
"Kenapa? Ada yang salah?" Walter beranjak dari kursi. Pria itu terlihat tidak tertarik untuk melakukan negosiasi. Baginya, setuju atau keluar.
"Tidak ada yang salah, Tuan. Maksud saya anda tidak bercanda? Saya boleh memakai semua barang pink favorit saya?" jelas wanita itu agar tidak ada salah paham.
"Apa perintahku kurang jelas?" Walter lagi-lagi menyaut dengan nada ketus.
"Jelas, Tuan. Sangat jelas." Wanita itu memalingkan wajahnya ke samping sebelum mengulurkan tangannya ke arah Walter. "Perkenalkan Tuan. Nama saya-"
"Saya akan memanggilmu Pibi," jawab Walter sebelum berlalu pergi.
__ADS_1
"Pibi? Tapi bukan itu nama saya," teriak wanita itu dengan kencang.
Namun, sepertinya Walter sama sekali tidak peduli. Pria itu sedikit membanting pintu agar wanita di dalam tahu kalau dia tidak mau di ajak bicara lagi.
Wanita itu memajukan bibirnya dengan tatapan kesal. "Pibi? Apa itu Pibi? Pi ... mungkin kan itu Pink? lalu Bi nya apa? Masa sih Ba*bi?" Wanita itu duduk di kursi dengan wajah gusar. "Baby?" Ada senyum bahagia di bibirnya. "Apa mungkin Tuan Walter jatuh cinta pada pandangan pertama? Kalau begitu, tidak lama lagi aku akan menikah dengan pria kaya raya yang tampan. Oh beruntungnya hidupku. Mimpi apa aku tadi malam?" gumam wanita itu sambil senyum-senyum sendiri.
***
"Pibi? Apa dia tahu arti Pibi itu apa? Jika dia sampai tahu, dia tidak akan mau bekerja lagi," gumam Walter di dalam hati.
__ADS_1
Sebenarnya Pibi itu memang sebuah nama. Walter kepikiran memberi nama Pibi karena wanita itu cerewet.
"Tuan," sapa Vera ketika Walter hanya diam saja. Sebenarnya wanita itu sudah selesai menjelaskan hasil persentase. Hanya saja Walter tidak juga memberi tanggapan apapun hingga 10 menit.
Walter memandang Vera sebelum beranjak. "Kau sama sekali tidak berguna. Hasil rapat sangat mengecewakan. Jika kau terus-terusan membuat persentase seperti ini, perusahaan kita bisa bangkrut!"
Ungkapan Walter membuat Vera terdiam seribu bahasa. Wanita merasa sangat malu. Kini semua orang memandangnya dengan tatapan meledek. Memang selama ini Vera terkenal sombong dan angkuh. Jelas saja ketika berada dalam masalah seperti ini, tidak ada satu orangpun yang mau membelanya.
"Tuan, maafkan saya. Saya akan lakukan evaluasi kembali." Vera menunduk dengan wajah bersalah.
__ADS_1
"Bagus. Karena jika sampai hasil akhirnya juga sama. Kau akan saya pecat!" ketus Walter sebelum pergi meninggalkan ruang rapat. Diikuti oleh semua orang yang sebelumnya ada di dalam sana.
Vera duduk di kursi yang ada di dekatnya sambil mengepal tangan hingga memutih. "Ini pertama kalinya Tuan Walter protes. Biasanya dia selalu suka dengan hasil kerjaku. Apa ini ada hubungannya dengan wanita yang di bawa Tuan Walter tadi? Apa kedatangannya untuk menyingkirkanku?" gumam Vera di dalam hati. "Tidak. Aku harus lakukan sesuatu. Aku sudah kalah dari Lara. Aku tidak mau kalah lagi!"