Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 101. Masih Belum Menyerah


__ADS_3

Alex menggeram ketika mendapat kabar kalau Greta tidak berhasil di tangkap oleh anak buah yang di kirim Mark. Kini pria itu masih ada di kota yang sama dengan Fabio dan Lara. Walau ia sendiri tahu Greta dan Walter akan menuju ke kota yang sama. Namun, tetap saja Alex merasa khawatir. Ia takut kalau nanti Greta sudah bersama dengan Lara, ia tidak memiliki alasan lagi untuk bertemu dengan Lara.


"Bukankah aku sudah bilang, kalau tidak semudah itu menjebak Fabio. Kau saja yang masih keras kepala untuk melanjutkan rencana murahan itu. Sekarang apa kau punya rencana cadangan untuk menjebak Fabio?" ledek Mark yang saat itu duduk di depan Alex.


"Tentu saja aku masih memiliki rencana cadangan," sahur Alex. Ia mengambil kopi yang ada di meja sebelum meneguknya secara perlahan. "Sejauh ini, aku lihat kau belum melakukan tindakan apapun untuk mengalahkan Fabio. Padahal sejak awal kau selalu bilang ingin mengalahkan Fabio. Apa kau ingin memanfaatkanku?" tanya Alex balik.


Mark terdiam. Sebenarnya memang seperti itu rencana awalnya. Namun, ia juga tidak mau sampai membuat Alex curiga dan membatalkan kerja sama di antara mereka.


"Kau salah! Aku sudah menyiapkan sebuah strategi untuk menyerang Mansion Fabio," jawab Mark dengan wajah penuh percaya diri.


"Bukankah kau bilang dinding pertahanan mereka sulit untuk di tembus?"


"Ya. Tapi bukankah kita bisa menyerang mereka dari atas?" jawab Mark tanpa beban.

__ADS_1


"Maksudmu dengan helikopter?" Alex masih belum yakin dengan ide yang dikatakan Mark. Rasanya sangat mustahil. Tingkat keberhasilannya juga sangat kecil.


"Jika ada bagian mansion yang hancur, Fabio pasti akan marah. Dia akan mengejar musuh yang sudah berani mengacaukan istana kesayangannya. Bukankah itu berarti dia akan pergi meninggalkan mansion? Di saat yang bersamaan, aku mau kau membantuku untuk membunuh Fabio!"


"Bagaimana dengan Lara? Aku menginginkannya!" tegas Alex lagi.


"Itu soal yang sangat gampang. Jika kita berhasil mengalahkan Fabio, maka tidak ada lagi orang yang menghalangimu untuk mendapatkan Lara," jawab Mark dengan wajah yang serius.


"Baiklah. Aku setuju. Tapi, jika kali ini kita gagal lagi, maka aku tidak mau bekerja sama denganmu lagi! Sebaiknya kau segera ganti wajahmu agar tidak mirip denganku lagi!" ketus Alex tidak suka.


Di sisi lain, Walter memberhentikan mobilnya di depan mansion. Greta termenung melihat istana megah yang ada di hadapannya. Semua seperti mimpi. Namun, ketika ingin turun dari mobil, lagi-lagi ia memandang ke arah Walter dengan tatapan curiga.


"Siapa kau? Tempat apa ini?" ketus Greta.

__ADS_1


"Turunlah?" sahur Walter tanpa tertarik untuk menjawab pertanyaan Greta. Pria itu segera turun dari mobil dan berjalan menuju ke pintu utama. Greta yang tidak tahu harus berbuat apa segera ikut turun dari mobil. Ia berlari mengejar Walter dengan langkah setengah berlari.


"Hei, tunggu!" teriak Greta.


Walter berhenti ketika Greta berteriak. Pria itu menurunkan kaca mata hitam yang sejak tadi melekat di wajahnya. Tatapannya sangat tajam hingga membuat Greta kembali merasa takut.


"Kenapa kau berhenti?"


"Masuklah. Aku harus mengurus beberapa hal penting lainnya."


"Kau memintaku masuk ke dalam? Sendirian?" tanya Greta tidak percaya.


"Sudah ada yang menunggumu di dalam."

__ADS_1


"Siapa?" tanya Greta penasaran.


"Nona ...." Walter menahan kalimatnya ketika melihat mobil hitam yang tiba-tiba muncul di halaman mansion. Mobil itu milik Dokter Alfred. "Kenapa Dokter Alfred datang kemari? Apa ada masalah dengan Nona Lara?" gumam Walter di dalam hati.


__ADS_2