
Alex baru saja tiba. Pria itu segera masuk ke dalam rumah untuk menemui Tuan Moritz. Selama perjalanan tadi, hatinya tidak bisa tenang. Ia masih tidak habis pikir, kenapa Papanya tega memblokir semua kartu yang ia miliki. Bahkan mau menarik cash saja tidak bisa lagi.
Saat tiba di depan pintu, Alex berpapasan dengan Greta. Wanita itu mengukir senyuman melihat Alex tiba dengan wajah murung. Greta tahu, apa yang menyebabkan kakaknya murung seperti itu.
"Kak Alex marah karena kartunya di blokir ya?" ledek Greta. Kelakuan Greta memang seperti itu. Ia suka sekali meledek kakaknya jika berada dalam kesulitan. Wanita itu tidak pernah menyangka, kalau kali ini emosi Alex sedang tidak stabil. Alex benar-benar marah atas perlakuan Tuan Moritz.
"Kau tahu soal ini?" Alex menatap wajah Greta dengan amarah tertahan. "Katakan padaku. Apa yang membuat Papa memblokir kartuku?"
"Itu karena Kak Lara. Dia tadi melihat kakak dan kak Fiona bermesraan di kantor. Aku juga kaget saat mendengar-"
Belum sempat Greta menyelesaikan kalimatnya. Alex sudah keburu masuk ke dalam. Pria itu semakin marah ketika tahu dalang dari semua ini adalah Lara. Greta sendiri memegang mulutnya dengan wajah bersalah. Ia takut, karena penjelasan yang ia ucapkan nantinya akan berdampak buruk bagi Lara.
"Gawat!"
Alex melangkah dengan gusar. Ia berhenti ketika tiba di ruang tengah. Napasnya memburu cepat karena emosi yang tertahan di dalam hati.
"LARA!" teriak Alex. Suaranya menggelegar hingga membuat semua pekerja yang ada di sana memilih untuk menghindar. Belum pernah mereka melihat Alex semarah ini.
Lara yang kebetulan masih ada di dapur segera menemui Alex. Mendengar teriakkan Alex, Tuan dan Ny. Moritz yang ada di kamar juga keluar untuk menemui Alex. Begitu juga dengan Greta. Ia kembali masuk ke dalam rumah. Padahal tadinya ia ingin pergi keluar untuk jalan-jalan.
"Kak Alex," ucap Lara. Sebenarnya ia masih belum sanggup menatap wajah Alex seperti ini. Hatinya masih sakit.
Alex berjalan mendekati Lara dan ....
__ADS_1
PLAAKKK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Lara. Telapak tangan Alex sampai menyisakan bekas kemerahan di pipi Lara yang putih. Hal itu membuat Lara kaget bukan main. Rasa sakit di pipinya tidak terasa lagi karena kini hatinya jauh lebih perih. Ia sampai membisu karena tidak tahu harus berkata apa lagi. Perlakuan Alex hari ini benar-benar sangat menyakiti hatinya.
"ALEX!" teriak Tuan Moritz. Pria itu melihat jelas apa yang baru saja dilakukan oleh Alex terhadap Lara. Ia tidak terima. Bagaimanapun juga, saat ini Lara adalah menantu yang sangat ia sayangi.
"Pa. Jangan ikut campur, Pa. Aku hanya ingin mendidik istriku agar tidak tahu diri ini!" sahut Alex tanpa memandang. Ia lagi-lagi melempar tatapan menikam ke arah Lara. "Kau puas, Lara? Kau puas melihat semua ini? Atau memang ini yang kau harapkan? Kau ingin membuat hubungan orang tua dan anaknya menjadi renggang! Kau wanita yang lancang, Lara!"
"Lancang kau bilang?" Tuan Moritz berjalan mendekati Alex. "Kau yang lancang! Berani sekali kau membawa wanita kotor itu ke kantor papa. Ingat Alex! Kau tidak punya apa-apa selain tubuhmu sendiri. Semua kekayaan yang kau miliki masih milik papa!"
