
Lara memandang wajah Fiona seolah memberi peringatan agar tidak perlu mengadu. Wanita itu memainkan ponselnya agar Fiona ingat dengan ancaman yang baru saja ia katakan beberapa saat yang lalu.
Alex yang mulai geram terlihat tidak sabar karena Lara tidak juga menjawab pertanyaannya. "Lara! Apa yang kau lakukan di kamar ini? Kau ingin mencelakai Fiona lagi?" tuduh Alex.
"Kak, seharusnya aku yang tanya. Kenapa Kak Alex bisa ada di kamar ini? Bukankah ini kamar wanita. Kakak datang sendirian lagi. Kakak mau berduaan sama Fiona di kamar ini?"
Skak mat
Alex terdiam mendengar jawaban Lara. Pria itu mulai kebingungan mencari-cari alasan agar Lara tidak curiga dengannya.
"Aku mencarimu," dusta Alex. "Kau menghilang."
Lara menaikan satu alisnya. Sebenarnya ia sangat senang bisa mendapat perhatian Alex seperti itu. Bahkan secara terang-terangan Alex mengatakan hal itu di depan Fiona. Tetapi, ada rasa curiga di dalam hatinya. Lara berpikir kalau itu hanya alasan Alex saja. Sebenarnya pria itu ingin menemui Fiona di kamar ini.
"Kak Alex mencari Lara?" tanya Lara untuk kembali memastikan.
Alex memandang Fiona sebelum memandang Lara lagi. "Ya. Terus, apa yang kau lakukan di kamar ini?"
"Aku ingin minta maaf sama Fiona," jawab Lara. Ia melempar tatapan penuh arti kepada Fiona. "Dan Fiona sudah memaafkanku. Sepertinya tidak ada masalah lagi di antara kami. Bukankah begitu, Fiona?"
Fiona mengangguk pelan. "Ya. Kami sudah berteman," jawab Fiona.
"Oh ya kak, tadi Fiona juga sempat bilang. Dia sudah ada janji dengan rekan kerjanya. Jadi, dia harus segera pulang," sambung Lara lagi.
Kali ini Alex tidak lagi percaya dengan apa yang dikatakan Lara. Pria itu tahu, kalau Fiona bukan wanita karir. Tentu saja tidak ada rekan kerja yang ingin ditemui wanita itu.
__ADS_1
"Lara, kembali ke kamar!" pinta Alex.
"Baiklah, tapi Kak Alex harus ikut denganku." Lara berjalan mendekati Alex. Wanita itu memandang wajah Fiona sekilas sebelum keluar dari kamar. Sedangkan Alex, ia segera mengikuti Lara tanpa mau mengatakan apapun lagi.
Fiona mengepal kuat tangannya. Rencananya untuk merayu Alex kandas sudah. Kini ia merasa sangat dirugikan. "Lara, awas saja kau! Aku pasti akan membalas perbuatanmu!"
Lara tiba-tiba berhenti sebelum menaiki tangga. Hal itu membuat Alex juga ikut berhenti. Pria itu menatap wajah Lara dengan tatapan protes.
"Ada apa?"
"Kak Alex gak makan siang?" tanya Lara sambil memegang perutnya yang mulai lapar.
"Tidak. Aku ingin tidur," sahut Alex. Pria itu berjalan lebih dulu menaiki tangga. Sedangkan Lara, hanya diam mematung dengan perasaan campur aduk.
"Bagaimana ini?" gumamnya di dalam hati. Ia memandang ke atas melihat Alex yang sudah hampir sampai di lantai atas. "Aku ikut tidur siang saja dengan Kak Alex," ucapnya sebelum melangkah lagi menaiki tangga.
Setibanya di dalam kamar, Alex mengambil ponselnya untuk mengirim pesan ke Fiona. Namun, wanita itu sudah lebih dulu mengirim pesan ke ponselnya.
"Aku tunggu di mobil satu jam lagi. Aku tidak mau mendengar alasan apapun!" ancam Fiona melalui pesan singkatnya. Alex segera meletakkan ponselnya setelah Lara tiba di dalam kamar.
