Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 14. Amarah Lara


__ADS_3

"Nona, sejak kapan anda ada di situ?" Hana memberanikan diri untuk bertanya. Ia harus tahu, obrolan yang mana saja yang sempat di dengar Lara. Dengan begitu ia masih memiliki alasan untuk membela diri agar Lara masih percaya padanya.


"Sejak kau menjelek-jelekkan tubuhku yang gemuk ini dengan lawan bicaramu yang bernama Fiona itu!" sahut Lara dengan emosi tertahan.


Ingin sekali rasanya Lara menampar wajah Hana agar wanita itu mendapat pelajaran karena sudah bersikap sok baik selama ini. Lara benar-benar kecewa. Bahkan hatinya jauh lebih sakit jika dibandingkan saat Alex marah padanya. Hana sudah sangat ia percaya bahkan ia anggap sebagai adik.


"Anda salah paham, Nona."


"Salah paham kau bilang? Kau mau cari-cari alasan agar aku percaya padamu? Dengan begitu kau masih memiliki kesempatan untuk mendekatiku agar bisa memberikan informasi kepada wanita yang ada di telepon tadi?"


Hana melangkah maju. "Nona, saya bisa jelaskan."


"Stop, Hana! Aku tidak mau dekat-dekat dengan pengkhianat seperti dirimu!" ketus Lara. "Sebaiknya kau pergi dari sini. Aku tidak mau kau ada di rumah ini lagi. Aku memecatmu, Hana!"


Hana diam sejenak. Ekspresi yang tadinya memelas kini berubah menjadi ekspresi wajah yang menantang. "Anda mau memecat saya? Apa anda tidak sadar, status anda di rumah ini siapa? Anda hanya menantu yang tidak di anggap. Jangan bersikap layaknya Nona muda. Wanita kingkong!" ketus Hana tidak pikir-pikir lagi.


Lara semakin sakit hati. Bahkan jika dibandingkan penghinaan Vera, penghianatan Hana kali ini jauh lebih parah. "Pergi dari rumah ini Hana. PERGI!" teriak Lara dengan suara yang semakin keras. Hal itu membuat Greta keluar dari kamarnya. Wajahnya terlihat kesal karena ada orang yang mengganggu tidur siangnya.


"Saya tidak akan pergi dari rumah ini karena bukan anda yang menggaji saya!" jawab Hana semakin menantang.


"Ada apa ini?" Greta memandang wajah Hana dan Lara bergantian.


Hana memasang wajah memelas lagi. Ia berlari mendekati Greta untuk meminta pembelaan. "Nona, Nona Lara mau memecat saya," lirih Hana. "Padahal saya tidak melakukan kesalahan apapun. Saya sudah melakukan pekerjaan saya dengan baik."


Greta menatap Lara. "Apa benar seperti itu," ucapan Greta terhenti. "Kak Lara?"

__ADS_1


"Greta, ternyata Hana ini seorang pengkhianat. Kau mau membelanya?"


"Penghianat? Apa yang sudah dia lakukan?" tanya Greta lagi.


Hana segera memotong pembicaraan sebelum Lara menjawab pertanyaan Greta. "Nona, tadi Nona Fiona menelepon saya. Dia sangat ingin tahu, bagaimana kabar keluarga ini. Tidak sengaja saya bilang, kalau Tuan Alex sudah menikah dengan Nona Lara. Tapi sepertinya Nona Lara salah paham."


"Hana, kau tidak bicara seperti itu tadi. Dan siapa Fiona? Apa dia bagian dari keluarga ini?"


"Ya," sahut Greta cepat. "Kak Fiona akan menjadi bagian dari keluarga ini jika kau tidak muncul di rumah ini."


Lara mematung. "Apa maksudmu, Greta?"


"Aku tidak mau membahas apapun tentang Kak Fiona." Greta memandang wajah Hana. "Hana, kembali ke kamarmu. Tidak ada yang bisa memecatmu selain mama."


"Greta, kenapa kau membiarkan pengkhianat seperti dia tinggal di rumah ini? Bisa saja besok dia akan berkhianat kepada keluarga ini."


