
"Ya, ini aku Alfred," jawab Alfred dengan senyuman.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu, Alfred." Lara berhambur ke dalam pelukan Alfred. Pria itu sudah seperti sosok kakak yang sangat ia sayangi. Lara tidak pernah canggung ketika berada di pelukan pria itu. Tidak lama setelah memeluk Alfred, Lara melepas pelukannya dan tersenyum bahagia.
"Aku mencarimu kemana-mana. Kenapa pindah rumah tidak bilang-bilang?" protes Lara.
"Aku juga mencarimu, Lara. Setelah pesta pernikahanku selesai. Aku mendapat kabar kalau Tuan Moritz meninggal dunia. Setelah itu aku dan Ines datang ke rumah utama keluarga Moritz. Di sana aku mendapat kabar yang tidak mengenakan. Mereka bilang kau sudah cerai dengan Alex dan di usir dari rumah tersebut. Ketika aku datang ke rumah lamamu, rumah itu sudah di huni orang lain. Aku dan Ines mencarimu ke mana-mana. Tetapi, kau hilang seperti di telan bumi. Aku dan Ines bulan madu dan menetap di tempat kelahiran Ines selama beberapa bulan sebelum akhirnya kembali ke kota ini. Aku senang sekarang bisa bertemu denganmu lagi. Ines juga pasti senang mendengar kabar ini."
"Terima kasih, Alfred. Kau dan Ines memang sahabat terbaikku. Maafkan aku karena tidak memberitahumu soal perceraian itu. Aku tidak mau mengganggu hari bahagiamu," jawab Lara dengan wajah menyesal. "Itu adalah hari yang sangat menyakitkan."
"Semua sudah tidak penting lagi. Sekarang yang terpenting, kau baik-baik saja. Kau bahkan terlihat jauh lebih sehat dari sebelumnya. Kemana kau membuang timbunan lemak puluhan kilo itu Lara?" ledek Alfred.
"Aku tidak membutuhkan lemak itu lagi. Sekarang aku sudah menjadi wanita cantik yang selalu diidamkan para pria bukan?" ucap Lara memuji diri sendiri.
"Ya. Kau sangat cantik Lara. Tetapi, apa kau melakukan semua ini agar bisa kembali kepada Alex Moritz?" tanya Alfred hati-hati. Ia takut sampai salah bicara dan bisa melukai hati Lara.
Lara menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Alfred. "Ya, aku melakukan semua ini agar aku bisa kembali padanya. Tapi bukan untuk menjadi istrinya lagi. Aku kembali untuk menjadi musuh yang akan menghancurkan hidupnya!" jawab Lara mantap.
"Lara, kau serius?" tanya Alfred tidak percaya.
"Kapan aku bohong padamu, Alfred?" tanya Lara balik.
"Aku senang mendengarnya, Lara. Pria seperti dia tidak pantas memiliki istri sebaik dirimu. Dia hanya pria yang suka memandang fisik!" sahut Alfred.
"Kau benar. Dia mencampakkan selingkuhannya ketika melihat penampilanku yang sekarang."
"Aku harap kau tidak lagi termakan rayuan Alex, Lara. Dia pria yang pandai bersilat lidah."
"Tidak akan," jawab Lara mantap.
Ketika Alfred dan Lara terlihat sangat asyik berbincang-bincang di depan ruangan pribadi Fabio. Di dalam ruangan, Fabio sedang mengamati Lara dan Alfred melalui layar monitor yang menghubungkannya ke kamera cctv. Pria itu terlihat sangat menakutkan. Tatapannya seperti sedang mengincar musuh. Tangannya memutar-mutar pistol yang tergeletak di meja.
__ADS_1
Walter tidak berani bertanya maupun membela antara Lara dan Alfred. Ia juga tidak tahu, sebenarnya ada hubungan apa antara Lara dan Alfred. Namun, jika dia tidak melalukan sesuatu. Suasana hati Fabio akan semakin membahayakan.
"Bukankah kau bilang Lara sebatang kara? Tidak memiliki orang tua dan sanak saudara, Walter!" tanya Fabio dengan nada yang begitu tenang namun bisa menghanyutkan. Tidak secara langsung, pertanyaan Fabio sedang menuduh Walter sebagai pembohong.
"Benar, Bos," jawab Walter apa adanya.
"Lalu, kenapa dia terlihat begitu akrab dengan Alfred? Ada hubungan apa di antara mereka? Bukankah Alfred sudah menikah? Kenapa dia mau saja di peluk oleh wanita lain. Dan Lara, kenapa dia memeluk Alfred dengan mesra seperti itu? Seperti kekasih yang sudah lama tidak jumpa saja!"
