Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 75. Ciuman Pertama


__ADS_3

"Jika masalah datang menemuiku, aku akan baik-baik saja. Tetapi ... jika masalah itu datang padamu, aku tidak bisa tenang." Fabio Cassano.


Lara masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Selama ini Fabio yang ia kenal tidak pernah bercanda. Tetapi, untuk mempercayai kalimat yang baru saja terucap rasanya sangat sulit.


"Apa benar Kak Bi cemburu?" batin Lara.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Fabio ketika Lara hanya diam mematung. Pria itu masih belum beranjak dari posisinya. Ia masih memegang kedua lengan Lara dan menatap wajah Lara dengan saksama.


Seketika Lara tertawa. Wanita itu berusaha mencairkan suasana yang kini mulai tegang. Ia berharap kalau Fabio juga bisa bersikap tenang seperti semula.


"Kak Bi ... Kak Bi bisa juga bercanda ya." Lara tertawa lagi. Yang pastinya tawa yang dibuat-buat karena kini debaran jantung Lara yang menjadi tidak karuan. Dia grogi. Dia tidak tahu harus bagaimana.


"Aku serius!" jawab Fabio tanpa ketawa sedikitpun. Pria itu mengerakkan kepalanya hingga lebih dekat dengan Lara. "Aku cemburu ketika Kau memandang Alex Moritz. Aku cemburu ketika kau bersentuhan dengan Alex Moritz. Aku cemburu ketika kau memikirkan Alex Moritz. Aku cemburu ketika-" Fabio menahan gerakannya kini wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja. Bergerak sedikit lagi, maka bibir mereka akan saling bersentuhan. "Tahu kalau kau pernah mencintai Alex Moritz!"


Lara semakin kesulitan untuk bernapas. Terlihat jelas kalau kini wanita itu seperti orang yang sedang sesak napas. Wajah Fabio sangat dekat. Ingin mundur juga tidak bisa karena tubuh Lara sudah bersandar di jok mobil. Tubuhnya hanya bisa mematung dengan perasaan yang tidak karuan. Bahkan mengucapkan satu katapun tidak bisa. Lara tidak tahu, perasaan seperti apa ini? Seumur hidupnya ia belum pernah merasakan debaran yang begitu hebat seperti sekarang. Bahkan ketika waktu itu ia kasmaran dengan Alex saja Lara tidak sampai sebedebar ini.


Fabio menatap kedua mata Lara. Tatapannya turun ke hidung dan berakhir di bibir merah Lara. Basah dan menggoda. Fabio melepas genggamannya yang ada di tangan kiri Lara dan memilih untuk memegang dagu Lara. Pria itu segera mendaratkan bibirnya di bibir Lara tanpa permisi.


Lara merasa seperti tersengat aliran listrik. Bibir Fabio yang hangat membuatnya ingin pingsan. Lara masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Semua seperti mimpi.


"Kak Bi menciumku?" batin Lara. Ia memutuskan untuk memejamkan mata dan diam. Lara tidak tahu harus apa. Bahkan bernapas saja sampai lupa.


Ketika Lara sudah siap dan sedang menunggu kira-kira apa yang akan dilakukan Fabio selanjutnya setelah bibir mereka bersentuhan, justru Lara hanya di buat kecewa. Fabio menjauhkan wajahnya dan duduk di posisinya. Pria itu membuang tatapannya ke luar jendela sebelum menghela napas kasar.


"Kita pulang sekarang," ucap Fabio sebelum melajukan mobilnya.


Lara membuka mata dan menatap Fabio dengan saksama. Tubuhnya masih pada posisi tadi. Lara tidak bisa bergerak bebas kali ini. Tubuhnya sudah terlanjur mematung dengan wajah memerah karena malu-malu.


"Aku pernah mencium Kak Bi lebih dulu. Tapi kenapa kali ini ketika Kak Bi menciumku aku menjadi seperti orang yang salah tingkah?" umpat Lara di dalam hati.

__ADS_1


Fabio mengepal stir mobilnya. "Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku menciumnya!" umpat Fabio dengan wajah malu tidak karuan. Untuk beberapa menit, pria itu menjadi orang lain.


...***...


Walter dan Dokter Alfred bertemu di sebuah cafe yang tidak jauh dari perusahaan. Tadinya Alfred meminta Walter menghubunginya karena ingin memberi tahu informasi yang ka dapat. Tidak di sangka Walter sendiri juga berencana untuk menemuinya karena ingin membahas kedekatan antara Fabio dan Lara.


