Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 18. Godaan Fiona


__ADS_3

Alex baru saja tiba di rumah Fiona. Pria itu mengantarkan kekasih gelapnya hingga tiba di depan pintu sebelum berkeinginan untuk pergi.


"Aku harus pulang," ucap Alex. Ia melirik jam di tangannya.


"Kau mau pulang sekarang?" Fiona melempar tatapan tidak setuju. Wanita itu belum mendapatkan sepeserpun uang dari Alex. Ia tidak akan membiarkan Alex pergi begitu saja saat ini. "Kau mau meninggalkanku di rumah ini sendirian? Apakah kau sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanita itu?" tuduh Fiona.


"Fiona, Aku-" Belum sempat Alex menyelesaikan kalimatnya. Fiona lagi-lagi berbicara lebih dulu.


"Kau tidak menemuiku lebih dari seminggu, Alex dan sekarang saat kita memiliki waktu untuk berduaan kau memilih untuk pergi? Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Ayo kita masuk ke dalam."


Alex diam membisu, ia tidak memiliki alasan lain lagi untuk pergi meninggalkan Fiona. 


Hingga akhirnya pria itu bersikap pasrah ketika Fiona menariknya masuk ke dalam rumah. 


"Akhir-akhir ini Aku sangat sibuk. Maafkan Aku, Fiona," ucap Alex dengan wajah menyesal.


Fiona melepas tangan Alex dan menatap wajah pria itu dengan saksama. "Sibuk mengganggu wanita gemuk itu maksudnya?"


Alex memutar bola matanya ke atas merasa tidak nyaman dengan kalimat sang kekasih.


"Aku benar-benar sibuk dan berhentilah menuduhku dengan kalimat-kalimat seperti itu. Papa pergi keluar negeri dan dia meninggalkan banyak sekali pekerjaan untukku. Sepertinya dia tahu kalau aku akan sering-sering menemuimu jika dikantor tidak ada kerjaan."


"Aku hanya merindukanmu sayang. Aku sedih jika sikapmu seperti ini. Kau seperti sudah melupakanku," lirih Fiona.

__ADS_1


"Tidak semudah itu untuk melupakanmu Fiona. Aku hanya lelah saja. Aku berfikir hanya di rumah aku bisa istirahat dengan tenang," jawab Alex keceplosan.


"Apa maksudmu istirahat di rumah ini tidak tenang?" ketus Fiona kesal.


"Tentu saja di sini juga nyaman, tapi ...."


Alex menahan kalimatnya. Ia tidak mungkin berkata jujur kalau sebenarnya selama ini Alex merasa keberatan setiap kali Fiona meminta uang padanya. Hal itu yang membuat Alex akhir-akhir ini menghindari Fiona. Ia tidak mau uang miliknya habis hanya untuk Fiona saja. 


"Baiklah, aku mengerti. Sekarang, pergilah! Aku tidak akan melarangmu lagi."


Fiona memalingkan wajahnya dengan tangan terlipat di depan dada. Itu membuat Alex bingung hingga akhirnya ia merasa bersalah.


"Maafkan Aku," bujuk Alex.


Fiona tersenyum di dalam hati. "Ternyata tidak sulit untuk mempertahankannya untuk tetap ada di rumah ini," gumamnya di dalam hati.


"Aku ingin kau menemaniku malam ini."


Fiona memutar tubuhnya. Wanita itu mengangkat tangannya dan mengusap wajah Alex dengan sentuhan yang sangat lembut. Tangannya turun ke bawah dengan mata yang berbinar manja. "Aku merindukanmu Alex," godanya lagi. Ia merasa sangat yakin kalau sentuhannya itu akan menggoda iman Alex. Kalimat yang diucapkan Fiona sudah menjabarkan apa yang sebenarnya diinginkan oleh wanita itu saat ini. Tanpa permisi Fiona membuka satu persatu kancing kemeja memiliki Alex. Tidak peduli kalau kini mereka masih ada di ruang tamu dengan pintu yang terbuka lebar. Jika saja muncul tamu tidak di undang, mungkin pemandangan pertama yang mereka lihat adalah kemesraan antara Alex dan Fiona.


"Fiona, di sini?" tanya Alex ragu.


