
Alex turun dari mobil dan berjalan menuju ke sebuah rumah bercat hitam dengan wajah menahan emosi. Tangannya terkepal kuat sebagai tanda kalau ia sudah tidak sabar untuk menghajar Mark. Dua pria yang ada di depan pintu menodongkan senjata mereka ke arah Alex. Walau mereka tahu Alex adalah rekan kerja Mark, tetap saja mereka tidak bisa mengizinkan sembarang orang masuk ke dalam rumah.
"Tuan, berhentilah. Anda tidak boleh masuk ke dalam tanpa ada izin dari Tuan Mark," ucap salah satu pengawal.
Alex yang memang lagi emosi segera melayangkan pukulan terbaiknya ke wajah pengawal yang sudah berani melarangnya masuk. Tidak hanya sekedar pukulan saja. Alex juga ingin menembak pria itu dengan menggunakan senjata api yang ia bawa.
Semua bawahan Mark muncul di sana. Mereka menodongkan senjata api ke arah Alex karena sudah berani membuat keributan.
"Aku ingin bertemu dengan Mark!" umpat Alex dengan tatapan yang begitu tajam.
"Tuan Mark masih istirahat. Tidak ada yang bisa mengganggunya!" sahut salah satu pria yang ada di dalam barisan pria yang kini menodongkan senjata ke arah Alex.
"Sedang istirahat kalian bilang?" Alex semakin emosi. Jelas-jelas Lara baru saja menghilang. Kini dengan wajah tidak bersalahnya bawahan Mark mengatakan pria itu masih istirahat. "Habisi mereka!" perintah Alex setelah mendengar jawaban dari bawahan Mark.
Seluruh pasukan Alex tidak pikir-pikir lagi. Mereka segera mengangkat senjata dan menodongkannya ke arah pasukan Mark. Melihat pasukannya mengambil tindakan, Alex segera menerobos masuk. Pria itu sudah tidak sabar membawa Lara pulang bersama dengannya.
"Mark! Keluar kau!" teriak Alex hingga memenuhi ruangan luas yang senyap tersebut.
Ketika tidak ada jawaban, Alex segera melangkah menuju ke tangga. Ia tidak mau sampai Mark pergi Lara lagi. "Dimana pria itu!"
"Kak Alex."
Tiba-tiba saja Alex menahan langkah kakinya ketika mendengar suara Greta. Pria itu memutar tubuhnya dan memandang ke bawah. Di depan pintu, Greta berdiri dengan piyama cokelat yang melekat di tubuhnya.
__ADS_1
"Kak Alex sudah pulang? Apa urusan Kak Alex sudah selesai?" tanya Greta dengan wajah polosnya.
Alex segera turun dan mendekati Greta. Walau tujuannya datang ke rumah itu untuk menyelamatkan Lara. Tetapi tetap saja ia juga tidak mau sampai Greta celaka.
"Greta, apa kau baik-baik saja?" Alex memeriksa seluruh tubuh Greta dengan teliti.
"Aku baik-baik saja. Kenapa Kak Alex cepat sekali pulangnya? Apa urusan Kak Alex sudah selesai?" tanya Greta lagi.
"Sudah ku duga. Mark pasti datang ke rumahku untuk menculik Lara. Aku tidak bisa membiarkannya membawa Lara pergi!" umpat Alex di dalam hati.
"Alex, ada apa? Sejak kapan kau ada di rumah ini? Kenapa kau tidak bilang-bilang kalau mau datang?"
Tiba-tiba saja Mark muncul dari lantai atas. Pria itu mengenakan setelan santai yang menandakan kalau ia baru bangun tidur. Rambutnya sedikit berantakan. Pria itu turun dengan wajah setengah mengantuk. "Apa kau sudah lama?"
Alex mengepal kuat tangannya dan segera menyambut Mark dengan pukulan yang sangat menyakitkan. Pria itu tidak mau menerima alasan apapun dari Mark karena pertanyaan Greta tadi sudah cukup membuktikan kalau Mark sempat keluar rumah malam ini.
Mendapat pukulan yang sangat menyakitkan dari Alex membuat Mark kaget bukan main. Pria itu menahan tangan Alex ketika ingin memukul wajahnya lagi.
"Apa yang terjadi? Kenapa kau memukulku?" protes Mark tidak terima.
"Dimana kau sembunyikan Lara!" ketus Alex dengan tatapan membunuh.
"Apa maksudmu? Bukankah Lara bersamamu?"
__ADS_1
BRUAKK
Alex lagi-lagi mendaratkan tendangan di perut Mark. Mark yang tidak terima di pukul tanpa sebab seperti itu mulai membalas pukulan Alex. Dua pria itu saling memukul hingga membuat Greta panik dan ketakutan.
"Kak Alex, hentikan!" teriak Greta.
Alex menahan gerakannya dan mendorong tubuh Mark agar menjauh darinya. Pria itu masih dalam keadaan emosi. "Sekali lagi aku tanya. Di mana kau sembunyikan Lara!"
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan! Aku ada di rumah ini sejak sore," sangkal Mark masih tidak mau mengaku.
Alex memandang Greta dengan tatapan yang sangat serius. "Greta, apa benar pria ini ada di rumah sejak sore?"
Mark melempar pandangan menikam kepada Greta. Greta yang sudah sangat ketakutan memilih untuk menunduk. "Aku tidak tahu kalau pria yang bersamaku adalah Alex palsu. Tadi malam setelah makan malam, Alex palsu itu pergi keluar dan baru kembali beberapa menit yang lalu."
Mark melebarkan kedua matanya. Pria itu tidak menyangka kalau Greta akan berdusta seperti itu. Seperti sengaja menjebaknya di depan Alex.
"Wanita ******!" umpat Mark. Pria itu segera mengeluarkan senjata apinya. Ia ingin menembak Greta karena sudah berani mengatakan hal yang tidak benar. Dengan cepat Alex juga mengeluarkan senjata apinya dan menodongkannya ke arah Mark.
"Berani kau sakit adikku, maka nyawamu akan melayang!" ancam Alex dengan tatapan yang tidak kalah mengerikan dari Mark.
Hai reader ... ini ada rekomendasi Novel temen author. Semoga suka.
__ADS_1