Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 28. Fabio Cassano


__ADS_3


Fabio Cassano. Pria berusia 30 tahun yang menjadi pemimpin sebuah geng mafia bernama Black Dragon. Fabio di kenal sebagai pria kejam yang tidak memiliki belas kasih. Saat bertarung, pria itu tidak akan pernah menyisakan lawannya untuk hidup. Jika keadaan menjadi genting, ia selalu memiliki ide untuk bisa lolos dari maut. Ahli dalam menyamar. Setiap orang yang pernah melihat wajahnya, tidak akan bisa bertahan hidup lebih lama lagi. Keberadaannya sangat misterius. Fabio sering menggunakan topeng ketika sedang menjalankan misi. 


Wajah  Fabio yang selalu terlihat ramah membuat semua orang tidak pernah percaya kalau sebenarnya Fabio adalah pria berdarah dingin yang tidak pernah pandang bulu. Tidak hanya laki-laki saja. Wanita ataupun orang yang sudah tua sanggup ia bunuh tanpa belas kasih.


Selain memimpin sebuah geng mafia, Fabio juga memimpin sebuah perusahaan ternama. Sebenarnya perusahaan itu hanya sebuah topeng agar semua orang tidak tahu kalau sebenarnya ia adalah seorang Big Boss Mafia. Kekayaan yang ia miliki berasal dari bisnis gelapnya. Bahkan Fabio sendiri jarang turun tangan langsung untuk mengurus perusahaannya. Perusahaannya di pimpin oleh tangan kanan Fabio yang bernama Walter.


***


Fabio masuk ke dalam mobil yang sejak tadi sudah menunggunya. Setelah duduk dan memantapkan posisinya, supir yang ada di depan memutar tubuhnya dan memandang Fabio. Hal itu membuat Fabio mengeryitkan dahinya.


“Ada apa?” tanya Fabio. 


“Bos, kita akan pulang besok pagi.”


“Terus?”


“Anda yakin membiarkan wanita asing itu di rumah ini?” 


“Maksudmu Lara?”


“Anda sudah tahu siapa nama wanita itu, Bos?”

__ADS_1


“Ya. Namanya Lara Alessandra. Tidak punya rumah. Tapi, sepertinya dia bukan tidak punya rumah. Mungkin dia baru saja di usir oleh orang tuanya,” jawab Fabio tanpa beban.


“Dia yatim piatu, Bos,” jelas supir itu. Pria itu sempat mendengar ocehan Lara tadi malam. Walau tidak terlalu peduli awalnya, tetapi ia ingat ketika Lara menjelaskan dengan tubuh gemetar.


“Ya. Apapun keadaannya. Aku tidak peduli. Dia malaikat penolong bagiku. Apa kau lupa? Jika Lara tidak ada di lokasi, anak buah Mark pasti sudah menangkapku,” jawab Fabio membela Lara. Ia tidak mau anak buahnya menuduh Lara yang bukan-bukan. Apa lagi sampai berpikir kalau Lara adalah mata-mata.


“Bos, bagaimana kalau-”


“Kita sudah terlambat lima menit. Kau mau menunda keberangkatan kita hari ini?” potong Fabio. Supir itu terdiam. Ia mengalah.


“Maafkan saya, Bos.” Mobil melaju meninggalkan mansion mewah milik Fabio. Saat mobil semakin jauh dari mobil, Fabio tersenyum membayangkan wajah Lara.  


“Chubby?”


Fabio melajukan mobilnya sambil meneguk minuman kaleng yang baru saja ia beli di salah satu mini market yang ada di tepi jalan. Pria itu terlihat sangat santai. Ia menikmati suasana siang yang hangat. Tiba-tiba saja, sebuah mobil berhenti di tengah jalan. Fabio yang kaget segera memberhentikan mobilnya secara mendadak. Bahkan minuman kaleng yang sempat ia genggam terlepas dan membuat baju yang ia kenakan basah.


“SHIT!” umpat Fabio. Ia memandang ke depan dengan wajah marah. “Siapa dia? Berani sekali dia berhenti di depan  mobilku!” 


Fabio segera turun dari mobil. Ia melepas kemeja hitam yang sudah basah dan melemparkannya sembarang. Hanya kaos yang melekat di tubuhnya. Fabio turun mendekati mobil tersebut. Baru beberapa meter melangkah ia sudah merasa ada yang tidak beres.


