
Lara bangun dari tidurnya dengan wajah tidak bersemangat. Ia duduk di tengah-tengah ranjang dengan kedua kaki terlipat. Rasanya ia masih tidak tenang sebelum mendapat maaf dari Fabio. Ekspresi wajah pria itu tadi malam membuat Lara terus kepikiran hingga tidur saja tidak nyenyak.
"Kak Bi ... apa dia masih marah padaku?" gumam Lara di dalam hati. Ia menatap ke arah jendela dan menghela napas panjang. "Hari ini aku harus pergi menemui Greta. Bagaimana caranya agar aku bisa mendapat izin dari Kak Bi? Pasti dia tidak mau bertemu denganku pagi ini."
Lara memandang ke arah pintu ketika mendengar suara seseorang mengetuk pintu. Ketika Lara mengizinkannya masuk, pintu itu segera terbuka. Dua pelayan wanita masuk ke dalam kamar sambil membawa sarapan pagi untuk Lara.
"Kenapa kalian mengantarkan sarapan ini ke kamar? Saya bisa turun ke bawah jika sudah lapar," protes Lara tidak setuju. Tadinya Lara ingin memanfaatkan momen sarapan pagi untuk meminta maaf Fabio. Tetapi kini justru sarapannya yang datang ke kamar.
"Nona, Tuan Fabio yang menyuruh kami melayani anda pagi ini."
"Kak Bi? Dimana dia sekarang?" Lara beranjak dari tempat tidur dan mendekati pelayan tersebut.
"Tuan Fabio sudah pergi sejak satu jam yang lalu, Nona. Tuan Fabio bilang agar kami mengantarkan sarapan ini jika anda tidak turun dan melewatkan jam sarapan," jawab pelayan itu sambil menata sarapan pagi Lara di atas meja.
Lara memandang ke arah jam. Ia menunduk tidak semangat ketika menyadari kalau memang jadwal sarapan sudah lewat sejak satu jam yang lalu. Rencananya untuk meminta maaf Fabio gagal sudah.
"Nona, Tuan Fabio memberikan ini kepada anda." Pelayan itu memberikan black card kepada Lara. Lara mengeryitkan dahi ketika pelayan itu memberikan kartu langkah itu kepadanya. Ekspresi wajahnya tidak percaya. Lara membolak-balik kartu tersebut sebelum memandang wajah pelayan di depannya.
"Untuk apa?"
"Maaf, Nona. Kami juga tidak tahu. Kami hanya menjalankan tugas. Kamu permisi, Nona." Pelayan itu segera pergi setelah selesai menata sarapan untuk Lara.
Lara duduk di sofa dan meletakkan kartu tersebut di meja. Ia mengambil sebuah surat yang ada di samping teh.
"Apa ini surat dari Kak Bi?" ucap Lara pelan. Ia membuka surat itu untuk membaca isi di dalamnya.
"Sorry, Chubby. Aku harap kau mau memaafkanku. Hari ini kau boleh membeli apapun yang kau inginkan dengan kartu ini. Semoga harimu menyenangkan."
"Kak Bi minta maaf?" celetuk Lara tidak percaya. "Bukankah aku yang salah?"
__ADS_1
Lara memandang black card itu lagi sebelum mengukir senyuman indah. "Aku gak butuh uang. Aku hanya ingin bertemu Kak Bi. Setelah dari rumah Greta, aku akan datang ke kantor Kak Bi untuk minta maaf. Bukannya Walter pernah memberi tahuku di mana letak kantor Kak Bi?" gumam Lara di dalam hati. Lara segera beranjak dari sofa untuk cuci muka dan menyikat gigi sebelum memulai sarapan pagi.
...***...
Beberapa saat kemudian.
Lara memberhentikan mobilnya di depan rumah yang pernah menyimpan kenangan indah. Masih melihat rumah itu saja sudah membuat kedua matanya berkaca-kaca. Lara segera turun dari mobil dan melangkah menuju ke pintu. Di tengah taman sederhana ia berdiri dan memperhatikan sekitarnya. Saat kecil di taman kecil itu Para sering menghabiskan hari-harinya. Tertawa bahagia bersama ayah dan ibu tercinta.
"Semua kenangan ini masih terbayang jelas di benakku. Aku senang bisa mendapatkan rumah ini lagi," gumam Lara di dalam hati. Ia mendekati pintu dan berdiri di depan sana. Lara mengangkat tangannya dan mengetuk pintu dengan cepat.
