
Lara mematung mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Fabio. Jangankan sampai memilikinya. Bisa melihat dan menyentuh barang antik itu saja sudah membuat Lara sangat bersyukur. Kini ketika mahkota itu berada di atas kepalanya, bahkan menggerakkan kepalanya saja Lara tidak berani. Dia takut mahkota itu jatuh dan rusak.
"Kak Bi, ini tidak lucu. Turunkan mahkota ini dari kepalaku. Aku takut mahkotanya jatuh dan rusak," protes Lara.
"Tidak ada yang lucu. Mahkota ini milikmu. Kau ratu di rumah ini Chubby ... kau istriku. Ini hadiah dariku karena kau sudah mau menikah denganku," jawab Fabio dengan wajah yang sungguh-sungguh. Lara sendiri sampai terharu mendengarnya. Dihargai dan diposisikan sebagai seorang ratu oleh suami sendiri adalah impian Lara sejak dulu. Ini impiannya. Bersama Fabio ia bisa merasakan mimpinya menjadi nyata.
"Kenapa kau menangis? Apa aku menyakitimu?" Fabio mengusap pipi Lara yang basah karena terkena buliran air mata.
"Terima kasih kak. Terima kasih karena Kak Bi mau memperlakukan Lara seistimewa ini. Tapi, apakah Kak Bi bisa menurunkan mahkota ini? Aku takut mahkotanya jatuh," ucap Lara dengan suara memohon. Fabio terkekeh geli sebelum mengangguk.
"Baiklah, istriku," jawabnya sebelum menurunkan mahkota tersebut. Ia meletakkannya kembali ke tempat mahkota itu berada. "Jika kau ingin menjualnya, aku tidak akan marah. Mahkota ini milikmu."
"Aku tidak akan berani menjualnya. Walau memang harganya sangat mahal, tapi ini hadiah pernikahan dari suamiku," ucap Lara dengan wajah polosnya.
"Lara, terima kasih karena sudah mau menikah denganku," ucap Fabio sebelum menarik Lara ke dalam pelukannya. "Aku sangat bahagia."
"Aku juga sangat bahagia. Aku yang beruntung karena sudah menikah dengan Kak Bi. Hidupku yang sekarang adalah impian semua wanita yang ada di luar sana. Sampai sekarang aku sendiri masih tidak percaya kalau aku bisa berada di mansion ini sebagai istri Fabio Cassano."
__ADS_1
"Mana hadiah untukku?"
Permintaan Fabio lagi-lagi membuat Lara kaget. Wanita itu tidak menyangka kalau Fabio akan menagih hadiah darinya.
"Hadiah?"
"Ya. Aku sudah memberi hadiah ini untukmu. Lalu, mana hadiah untukku?"
"Aku tidak menyiapkan hadiah apapun untuk Kak Bi," jawab Lara dengan wajah sedih.
"Bukankah kau sudah menyiapkannya?" Fabio mengusap lembut pipi Lara. Pria itu mendekati wajah Lara dan menghirup aroma tubuh wanita itu dengan mata terpejam. "Tubuhmu hadiahnya Lara."
"Kak Bi, tapi ...."
"Sttt. Memutuskan untuk menikah denganmu, aku sudah siap untuk menerimamu apa adanya. Jadi, jangan bahas tentang masa lalu untuk saat ini. Oke?" pinta Fabio.
Pria itu berpikir kalau Lara akan menjelaskan kalau dirinya sudah tidak perawan lagi karena Alex adalah pria pertamanya. Padahal sebenarnya Lara tidak ingin mengatakan kalimat seperti itu karena memang sudah jelas dia masih perawan. Lara hanya ingin bilang kalau dia takut. Ini pengalaman pertama baginya dan Lara harap Fabio bisa melakukannya dengan hati-hati.
__ADS_1
"Apa kau sudah siap?" tanya Fabio.
Sebenarnya Lara sendiri sudah tidak konsentrasi dengan pertanyaan Fabio. Kini tangan pria itu mulai meraba area dadanya. Membuat Lara salah tingkah dan tidak berani memandang wajah Fabio secara langsung.
"Hmmm, ya."
Fabio tersenyum penuh arti mendengar jawaban Lara. Pria itu menarik pinggang Lara dan mendaratkan bibirnya di sana. Memang cukup lembut dia mencium bibir Lara. Namun, ketika hasrat pria itu mulai bangkit, dia mulai memperlihatkan sikapnya sebagai seorang pria. Fabio mengangkat tubuh Lara dan membawanya ke ranjang yang ada di ruangan rahasia tersebut. Entah kenapa pria itu tidak mau melewatkan malam pertamanya di ranjang yang biasa di tiduri.
Lara memandang langit-langit kamar sebelum merema*s seprei berbahan satin yang kini ia tiduri. Tidak ada lagi kalimat yang bisa diucapkan Lara. Suaminya seperti sudah tidak sanggup untuk bernegosiasi. Satu-satunya yang dilakukan Lara adalah mempersiapkan diri karena tidak lama lagi dia akan kehilangan kehormatan yang selama ini dia jaga.
Fabio memperlakukan Lara dengan penuh cinta. Pria itu memang kelihatan kesulitan untuk bersikap lembut. Namun, Lara bisa tahu kalau Fabio sudah berjuang keras untuk bersikap lembut. Ia mencumbu seluruh tubuh Lara. Membuka satu persatu piyama yang dikenakan istrinya.
"Kak Bi, aku sangat mencintaimu," ucap Lara. Ia ingin suaminya tahu kalau ia menyerahkan kehormatannya karena dia sangat mencintai Fabio. Hal itu membuat Fabio tersenyum sebelum mengecup pucuk kepala Lara.
"Aku juga sangat mencintaimu."
Fabio mulai memiliki istrinya. Awalnya pria itu merasa kesulitan. Ia mengernyitkan dahi ketika melihat Lara meneteskan air mata seolah menahan rasa sakit.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Apa Lara melakukan olahraga hingga ia bisa serapat ini?" gumamnya di dalam hati. Karena tidak mau sampai malam pertamanya gagal, ia memaksa miliknya masuk lebih dalam lagi. Hingga akhirnya ia berhasil menembus pembatas itu dan menjadi pria pertama yang memiliki istrinya.
Lara tersenyum bahagia. Rasa perih itu berangsur hilang ketika ia melihat suaminya bahagia. "Akhirnya. Aku berhasil memberikannya kepada pria yang aku cintai. Aku harap, Kak Bi adalah pria yang akan menemaniku sampai akhir hayat nanti," gumam Lara di dalam hati.