
Waktu terus berlalu. Sikap Alex masih sama seperti malam pertama pernikahan mereka. Alex terlihat jijik dan menjauhi Lara layaknya virus mematikan. Sejak Tuan Moritz tidak ada di rumah, Alex juga jarang pulang ke rumah. terkadang sampai dua hari pria itu menghilang tanpa kabar. Setiap kali Lara bertanya, Lara hanya mendapat teriakan yang membuatkan berakhir sakit hati.
Namun, Lara yang sudah terlanjur cinta, tidak mau pernikahannya kandas begitu saja. Ia ingin mempertahankan pernikahannya. Lara ingin hanya maut yang bisa memisahkan mereka.
Suatu sore, Lara membeli banyak buku di salah satu toko buku yang ada di pusat kota. Rata-rata buku yang di beli Lara bukan buku tips langsing. Tetapi buku agar bisa meluluhkan hati suami yang cuek.
Saat berbelanja buku-buku tersebut, Lara di temani oleh Hana. Mereka terlihat akrab layaknya kakak adik. Sayang, kebaikan yang diberikan Hana kepada Lara tidak pernah tulus. Apapun yang ia lakukan bahkan hal apapun yang ingin dilakukan oleh Lara akan ia sampaikan kepada Fiona.
Setelah turun dari mobil, Lara segera masuk ke dalam rumah. Ia ingin segera mandi agar nanti ketika Alex pulang penampilannya sudah cantik. Sedangkan Hana berdiri di dekat mobil sambil membawa barang belanjaan Lara.
"Nona, apa anda tidak bosan membaca buku sebanyak ini? Bukankah di internet juga banyak tips-tips gitu? Hanya tinggal tulis apa yang mau kita tahu langsung muncul," teriak Hana. Hingga membuat Lara memutar tubuhnya.
"Hana, mataku mudah lelah jika terpapar layar hp. Aku juga mudah mengantuk kalau baca buku di hp. Belum lagi, aku tergoda makanan-makanan lezat yang ada di internet," jawab Lara.
Hana berjalan mendekati Lara. Ia mengangguk seolah paham dengan apa yang dipikirkan Lara.
"Tapi, Nona ... Kenapa pikiran anda selalu saja dipenuhi dengan makanan?" Hana memandang Lara yang berdiri di depannya.
Lara menghela napas kasar. "Jangan bahas soal ini lagi ya. Aku tahu, kau sangat menyayangiku. Kau ingin aku kurus agar Kak Alex bisa jatuh cinta padaku. Tapi, bukan itu tujuanku. Kita sudah pernah bahas masalah ini."
"Nona, anda sangat cantik. Saya yakin, Tuan Alex akan menyesal nanti karena sudah menyia-nyiakan anda," sahur Hana dengan wajah serius.
"Sssttt. Jangan bicara seperti itu. Kak Alex suamiku. Aku tidak akan membiarkan siapapun menghinanya."
"Maafkan saya, Nona. Saya hanya tidak terima saja Tuan Alex memperlakukan Anda seperti ini. Bahkan jika dikeluarkan dari kerjaan ini saya rela. Asalkan Tuan Alex bisa mencintai Anda," ucap Hana dengan ekspresi wajah menyakinkan. "Saya hanya ingin melihat anda bahagia. Tidak terus-menerus bersedih seperti ini."
Lara tersentuh. Ia tersenyum dan memeluk Hana layaknya adik yang sangat ia sayangi. "Terima kasih, Hana. Jika kau tidak ada. Mungkin aku tidak tahu bagaimana caranya bertahan di rumah ini."
__ADS_1
"Sama-sama, Nona. Saya sudah menganggap anda sebagai kakak kandung saya sendiri."
Dua wanita itu saling berpelukan. Tidak jauh dari posisi mereka berdiri, ada Greta yang sejak tadi memperhatikan sambil melipat kedua tangannya.
"Ternyata si gendut punya teman juga," ledek Greta di dalam hati. Ia memandang tubuh Lara dengan saksama dengan alis saling bertaut.
