Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 89. Perjuangan Alex


__ADS_3

Lara dan Fabio baru saja menyelesaikan sarapan mereka. Beberapa pelayan muncul untuk membersihkan meja. Lara masih asyik memandang bunga-bunga dan menikmati hangatnya matahari pagi. Fabio sendiri tengah asyik memandang wajah Lara tanpa berkedip.


Sebuah pesan singkat masuk ke dalam ponsel Fabio. Ia membaca pesan singkat dari Walter dengan tatapan tidak terbaca. Isinya sungguh membangongkan hingga Fabio sendiri tidak tahu harus menurutinya atau tidak.


"Bos, katakan isi hati anda dengan sungguh-sungguh. Ini momen yang tepat. Cepat Bos."


Fabio memasukkan ponselnya ke dalam saku lagi. Ia memandang ke kanan ke kiri seperti orang bodoh. Tidak tahu harus memulai darimana. Belum juga menemukan kalimat yang cocok untuk mengungkapkan isi hatinya, kini justru debaran jantungnya menjadi tidak karuan.


"Kak Bi, Lara mai masuk ke dalam," ucap Lara berpamitan.


Fabio mengangguk pelan. "Silahkan. Kau juga butuh istirahat. Kau belum ada tidur sejak tadi malam bukan?"


Lara mengangguk pelan sebelum melangkah pergi. Walter yang sejak tadi memperhatikan di sana hanya bisa mendengus kesal dengan wajah kecewa. "Sampai kapan mereka seperti ini? Aku yakin sebenarnya mereka saling mencintai!"


Fabio yang tahu kalau Walter ada di sekitar sana memilih untuk memanggil Walter. Dalam hitungan detik saja pria itu muncul dan berdiri di hadapan Fabio.


"Ada yang bisa saya bantu bos?" tanya Walter.


"Bagaimana dengan Alex Moritz?" tanya Fabio sambil melirik jam di pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Dia masih ada di rumah itu Bos."


"Aku yakin, dia tidak akan tinggal diam setelah tahu Lara bersamaku." Fabio beranjak dari kursi yang ia duduki. Mengambil senjata apinya dan memperhatikannya dengan saksama.


"Lalu, apa yang ingin anda lakukan, Bos?" tanya Walter bingung.


"Tidak ada. Aku ingin penjagaan di mansion lebih diperketat. Periksa semua pekerja yang ada di mansion ini. Pastikan tidak ada pengkhianat lagi."


"Baik, Bos."


"Kau bisa gunakan senjata ini. Anggap saja ini hadiah untukmu karena kau sudah mau membuat tempat ini menjadi terlihat lebih menarik." Fabio meletakkan senjata api kesayangannya sebelum pergi meninggalkan Walter sendirian di sana. Walter masih tidak percaya kalau kini Fabio memberinya hadiah sebagi itu. Pria itu segera mengambil senjata api tersebut dan memandangnya dengan saksama.


"Apa Aku bermimpi?"


Greta menggedor-gedor pintu kamar yang ia tempati sambil berteriak memanggil nama Alex. Wanita itu terlihat sangat khawatir dengan keadaan Lara. Ia tidak mau sampai Alex dan Alex palsu berhasil menangkap Lara.


"Kak Alex, kembalikan ponselku! Apapun yang akan Kak Alex lakukan, tidak akan berhasil mendapatkan maaf dari Kak Lara lagi. Kak Lara sudah terlanjur sakit hati. Nama Kak Alex sudah di hapus dari ingatan Kak Lara!" teriak Greta tanpa takut.


Di depan kamar, Alex terlihat tidak peduli dengan teriakan Greta. Pria itu memainkan ponsel milik Greta dengan bibir tersenyum. "Menggunakan benda ini aku bisa membuat Lara keluar dari mansion itu. Dengan begini, aku bisa mendapatkan Lara lagi. Kali ini aku akan membawa Lara pergi ke tempat yang sangat jauh. Aku pastikan pria itu tidak akan bisa tahu dimana kami berada nanti," ucap Alex penuh keyakinan.

__ADS_1


"Jangan terlalu percaya diri, Tuan. Lawan yang anda hadapi bukan orang biasa," sahur Mark sambil meneguk wine.


"Aku tidak peduli. Aku tidak pernah takut dengan siapapun. Termasuk bos mafia gadungan itu!" Alex terlihat sangat percaya diri. Ia mengirim pesan singkat ke nomor Lara sebelum mengantongi ponsel milik Greta. Pria itu duduk di sofa yang ada di dekat Mark. Ia juga ingin meneguk minuman mahal yang sudah disajikan di meja.


"Kapan?" tanya Mark penasaran.


"Aku yakin, secepatnya Lara akan membalas pesan itu dan segera memikirkan cara untuk menolong Greta. Di saat itu, kita akan lakukan penyerangan. Kau fokus ke Fabio dan aku fokus ke Lara. Bagaimana?" tawar Alex.


"Ide yang bagus."


"Kenapa kau tidak setuju jika kita menyerang langsung ke mansionnya? Bukankah dengan begitu kita bisa membuatnya rugi besar? Kita hancurkan saja mansion itu." Alex tertawa kecil sebelum meneguk minumannya.


"Tidak ada yang bisa masuk ke dalam mansion itu. Di setiap pagarnya agar tembak yang tersembunyi. Melewati pagarnya saja sudah terasa sulit. Setiap jendela di lapisi kaca anti peluru. Belum lagi kalau mereka tahu mansion mereka di serang, mereka akan segera mengunci semua pintu yang menjadi akses untuk masuk. Bahkan pintu-pintu itu tidak mudah di ledakkan dengan bom. Mansion Black Dragon sejak dulu terkenal dengan pertahanannya. Kita tidak bisa menyerang dari dalam kecuali kita punya mata-mata dari pekerja di dalam sana," ucap Mark menjelaskan.


"Kenapa tidak mengirimkan mata-mata saja ke sana?"


"Tidak ada yang bisa masuk ke dalam mansion itu. Bagaimana caranya memasukkan mata-mata!" Mark mendengus kesal. Pertanyaan Alex membuatnya muak. Namun, ia harus bersikap baik di depan Alex karena sejauh ini pria itu masih di butuhkan.


"Oke, baiklah. Kita serang mereka di luar mansion!" jawab Alex menyerah. Pria itu beranjak dari sofa yang ia duduki dan berjalan ke arah pintu. "Aku harus menyiapkan senjata yang akan aku gunakan untuk menyerang Fabio."

__ADS_1


Hai reader ... ini ada rekomendasi Novel teman author ya. Semoga suka.,❤️



__ADS_2