"Papa selalu membahas hal itu. Apa aku bukan anak kandung papa? Apa aku ini anak angkat yang di pungut dari tong sampah? Papa selalu memaksa kehendak papa. Tidak pernah memikirkan perasaan Alex, Pa. Seharusnya papa sudah tahu sejak awal. Alex tidak pernah mencintai dan tidak akan pernah mencintai Lara. Satu-satunya wanita yang Alex cintai hanya Fiona. Fiona, Pa! Bukan wanita pembawa sial ini!"
"Tapi wanita itu tidak pernah mencintaimu!" jawab Tuan Moritz.
Alex tersenyum tipis. "Semua hanya kebohongan yang sengaja papa buat. Sejak awal memang papa tidak pernah merestui hubungan kami! Padahal papa tahu sendiri. Kalau hanya Fiona yang bisa membuat Alex bahagia!"
"Lara wanita yang baik. Hanya dia yang pantas menjadi istrimu!" teriak Tuan Alex. "Fiona itu wanita murahan. Kau harus tahu, kalau bukan hanya kau saja pria yang bersama dengannya. Dia bersamamu karena kau kaya. Jika kau tidak memiliki apa-apa, dia pasti akan meninggalkanmu sejak dulu."
"Lara hanya wanita pembawa sial dalam hidupku! Jika aku bisa memilih! Aku rela tidak menikah seumur hidupku daripada harus menikah dengan wanita jelek seperti dia!" tunjuk Alex ke arah Lara.
Deg.
Jantung Lara seakan berhenti berdetak. Napasnya sesak. Tubuhnya gemetar. Kedua matanya mulai perih. Genangan air mata telah siap menetes. Perkataan Alex telah membuat harga dirinya hilang. Kini Lara merasa tidak pantas ada di rumah itu lagi. Pria yang telah menikahinya telah menganggapnya sebagai wanita pembawa sial.
__ADS_1
"Alex! Berani sekali kau mengatakan kalimat seperti itu di depan Lara!" sahut Tuan Moritz tidak terima.
"Bukan hanya itu Pa. masih ada satu kalimat yang harus papa dengar." Alex memandang wajah Lara dengan sorot mata yang tajam. "Aku ingin kami bercerai!"
Lara memejamkan matanya. Bersamaan dengan itu, buliran air mata jatuh membasahi wajah. Lara tidak sanggup membela dirinya lagi. Walau memang terdengar sangat sakit. Tetapi ia sudah pasrah.
"Alex, kau." Tuan Moritz memegang dadanya. Pria itu seperti orang kesakitan.
"Papa!" Ny. Moritz dan Greta segera berlari mendekati Tuan Moritz. Sedangkan Alex hanya berdiri di tempatnya. Ia masih marah hingga tidak mau menolong ayah kandungnya yang sudah jelas-jelas kesakitan.
"Alex, bawa papa ke rumah sakit!" lirih Ny. Moritz.
"Untuk apa aku menolong pria yang tidak pernah menghargai perasaanku, Ma!" Alex memutuskan pergi meninggalkan rumah.
"Alex!" teriak Ny. Moritz.
Lara berjalan mendekati Tuan Moritz untuk menolong. Namun, Ny. Moritz mendorong tubuh Lara hingga ia terjatuh.
"Pergi kau! Dasar wanita pembawa sial. Jika kau tidak pernah ada di rumah ini. Semua ini tidak akan pernah terjadi."
"Ma, udah!" ucap Greta. Ia memandang kasihan ke arah Lara sebelum berteriak minta tolong. Para pekerja yang ada di rumah itu segera berlari untuk menolong Tuan Moritz. Mereka segera membawa Tuan Moritz ke rumah sakit.
Lara sendiri naik taksi dan mengikuti mobil yang membawa Tuan Moritz dari belakang. Walau tadi ia sempat di usir, tetapi ia tidak akan bisa tenang sebelum melihat mertuanya baik-baik saja.
__ADS_1
"Pa, maafkan Lara. Jika papa sembuh, Lara akan pergi dari rumah ini secara diam-diam, Pa," gumam Lara di dalam hati. "Mungkin memang ini yang terbaik."