Fabio berhenti. Ia menatap mobil di depannya dengan tatapan yang sangat tajam. Menunggu sang pemilik mobil turun. Selama menunggu, Fabio tahu kalau ada yang mendekatinya secara diam-diam. Fabio mengambil senjata apinya dan berputar ke belakang. 


“Fabio. Senang bertemu dengan anda hari ini,” ucap Mark. Musuh bebuyutan Fabio yang selama ini selalu mengincar nyawanya.

__ADS_1


Fabio memandang wajah Mark dengan wajah yang tenang. Secara diam-diam pria itu menekan sebuah tombol yang ada di jam tangannya untuk mengirim signal bahaya kepada pasukan miliknya. Hal itu diketahui oleh Mark. Mark tertawa meledek melihat apa yang dilakukan Fabio.


“Percuma saja, Fabio. Selama satu jam, signal akan mati. Tidak ada jaringan internet atau apapun yang  bisa membantumu mengirim signal ke anak buahmu yang payah itu,” ledek Mark. “Hari ini adalah hari terakhirmu hidup di dunia ini!”


Fabio segera mengambil senjata apinya. Tanpa berpikir lagi, ia segera menembak kaki Mark. 


DUARR


Sebuah peluru mendarat di paha kanan Mark. Tentu saja hal itu memancing perhatian semua pasukan milik Mark. Dengan cepat Fabio menarik satu pria dan menjadikannya tameng untuk melindunginya dari peluru-peluru yang siap mengincar nyawanya. 


Perkelahian terjadi. Fabio memanfaatkan kesempatan ketika beberapa pasukan Mark kehabisan peluru. Pukulan demi pukulan sempat mendarat di wajah Fabio. Walau Fabio sanggup membalas perbuatan pria yang sudah memukulnya. Tetapi, tetap saja kali ini ia kalah jumlah. Di tambah lagi pasukan miliknya tidak akan pernah muncul untuk datang menolong.


Setelah berhasil menyisakan beberapa musuh, Fabio lari. Ia berlari menuju ke taman. Hanya keramian yang bisa membuatnya selamat. Ia yakin kalau musuhnya akan terkecoh jika ia berada di tengah-tengah keramaian. Fabio bisa dengan mudah lolos dari kejaran anak buah Mark.


Sebelum berhasil tiba di taman, ketika menyebrang jalan tubuh Fabio di tabrak sebuah mobil hingga ia jatuh terpental dan berguling dijalanan. Debu jalanan membuat tubuhnya kotor. Ia segera berdiri dan kembali berlari walau tubuhnya kotor dan dipenuhi luka. Tidak lagi memedulikan luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya. 


“Aku harus mencari tempat yang aman!” 


Fabio berlari ke tempat yang tidak terlalu ramai. Ia ingin mencoba untuk menghubungi pasukannya lagi.  Fabio duduk beberapa meter dari posisi Lara berada. Ia mengatur napasnya yang terputus-putus agar kembali tenang. Pistol yang kini pelurunya tinggal satu harus ia simpan untuk jaga-jaga. Detik itu Lara menawarkan minum. Fabio awalnya diam saja. Ia tidak memberikan respon apapun kepada Lara. 


Namun, Fabio harus melakukan sesuatu agar musuhnya yang sejak tadi masih mencari keberadaannya tidak sadar kalau ia duduk di situ. Dengan cepat Fabio menerima air minum itu. Meneguknya sebelum akhirnya pura-pura membersihkan wajah. 


Ketika keadaan sudah aman, Fabio memandang ke posisi Lara berada. Ia melihat kotak bekal yang berisi makanan enak. Tadinya Fabio ingin memanggil Lara untuk mengucapkan terima kasih, namun musuhnya akan tahu kalau dia ada di sana. Hingga akhirnya Fabio memutuskan untuk mengambil kotak bekal tersebut dan memakan isinya. Ketika tahu kalau rasa makanan di dalamnya sangat enak, Fabio merasa menyesal karena tidak bisa mengucapkan terima kasih kepada Lara.

__ADS_1


“Wanita berbadan besar, siapa namanya?” gumam Fabio. Agar tidak lupa dengan kebaikan Lara, Fabio menyebut Lara dengan sebutan Chubby. 


__ADS_2