Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 35. Bertemu Kak Bi


__ADS_3

Masih terbayang jelas di benak Walter kejadian tiga bulan yang lalu. Dia harus mengatur semua urusan yang berhubungan dengan Fabio tanpa memberi tahu semua orang di mana Fabio berada. Ya, selama tiga bulan Fabio bukan menghilang tanpa kabar. Tapi, pria itu berada di dalam situasi sulit dan tidak mau memberi kabar seisi mansion. Hanya Walter yang selalu ada di sisi Fabio.


Fabio menemui pria yang sangat dekat dengan hidupnya saat itu. Tidak di sangka, pria itu berkhianat. Ia menjebak Fabio hingga Fabio tidak tahu harus berbuat apa. Walter yang saat itu tidak ada di samping Fabio juga sempat kaget mendengar kabar kalau Fabio sudah ada di ruang operasi dalam keadaan kritis.


Walter memandang Fabio yang sejak tadi terlihat diam tanpa kata. Pria itu bahkan tidak menghabiskan minumannya. Ekspresi wajahnya terlihat tidak biasa. Tadinya Walter pikir, tiga bulan adalah waktu yang cukup bagi Fabio untuk mengurung diri. Tetapi, tidak di sangka. Semangat pria itu telah hilang. Pria itu tidak seceria biasanya.


“Bos, apa anda memikirkan sesuatu?” tanya Walter hati-hati.


“Tidak!” dusta Fabio tanpa mau menjelaskan apa yang ada di pikirannya.


“Soal Albern?” Walter semakin serius memandang Fabio seolah ia tahu pria itu sedang menyembunyikan sesuatu.


Fabio menghela napas. “Aku bahkan sangat percaya padanya melebihi rasa percayaku padamu, Walter!”


“Tapi nyatanya dia pengkhianat, Bos!” tegas Walter.


“Lupakan!” Fabio memejamkan mata dan memilih untuk tidak membahas masalah ini lebih jauh lagi. Kekecewaan di dalam hatinya membuatnya merasa sakit.


Tiba-tiba saja Walter mengeluarkan beberapa lembar foto. Ia berharap foto itu bisa membuat mood Fabio menjadi baik. “Bos, ini foto terbaru Nona Lara,” ucap Walter.


Fabio membuka matanya dan melirik foto di tangan Walter. Ia menerima lembaran itu dan memperhatikan wajah Lara yang terlihat semakin cantik dengan saksama. Tidak ada ekspresi yang spesial di sana.


“Nona Lara jatuh sakit di minggu pertama. Namun, tekadnya sangat kuat. Hingga akhirnya program diet ini berhasil. Kini Nona Lara sudah berubah menjadi wanita langsing sesuai dengan apa yang ia inginkan,” ucap Walter.


“Apa dia sudah bertemu dengan mantan suaminya?” Fabio meletakkan foto Lara kembali ke meja.

__ADS_1


“Sudah, Bos.”


Fabio memandang keluar jendela. Langit mulai terang, pertanda kalau tidak lama lagi mereka akan tiba di bandara. Sebenarnya Fabio tidak terlalu tertarik dengan wanita cantik. Wanita seperti Lara sudah banyak yang ia temui. Hampir semua wanita itu menggodanya untuk menjadi kekasihnya. Pertolongan yang dilakukan Fabio terhadap Lara, murni karena ia ingin balas budi. Tidak lebih dari itu. Karena baginya tidak ada rasa spesial untuk Lara. Fabio menganggap Lara lebih ke sosok adik yang harus ia jaga.


***


Lara berdiri di depan cermin sambil merapikan penampilannya. Wanita itu sudah tidak sabar bertemu dengan Fabio. Semalaman ia tidak bisa tidur karena kepikiran Fabio. Ia ingin mengucapkan terima kasih kepada Fabio. Sebuah hadiah sudah dipersiapkan Lara.