"Kak Lara, masalah ini cukup sampai di sini. Jika kakak tidak suka dengan Hana. Jangan pernah temui dia lagi!" Greta memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan Lara sendiri.


"Kenapa semua orang bersikap seperti ini kepadaku? Apa masih ada seseorang yang disisakan Tuhan untuk menyayangiku dengan tulus tanpa memandang fisikku?" gumam Lara di dalam hati.


***


Malam harinya. Sejak kejadian memergoki Hana berkhianat, Lara terlihat sangat stres dan sedih. Wanita itu mengambil banyak makanan yang ada di dapur. Bahkan tidak cukup hanya makanan yang di dapur sana. Lara memesan aneka macam Snack favoritnya dan memakannya di dalam kamar.


Lara duduk di karpet dan bersandar di tempat tidur. Wanita itu menangis keras di dalam kamar untuk melampiaskan rasa sakit hatinya.

__ADS_1


"Hana, kenapa kau jahat sekali. Aku sudah percaya padamu. Aku pikir kau wanita baik. Ternyata kau sama saja seperti yang lain," lirih Lara dengan tangis air mata. Ia memasukkan makanannya ke dalam mulut dan kembali menangis. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan untuk menenangkan hatinya selain makan. Ya, makan bisa membuat hati Lara yang di rundung pilu menjadi kembali tenang dan bahagia.


Pintu terbuka. Alex baru saja pulang kerja. Baru saja menutup pintu kamar, pria itu sudah mematung sambil memandang kamarnya yang berantakan. Tadinya ia ingin langsung marah, namun ketika melihat Lara menangis. Pria itu menahan emosinya agar bisa berbicara dengan nada rendah.


"Lara, apa yang kau lakukan pada kamarku?" tanya Alex.


Lara segera beranjak dari karpet saat melihat Alex sudah pulang. Wanita itu menghapus air matanya dan meletakkan Snack yang tadi ia makan.


"Kak Alex sudah pulang? Kok cepet?"


Alex mengeryitkan dahinya. "Cepat kau bilang? Maksudmu, kau senang aku pulang larut malam?"


"Bukan. Bukan seperti itu. Biasanya Kak Alex pulang jam 10," jawab Lara dengan suara pelan.


"Lara, bereskan kamar ini. Kenapa banyak sekali sampah!" Alex melihat tisu dan bungkus Snack yang berserakan. Pria itu tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi istri yang belum lama ia nikahi itu.


Tanpa menjawab, Lara mengutip semua sampah yang ada di lantai. Wanita itu memandang Alex lagi saat ingin melangkah ke pintu.


"Maafkan Lara, Kak." Lara memungut lagi sampah snack dan tisu yang masih tersisa di lantai. Sesekali wanita itu menyeka air matanya yang masih menetes. Setelah semua sampah di kutip, Lara pergi meninggalkan kamar untuk membuang sampah itu di luar. Tong sampah yang ada di kamar tidak akan muat untuk menampung sampah itu.


Alex mendengus kesal. "Wanita itu. Bagaimana badannya tidak tambah gendut. Kerjaannya makan makan dan makan terus!" Alex duduk di atas ranjang dan melirik Snack Lara yang masih terbuka. Pria itu memandang ke arah pintu sebelum meraih bungkus Snack tersebut.


"Makanan seperti apa yang dia makan hingga badannya bisa segendut itu?" ucap Alex pelan. Ia mengambil Snack yang ada di dalamnya dan memasukkannya ke dalam mulut. Alex mengeryitkan dahi ketika giginya mengunyah Snack tersebut.


"Ini seperti kerupuk tapi rasa cokelat." Alex memandang bungkus Snack itu lagi. Ia memasukkan beberapa Snack ke dalam mulutnya lagi. Pria itu merasa senang bisa mencoba Snack yang juga di konsumsi Lara. "Lumayan," bisiknya dengan senyum tipis. Alex meletakkan Snack itu kembali ke karpet takut Lara memergokinya.

__ADS_1


__ADS_2