Walter menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Posisinya sangat dilema. Salah jawab bisa menimbulkan fitnah. Gak jawab bisa-bisanya peluru yang ada di pistol itu mendarat di balik kulitnya.
"Mungkin mereka teman satu sekolah, Bos."
"Apa teman satu sekolah ketika bertemu harus berpelukan?" sahut Fabio mulai terpancing emosi.
Walter diam sejenak sambil memikirkan jawaban yang bisa menenangkan hati Fabio. "Bos, saya akan menemui mereka di depan dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana?" tawar Walter.
"Tidak perlu! Aku bisa bertanya sendiri!" Fabio beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu meninggalkan senjata api yang tadi di putar-putar di atas meja.
Di depan, Lara dan Alfred masih asyik mengobrol.
"Lara, kenapa kau bisa ada di kediaman Tuan Fabio? Apa kau bekerja di mansion ini?" tanya Alfred dengan wajah polosnya. Ia tidak akan pernah menyangka kalau Lara adalah wanita beruntung yang tadinya ia pikirkan. Wanita yang sudah berhasil membuat jantung Fabio berdebar tidak karuan.
"Aku tidak bekerja di mansion ini. Aku di tolong oleh Tuan Fabio. Jika Tuan Fabio tidak menolongku malam itu, aku tidak akan mungkin menjadi seperti sekarang."
"Apa kau bilang? Tuan Fabio menolongmu?" Alfred masih tidak percaya. "Dia menolongmu saat kau sudah seperti sekarang?" tanya Alfred untuk memastikan.
Lara menggeleng pelan. "Tidak, Alfred. Tuan Fabio menolongku saat berat badanku masih 110 kilogram!"
"WHAT?" Alfred melotot. "Itu tidak mungkin!"
"Tidak mungkin kau bilang?" sahut Fabio.
__ADS_1
Alfred dan Lara sama-sama memandang ke arah Fabio. Pria itu kini berjalan pelan mendekati posisi Lara berdiri. Ia terlihat tidak suka melihat Alfred berdiri terlalu dekat dengan Lara.
"Ada yang salah jika saya menolong Lara ketika dia masih gemuk?" tanya Fabio kepada Alfred.
Alfred tidak lagi berani menjawab pertanyaan Fabio. Resep yang ia buat tadi saja sudah menjadi masalah. Bagaimana mungkin ia menambah masalah baru. Bisa-bisa gajinya di potong habis bulan ini.
"Kak Bi, Lara dan Alfred berteman sejak lama," ucap Lara. "Lara gak nyangka bisa bertemu Alfred di sini."
"Kak Bi?" celetuk Alfred tanpa sadar.
Mendengar pertanyaan Alfred membuat Walter menepuk pelan kepalanya. "Jika terjadi sesuatu sama dokter ini, aku tidak mau ikut campur!" gumamnya di dalam hati.
"Iya, Kak Bi," sahut Lara. "Bahkan Kak Bi memanggilku Chubby," sambung Lara dengan wajah berseri.
Alfred menyipitkan kedua matanya dan melempar tatapan menuduh ke arah Fabio. "Tuan, sekarang saya tahu siapa yang sudah menyebabkan anda sakit," ucap Alfred.
"Sakit? Kak Bi sakit apa?" tanya Lara khawatir.
"Lara, Tuan Fabio sakit karena dia-"
"Walter, usir dokter gadungan ini! Sepertinya dia sudah tidak di butuhkan lagi di rumah ini!" potong Fabio sebelum Alfred berhasil menyelesaikan kalimatnya. Lara terlihat semakin bingung dan panik.
"Kak, kenapa kakak mengusir Alfred? Lara kenal baik dengan Alfred. Dia memiliki banyak teman yang rata-rata dokter hebat. Lara yakin, penyakit Kak Bi bisa disembuhkan."
"Walter!" teriak Fabio ketika Walter belum melakukan tindakan apapun.
"Baiklah, Tuan. Saya permisi dulu." Alfred menunduk hormat.
Sebenarnya ingin sekali ia meledek Fabio lebih lama lagi. Namun, ia juga takut. Meledek Fabio sama saja seperti sedang meledek malaikat maut. Salah kata bisa-bisa nyawa melayang.
Walter menemani Alfred menuju ke pintu depan. Sedangkan Fabio dan Lara masih berdiri di sana dengan pemikiran masing-masing.
__ADS_1
"Sebenarnya Kak Bi sakit apa? Kenapa Kak Bi melarang Alfred untuk mengatakan yang sebenarnya? Apa sakit Kak Bi sangat parah?" gumam Lara di dalam hati.