
Malam kembali tiba. Seharian berhadapan dengan para tamu undangan memang suatu hal yang sangat melelahkan. Berdiri sambil tersenyum memang bukan hal yang mudah walau saat itu kita ada di samping orang yang kita sayangi.
Seperti itulah yang kini dirasakan Lara. Kini wanita itu duduk di sofa sambil memijat-mijat kakinya. Ia baru saja selesai mandi. Rambutnya juga masih setengah kering. Lara mengenakan piyama warna biru muda lengan pendek dengan celana pendek juga. Kedua kakinya terasa kaku karena banyak jalan dan berdiri. Belum lagi ia harus mengukir senyuman terbaiknya agar semua orang tahu kalau dia bahagia. Rasanya bukan hanya kaki saja yang kaku. Tetapi kedua pipinya juga kaku.
"Tamu Kak Bi jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan Alex," gumam Lara. Namun, sedetik setelahnya Lara terdiam. Wanita itu memandang ke kanan dan ke kiri. Kini wanita itu baru sadar kalau hanya dia sendiri yang ada di dalam kamar. "Dimana Kak Bi? Bukannya tadi dia ada di kamar ini juga?"
Lara mengernyitkan dahi melihat pintu terbuka. Pintu itu bukan jalan masuk ke kamar. Lara menurunkan kedua kakinya untuk memeriksa apa yang ada di balik pintu tersebut. Wanita itu gak mau pakai sendal lagi karena kakinya terlalu lelah.
"Ruangan apa itu?" Lara memandang ke kamar mandi untuk memastikan Fabio tidak ada di sana. Setelah ia yakin kamar mandi itu kosong, Lara semakin yakin untuk memeriksa pintu tersebut. "Sejak kapan ada pintu di sini? Bukankah biasanya di sini hanya ada dinding?"
Lara mengintip dari balik pintu. Ia melihat Fabio berdiri di depan sebuah lemari. Wanita menjauhkan tubuhnya dan berdiri dengan wajah ragu-ragu. "Apa yang dilakukan Kak Bi? Kenapa dia berdiri mematung seperti itu? Apa yang dia lihat?"
__ADS_1
Walau sudah menikah. Hubungan antara Lara dan Fabio memang belum terbuka. Masih ada rasa segan di dalam hati masing-masing. Seperti yang kini dirasakan Lara. Bahkan untuk masuk ke ruangan itu dan menyapa suaminya saja dia tidak sanggup. Takut melakukan kesalahan.
"Chubby, apa kau di sana?"
Suara Fabio membuat Lara melebarkan kedua matanya. Wanita itu mengatur napasnya agar kembali tenang sebelum muncul di depan pintu.
"Ya, ini aku," jawab Lara.
Lara memandang ruangan itu dengan saksama sebelum melangkah masuk. Ruangan itu terlihat sangat misterius. Cat dindingnya berwarna hitam dengan dekorasi yang kebanyakan berwarna abu-abu. Ruangannya terasa dingin. Tidak ada jendela di sana. Bisa di bilang itu seperti sebuah ruangan rahasia yang tersimpan di dalam kamar.
"Ke sinilah." Fabio menarik tangan Lara ketika wanita itu sudah mendekat. Ia memeluk Lara dari belakang dan mengajak wanita itu berdiri di depan lemari yang sejak tadi ia pandang. "Apa kau suka?"
__ADS_1
Lara mematung melihat mahkota berlapis berlian yang ada di depannya. Mahkota itu juga dilengkapi dengan batu permata yang sangat indah. Dari bentuknya saja Lara sudah bisa menilai kalau mahkota itu sangat fantastis harganya.
"Mahkota ini aku beli dengan harga 12,7 juta Dollar Amerika. Saat acara pelelangan sekitar lima tahun yang lalu."
"Du Du dua belas juta dolar?" Lara segera memutar tubuhnya. Wanita itu masih tidak percaya kalau kini dia berdiri memandang sebuah mahkota seharga 12,7 juta dolar.
"Ya. Apa kau menyukainya?"
"Ya, aku sangat menyukainya." Lara kembali memutar tubuhnya dan memperhatikan mahkota itu dengan saksama. Ia mengangkat tangannya dan menyentuh kaca yang membatasinya dengan mahkota mewah tersebut. "Mahkota ini sangat indah. Kenapa Kak Bi kepikiran untuk membeli mahkota semahal ini?"
"Karena aku yakin kalau aku akan menikah." Fabio membuka lemari kaca tersebut dan mengambil mahkotanya. Ia memegangnya dengan hati-hati agar mahkota itu tetap terjaga. "Usianya sudah ratusan tahun. Mahkota ini termasuk barang antik."
__ADS_1
Fabio meletakkan mahkota itu di atas kepala Lara. "Sekarang mahkota ini menjadi milikmu, Istriku ...."