Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 7. Menantu Keluarga Moritz


__ADS_3

Suasana di meja makan terlihat tenang awalnya. Ny. Moritz bercanda tawa bersama Greta saat membahas sesuatu. Sesekali Alex ikut berbaur dalam obrolan mama dan adiknya itu. Namun, canda tawa itu hilang ketika Lara telah tiba di meja makan. Suasana terasa sangat canggung. Ny. Moritz melanjutkan sarapan paginya. Wanita paruh baya itu tidak tertarik menyambut kedatangan menantunya apa lagi memandang wajahnya.


Lara masih berdiri dengan wajah bingung. Ia tidak tahu harus duduk di mana. Seharusnya dia duduk di samping Alex. Tapi di samping pria itu sudah ada ibu mertuanya. Memang di samping Greta kosong. Sayangnya, Greta terlihat enggan memberikan kursi di sampingnya untuk Lara. 


“Selamat pagi, Ma,” sapa Lara dengan senyuman.


“Pagi,” jawab Ny. Moritz malas. “Kau mau sarapan atau mau cuci piring?”


Lara diam sejenak sebelum menjawab pertanyaan mama mertuanya. “Apa Lara melakukan kesalahan, Ma?”


Ny. Moritz menghela napas kasar. “Pakaianmu Lara. Kau mau mencuci piring dengan pakaian seperti itu?”


Lara menunduk memperhatikan penampilannya. Celana model jimsuit berbahan dasar jeans dengan kaos tangan pendek di dalamnya. Sebenarnya hanya pakaian ini satu-satunya yang  bisa menyembunyikan postur tubuh Lara yang gemuk. Tapi, ia justru terlihat aneh di depan mertuanya pagi ini.


Alex terlihat tidak peduli. Justru pria itu menertawakan penampilan Lara. Sama seperti yang dilakukan oleh Greta dan Ny. Moritz. “Di mana Papa, Ma?” tanya Alex.


“Papa masih di kamar,” jawab Ny. Moritz.


“Kak Alex, apa Lara boleh duduk di sini?” tanya Lara dengan suara yang lembut.


“Lara, duduklah di samping Greta. Atau kau duduk di kursi itu?” tunjuk Ny. Moritz pada kursi kosong yang berada jauh dari mereka.


Greta memutar bola matanya dengan wajah tidak suka. Wanita itu melanjutkan kesibukannya di layar ponsel tanpa peduli dengan apa yang akan dilakukan Lara.


“Baik, Ma,” jawab Lara dengan senyuman. Ia menarik kursi yang ada di samping Greta dan duduk. Baru saja satu detik ia duduk kursi itu sudah jatuh. Salah satu kakinya patah. Hingga akhirnya membuat Lara terjatuh dan menjadi bahan tawa semua orang. Termasuk di antaranya Alex, Greta dan Ny. Moritz. Mereka tertawa puas seolah bahagia melihat Lara menderita.


Lara ikut tertaawa kecil walau sebenarnya kini ia merasa sangat malu. Lara berusaha bangkit. Sebelum bangkit ia melihat kursi tersebut. Kaki kursi itu bukan patah karena ia duduki. Tetapi patah karena memang ada yang sengaja melakukannya.

__ADS_1


“Apa mereka menjebakku? Tapi, siapa yang tega melakukan semua ini?” gumam Lara di dalam hati.


“Baru satu  hari sudah merusak satu kursi. Satu bulan tinggal di rumah ini, kau bisa membuat kerugian besar! Lara!” sindir Greta.


Lara memandang Alex. Walau ia tahu Alex tidak akan mungkin ada di pihaknya. Tapi, tidak tahu kenapa ia menyimpan harapan kalau Alex mau membelanya pagi ini. Apa lagi ini hari pertama mereka berstatus suami istri. Lara ingin sekali suaminya ada di depan dan melindunginya dari bullyan yang dilakukan oleh Ny. Moritz dan Greta.


“Kak Alex, sebaiknya kakak segera ke kantor. Kakak bisa terlambat,” ucap Greta.