Tidak lama setelahnya, pintu terbuka lebar. Greta berdiri dengan setelan yang modis. Ya, walaupun kini Greta tinggal di rumah yang terbilang sederhana, tetapi tetap saja Greta selalu menjaga penampilannya.
"Kak Lara," teriak Greta kegirangan. Sudah sejak tadi ia menanti kedatangan Lara.
"Greta, bagaimana kabarmu? Kenapa matamu bengkak? Apa kau baru saja menangis?" tanya Lara dengan wajah khawatir.
"Kak," lirih Greta sebelum berhambur ke dalam pelukan Lara. "Kak, Kak Alex."
"Greta, ayo kita masuk." Lara membawa Greta masuk ke dalam. Mereka berdua duduk di sofa yang letaknya tidak jauh dari pintu masuk.
"Kak, semua ini salah papa."
Lara mengeryit. "Papa?" tanya Lara tidak percaya. Bagaimana bisa Lara menyalahkan orang yang sudah tidak ada di dunia ini lagi. Bahkan menuduhnya sebagai penyebab hilangnya Alex Moritz.
"Ya, kak." Greta memandang ke depan. "Sebenarnya papa yang sudah membuat Kak Alex menjadi pria jahat seperti sekarang. Suka menyakiti wanita."
"Greta, kakak masih tidak mengerti." Lara memegang tangan Greta. Ia menatap wanita itu dengan tatapan penuh harap. "Sebenarnya apa yang sudah dilakukan papa?"
"Kak, sejak dulu papa gak pernah nunjukin kalau dia sayang sama Kak Alex. Papa menghukum Kak Alex setiap kali Kak Alex melakukan kesalahan. Memaksa Kak Alex untuk melakukan apa yang dia inginkan. Sejak dulu tidak ada yang membela Kak Alex.
__ADS_1
Bahkan mama saja tidak peduli. Mama lebih sering berbelanja untuk menghabiskan uang papa tanpa peduli dengan kami anak-anaknya. Hingga akhirnya Kak Alex dewasa. Ia bertemu dengan Kak Fiona dan menganggap Kak Fiona seperti sosok malaikat. Kak Fiona memperlakukan Kak Alex seperti adik kecil yang wajib di sayangi. Dari sana kedekatan mereka di mulai. Karen Kak Alex menemukan apa yang selama ini tidak ia dapatkan dari kami keluarganya, maka dari itu ia memperlakukan Kak Fiona seperti seorang ratu.
Sayangnya, Kak Fiona gak pernah tulus mencintai Kak Alex. Semua karena harta. Karena sudah terlalu benci sama papa, Kak Alex tak percaya lagi dengan semua yang dikatakan papa. Termasuk saat papa bilang kalau Kak Fiona adalah wanita matre.
Greta yakin, kalau sejak kecil papa memberikan kesempatan kepada Kak Alex untuk memilih mana yang dia suka. Pasti Kak Alex gak akan menjadi seperti sekarang. Kak Alex orang yang baik Kak."
Greta memeluk Lara lagi. Sedangkan Lara hanya bisa mengusap rambut Greta dengan lembut. "Semua sudah terjadi. Tidak baik menyalahkan orang yang sudah tiada."
"Kak, bagaimana kabar Kak Alex? Apa dia baik-baik saja? Greta takut terjadi sesuatu sama Kak Alex," lirih Greta lagi dengan tangisan pilu.
"Kak Alex pasti akan baik-baik saja. Mungkin pria yang membawa Kak Alex adalah teman kerja Kak Alex di kantor," jawab Lara untuk membuat Greta kembali tenang.
"Gak, Kak. Mereka pasti orang jahat!"
"Sekarang apa yang harus aku lakukan? Kak Fabio akan semakin salah paham kalau aku bertanya soal keberadaan Kak Alex padanya. Tetapi, aku yakin orang yang sudah memukul Kak Alex malam itu adalah Walter," gumam Lara di dalam hati.
"Kak, apa kita lapor polisi aja ya?" tanya Greta sambil menghapus air matanya.
"Polisi?"
Greta mengangguk. "Greta pernah memiliki teman seorang polisi. Semoga saja dia bisa bantu Greta buat cari Kak Alex."
Lara diam sejenak sambil memikirkan keputusan yang akan ia ambil. "Sekarang?"
"Ya, kak. Ayo." Greta menarik tangan Lara. "Kak Lara bawa mobil?"
"Ya."
"Sini biar Greta yang bawa." Greta menarik tangan Lara keluar rumah. Wanita itu ingin segera menemukan keberadaan Kakan Kandungnya. Sedangkan Lara justru terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Sekarang apa yang harus aku lakukan?"