
Pagi yang cerah. Langit biru membuat semangat yang luar biasa bagi Lara. Wanita itu sudah tiba di perusahaan milik keluarga Moritz. Di tangannya ada tas jinjing berwarna hitam yang berisi barang-barang penting miliknya.
Lara sengaja merahasiakan kedatangannya dari Alex. Wanita itu ingin melakukan suatu rencana sebelum Alex tiba di perusahaan. Lara terpaksa menjual statusnya sebagai istri Alex agar bisa dengan mudah masuk ke dalam ruang kerja Alex. Ketika sudah tiba di dalam ruang kerja Alex, Lara terlihat tidak nyaman. Ia kembali teringat adegan panas yang pernah dilakukan Alex dan Fiona beberapa bulan yang lalu.
"Aku tidak tahu harus senang atau sedih ketika mengingat skandal mereka. Tapi yang pasti, tanpa adanya kejadian itu aku tidak mungkin bisa menjadi seperti sekarang," gumam Lara di dalam hati.
Lara duduk di kursi kerja Alex. Wanita itu memperhatikan berkas-berkas yang tersusun di meja. Map warna biru yang terletak di tumpukan paling atas menjadi perhatian utama Lara. Wanita itu tersenyum puas melihat berkas yang ia persiapkan sudah ada di sana.
"Baiklah. Rencana selanjutnya, aku harus membuat Alex menandatangi berkas ini tanpa membaca isi di dalamnya," gumam Lara di dalam hati.
Lara mengeryit ketika melihat brangkas yang terletak tidak jauh dari meja kerja sudah terbuka. Wanita itu beranjak dari kursi dan mendekati brangkas tersebut. Brangkas itu terlihat kosong. Lara tidak tahu sebenarnya apa isi di dalam brangkas tersebut. Ketika Lara memegang pintu brangkas, tiba-tiba Alex sudah masuk ke dalam. Pria itu kaget melihat Lara sudah ada di ruang kerjanya. Namun, dalam sekejap wajahnya terlihat bahagia.
"Lara, kenapa kau tidak bilang kalau mau datang?" Alex berjalan mendekati Lara. Detik itu ia belum sadar kalau brangkasnya sudah di bobol oleh Fiona.
"Kak Alex, apa isi di dalam brangkas ini? Kenapa brangkasnya terbuka?" tanya Lara dengan wajah polosnya.
Alex mengeryitkan dahi. Pria itu berjalan cepat mendekati brangkas. Wajahnya memerah melihat brangkas itu terbuka dan isi di dalamnya sudah tiada.
"Dokumen itu!" ucap Alex.
"Dokumen? Dokumen apa?" tanya Lara.
"Dokumen penting Lara. Perusahaanku bisa bangkrut jika dokumen itu sampai jatuh ke tangan perusahaan lain," jawab Alex dengan wajah panik. Pria itu mengambil telepon dan menghubungi seseorang. "Masuk ke ruanganku!" Alex membanting telepon. Pria itu duduk di kursi dengan wajah frustasi. "Siapa yang berani mencuri dokumen itu!" umpat Alex lagi.
Lara sama sekali tidak peduli. Wanita itu melirik dokumen yang sudah ia persiapkan. "Sepertinya waktunya tidak tepat. Jika aku memintanya untuk tanda tangan, dia pasti akan curiga dan membaca isi dokumennya," gumam Lara di dalam hati.
Tidak lama kemudian, beberapa pria masuk ke dalam. Alex segera menjelaskan apa yang telah terjadi. Salah satu dari pria itu segera keluar untuk mengambil rekaman cctv. Lara memutuskan duduk di sofa dan menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi dari kejauhan.
__ADS_1
"Tuan, kami sudah berhasil mengetahui siapa pencuri dokumen tersebut," ucap pria berpakaian securuty.
"Siapa?" Alex terlihat tidak sabar.
