Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 92. Maafkan Aku


__ADS_3

"Tidak!" tolak Fabio. "Apapun alasannya. Aku tetap tidak mengizinkanmu keluar dari mansion ini."


"Kak Bi ... tapi ...."


"Tidak ada tapi-tapian, Chubby!" Fabio membungkuk dan mendekati wajah Lara. Satu tangannya ia angkat untuk mengusap pipi Lara. "Apa kau ingin Alex Moritz datang di pernikahan kita nanti? Jika memang itu yang kau inginkan, aku akan buat Alex Moritz datang ke pernikahan kita nanti. Tapi jangan tanya, bagaimana keadaan dia datang nanti," bisik Fabio dengan mesra. Pria itu tersenyum hingga membuat Lara menjadi salah tingkah. Wajah wanita itu sampai memerah. Ia memalingkan wajahnya ke samping.


"Aku tidak mau menikah dengan Kak Bi kalau hari ini tidak diijinkan keluar," jawab Lara.


Fabio berdiri tegak. Pria itu berusaha sabar agar tidak terpancing emosi. Walter yang sudah paham dengan suasana hati Fabio saat ini berusaha untuk ikut membujuk Lara agar tidak semakin keras kepala.


"Nona, sebaiknya anda di mansion saja sampai keadaan benar-benar aman," ucap Walter.


"Bagaimana dengan Greta?"


"Biar aku yang memeriksa sendiri ke tempat itu. Jika memang Greta ada di sana, aku akan membawa wanita itu ke mansion ini. Sekarang, apa kau puas?"


"Aku tetap mau memeriksa tempat itu. Jika Kak Bi tidak mau menemaniku, aku akan pergi sendiri!" Lara memutar tubuhnya.

__ADS_1


"Pergilah Lara. Jika kau pergi meninggalkanku dari mansion ini, itu berarti kau tidak akan pernah kembali lagi."


Walter dan Lara sama-sama kaget mendengar ancaman Fabio. Ancaman pria itu bukan hal yang bisa dibuat candaan. Ada keseriusan dan harapan di dalam kalimat pria itu.


Lara mematung dan diam membisu karena tidak tahu harus bicara apa lagi. Ia juga mulai takut karena kini wajah Fabio terlihat menyeramkan. Pria itu sedang menahan emosinya agar tidak melukai hati Lara. Rahang di wajahnya mengeras. Walau sudah berulang kali melihat ekspresi wajah Fabio yang seperti itu. Tetap saja Lara selalu merasa takut.


"Terserah Kak Bi saja," ucap Lara sebelum berlari ke kamar. Wanita itu tidak mau memohon lagi karena baginya sangat percuma. Dia sendiri juga tidak mau sampai pergi meninggalkan Fabio untuk selama-lamanya. Hanya Fabio yang ia miliki saat ini.


Fabio memandang punggung Lara sebelum mendengus kesal. "Kenapa dia mudah sekali marah? Dia wanita yang keras kepala!"


"Dan anda bisa mengelola emosi anda ketika bersama dengan Nona Lara, Bos," sahut Walter.


"Anda mau ke tempat itu sekarang, Bos?"


"Ya. Aku ingin memastikan sendiri. Sebenarnya jebakan apa yang sudah dipersiapkan Alex Moritz." Fabio memutar tubuhnya berjalan menuju ke pintu.


"Mereka yang berdebat aku yang jantungan. Apa yang akan terjadi jika tadi Nona Lara nekad untuk pergi?" batin Walter. Ia segera mengikuti Fabio dari belakang. Pria itu tidak akan pernah membiarkan bos nya pergi sendirian.

__ADS_1


...***...


Lara menjatuhkan tubuhnya dia atas tempat tidur. Wajahnya masih terlihat kesal karena Fabio tidak mengizinkannya memeriksa sendiri keadaan Greta. Ia ingin sekali memastikan keadaan Greta. Lara masih berpikiran kalau Fabio tidak mengizinkannya keluar bukan karena bahaya. Tetapi karena pria itu cemburu karena Lara menolong adik dari mantan suaminya.


"Kak Bi ... kenapa dia mengancamku seperti tadi? Apa benar ini hanya jebakan? Cara tahunya kalau ini semua jebakan bagaimana?"


Lara mengambil ponselnya lagi. Kali ini ia mencoba untuk mengirim pesan lagi dan bertanya bagaimana kabar Greta. Dalam hitungan detik saja pesan itu di balas. Lara segera duduk dengan wajah yang serius.


_Kak Lara, maafkan aku. Sepertinya kita tidak bisa bertemu lagi. Di dunia yang berbeda, kita akan bersatu menjadi satu keluarga yang utuh. Greta sayang Kak Lara._


"Greta? Apa yang terjadi dengannya? Apa Kak Alex sudah berhasil menangkapnya?"


Lara ingin menekan nomor Walter. Wanita itu mau mengatakan pesan terakhir Greta yang masuk ke dalam ponselnya. Belum sempat Lara menekan nomor Walter, tiba-tiba sudah masuk panggilan dari nomor yang tidak dikenali. Lara segera mengangkat panggilan masuk tersebut.


"Kak Alex, lepaskan Greta. Lepaskan Greta, Kak!" Hanya teriakan seperti itu yang di dengar Lara.


"Greta, Greta apa kau baik-baik saja? Greta? Jawab teleponku," ucap Lara semakin tidak karuan. "Bagaimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan? Kak Bi ... semoga Kak Bi bisa menolong Greta. Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu terhadap Greta."

__ADS_1


Hai reader ... ini ada rekomendasi Novel teman author ya. Semoga suka.❤️



__ADS_2