Alex memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia beranjak dari kursi dan menatap wajah Lara seperti musuh yang ingin ia habisi. Namun, tiba-tiba saja Alex mengurungkan niatnya melangkah pergi. Ia kembali duduk di kursi hingga membuat Greta mengeryitkan dahi.


“Kak Alex, kenapa?” tanya Greta.


“Ada apa ini? Kenapa ramai sekali?” 


Semua orang membisu. Tuan Moritz berjalan cepat mendekati meja makan. Wajahnya terlihat bingung ketika melihat menantunya berdiri. Tidak duduk di kursi dan menyantap sarapan paginya seperti yang lain.


Lara menggeleng dengan senyuman. “Tidak, Pa. Jika saja Greta tidak memperingatiku tadi. Pasti aku akan terjatuh,” jawab Lara. Ia tidak mau mencari masalah pagi ini. Ia harus sabar dan bisa memenangkan hati semua orang.


“Apa benar seperti itu Greta?” tanya Tuan Moritz.


“Seperti yang papa dengar,” jawab Greta tanpa memandang.


Tuan Moritz tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia juga sangat tahu kalau anak dan istrinya tidak ada yang menyukai Lara. “Lara, duduklah. Pelayan akan mengatur makanannya agar pindah kemeja yang ada di hadapanmu,” ujar Tuan Moritz.


“Baik, Pa.”


Tuan Moritz duduk di kursi utama. Ia memandang wajah Alex dengan tatapan menuduh sebelum memulai sarapannya.

__ADS_1


“Pa, Alex mau berangkat,” pamit Alex.


“Duduklah. Tunggu sampai Lara selesai sarapan,” tolak Tuan Moritz. Ia lagi-lagi memandang wajah Lara. “Lara, makanlah. Kau boleh memakan apapun yang ada di meja ini.”


“Terima kasih, Pa. Tapi, kenapa Mama, Greta dan Kak Alex tidak makan lagi?” tanya Lara.


“Kami sudah kenyang!” ketus Ny. Moritz.


Lara membisu. Ia memutuskan untuk segera sarapan agar bisa mengantarkan suaminya ke depan rumah. Lara kaget bukan main melihat aneka makanan yang tersaji di hadapannya. Sejak tadi ia belum fokus karena terlalu grogi. 


“Makanan makanan. Kenapa kalian menggodaku? Yang mana yang harus aku makan? Aku harus menjaga harga diriku di depan keluarga suamiku,” gumam Lara di dalam hati.


Lara mengambil dua lembar roti dan selai nanas. Wanita itu memakan rotinya dengan hati-hati. Dari empat orang yang ada meja makan itu hanya Tuan Moritz yang mau memandang Lara dan melempar senyum kepada wanita itu. 


“Lara, kau hanya makan roti? Apa kau ingin diet?”


“Lara … Lara tidak terlalu lapar, Pa,” dusta Lara. Kebohongannya segera terbongkar ketika cacing di dalam perutnya demo. Tentu saja selembar roti tidak akan membuat Lara kenyang. Biasanya di rumah ia akan makan nasi goreng, setelahnya bubur ayam. Dan di tutup dengan memakan roti sobek satu bungkus. Itu juga kalau masih ada makanan sisa tadi malam yang masih bagus akan ia habiskan pagi harinya. 


Tuan Moritz tersenyum mendengar suara perut Lara. Cacing itu berteriak seperti pakai tolak hingga semua orang bisa dengar. “Lara, kalau belum kenyang makan saja. Kau boleh memakan apa yang kau suka. Jangan di tahan-tahan. Kita adalah keluarga. Papa tidak mau kau sakit hanya karena tidak kenyang sarapan pagi ini.”


“Sudahlah Pa. Jangan di paksa. Mungkin memang sudah kenyang,” sambung Ny. Moritz. Ia memandang pelayan yang berdiri tidak jauh dari meja makan. “Bereskan semuanya.” 


Lara menunduk dan memegang perutnya. “Untuk apa aku gengsi. Aku memang lapar. Bukankah aku harus memiliki tenaga ekstra agar bisa naik turun tangga?” gumam Lara di dalam hati.


“JANGAN! SAYA MASIH MAU MAKAN!,” teriak Lara. 


Like nya Ojo lali ya.🤗

__ADS_1


__ADS_2