex bisa di sini? Apa dia mengikutiku?" gumam Lara di dalam hati.


"Kita harus bicara!" pinta Alex dengan wajah serius.


Lara melihat supir yang membawanya sudah berjalan mendekat. Supir itu ingin menolong Lara dari cengkraman Alex. Namun, satu hal tidak terduga terjadi. Tiba-tiba saja seorang pria misterius muncul dan membius supir yang membawa Lara dengan jarum suntik. Lara ingin berteriak minta tolong namun Alex segera menyeretnya secara paksa.


"Ayo ikut aku!"


"Kak Alex, lepaskan!" berontak Lara.


Alex terlihat tidak peduli. Pria itu membawa Lara menuju ke parkiran mobil. Sebuah mobil berwarna putih sudah terparkir di sana. Alex mendorong Lara agar masuk ke dalam mobil. Setelah itu ia segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.

__ADS_1


"Kak, lepaskan Lara! Apa yang mau Kak Alex lakukan?" protes Lara.


"Lara, aku janji tidak akan melukaimu. Aku hanya ingin bicara denganmu. Sebentar saja," jawab Alex dengan suara lembut.


"Gak! Gak ada yang harus dibicarakan lagi. Berhenti atau Lara akan lompat!" ancam Lara.


Alex segera memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Pria itu lagi-lagi memegang tangan Lara agar Lara tidak berhasil keluar dari mobil.


"Aku tahu, kau sudah menjual rumah utama kepada orang lain. Kau bahkan sudah mempermalukanku di depan rekan bisnisku waktu itu. Lara, aku sama sekali tidak peduli. Aku hanya ingin kau tahu kalau aku sangat mencintaimu. Aku ingin kita rujuk lagi."


"Jangan mimpi, Kak. Pikirkan dulu ketika Kak Alex menyiksa dan menghina Lara enam bulan yang lalu, sebelum Kak Alex berani mengajak Lara untuk rujuk!" jawab Lara dengan emosi tertahan.


"Lara, aku tahu aku salah. Tapi, bukankah aku sudah mendapat balasannya? Sekarang aku miskin. Tidak punya apapun. Apa kau tidak mau menerimaku lagi karena aku ini pria miskin?"


"Kak, jangan pernah membalikkan keadaan. Kak Alex yang salah sejak awal."


"Lara, aku minta maaf!"


Lara menarik tangannya dari genggaman Alex dengan paksa. Namun, ia tidak berhasil. Cengkraman tangan Alex sangat kuat.


"Bagaimana ini? Aku tidak mau sampai terjebak seperti ini," gumam Lara panik.


Tiba-tiba dua mobil hitam berhenti di depan dan belakang mobil Alex. Fabio turun dari mobil yang berhenti di depan mobil Alex. Pria itu memandang wajah Lara yang terlihat jelas dari depan sebelum melepas kaca mata hitamnya. Walter berdiri di samping mobil. Pria itu melipat kedua tangannya sambil memperhatikan bawahannya yang sudah turun juga dari mobil yang berhenti di belakang mobil Alex.


Tanpa aba-aba, mereka memecahkan kaca mobil Alex dengan sebuah balok kayu. Lara kaget awalnya. Tetapi ia memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Lara segera turun dari mobil ketika Alex kelimpungan.


"Lara, tunggu!" teriak Alex. Pria itu segera membuka pintu mobil untuk mengejar Lara.


Lara berlari mendekati Fabio. Wanita itu bersembunyi di balik tubuh Fabio dengan wajah ketakutan. Sedangkan Alex, tidak berhasil mengejar Lara karena anak buah Walter sudah memegang kedua tangan Alex.


"Lara, pria ini bukan pria baik. Dia pria jahat! Kau tidak pantas bersama dengannya. Kau akan menderita Lara!" teriak Alex.


Fabio tidak mau banyak cerita. Pria itu memutar tubuhnya dan merangkul pinggang Lara. Ia membawa Lara untuk masuk ke dalam mobil. Tetapi, sebelum masuk ke dalam mobil Alex lagi-lagi meneriaki sesuatu.

__ADS_1


"Lara, dia adalah Fabio Cassano. Ketua geng Mafia Black Dragon!" sambung Alex lagi. "Dia pembunuh berdarah dingin yang terkenal sangat kejam!"


Lara menahan langkahnya ketika ingin masuk ke dalam mobil. Ia memandang wajah Fabio dengan tatapan tidak terbaca. "Apa semua itu benar, Kak?"


__ADS_2