"Sebenarnya dia tidak terlalu buruk. Hanya tubuhnya saja yang jelek. Wajahnya lumayan. Tapi, sayang. Cara dia masuk ke rumah ini membuat semua orang membencinya. Bisa-bisanya dia mendekati Papa agar dijadikan menantu. Aku tidak tahu, apa yang sudah ia perbuat hingga papa bisa luluh dan mau menerima wanita seperti Lara sebagai menantunya. Bahkan lebih menyayanginya daripada aku yang anak kandungnya sendiri!" sambung Greta dengan wajah kesal.
***
Setelah mengantarkan Lara ke kamar, secara diam-diam Hana pergi untuk menghubungi Fiona. Wanita itu sudah tidak sabar dapat transferan dari Fiona karena akan memberikan sebuah informasi penting tentang Lara.
"Sebentar lagi akan ada saldo masuk," gumamnya dengan hati bahagia.
Hana mengambil ponselnya dan menekan nomor Fiona. Tidak lama kemudian, panggilan telepon itu tersambung.
"Hallo, Nona. Apa kabar?"
Hana diam sejenak. Sebenarnya ia tidak terlalu suka dengan Fiona karena sifat wanita itu sangat kasar. Tetapi, mau bagaimana lagi. Dia harus mendapatkan banyak uang sebelum membalas perbuatan Fiona.
"Wanita gendut itu tadi ke mall untuk membeli buku. Nona, apa anda tahu? Dia membeli buku tips agar suami cuek bisa luluh hatinya." Hana tertawa. "Ingin sekali saya berkata, tubuh anda gemuk dan jelek. Kenapa anda tidak sadar diri? Tuan Alex tidak akan mau bersama anda. Bahkan menjadi supirnya saja anda tidak pantas." Hana lagi-lagi tertawa meledek Lara.
"Hanya itu saja?"
"Ya, Nona."
"Hana, apa kau bisa memberiku informasi yang bermanfaat? Isi pikiranmu hanya uang uang dan uang. Kau memberiku informasi seperti ini agar dapat uang kan?" teriak Fiona dari kejauhan sana.
__ADS_1
"Nona, Tapi …."
"Hana, aku tidak akan membayar informasi mu kali ini! Aku juga lagi tidak punya uang. Alex tidak menemuiku selama beberapa hari ini."
"Tuan Alex tidak menemui anda, Nona?"
"Ya. Apa dia di rumah bersama wanita itu?"
"Tidak, Nona. Tuan Alex juga jarang di rumah."
"Ke mana dia!" umpat Fiona kesal.
"Nona, tapi saya masih punya informasi yang lebih menarik. Tuan Moritz tidak ada di rumah. Apa anda tidak memiliki keinginan untuk datang ke rumah ini?"
"Kau yakin Tua Bangka itu tidak ada di rumah?"
"Yakin, Nona. Anda bisa datang ke rumah ini dan bersenang-senang. Soal Lara gendut itu. Biar saya yang mengatasinya. Bagaimana Nona?"
Fiona tidak menjawab pertanyaan Hana. Wanita itu terdengar seperti sedang berpikir. Ada rasa ragu tapi ingin.
"Baiklah. Aku akan bicarakan hal ini bersama Alex."
"Baik, Nona. Anda tenang saja. Jika ada informasi terbaru tentang di gendut Lara. Saya akan segera menghubungi anda."
Panggilan telepon terputus. Sebenarnya Hana kesal karena informasinya kali ini tidak membuahkan hasil. Tadinya ia sudah berencana belanja barang-barang mahal jika Fiona membayar informasi yang ia berikan.
"Semoga saja Tuan Alex segera menemui Nona Fiona. Dengan begitu, aku bisa dapat bayaran yang besar karena sudah memberikan informasi tentang apa yang dilakukan Lara hari ini," ucap Hana. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berbalik.
__ADS_1
Ketika berbalik, tubuhnya berubah menjadi batu ketika melihat Lara berdiri tidak jauh dari posisinya berada. Wanita itu menatap Hana dengan tatapan yang tidak terbaca. Hana langsung pucat dan panik. Ia bahkan tidak sanggup untuk menyapa Lara duluan.
"Serigala berbulu domba!" ketus Lara dengan hati yang kecewa.