Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 45. Rencana Baru


__ADS_3

Fiona pulang dengan hati yang hancur. Langkah kakinya terlihat lemah. Kejadian hari ini membuatnya sakit hati dan patah semangat. Ketika turun dari mobil, Fiona melihat beberapa pria berdiri di depan rumahnya.


“Apa lagi sekarang? Siapa mereka?” gumam Fiona. Ia berjalan mendekati pria-pria asing yang saat itu berdiri di depan rumahnya.


“Siapa kalian?” ketus Fiona dengan wajah angkuhnya.


“Kami dikirim Tuan Alex untuk menyita rumah ini,” jawab seorang pria.


“Apa?” Fiona tercengang mendengar jawaban pria tersebut. “Ini rumah saya!” 


“Maaf, Nona. Rumah ini bukan milik anda lagi. Bahkan mobil itu juga akan kami sita.”


“Tidak! Kalian tidak bisa memperlakukan saya seperti ini. Rumah dan mobil ini milik saya.”


Namun mereka tidak peduli. Mereka merebut kunci mobil yang ada di tangan Fiona dan membawa Fiona pergi meninggalkan halaman rumah tersebut. Perlakuan mereka sangat kasar. Sampai-sampai Fiona terjatuh di jalanan.


“Maafkan kami, Nona. Tapi kami hanya melakukan tugas yang diberikan Tuan Alex!” ujar pria itu sebelum masuk ke rumah.


Fiona diam mematung meratap sejenak sebelum akhirnya, wanita itu tertawa. Ia tertawa seperti orang gila. Ia kembali ingat dengan kesalahan yang pernah ia lakukan terhadap Lara enam bulan yang lalu.


“Sayang, apa kau sudah menceraikan wanita itu?” 


"Belum. Aku akan menceraikannya setelah pemakaman papa selesai."


“Apakah kau juga akan mengusir wanita itu dari rumah?” tanya Fiona di dalam telepon.


“Hmm. Sesuai permintaanmu.”


“Tapi aku belum puas. Aku ingin kau juga mengusir wanita itu dari rumahnya. Aku mau dia menjadi gembel di jalanan,” pinta Fiona tanpa mau memikirkan bagaimana nasip Lara nanti.


“Baiklah, aku akan melakukan apapun yang kau inginkan asal kau bahagia.”

__ADS_1


Fiona menangis sejadi-jadinya ketika membayangkan apa yang sudah ia perbuat terhadap Lara. Detik itu ia sadar kalau ini semua adalah karma yang harus ia terima karena ia pernah jahat dengan Lara. 


Fiona bangkit dari sana dan berjalan pergi. Ia harus rela meninggalkan kemewahan yang pernah ia miliki selama ini. “Ke mana aku pergi setelah ini?”


Fiona memegang perutnya yang terasa sakit. Tiba-tiba saja darah segar mengalir. “Perutku, apa yang terjadi?” Fiona merasa sakit yang luar biasa. Ia berlutut lagi dijalanan sambil menahan rasa sakit yang kini ia rasakan.


Hana muncul dengan wajah penuh kemenangan. Wanita itu bahkan rela tidak pergi dari rumah Fiona selama seharian hanya ingin menyaksikan penderitaan yang akan di alami oleh Fiona.


“Bagaimana rasanya, Nona. Sakit?” ledek Hana.


Fiona memandang wajah Hana sambil menahan rasa sakit. “Hana, tolong aku.”


“Tolong? Anda berani meminta tolong kepada saya? Anda tidak lupa apa yang sudah anda perbuat? Anda sudah menyakiti hati saya, Nona.”


Hana terlihat tidak sudi menolong Fiona. Namun, ada rasa tidak tega ketika melihat darah mengalir dari kaki Fiona.


“Perutku, Hana. Perutku.” Fiona terjatuh di jalanan dalam keadaan pingsan. Hana panik dan segera mendekati Fiona. Sejahat-jahatnya Hana, ia masih memiliki rasa kasihan.


***


Lara baru saja tiba di apartemen. Lara menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Wajahnya terlihat tidak bersemangat karena makan malamnya dengan Fabio gagal. Lara memandang ke arah televisi yang baru saja ia nyalakan. Tidak ada yang menarik untuk di tonton. Lara berbaring di sofa sambil memikirkan rencananya besok.


