Unperfect Wife

Unperfect Wife
Pagi penuh Cinta


__ADS_3

Pagi yang indah. Lara terbangun dengan tubuh tertutup selimut. Wanita itu mengukir senyum ketika melihat Fabio duduk di sofa yang ada di dekat tempat tidur. Pria itu memperhatikan wajah Lara dengan tatapan yang menyedihkan.


"Ada apa Kak Bi?" tanya Lara. Ia duduk di atas tempat tidur dan masih memeluk selimut karena kini wanita itu hanya mengenakan pakaian dalam saja.


"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal?" Fabio beranjak dari sofa. Ia duduk di dekat Lara dan memegang tangan wanita itu. "Kenapa kau tidak bilang kalau kau masih perawan, Chubby?"


Lara mematung untuk beberapa saat. Namun, ada senyum manis di bibirnya setelah itu. "Aku mau mengatakannya tapi Kak Bi melarangku bicara tentang masa lalu. Bukankah itu bagian dari masa lalu? Bagaimana dengan hadiah yang aku berikan? Apa Kak Bi suka?"


Fabio menarik Lara dan memeluknya. "Dasar bodoh! Hadiah yang kau berikan tidak ternilai harganya. Mahkota itu masih tidak ada apa-apanya.Terima kasih sayang. Terima kasih." Fabio mengecup Lara hingga berulang kali. Pria itu sangat-sangat senang ketika tahu kalau Lara masih perawan. "Aku tidak bisa tidur semalaman setelah melihat darah di seprei itu."


"Aku bahagia bisa menyerahkannya kepada Kak Bi. Kak Bi suamiku. Pria yang sangat mencintaiku," jawab Lara.


"Ayo kita sarapan." Fabio mengusap pipi Lara. Ia mengambil kimono yang tergeletak di ujung tempat tidur. "Pakai ini sebelum sarapan. Aku sudah meminta koki menyiapkan sarapan untukmu, Chubby."


Lara memandang menu sarapan yang sudah tertata rapi di atas meja. "Kapan mereka masuk? Apa mereka melihatku tidur?"


"Mereka memang masuk ke kamar ini. Tapi, aku pastikan tidak ada satupun yang berani melirik istriku yang sedang tidur."


Lara tersenyum bahagia. Ia segera memakai kimono itu dan turun dari tempat tidur. Di temani Fabio, ia melangkah menuju ke sofa.

__ADS_1


"Kak Bi, aku mau cuci muka dulu."


Fabio mengangguk. "Aku tunggu di sini."


Lara beranjak dari sofa dan melangkah menuju ke kamar mandi. Fabio hanya diam memandang punggung Lara. Masih terbayang jelas wajah syok pria itu ketika dia tahu kalau istrinya masih perawan.


"Fabio, apa yang kau lakukan? Dia masih perawan dan kau memperlakukannya ...." Fabio mengusap kasar wajahnya sendiri. "Aku memang suami tidak berguna!"


Di dalam kamar mandi, Lara tersenyum bahagia. Wajahnya secerah matahari yang kini menyinari dunia. Ia memandang wajahnya dari pantulan cermin. Sebelum keluar bertemu dengan Fabio, ia ingin memastikan kalau wajahnya sudah bersih dan napasnya sudah wangi.


"Hari pertama menjadi istri Kak Bi sangat jauh berbeda dengan hari pertama ketika ...."


"Bye bye masa lalu," ucap Lara sebelum memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan kamar mandi. Wanita itu kini ingin bermanja-manja dengan suaminya seperti apa yang selama ini ia impikan.


Fabio memandang Lara dan menepuk sisi sofa yang ada di sampingnya. Lara segera menjatuhkan tubuhnya di samping Fabio sebelum memberikan kecupan cinta di pipi kanan pria itu.


"Aku mencintaimu," bisiknya mesra.


"Aku juga mencintaimu. Sekarang ayo kita sarapan," ajak Fabio.

__ADS_1


Lara memandang menu yang ada dihadapannya. Wanita itu mengelus perutnya yang keroncongan. Namun, ia taku jika makan terlalu banyak bisa kembali gemuk seperti dulu lagi. Ia juga takut kalau Fabio akan meninggalkannya.


"Ada apa? Apa makanannya tidak enak?" tanya Fabio bingung.


"Aku makan salad saja." Lara mengambil salad buah dan sayur yang ada di meja. Ketika ingin memasukkan salad itu ke dalam mulut, tiba-tiba Fabio menarik salad itu dan menjauhkannya.


"Kau takut gemuk?"


Lara memandang salad itu sebelum memandang Fabio. "Tubuhku seperti monster. Aku tidak mau seperti itu lagi," jawab Lara.


"Makan roti ini. Lupakan soal monster. Kau sudah banyak mengeluarkan energi tadi malam. Aku tidak mau istriku sampai jatuh sakit," pinta Fabio sebelum pria itu melahap rotinya.


"Kalau aku gemuk apa Kak Bi masih cinta?"


Fabio mengangguk cepat. "Ya. Tentu saja. Cintaku bukan karena fisik. Tapi, karena memang aku sudah jatuh cinta padamu, Chubby."


"Terima kasih suamiku," ucap Lara. Wanita itu memeluk Fabio dengan begitu erat sebelum mengecup pipinya lagi. "Sayang suami."


Fabio tertawa mendengar ungkapan sayang Lara. Ia membalas kecupan Lara sebelum mengucapkan sebuah kalimat. "Sayang istri."

__ADS_1


Lara terkekeh geli mendengar jawaban Fabio. Bos Mafia itu tidak lagi terlihat menyeramkan di mata Lara. Kini Fabio adalah suaminya. Pria yang sangat ia sayangi dan sangat ia cintai.


__ADS_2