
Alex terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Pria itu terduduk di atas ranjang dan memandang jam di pergelangan tangannya. Kedua matanya melebar melihat jam sudah menunjukkan pukul satu. Pria itu menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya dan turun dari ranjang. Ia segera memungut pakaiannya dan memakai dengan tergesa-gesa.
"Alex, kau mau pulang?" tanya Fiona. Wanita itu duduk di atas ranjang dan menutup tubuh polosnya dengan selimut.
"Fiona, kenapa kau tidak membangunkanku?" protes Alex.
"Bukankah Tuan Moritz tidak di rumah? Kau bisa pergi ke kantor dari sini," jawab Fiona.
"Besok pagi papa pulang. Bagaimana kalau saat papa pulang aku tidak ada di rumah?" Alex segera memakai pakaiannya. Pria itu memeriksa lagi barang-barangnya takut ada yang ketinggalan.
"Alex, maafkan aku. Kau yang membawaku hingga ke kamar. Kenapa sekarang kau menyalahkanku?"
"Sejak awal kau yang menggodaku, Fiona!" ketus Alex dengan penuh emosi.
Fiona memasang wajah sedih. Wanita itu menutup wajahnya dengan tangan. Alex tidak tega melihat Fiona bersedih. Pria itu baik lagi ke ranjang untuk membujuk kekasihnya.
"Maafkan aku. Aku hanya takut ketahuan papa. Kau pasti tahu, semiskin apa aku nanti jika papa sampai menarik semua aset yang sudah dia berikan kepadaku. Apa kau mau aku jatuh miskin?" Alex mengusap wajah Fiona. Pria itu mengecup kening Fiona dengan lembut agar wanita itu tidak menangis lagi.
"Tapi kau tidak memakai pengaman tadi malam. Aku butuh uang untuk beli obat," lirih Fiona.
Alex memejamkan mata. Karena terlalu asyik bercinta, pria itu sampai lupa untuk mencegah benihnya masuk ke rahim Fiona. Ia mengambil kartu dan memberikannya kepada Fiona.
"Aku akan kirimkan passwordnya nanti. Gunakan seperlunya saja ya?" pinta Alex dengan wajah sedikit keberatan.
Sebenarnya akhir-akhir ini Alex sudah kehabisan alasan ketika Tuan Moritz menanyakan perincian pengeluarannya. Untungnya kemarin ia bisa menggunakan nama Lara untuk membuat Tuan Moritz percaya. Walau sebenarnya uang yang ia berikan kepada Lara tidak sama jumlahnya dengan apa yang ia katakan kepada Tuan Moritz.
"Baiklah," jawab Fiona. Ia memeluk Alex dengan senyuman mengembang. Air mata yang sempat membasahi pipi ia hapus dengan hati yang bahagia.
"Aku harus pulang Fiona." Alex beranjak dari ranjang. "Aku akan memikirkan cara untuk menemuimu nanti."
Fiona hanya mengangguk. Karena sudah mendapatkan apa yang ia inginkan, tentu saja Fiona tidak mau menahan Alex untuk berlama-lama dengannya.
"I love you, Alex," ucap Fiona.
"I love you to sayang."
__ADS_1
Alex berjalan cepat meninggalkan kamar. Saat pintu kembali tertutup, Fiona tertawa bahagia. Ia memandang kartu yang ada di tangannya. Dengan kartu itu ia bisa membeli apa saja yang ia inginkan. Fiona tidak mau menghiraukan peringatan Alex. Ia tahu, pria itu tidak akan pernah mau marah dengannya.
Akhirnya aku berhasil!" Soraknya.
Pintu kembali terbuka. Fiona cepat-cepat memasang ekspresi wajah biasa saja. "Apa ada yang ketinggalan?" tanya Fiona. Namun, wanita itu mematung melihat sosok yang berdiri di ambang pintu. "Sejak kapan kau ada di sini? Bagaimana kalau Alex melihatmu?"
Pria itu mengangkat kedua bahunya. "Dia sudah pergi. Aku sudah cukup lama ada di rumah ini. Sepertinya kau semakin ahli menggoda pria, Fiona. Apa kau sudah lupa keberadaanku?" Pria itu mulai melangkah.
Fiona memalingkan wajahnya. "Kau yang memintaku melakukan semua ini. Kenapa sekarang kau marah padaku?"
"Fiona, aku tidak marah padamu." Pria itu berdiri di pinggir ranjang. Ia menarik satu alisnya melihat Fiona belum memakai pakaian.
"Layani aku seperti kau melayani pria itu!" tegasnya dengan tatapan tajam.
"Tapi, aku lelah. Kau tahu sendiri, berapa kali Alex memintanya tadi!" protes Fiona. "Ia ingin kembali berbaring untuk istirahat."
