
Lara mengukir senyuman yang sangat indah saat beberapa donat toping cokelat kacang dan keju ada di hadapannya. Wajahnya begitu berbinar seperti baru saja mendapat hadiah berlian. Fabio yang saat itu ada di depan Lara ikut tersenyum bahagia. Ia tidak menyangka kalau hal sesederhana itu bisa membuat Lara ceria.
Sambil menopang kepalanya dengan tangan, Fabio terus saja memperhatikan wajah Lara yang cantik. Sama sekali tidak peduli dengan keadaan sekitar yang kini memperhatikannya dengan wajah tidak percaya. Bagaimana tidak? Biasanya setiap kali Fabio dan Walter muncul di mall tersebut pasti selalu saja ada pertumpahan darah. Entah itu karena ada musuh atau karena ada bawahan Walter yang menjadi penghianat.
Tapi hari ini pria yang selalu memasang wajah dingin itu membawa seorang wanita cantik yang sangat doyan makan. Bahkan Fabio memperlakukan Lara layaknya barang antik yang berharga. Tidak boleh ada yang mengganggu Lara apa lagi sampai berani menyentuh Lara. Lara adalah pawang yang sesungguhnya. Pria kejam berhati baja itu tanpa sadar kini telah berhasil ia taklukan.
“Kak Bi, Kak Bi mau coba?” tawar Lara. Ia memandang wajah Fabio yang kini tidak lagi berkedip memandang wajahnya. “Kak Bi ….”
Fabio tersadar. Pria itu berdehem pelan sebelum merapikan penampilanya. “Donat? Kau memintaku memakan makanan ini?”
Lara mengangguk cepat. “Ini enak kak. Lembut dan buat ketagihan. Kak Bi coba dech.”
Lara memberikan donat yang masih tersisa kepada Fabio. Ia merasa sangat percaya diri kalau Fabio akan menyukai makanan tersebut. Di pikiran Lara, tidak mungkin ada orang yang tidak suka donat. Itu makanan istimewa yang sangat nikmat untuk di santap dengan minuman apapun. Apa lagi kalau donatnya masih fresh.
Fabio menerima donat tersebut. Entah kenapa, apapun yang berhubungan dengan Lara sangat sulit untuk dia tolak. Termasuk donat ini. Bahkan seumur hidupnya ini pertama kalinya Fabio memakan donat. Dulu saat Fabio menjadi pria gemuk bukan karena pria itu suka donat. Tetapi suka memakan makanan tidak sehat seperti burger atau pizza.
“Cobain,” ucap Lara sekali lagi ketika Fabio hanya melihat donat itu tanpa mau melahapnya.
Fabio membuka mulutnya perlahan. Donat bertoping cokelat lumer itu membuat Fabio merasa menjadi anak-anak lagi. Namun, tidak tahu kenapa ada rasa bahagia di sana. Setelah donat itu masuk ke dalam mulutnya, Fabio mengunyahnya secara perlahan. Lara tertawa geli ketika melihat cokelat dari toping donat ada di sudut bibir Fabio.
“Kenapa makan gitu aja cokelatnya bisa nempel sih, Kak.” Lara mengambil tisu yang ada di meja. Ia membersihkan cokelat yang menempel di sudut bibir Fabio.
Deg.
Entah sudah seperti apa debaran jantung Fabio kali ini. Pria itu mematung. Ia sudah tidak fokus lagi dengan donat yang masih ada di genggaman tangannya. Hingga akhirnya, donat itu terlepas dan mengotori tangan kanan Lara.
“Maaf!” celetuk Fabio cepat. Ia juga mengambil tisu dan membersihkan tangan Lara.
__ADS_1
“Gak papa kak. Cuma kotor sedikit.” Lara tersenyum manis. Setelah tangannya kembali bersih, Lara duduk manis di kursinya. Wanita itu meneguk minuman yang ada di depan matanya.
Fabio memandang ke arah lain. Ia mengatur napasnya agar kembali tenang sebelum memandang wajah Lara lagi. “Setelah ini mau ke mana?”
“Lara mau cari kemeja untuk Kak Bi. Bukankah Kak Bi butuh kemeja baru?” jawab Lara apa adanya.
“Hanya itu?”
Lara mengangguk cepat. “Lara ke mall memang cuma ingin makan donat.”
Fabio tertawa. Pria itu masih tidak habis pikir kalau ada seorang wanita yang rela datang ke mall hanya demi makan donat. Padahal di mansion ada beberapa koki handal. Meminta mereka memasakkan donat sudah pasti bisa. Tidak perlu repot-repot ke mall.
