
Sorry sorry. itu buat aplikasi lain. 😭****Susah dijelaskan dengan kata-kata.🤧
Mark menurunkan senjata apinya. Pria itu berusaha mengalah agar tidak ada lagi salah paham di antara dirinya dan Alex. Bagaimanapun juga Mark masih membutuhkan Alex untuk misi balas dendamnya dengan Fabio.
"Kau jauh-jauh datang ke sini hanya untuk menuduhku? Perjalanan ke sini butuh waktu yang sebentar. Kau bahkan harus naik pesawat. Pikirkan kalau aku harus pulang pergi, berapa lama waktu yang aku butuhkan. Aku semalaman ada di rumah ini. Bahkan aku tidak tahu apa yang terjadi di sana. Jika kau tidak percaya, kau bisa periksa rumah ini. Tidak ada Lara di rumah ini. Seharusnya kau bisa berpikir jernih. Apa tujuanku membawa Lara ke rumah ini? Misiku untuk balas dendam dengan Fabio. Aku sama sekali tidak peduli dengan urusan percintaan kalian bertiga," jelas Mark agar Alex mau mengerti. "Sepertinya adik kesayanganmu ini ada di pihak mereka. Berhati-hatilah. Karena wajah polosnya bisa membuat pertengkaran di antara kita yang nantinya akan membuat Fabio menang."
Alex mulai bisa tenang. Ia memandang Greta yang saat itu terlihat ketakutan. "Apa benar pria ini tidak ada di rumah malam ini? Atau kau sengaja mengatakan kebohongan itu, Greta!"
Greta menggeleng pelan. Ia ketakutan hingga tidak tahu harus menjawab apa. Semua ia lakukan ketika Lara mengirimkan pesan singkat ke ponselnya. Di sana Lara meminta Greta untuk mengatakan kalimat seperti itu jika Alex ada di depan matanya. Bahkan di dalam pesan itu Lara sama sekali tidak memberi tahu Greta kalau sebenarnya Alex ada dua.
"Kak Alex, aku-"
"Jawab Ya atau tidak!" ketus Alex dengan suara menakutkan.
"Ya. Aku sengaja mengatakan kebohongan itu. Sebenarnya dia berada di rumah sejak kemarin."
Mark menaikan satu alisnya. "Kau dengar sendiri?" Mark tertawa kecil. "Tadinya aku pikir kau ini pria yang cerdik. Ternyata kau bisa juga berubah menjadi idiot jika menyangkut soal wanita. Fabio tidak akan membiarkan wanita itu lepas begitu saja. Bahkan belum sampai 24 jam Lara bersama denganmu, Fabio sudah muncul untuk menolong wanita itu."
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Alex dengan wajah mengalah. Ia tidak peduli cara apapun yang akan dikatakan Mark nanti. Yang terpenting baginya, Lara kembali ke pelukannya.
__ADS_1
Mark memandang wajah Greta dengan tatapan penuh arti. "Aku punya ide yang jauh lebih brilian."
...***...
Fabio memberhentikan mobilnya di sebuah bukit yang menghadap ke pusat kota. Cuacanya masih gelap. Namun, tidak lama lagi mereka akan dimanjakan dengan terbitnya matahari pagi yang indah. Lara dan Fabio sama-sama turun dari mobil. Mereka berjalan ke depan mobil.
Lara tersenyum melihat kota yang masih dipenuhi cahaya lampu. Lampu-lampu yang menerangi ratusan rumah itu seperti bintang yang bersinar di langit gelap. Sangat indah.
"Kak Bi ... untuk apa membawaku ke sini?"
Fabio melepas jaket hitamnya. Ia menyelimuti Lara dengan bibir tersenyum. "Aku sering ke tempat ini jika aku sedang bingung. Setelah meninggalkan tempat ini, aku jadi tahu ke mana tujuanku selanjutnya."
"Aku mau, kau juga tahu tujuan hidupmu selanjutnya apa, Chubby ...." Fabio memandang wajah Lara dengan serius. "Aku ingin kau memilih antara aku dan Alex!" ungkap Fabio yang hanya berani di dalam hati saja. Tidak tahu kenapa, bibirnya seperti ada lem yang membuatnya bungkam dan tidak berani bertanya seperti itu.
"Tujuan hidup?" Lara diam sejenak. Ia memandang ke depan untuk melihat langit yang mulai terang. "Aku hanya ingin hidup dengan tenang kak. Seperti dulu lagi ketika kedua orang tuaku masih hidup. Bermain tanpa rasa takut. Sepertinya kehidupanku sebelum mengenal Kak Alex jauh lebih indah dari pada sekarang."
"Apa maksudmu hidupmu yang sekarang tidak indah lagi? Kau menyesal?"
Lara menggeleng pelan. "Kak Bi ...."
__ADS_1
Fabio membuang tatapannya ke arah lain. "Ada apa?" tanyanya tidak bersemangat.
"Apa kita pacaran?"
Fabio segera memandang Lara dengan wajah yang bingung. Kini ia tidak tahu harus bagaimana. Pertanyaan Lara jauh lebih menyeramkan jika dibandingkan dengan dikepung musuh. Matahari terus naik untuk menyinari dunia. Entah sampai kapan Fabio berpikir untuk menjawab pertanyaan Lara.
"Kak Bi ...." Lara memegang tangan Fabio. Kini cahaya matahari yang mereka tunggu-tunggu sudah menyinari tubuh. Embun pagi yang dingin mulai hilang. "Maafkan Lara. Tidak seharusnya kita dekat hingga seperti sekarang ini. Awal pertemuan yang tiba-tiba sepertinya memang tidak selamanya baik."
"Apa maksudmu? Kau ingin pergi meninggalkanku? Kau ingin kembali kepada pria itu?"
"Kak Bi ... dengarkan Lara dulu." Lara mengatur napasnya. "Tidak baik pria dan wanita yang tidak memiliki hubungan apa-apa tinggal dalam satu atap. Walau mansion Kak Bi luas, tapi tetap saja tidak baik. Lara hanya gak mau melanggar norma kak."
"Chubby, apa yang kau inginkan?" Fabio mengeryitkan dahi. "Apa kau ingin kita menikah?"
Lara diam sejenak sebelum tertawa kecil. "Kak Bi, pernikahan bukan hal yang bisa di buat candaan. Pernikahan adalah hal yang serius." Lara kembali ingat dengan nasipnya beberapa bulan yang lalu. Pernikahan yang tiba-tiba membuatnya tidak bahagia. "Lara mau menikah dengan pria yang mencintai Lara dan juga Lara cintai Kak."
"Apa aku bukan pria yang kau cintai, Chubby?"
Hai reader ... ini rekomendasi Novel hari ini ya. Semoga suka.❤️
__ADS_1