"Kak Alex, kenapa belum tidur?" tanya Lara curiga. Ia tahu kalau Alex baru saja memegang ponsel karena layar ponselnya masih menyala.
"Aku memang mau tidur," dusta Alex. Ia segera berbaring dan mengatur posisi nyamannya.
Lara melangkah ke karpet yang menjadi tempat tidurnya selama ini. Wanita itu mengambil bantal dan tidur miring. Walau terkadang ingin menangis membayangkan nasipnya bisa sampai seperti ini, tetapi Lara berusaha tegar. Ia selalu berharap kalau semua pengorbanan ini akan terbayar pada suatu hari nanti.
__ADS_1
Alex memejamkan matanya seperti orang yang sedang tidur. Saat sudah hampir satu jam, pria itu beranjak dari ranjang. Ia memandang Lara untuk memastikan wanita itu sudah tidur atau belum. Bibirnya tersenyum melihat Lara tertidur dengan pulas.
"Apa dia pikir dia lebih pintar dariku?" umpat Alex di dalam hati. Ia mengambil jaket dan kunci mobil di laci dengan hati-hati. Alex pergi meninggalkan kamar untuk mengantarkan Fiona pulang ke rumahnya.
...***...
Lara terbangun saat langit sudah sore. Perutnya terasa sakit sekali karena dia belum ada makan siang sejak tadi. Lara segera melihat ke arah tempat tidur. Melihat Alex tidak ada di sana membuatnya menggeram.
"Kenapa aku sampai tidak sadar kalau Kak Alex sudah tidak ada di kamar ini? Dia pasti pergi diam-diam untuk mengantarkan wanita itu pulang," gumam Lara di dalam hati. "Sedikit saja. Kenapa kak Alex tidak bisa menghargai perasaanku sedikit saja? Aku juga ingin di pandang sebagai istri. Aku ingin Kak Alex tergila-gila padaku."
Lara duduk bersandar dengan wajah sedih. Wanita itu melamun sambil membayangkan masa-masa indahnya ketika orang tuanya masih hidup dulu. Hanya kedua orang tuanya yang tidak pernah mempermasalahkan berat badan Lara. Sisanya selalu saja menjadikan berat badan Lara sebagai bahan lelucon.
"Aku tidak mau makan. Aku mau kurus seperti Fiona. Aku akan melakukan apapun yang bisa membuat Kak Alex tertarik padaku," gumam Lara di dalam hati.
Waktu terus berlalu. Hingga malam sudah menunjukkan pukul 9. Alex belum juga kembali pulang. Sedangkan Lara setelah mandi kembali duduk di karpet. Ia tidak ada keluar kamar untuk makan. Wanita itu bertekad untuk menurunkan berat badannya.
"Aku lapar sekali," rintih Lara. Ia memegang perutnya dan meminum air putih yang sudah ia sediakan sejak tadi siang. Walau tidak bisa menghilangkan lapar, setidaknya air putih itu membuat perutnya terasa sedikit penuh.
Lara teringat dengan lingerie yang sempat ia beli di mall waktu itu. Setelah beli lingerie itu, Lara tidak pernah memeriksanya ataupun mencobanya. Tadinya Lara malu menggunakan pakaian seperti itu karena tubuhnya dipenuhi banyak lemak.
Tapi sekarang, ia tidak mau kalah dengan Fiona. Ia juga ingin mendapat perhatian dari Alex.
Lara berjalan ke arah lemari tempat lingerie itu di simpan. Ia mengambil paper bag dan mengeluarkan lingerie berukuran 6XL berwarna hitam. Pemilik toko merekomendasikan lingerie ini untuk Lara. Bukan hanya Lara saja yang berkeinginan untuk mencobanya. Ada banyak wanita berbadan besar di luar sana yang sudah membeli dan mencobanya. Bedanya wanita-wanita lain di dukung oleh suaminya. Sedangkan Lara, tidak tahu bagaimana reaksi Alex nanti ketika melihatnya memakai pakaian seperti ini.
"Semoga saja Kak Alex bisa tertarik padaku," ucap Lara penuh harap. Ia segera mengambil lingerie itu dan memakainya. Lara ingin sebelum Alex tiba, ia sudah berpenampilan seksi dan menggoda.
__ADS_1