"Jadi Tuan Fabio datang ke perusahaan hanya untuk menemui Lara?" tanya Alfred dengan penuh antusias. Jelas saja kabar yang dibawakan Walter adalah kabar yang sangat ia tunggu-tunggu.


"Ya. Padahal selama ini Bos Fabio tidak pernah mau menginjakkan kakinya di perusahaan. Sepenting apapun masalah yang terjadi di perusahaan!" jelas Walter dengan penuh semangat.


"Sepertinya tidak akan sulit untuk menyatukan mereka," sahut Dokter Alfred kegirangan.


"Belum tentu juga." Walter meneguk kopi yang ada di meja. "Apa kau tahu, selain ingin memberi tahu informasi ini aku juga ingin meminta bantuanmu."


"Bantuanku?" Alfred mengeryitkan dahi. "Apa yang bisa aku bantu?"


"Tolong periksa keadaan Alex Moritz." Walter meletakkan gelas kopi di meja. "Pria itu tidak sadar sampai detik ini. Aku menghajarnya habis-habisan tadi malam."


"Ya."


"Mantan suami Lara?" tanya Dokter Alfred untuk lebih jelasnya.


"Ya!"


"Aku baru saja bertemu dengannya tadi. Memang tingkah lakunya sedikit berbeda. Dia terlihat aneh. Di sampingnya ada Greta. Mereka seperti sangat terburu-buru. Sepertinya mereka akan pergi ke bandara. Lalu sekarang kau bilang, ada Alex Moritz di mansion dan dalam keadaan tidak sadarkan diri?" tanya Alfred dengan wajah yang mulai tegang.


"Alex Moritz yang asli ada di mansion. Yang sekarang sedang berkeliaran adalah Alex Moritz yang palsu," jawab Walter apa adanya.


"Bagaimana caranya membedakan Alex Moritz yang asli dan yang palsu?"

__ADS_1


"Itu sangat mudah. Alex yang asli tidak memiliki kemampuan apapun. Dia pecundang!"


"Pecundang kau bilang? Di pesta pernikahan aku memergoki Alex Moritz memukul bawahannya dengan begitu kejam. Dari gaya memukulnya, dia bukan pria yang lemah! Bahkan dia memiliki senjata api!"


"WHAT?"


...***...


Di sebuah ruangan yang gelap, Alex berdiri dengan tubuh tegab. Sekujur tubuh terluka parah, tapi ia masih mampu tersenyum. Seolah-olah luka di sekujur tubuh tidak ada apa-apanya. Alex melangkah menuju ke pintu.


Ketika pintu terbuka, dia pria yang berjaga-jaga di sana segera menyerang Alex. Tetapi, dengan mudahnya Alex membalas pukulan pria itu. Hanya dua kali pukulan dia pengawal berbadan kekar yang di tugaskan Fabio untuk menjaga Alex terkapar dan tidak sadarkan diri.


Alex membersihkan darah segar yang ada di bibirnya sebelum melangkah pergi. Pria itu mengambil pistol yang di bawah pengawal. Ia memegang dua senjata dan siap menghadapi orang-orang yang ingin menghalanginya nanti.


"Fabio Cassano! Apa dia pikir bisa dengan mudah mengalahkanku? Lara akan menjadi milikku. Selamanya akan menjadi milikku!" gumam Alex di dalam hati. Pria itu melangkah menuju ke lorong yang memberikan cahaya terang. Alex yakin, di sana pasti ada jalan keluar untuk kabur dari mansion tersebut.


Di sisi lain, Fabio dan Lara baru saja tiba di mansion. Fabio masih belum berani memandang wajah Lara. Pria itu memilih untuk menatap layar ponselnya yang kebetulan berdering.


"Kak Bi, Lara turun duluan ya," ucap Lara. Fabio hanya mengangguk pelan. Ia meletakkan ponselnya di samping telinga untuk mengangkat panggilan masuk Walter.


Lara melangkah ke pintu, wanita itu kaget bukan main melihat Alex muncul dengan tubuh dipenuhi luka. Pria itu memegang senjata api.


"Kak Alex?"


Ketika Lara belum sempat berteriak dan memanggil nama Fabio, Alex lebih dulu menarik Lara dan menjadikannya bahan senderaan agar bisa bebas dari mansion tersebut.


Pusing ya?🤣 Penjelasannya besok ya reader. Jangan Kaget.


Hai reader. Di bawah ini rekomendasi Novel temen author ya. Selamat membaca.❤️

__ADS_1



__ADS_2