
Beberapa saat yang lalu.
"Bos, anda yakin akan datang ke gedung itu? Bagaimana kalau Alex Moritz sudah membuat jebakan di sana? Bukankah itu hanya buang-buang waktu saja? Untuk apa kita menemui mereka jika tidak ada untungnya sama sekali?" tanya Walter dengan wajah ragu.
"Tentu saja tidak. Aku hanya tidak mau Lara terus-menerus marah padaku. Apapun yang aku lakukan selalu salah di matanya. Sepertinya aku harus memaksanya untuk menikah. Terserah dia setuju atau tidak!" jawab Fabio mantap.
"Memaksa?" Walter melirik wajah Fabio melalui spion yang ada di depannya. "Itu bukan ide yang bagus, Bos. Memaksa hanya akan membuat Nona Lara marah dan benci kepada anda."
"Lalu, bagaimana? Sejauh ini idemu tidak ada yang masuk akal. Ini pertama kalinya aku dekat dengan seorang wanita. Aku tidak tahu bagaimana cara meluluhkan hatinya!"
"Anda harus mengungkapkan perasaan anda, Bos. Apa yang anda rasakan saat ini, katakan yang sebenarnya kepada Nona Lara," jawab Walter dengan nada pelan.
"Aku tidak bisa. Aku takut salah lagi." Fabio menyerah. Pria itu membuang tatapannya keluar jendela. "Keputusanku tetap sama. Dalam waktu dekat aku akan menikahi Lara. Aku akan membuat Mark kalah dan Alex tidak berani mendekati Lara lagi. Mereka berdua harus menerima akibat dari perbuatan mereka."
"Bos, sebaiknya jangan." Walter masih berusaha mencegah Fabio untuk memaksa Lara.
"Lalu bagaimana!" umpat Fabio semakin kesal.
"Bos, kita masih punya dokter Alfred. Dia pasti bisa membantu kita," usul Walter dengan senyuman penuh arti.
"Alfred?" Fabio mengeryitkan dahi dengan tatapan kurang percaya. "Apa dia bisa membantuku?"
"Pasti bisa, Bos. Saya akan hubungi Alfred." Walter memberhentikan laju mobilnya di pinggir jalan. Pria itu mengotak-ngatik ponselnya untuk menghubungi Alfred. Tidak lama setelahnya, panggilan telepon itu tersambung.
"Dok, kami butuh bantuan anda," ucap Walter dengan suara panik.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Ini gawat! Anda harus segera datang. Akan saya kirimkan alamatnya. Jika dalam lima menit anda tidak muncul maka habislah semua."
"Walter, apa yang terjadi. Kenapa-"
Belum sempat Alfred menyelesaikan kalimatnya, Walter sudah mematikan panggilan telepon tersebut. Pria itu tertawa kecil ketika membayangkan ekspresi wajah Dokter Alfred saat ini.
"Apa kau yakin akan berhasil?" tanya Fabio semakin tidak yakin.
"Saya yakin, Bos. Dokter Alfred bisa membantu kita. Bukankah dia sudah menikah? Seharusnya dia tahu bagaimana cara meluluhkan hati wanita."
"Apa kau sendiri tidak bisa melakukan semua ini? Kenapa harus minta bantuan Alfred?"
"Bos, sejak kapan saya dekat dengan wanita? Jika anda menyuruh saya melatih anggota baru agar bisa menembak dan memukul, saya maju. Namun saya mundur jika anda menyuruh saya untuk membantu meluluhkan wanita. Apa anda tidak lihat, keseharian saya hanya bersama anda," jawab Walter dengan emosi di tahan. Sebenarnya ia ingin sekali membentak Fabio karena terlalu kesal. Tapi tidak mungkin.
"Kau selalu muncul di perusahaan. Bukankah di sana isinya wanita semua," jawab Fabio asal saja.
Fabio memalingkan wajahnya lagi. "Pastikan semua sukses. Aku tidak mau gagal lagi."
5 menit kemudian ....
Alfred muncul dengan alat medis di tangannya. Wajahnya sangat panik. Ia memberhentikan mobilnya di depan mobil Walter dan segera berlari menuju ke mobil Walter. Pria itu segera berdiri di pintu belakang karena tahu pasti Fabio lah yang celaka.
Fabio membuka pintu mobil memberi Alfred jalan untuk masuk. Dokter itu segera duduk dan mengatur napasnya.
"Maafkan aku. Apa masih bisa di tahan? Bagaimana kalau kita langsung ke rumah sakit! Bagian mana yang tertembak?" ujar Alfred dengan wajah panik. Ia sampai menarik tangan Fabio untuk memeriksa denyut nadinya. Ketika tahu denyut nadi Fabio normal, ia mengeryitkan dahi sambil memandang wajah Fabio
"Tuan, apa yang terjadi? Apa anda terluka atau jangan-jangan jantung anda bermasalah lagi?"
__ADS_1
Fabio segera menarik tangannya yang masih ada di genggaman Alfred. "Apa kau senang melihatku celaka!"
"Tuan, saya tidak seperti itu. Bukankah setiap kali Walter memanggil saya itu pertanda kalau anda sedang celaka?"
"Tapi kali ini bukan karena celaka. Tapi karena Nona Lara," jawab Walter dari depan.
"Apa lagi yang dilakukan Lara?" Alfred memasukkan alat medis yang sempat ia keluarkan. Seperti kapas, Alkohol dan lain sebagainya yang biasa digunakan untuk menjahit atau menutup luka.
"Nona Lara menolak untuk di ajak nikah. Dia terus saja memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan Alex Moritz. Seperti hari ini. Sudah jelas-jelas dia di jebak, tapi masih juga ingin keluar mansion untuk menemui Greta."
"Lara memang seperti itu. Dia wanita yang sangat mudah memaafkan kesalahan orang lain. Dia baik."
"Tapi aku tidak suka dia baik kepada Alex Moritz," sahut Fabio.
"Anda cemburu, Tuan?" ledek Alfred. Fabio melempar tatapan menikam ke Alfred hingga membuat Alfred memilih menunduk. "Begini saja. Bagaimana kalau kita buat jebakan. Bukankah Lara sangat mudah di jebak? Dengan begitu dia akan mengerti apa yang sebenarnya terjadi."
"Apa maksudmu, Alfred?"
"Tuan, serahkan saja semua sama saya. Anda hanya perlu diam sambil memejamkan mata. Sedikit kotor mungkin," ucap Alfred dengan senyuman penuh arti.
"Aku akan menggajimu 10 kali lipat jika berhasil. Tetapi jika gagal, aku akan memotong gajimu selama 10 tahun."
Walter tertawa kecil meledek Alfred. Alfred sendiri hanya bisa diam membisu sambil memikirkan rencana yang sangat bagus dan harus berhasil.
"Sepertinya ini menyangkut masa depanku," gumam Alfred di dalam hati.
Hai reader ... ini ada rekomendasi Novel teman author. Semoga suka ya. Jangan lupa di baca ya.
__ADS_1