Unperfect Wife

Unperfect Wife
Penuh Cinta


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju ke mall, Walter di buat geleng-geleng kepala atas ulah Lara dan Fabio. Sebenarnya mereka tidak melakukan hal apapun. Namun, setiap obrolan yang sampai ke telinga Walter terkesan berlebihan. Walter sama sekali tidak menyangka kalau Bos Fabio yang selama ini terlihat kejam kini berubah menjadi kucing manis yang menggemaskan. Pria itu tidak lagi terlihat seperti seorang bos mafia.


"Kak Bi, apa itu?" tanya Lara sambil menunjuk ke luar jendela.


"Apa yang kau lihat?" Fabio memandang ke arah yang di tunjuk oleh Lara. Satu hal yang sama sekali tidak terduga. Lara mendaratkan kecupan cinta di pipi Fabio sebelum tersipu malu. Ternyata dia hanya sekedar menjebak saja agar wajah Fabio dekat dengan wajahnya.


Fabio mematung dan mengernyitkan dahinya. Kedua matanya menyipit sebelum Fabio mencubit pipi Lara dengan gemas.


"Chubby ...."


Walter menjadi tidak fokus dengan laju mobilnya. Hingga ketika ada orang yang menyeberang pria itu segera menginjak remnya secara mendadak. Fabio cepat-cepat berpegang dan menahan tubuh Lara agar tidak terjatuh. Bahkan pria itu juga sudah meletakkan tangannya di kepala Lara agar tidak terbentur.


"WALTER!" umpat Fabio.

__ADS_1


"Maaf, Bos," sahut Walter cepat. Pria itu memandang lampu jalan yang kini berwarna merah. Ia menghela napas panjang sebelum keluar dari mobil.


Lara dan Fabio juga memandang ke depan. Mereka tidak melihat apapun di depan sana. Satu-satunya hal yang kini memenuhi kepala mereka adalah Walter telah menabrak seseorang.


"Kak Bi, apa yang terjadi?"


"Biar aku periksa," ucap Fabio sebelum turun juga dari mobil. Lara memutuskan untuk berdiam diri di dalam mobil.


Walter berjongkok memandang wanita yang kini duduk di jalan sambil memegang lututnya yang berdarah. Ia meringis kesakitan tanpa peduli dengan hadirnya Walter.


"Kalau iya, kenapa?" sahut Walter.


Fabio berdiri di samping mobil. Setelah memastikan tidak ada masalah serius di sana, ia cepat-cepat kembali masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Si wanita memandang Walter. Ia mematung melihat wajah tampan Walter hingga lupa dengan sakit yang ia derita. Penampilan wanita itu cukup membuat Walter tertarik. Bagaimana tidak. Semua barang yang dikenakan wanita itu berwarna pink.


"Anda pria yang sudah menabrak saya?" tanya wanita tersebut.


"Hemm," jawab Walter malas. Ia mengambil sejumlah uang dan sebuah kartu nama lalu memberikannya kepada wanita tersebut. "Kau bisa berobat ke rumah sakit. Aku tidak bisa mengantarkannya. Jika kurang, kau bisa menghubungi nomorku yang tertera di kartu."


Wanita itu mengangguk sambil tersenyum. Ia masih belum sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ketampanan Walter membuatnya kagum dan mematung.


Walter segera berdiri dan masuk ke dalam mobil. Ia memundurkan mobilnya sebelum pergi dari sana. Si wanita masih tersenyum sambil membayangkan wajah Walter. Suara klakson yang begitu memekakkan membuat ia tersadar.


"Hei, wanita gila! Menyingkirlah!" umpat supir mobil lainnya.


Wanita itu memandang ke kanan dan ke kiri seperti orang bingung. Ia cepat-cepat berdiri untuk menyingkir. Dengan kaki tertatih-tatih dia berjalan ke pinggiran jalan.

__ADS_1


"Kenapa aku membiarkan pria itu pergi begitu saja?" Ia membaca kartu nama yang ada di tangannya. "Walter? Apa namanya Walter?"


...***...


__ADS_2