"Kita biasa melakukannya di mana saja. Apakah kau keberatan jika kita melakukannya di sini?" tantang Fiona yang saat itu sudah berhasil membuka kancing kemeja Alex dengan sempurna.

__ADS_1


Alex yang sudah tergoda tidak lagi bisa berpikir jernih. Pria itu menarik pinggang Fiona dan memeluknya dengan erat. Mereka saling berciuman sebelum berakhir di atas sofa.


"Aku tahu, kau tidak akan bisa menolak godaanku Alex," gumam Fiona di dalam hati. Wanita itu merasa besar kepala karena malam ini ia sudah berhasil menahan kekasihnya agar tidur di rumahnya.


Fiona mengambil alih posisinya agar bisa menguasai Alex seutuhnya. Wanita itu tidak segan-segan membuka baju yang melekat di tubuhnya sebelum melanjutkan gerakannya mencumbu pria yang ada di bawah tubuhnya.


***


Di rumah, Lara berdiri di depan cermin dan memandang penampilannya sendiri. Lingerie berukuran 6XL telah terpasang di tubuh gemuknya. Bagian dadanya terlihat jelas karena lingerie itu sangat tipis. Lara memakai ****** ***** di bagian bawah agar bisa menutupi salah satu aset berharganya. Sedangkan bagian atas sengaja ia pamerkan berharap bisa menggoda Alex.


"Kira-kira Kak Alex suka wanita yang rambutnya di gerai atau diikat ya. Bibir merah atau pink?" gumamnya di dalam hati. 


Lara memakai lipstik merah di bibirnya. Wanita itu merias wajahnya sendiri secantik mungkin agar malam ini ia berhasil menggoda Alex. Rambutnya ia gerai. Sesekali Lara menghirup aroma rambut yang sangat wangi karena tadi saat keramas Lara menggunakan sampo dengan porsi lebih banyak dari biasanya.


"Sepertinya Kak Alex suka sama wanita yang rambutnya di gerai," sambung Lara lagi sambil membayangkan bagaimana cantiknya Fiona tadi. 


Saat cacing di perut lagi-lagi demo, Lara kembali duduk di kursi. Ia memegang perutnya dan mengeluh kesakitan. Rasa perihnya semakin sulit untuk di tahankan. Ini pertama kalinya Lara tidak makan hingga seharian. Satu-satunya makanan yang masih tersisa di perutnya adalah donat yang ia konsumsi tadi pagi.


"Aku harus kuat. Aku gak boleh menyerah. Semua ini demi mendapatkan perhatian Kak Alex," gumam Lara di dalam hati. 


Lara yang tadinya tidak mau diet hanya demi pria kini terpaksa melupakan tekadnya itu. Ia tidak mau ditinggali Alex. Apa lagi tadi ia sudah melihat sendiri bagaimana rupa wanita yang menjadi saingannya. Kini Lara bertekad memenangkan hati Alex apapun caranya. 


Waktu terus berlalu, Lara mulai bosan dan merasa kedinginan karena Alex tidak kunjung muncul di kamar. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Kedua mata Lara mulai berat. Ia ingin berbaring di atas karpet dan segera tidur. Wanita itu hampir menyerah untuk menunggu Alex. Hingga sekarang tidak ada juga tanda-tanda kalau Alex akan kembali pulang.

__ADS_1


"Apa Kak Alex masih bersama wanita itu? Apa yang mereka lakukan?" gumam Lara di dalam hati. Setiap kali ia membayangkan bagaimana Alex dan Fiona bermesraan, membuat hatinya terasa di cabik-cabik. Namun Lara berusaha berpikir positif. Ia yakin Alex adalah pria yang baik dan tidak mungkin melakukan hal serendah itu.


"Aku tunggu Kak Alex sambil tidur saja kali ya. Kedua mataku sangat berat. Aku akan bangun saat Kak Alex pulang." Lara mengambil bantal dan berbaring di sana. Ia mulai memejamkan matanya. Walau sesekali Lara terbangun karena takut tidur terlalu pulas, tetapi lagi-lagi ia memejamkan mata dan berhasil melupakan segalanya. Lara terlelap dan tidak lagi ingat dengan rencananya untuk menggoda Alex.


__ADS_2