Ponsel Lara berdering. Lara segera mengangkat panggilan masuk tersebut.


"Hallo, ada kabar apa?" tanya Lara. Orang yang menghubungi Fiona adalah orang yang ia bayar untuk menyelidiki Alex dan Fiona. Setiap kali ada kabar terbaru, orang tersebut akan menghubungi Lara.


"Nona, Fiona telah di usir dari rumah keluarga Moritz. Dia juga di usir dari rumahnya sendiri. Setelah itu dia pingsan. Hana yang menolongnya dan membawanya ke rumah sakit."


"Sepertinya kita tidak perlu memikirkan Fiona lagi. Dia sudah mendapatkan balasan atas perbuatannya dulu. Sekarang kita fokus ke Alex saja."


"Baik, Nona."

__ADS_1


"Besok aku akan datang ke kantor Alex. Aku harus bisa mendapatkan tanda tangannya."


"Tetap berhati-hati, Nona. Saya akan selalu ada di dekat anda."


"Terima kasih." Lara meletakkan ponselnya kembali ke meja. Wanita itu memandang ke depan. "Ini masih permulaan. Permainan sesungguhnya baru saja akan di mulai. Aku akan masuk ke rumah Moritz dan menghancurkan semua orang yang tinggal di rumah itu."


Di sisi lain, Fiona baru saja sadar. Wanita itu memandang Hana dengan tatapan sedih. Hana sendiri memilih diam saja tanpa tahu mau bicara apa.


"Maafkan aku, Hana."


"Nona, jangan anda pikir saya membawa anda ke rumah sakit karena saya sudah memaafkan kesalahan anda. Tidak! Saya membawa anda ke rumah sakit karena saya bukan manusia tidak punya hati seperti anda!"


"Ya, aku tahu kalau aku salah. Bahkan maaf saja tidak cukup! Tapi, apa kau mau diam saja melihat orang yang sudah menyebabkan kita menjadi seperti ini hidup bahagia?"


Hana mengeryitkan dahi. "Apa maksud Anda, Nona?"


"Hana, kau pasti tidak lupa kan bagaimana sikap Lara saat mengusirmu kemarin? Apa kau mau memaafkan wanita itu begitu saja dan membiarkannya hidup dengan tenang? Aku ingin mengajakmu untuk kerja sama. Kita akan buat Lara hancur!"


"Anda sudah miskin seperti ini masih punya pemikiran untuk balas dendam. Nona Fiona, sekali lagi saya ingatkan. Nona Lara yang dulu jauh berbeda dengan Nona Lara yang sekarang. Dia sudah kaya!"


"Dan kau pikir aku tidak kaya?"


Hana tertawa meledek. "Bahkan di saat sudah miskin saja anda masih bisa sombong. Apa anda sudah gila, Nona?"


"Hana, aku masih punya satu cara. Aku akan mencuri dokumen rahasia di perusahaan Alex besok. Setelah itu aku akan menjualnya ke perusahaan lain. Dengan begitu aku bisa mendapatkan banyak uang. Terserah kau saja mau ikut denganku atau bertahan menjadi gembel. Aku tidak akan mau mengajakmu kerja sama jika tadi kau tidak membawaku ke rumah sakit. Hitung-hitung ini balas budiku padamu."


Hana diam sejenak. Penawaran yang dikatakan Fiona sungguh sangat menggiurkan. "Baiklah. Saya mau kerja sama dengan anda."


Fiona tersenyum puas. "Bagus. Besok kau memiliki tugas penting. Aku ingin kau membuat Alex terlambat datang ke kantor. Dengan begitu aku bisa dengan bebas mengambil dokumen rahasia yang ada di dalam brangkas."


"Baik, Nona."

__ADS_1


"Aku yakin, Alex belum sempat mengganti password brangkas di kantor. Dengan begitu, aku bisa bergerak cepat agar bisa mendapatkan dokumen rahasia perusahaan. Alex Moritz. Apa dia pikir bisa semudah itu menghancurkan ku?" gumam Fiona di dalam hati.


__ADS_2