"Aku harap Kak Bi mau menerima hadiah sederhanaku ini," gumam Lara. Ia kembali memperhatikan penampilannya di depan cermin. Dengan balutan gaun berwarna maroon, Lara terlihat sangat cantik dan segar pagi ini.


Seorang pelayan muncul di dalam kamar. Pelayan itu menunduk hormat. "Nona, Tuan Fabio telah tiba. Kini beliau menunggu anda di ruang kerjanya."


"Benarkah?" Lara terlihat sangat antusias. Ia mengambil hadiah yang ingin ia berikan kepada Fabio sebelum berlari meninggalkan kamar. Pelayan wanita tadi mengikuti Lara dari belakang.


Ting. Lift terbuka. Dua pengawal yang selalu menjaga di depan lift menunduk hormat. Seperti apa yang pernah diucapkan Fabio. Hanya orang spesial yang bisa masuk ke mansion itu. Semua orang tahu, kalau Lara bukan orang sembarangan. Maka dari itu, seluruh penghuni mansion menjadikan Lara layaknya seorang ratu.


Lara mengukir senyum ke penjaga di depan lift sebelum memandang pintu ruang kerja Fabio yang tidak terlalu jauh dari sana. Tiba-tiba saja debaran jantungnya menjadi tidak karuan. Padahal sebelumnya ia terlihat biasa saja.


"Aduh, kenapa aku jadi gugup sih," gumam Lara. Ia berdiri di depan pintu dan memandang pintu tersebut dengan perasaan ragu. Pelayan wanita yang sejak tadi ada di belakang Lara mulai bingung.


"Nona, kenapa anda tidak masuk?"


"Apa Kak Bi ... ehm, maksud saya. Tuan Fabio sendirian di dalam?"


"Tuan Walter masih ada di dalam, Nona."

__ADS_1


Lara mengangguk. "Terima kasih."


Lara memandang ke depan lagi dan mengangkat tangannya perlahan. Ia mengetuk pintu itu dengan penuh irama. Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Walter yang membukakan pintu. Pria itu menunduk hormat di depan Lara.


"Silahkan masuk, Nona."


Lara menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk. Sekujur tubuhnya berubah dingin karena Lara sangat-sangat grogi. Ia bahkan tidak tahu harus bicara apa ketika bertemu Fabio nanti.


Fabio yang saat itu menopang kepalanya dengan tangan, terlihat fokus dengan layar ponselnya. Ia bisa mendengar jelas kalau sepatu high heels Lara sudah semakin dekat. Bahkan wanita itu sudah ada di depannya.


"Kak Bi ...," sapa Lara dengan lembut.


Fabio mengangkat kepalanya. Tiba-tiba saja tangan yang tadi ia gunakan untuk menopang kepala terjatuh. Pria itu kaget bukan main melihat penampilan Lara. Padahal tadi dia sudah melihat foto Lara. Tapi bagi Fabio, Lara justru jauh menarik jika di lihat secara langsung.


Walter menunduk dengan wajah menahan tawa. Jelas saja ia menertawakan big Boss nya. Ini pertama kalinya Walter melihat ekspresi Fabio yang seperti itu ketika melihat seorang wanita.



"Chubby?" Fabio menggeleng dengan mata terpejam. "Maksudku, Lara." Fabio gugup. "Nona Lara." Tiba-tiba Fabio segan memanggil Lara dengan sebutan Chubby karena wanita itu tidak gemuk lagi.


Tawa Walter pecah. Pria itu tidak sanggup menahan tawanya. Sikap Fabio sangat-sangat menghibur. Fabio melempar tatapan penuh arti kepada Walter. Tidak mau di hukum, pria itu segera menunduk hormat.


"Saya permisi dulu, Bos. Ada urusan yang harus saya selesaikan." Walter pergi tanpa izin dari Fabio. Pria itu ingin memberi privasi kepada Lara dan Fabio.


Lara semakin deg degan ketika Walter pergi. Wanita itu memejamkan mata dan mengatur napasnya. "Apa kabar Kak Bi?"

__ADS_1


__ADS_2