Pria itu menggeram melihat penolakan Fiona. Ia menarik selimut yang menutupi tubuh Fiona dan segera menindih tubuh Fiona. Walau Fiona belum siap, ia tetap akan memaksa Fiona agar bisa melampiaskan nafsunya.
"Aku sudah cukup sabar! Aku mau kau melayaniku seperti kau menggodanya!" teriak pria itu.
PLAAKKK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Fiona. Pria itu tidak marah karena untuk kesekian kalinya sang kekasih menolak untuk berhubungan dengannya. Padahal jelas-jelas Fiona terlihat sangat menikmati percintaannya dengan Alex.
"Kenapa kau melakukan ini padaku?" teriak Fiona marah.
"Layani aku atau aku akan membongkar apa yang sebenarnya terjadi! Aku akan memberi tahu Alex kalau kau mendekatinya karena kau ingin hartanya!" ancam pria itu.
"Cuiiiihh. Aku tidak sudih tubuhku bersentuhan dengan pria kasar seperti dirimu. Kita putus!" Fiona berusaha melawan dengan cara mendorong pria yang ada di atas tubuhnya.
"Tidak semudah itu, Fiona!" Pria itu semakin bersemangat untuk memiliki Fiona. Ia mencengkram kuat kedua tangan Fiona dan memiliki wanita itu seutuhnya! Tidak peduli siap atau tidaknya wanita di bawahnya. Yang ada di pikiran pria itu hanya kepuasan.
"Lepaskan aku, BRAMM!"
***
__ADS_1
Alex tiba di rumah dan segera naik ke lantai atas. Pria itu merasa sedikit lega karena melihat orang di rumah sudah banyak yang tidur. Termasuk Greta. Dengan langkah yang hati-hati Alex masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar secara perlahan agar Lara tidak terbangun.
Langkah Alex terhenti ketika melihat Lara berbaring di karpet bulu dengan tubuh berbalut lingerie. Kali ini pria itu tidak bisa menahan tawanya. Tawanya pecah hingga membuat Lara terbangun dari tidur lelapnya.
"Kak Alex sudah pulang?" tanya Lara. Ia menatap wajah Alex dan mengeryitkan dahi. Lara masih bim sadar kalau Alex kini sedang menertawakan penampilannya.
"Kenapa kau memakai pakaian seperti itu?" tanya Alex ingin tahu. "Kau terlihat seperti paus yang terdampar di pesisir pantai, Lara!"
Lara menunduk malu. Ia tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini dari Alex. Sangat jauh dari apa yang ia harapkan.
"Lara, berdirilah," pinta Alex.
"Untuk apa kak?" tanya Lara.
"Cepat berdiri!"
Lara yang tidak mau banyak protes segera berdiri. Wanita itu terlihat bingung ketika Alex mengambil ponselnya dari saku. Tiba-tiba saja Alex mengambil foto Lara dan tertawa sejadi-jadinya.
"Aku ingin membahagiakan kebahagiaanku kepada semua temanku di sosmed," ujar Alex.
"Kak, jangan. Lara malu," lirih Lara dengan wajah memohon. "Lara hanya ingin terlihat seksi seperti Fiona."
"Apa kau bilang? Kau malu? Kenapa kau menggunakan pakaian seperti ini? Sampai kapanpun kau tidak akan bisa secantik Fiona!"
"Lara melakukan semua ini agar Kak Alex senang," jawab Lara. "Lara tidak mau Kak Alex dekat-dekat dengan Fiona."
"Benarkah?" Alex terlihat serius.
"Ya, Kak," jawab Lara penuh harap.
"Lara, kemarilah. Sepertinya bibirmu kurang merah." Alex mengambil lipstik di atas meja rias. Ia mendekati Lara dengan tatapan penuh arti. Lara sama sekali tidak curiga. Ia mendekat dan menunggu apa yang ingin dilakukan Alex terhadapnya. Tidak di sangka, pria itu justru mencoret-coret wajah Lara dengan listrik. Ia semakin tertawa melihat muka Lara dipenuhi coretan lipstik.
"Ini baru menyenangkanku! Kau telah berhasil menyenangkanku Lara. Kau bahkan jauh lebih lucu dari badut!" Alex melanjutkan tawanya. "Kau dan Fiona ibarat langit dan bumi. Tidak akan pernah bisa sama Lara! Fiona cantik seperti bidadari, sedangkan kau seperti gajah Afrika!"
"Kak Alex keterlaluan!" teriak Lara. Ia mengambil selimut dan membungkus tubuhnya sebelum berlari keluar kamar. Tidak lupa Lara membanting pintu untuk melampiaskan rasa kesalnya terhadap Alex.
__ADS_1
Di kamar Alex berhasil menahan tawanya. "Ternyata dia bisa marah juga?" gumam Alex di dalam hati. Ia kembali melihat foto Lara di ponselnya. "Wanita yang aneh! Bisa-bisanya dia berpikir untuk menggodaku dengan pakaian seperti ini."