"Nona Fiona, Tuan. Bahkan kejadiannya baru saja sebelum Nona Lara masuk," jawab pria itu lagi.
"Wanita itu!" umpat Alex. Ia memukul meja dengan wajah kesal. "Aaarggh!"
Lara beranjak dari sofa. Wanita itu mendekati Alex untuk melanjutkan rencana yang sudah ia persiapkan. Namun, kali ini ia memiliki rencana tambahan. Lara ingin Fiona dan Alex bertengkar hebat hingga membuat salah satu dari mereka masuk penjara.
"Kalian boleh pergi," perintah Lara.
"Baik, Nona." Mereka segera pergi setelah mendengar perintah Lara.
"Kak Alex, jangan sedih donk. Lara jadi tidak tega lihat Kak Alex seperti ini," bujuk Lara.
"Kak Alex mau tinggalin Lara?" Lara memandang wajah Alex dengan saksama hingga membuat pria itu mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Lara, maafkan aku. Tidak seharusnya aku melibatkanmu dalam hal ini."
"Kak Alex, Lara tahu Kak Alex lagi pusing. Tapi, bukankah ada banyak pekerjaan yang harus Kak Alex selesaikan hari ini?"
Alex berdiri dan menarik tangan Lara. Pria itu mengukir senyuman kepada Lara. "Terima kasih, sayang. Kau benar-benar penyejuk yang membuat hatiku kembali tenang."
"Kak Alex bisa melaporkan Fiona ke polisi. Bukankah buktinya sudah jelas?"
Alex diam sejenak. Pria itu terlihat ragu. Namun, ia juga ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan hati Lara lagi.
"Ide yang bagus."
__ADS_1
"Kak Alex bisa serahkan masalah ini kepada Lara. Biar Lara yang urus, bagaimana?"
Alex mengusap pipi Lara dengan sentuhan yang lembut. "Terima kasih sayang. Papa memang tidak pernah salah memilih. Andai aku sadar sejak awal kalau kau adalah istri yang pantas untukku. Mungkin aku tidak akan menyia-nyiakanmu sejak awal, Lara."
Lara tersenyum penuh arti. "Pria ini sangat hebat dalam hal merayu wanita," gumam Lara di dalam hati.
...***...
Di sisi lain, Fiona bersembunyi dengan debaran jantung yang tidak karuan. Ingin sekali rasanya ia menampar wajah Lara ketika melihat wanita itu tiba di kantor Alex. Namun, momennya sangat tidak tepat. Ia bisa ketahuan jika sampai menemui Lara.
"Setelah aku berhasil mendapatkan uang yang banyak dan melihat kehancuran Alex, aku akan menemui Lara dan memberi perhitungan pada wanita itu.
Fiona melihat taksi yang berhenti di depannya. Di dalam taksi itu sudah ada Hana. Fiona segera masuk ke dalam dan mereka pergi entah ke mana.
Lara yang saat itu sudah ada di mobil dan mengamati Fiona secara diam-diam hanya bisa tersenyum bahagia. Ia membuka dokumen yang sudah di tanda tangani Alex dengan wajah berbinar.
"Akhirnya aku bisa segera menyelesaikan semuanya dalam waktu cepat. Aku harap tidak ada halangan lagi."
"Nona, apa kita ikuti Fiona sekarang?"
"Tidak. Aku ingin menemuinya setelah dia berhasil menghancurkan perusahaan Alex. Dengan begitu, kita tidak perlu repot-repot bukan?"
"Anda memanfaatkan Fiona, Nona?'
"Sebenarnya ini di luar rencana. Berhubung semua rencana Fiona juga menguntungkan bagi kita. Ya sudah, kita dukung saja," jawab Lara santai.
"Setelah ini kita mau ke mana, Nona?"
"Ke rumah utama keluarga Moritz. Aku ingin membuat semua orang yang ada di rumah itu pergi meninggalkan rumah!"
__ADS_1