Unperfect Wife

Unperfect Wife
Part Bonus


__ADS_3

Walter melajukan mobilnya setelah ia mengantarkan Fabio dan Lara pulang ke rumah. Pria itu melirik jam tangannya sekilas sebelum mengambil ponsel. Ada beberapa jadwal rapat yang harus ia datangi hari ini. Wajahnya berubah lelah. Ia lebih suka bermain dengan dengan senjata api daripada pulpen dan laptop.


Setibanya di perusahaan, Walter segera memasukkan ponselnya ke dalam saku sebelum turun. Ia merapikan jas hitam yang kini ia kenakan sebelum melangkah masuk.


"Tuan!"


Langkah Walter terhenti ketika seseorang dengan berani berteriak di dekatnya. Beberapa sekuriti yang ada di depan pintu masuk segera berlari untuk menghalangi wanita itu mendekati Walter.


"Tuan, berhenti!" teriak wanita itu lagi hingga berhasil membuat Walter memutar tubuhnya.


"Nona, apa yang anda lakukan di sini? Pergi dari sini atau kami akan mengusir anda dengan cara kami!" ancam salah satu sekuriti sambil menarik paksa tangan wanita itu.


Walter mengeryitkan dahinya. Ia memandang wanita itu sambil mengingat-ingat siapa sebenarnya dia. Jelas saja Walter tidak ingat hingga akhirnya memutuskan untuk kembali melangkah masuk ke dalam. Ia menganggap wanita tersebut hanya wanita gila.


"Tuan Walter! Saya kehilangan masa depan saya setelah anda menabrak saya!"


Kali ini Walter tidak lagi bersikap sepele. Pria itu memutar tubuhnya dan memandang wanita itu lagi dengan saksama. "Siapa kau?"


"Saya wanita yang tadi anda tabrak!" sahut wanita itu dengan cepat. Ia masih berjuang keras melepas tangan sekuriti yang kini ingin menyeretnya agar pergi.


Walter menghela napas kasar. "Biarkan dia masuk," ucap Walter sebelum memutar tubuhnya. Beberapa sekurity itu segera melepaskannya setelah mendapat perintah.


Wanita itu tersenyum bahagia. Ia mengejar Walter dia mengikuti Walter dari belakang.

__ADS_1


"Sepertinya kakimu sudah sembuh," ucap Walter ketika pria itu berhenti di depan lift.


Wanita itu tersadar. Ia memegang kakinya sambil meringis kesakitan. "Tuan, kaki saya sakit sekali. Bahkan dokter saja tidak bisa menyembuhkannya," lirihnya dengan wajah memelas.


Walter masuk ke dalam lift. Pria itu memandang wanita tersebut dengan tatapan tajam agar seger masuk ke dalam lift. Dengan kaki tertatih-tatih wanita itu melangkah masuk ke dalam lift dan berdiri di samping Walter.


"Tuan, perusahaan ini sangat besar. Apa saya bisa bekerja di perusahaan ini?"


Walter masih belum mau menjawab. Pria itu lebih memilih diam sambil memandang ke depan seperti sebuah patung.


Pintu lift terbuka. Pertama kali melangkah ke luar lift, Walter sudah di sambut dengan Vera. Wanita itu mengukir senyum ramah sebelum memandang wanita yang ikut bersama Walter.


"Tuan, siapa dia?" Vera lagi-lagi memandang fisik. Penampilan wanita itu serba pink dan sangat norak menurut Vera.


"Siapkan ruang rapat," perintah Walter tanpa mau menjawab pertanyaan Vera.


Walter membawa wanita itu ke dalam ruang kerjanya. Setelah mereka ada di dalam, pria itu memilih duduk sejenak untuk menyelesaikan masalahnya dengan wanita yang tadi secara tidak sengaja ia tabrak.


"Berapa kurangnya?" tanya Walter tanpa mau banyak basa-basi. Ia memandang wanita serba pink itu sekilas sebelum memalingkan ke arah lain.


Wanita itu lagi-lagi terpaku melihat wajah tampan Walter. Namun, ia cepat-cepat menyadarkan dirinya sendiri. "Uang yang anda berikan tidak cukup. Saya sudah ke dokter dan dokter-"


"Berapa kurangnya?" tanya Walter sekali lagi.

__ADS_1


Wanita itu diam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu. "Sebenarnya saya butuh kerjaan. Jika kaki saya sudah cacat seperti ini. Mana ada perusahaan yang mau menerima saya." Ia mengambil sebuah dokumen dari dalam tas dan memberikannya kepada Walter. "Anda bisa baca CV saya. Siapa tahu anda sedang mencari pekerja yang kriterianya sama seperti saya."


Walter menghela napas kasar. Ia tidak suka membuang-buang waktu seperti ini. Tapi, entah kenapa hingga detik ini ia masih meladeni wanita yang ada di hadapannya. Dengan wajah tidak bersemangat Walter mengambil dokumen itu dan membukanya. Ternyata wanita yang berdiri di hadapannya memang wanita yang berprestasi. Ia lulusan perguruan tinggi nomor satu yang ada di negara ini.


"Apa kau pernah bekerja sebelumnya?"


"Belum. Hari ini interview pertamaku. Tetapi, anda telah menghancurkan masa depanku. Kakiku jadi cacat seperti ini," jawabnya dengan wajah sedih.


"Kau ingin bekerja menjadi apa?" tawar Walter.


"Anda bertanya pada saya?" Wanita itu menunjuk dirinya sendiri.


"Apa ada orang lain selain kita berdua?"


"Tuan Walter, jika anda tidak keberatan saya ingin bekerja sebagai sekretaris pribadi anda," jawab wanita itu dengan senyuman.


"Baiklah. Di terima," jawab Walter santai.


"Apa? Anda serius? Semudah itu?"


"Ya, mulai sekarang kau bekerja sebagai sekretaris pribadiku. Namun, ada syarat yang harus kau penuhi selama bekerja di perusahaan ini."


"Apa syaratnya, Tuan?"

__ADS_1


"Kau harus bekerja sambil memakai semua barang berwarna pink. Jika besok aku lihat, ada barang yang warnanya berbeda. Kau akan langsung saya pecat!"


"WHAT?"


__ADS_2