“Kenapa harus ke mall makan donatnya, Chubby ….”
Lara memajukan bibirnya. “Apa boleh kalau Lara makan di mansion?”
“Gak ada. Tapi, Lara tidak enak sama kakak dan Walter. Sudah dibantu kurus. Eh sekarang gak bisa jaga badan,” jawab Lara dengan wajah polosnya.
“Chubby, gak ada yang memaksamu untuk kurus. Kau mau kurus atas kemauanmu sendiri. Jika kau ingin kembali ke berat badanmu yang lama juga gak masalah.”
“Tapi, jadi gendut juga gak enak Kak. Lara jadi mudah capek.”
“Lakukan apa yang membuatmu nyaman. Jangan pikirkan apa kata orang lain.”
Dari kejauhan, Walter duduk sambil memperhatikan Lara dan Fabio yang sedang asyik mengobrol. Pria itu juga merasakan apa yang kini dirasakan oleh Fabio. Walter ingin kebahagiaan itu abadi untuk selamanya. Tidak ada lagi kisah menyakitkan yang membuat jiwa membunuh Fabio membara.
“Mereka terlihat seperti pasangan yang serasi,” gumam Walter di dalam hati. Ia memandang ke arah keramaian. Wajahnya terlihat sangat tenang awalnya. Namun, ketika wajah pria yang sangat tidak asing muncul di tengah keramaian tersebut, Walter terlihat tegang. Walter segera beranjak dari kursinya. Pria itu memeriksa senjata yang ia bawa sebelum melangkah menuju ke keramaian tersebut.
__ADS_1
Fabio melihat ke arah Walter. Melihat pria itu pergi dengan wajah yang panik, tanpa bertanyapun Fabio sudah tahu kalau bahaya ada di dekat mereka. Satu hal yang sangat di benci oleh Fabio. Maka dari itu selama ini ia malas mengunjungi tempat-tempat seperti ini. Di sana ia hanya akan berkelahi karena para musuh muncul untuk menghancurkan ketenangan Fabio dan gengnya.
“Chubby, ayo kita ke hotel?”
Lara yang saat itu sedang minum tersedak parah ketika mendengar ajakan Fabio ke hotel. Padahal baru saja tadi siang ia tidak jadi menuduh Fabio sebagai pria mesum. Kini justru lagi-lagi Fabio menunjukkan sifat kalau dia memang pria yang mesum.
“Hotel?” tanya Lara dengah suara pelan.
“Ya. Bukankah kau lelah? Kau bisa istirahat di sana. Ayo.” Fabio segera menarik tangan Lara tanpa mau menjelaskan apapun. Pria itu ingin menyelamatkan nyawa Lara sebelum musuhnya tahu akan keberadaan Lara di dekatnya.
Lara mengikuti langkah Fabio tanpa berani bertanya lagi. Wanita itu tiba-tiba saja melihat wajah Alex juga ada di mall tersebut. Dekat di tempat Lara makan donat tadi.
“Kak Alex?” celetuk Lara.
Fabio menahan langkah kakinya ketika mendengar apa yang dikatakan Lara. Ia menatap Lara dengan alis saling bertaut. “Alex? Maksudmu pria tadi? Dia ada di sini? Di mana?” tanya Fabio sambil mencari ke segala arah.
Lara mengangguk. Namun, ketika ia memandang ke arah Alex berada pria itu sudah tidak ada di sana. Lara di buat bingung saat itu. “Apa benar pria tadi Kak Alex? Tapi, kenapa Kak Alex mengikutiku sampai sejauh ini? Sebenarnya apa yang ingin dia lakukan?” gumam Lara di dalam hati.
“Mungkin Lara salah lihat,” ucap Lara dengan kepala menunduk.
“Chubby ….” Fabio memegang dagu Lara dan mengangkat wajah wanita itu agar mau menatap wajahnya. “Ada apa?
Lara hanya menggeleng pelan. Fabio melanjutkan langkah kakinya. Kini bukan waktunya untuk mendiskusikan apapun. Fabio tidak tahu, sudah aman atau belum keadaan di mall tersebut saat ini.
Dari balik dinding, Mark tersenyum puas karena sudah berhasil membuat Fabio tidak tenang. “Permainan baru akan di mulai. Kita lihat saja nanti. Sehebat apa kau melindungi wanita itu? Aku yakin, pada akhirnya aku akan berhasil menangkap wanita itu dan menjadikannya remot untuk mengendalikanmu, FABIO CASSANO!”
Hai, Reader. Author bawa rekomendasi Novel lagi nih. Semoga kalian suka ya. Karya author Itta Haruka07
__ADS_1