Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 67. Pesan dari Greta


__ADS_3

Fabio mematikan mesin mobilnya ketika sudah tiba di parkiran yang letaknya tidak jauh dari pintu utama masuk ke mansion. Pria itu memandang ke arah Lara yang memang sudah tidur sangat lelap.


Fabio menghela napas sebelum turun dari mobil. Pria itu membuka pintu mobil dan mengangkat Lara ke dalam gendongannya. Ia menatap wajah Lara untuk beberapa saat.


"Chubby. Sudah banyak wanita cantik yang aku temui selama ini. Tapi kenapa ketika melihatmu aku merasa ada yang berbeda. Kau spesial Lara. Kau wanita yang sempurna di mataku," gumam Fabio sebelum melangkah menuju ke mansion.


Walter keluar dan berdiri di depan pintu ketika tahu kalau Fabio sudah tiba. Ia menunduk hormat sebelum memandang Fabio dengan wajah yang serius.


"Bos, tadi-"


Fabio mengangkat jemarinya yang saat itu sedang ada di bawah kaki Lara. Itu pertanda agar Walter tidak melanjutkan kalimatnya. Fabio tidak mau sampai Lara tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa lagi masalah yang kini ia hadapi berhubungan dengan Alex Moritz. Fabio tidak mau Lara terlibat di dalamnya.


"Maafkan saya Bos." Walter memberi jalan kepada Fabio untuk masuk ke dalam.


"Aku akan menemuimu nanti!" ucap Fabio sebelum melangkah masuk ke dalam mansion. Walter memasang wajah yang sangat serius. Pria itu segera pergi ke ruang pribadi Fabio untuk menunggu pria itu di sana.


Fabio keluar dari lift ketika pintu telah terbuka. Ia melangkah dengan sangat tenang. Saat berjalan, Fabio bisa mendengar dengan jelas teriakan dari ruang eksekusi tempat Alex kini berada. Lokasinya tepat di bawah kakinya kini berpijak.


"Aku harus segera melakukan sesuatu," gumam Fabio di dalam hati. Ia membawa Lara menuju ke kamar tidur.


Lara mulai tidak nyaman ketika berada di gendongan Fabio. Saat belum sampai ke kamar, Lara sudah membuka matanya dan memandang wajah Fabio dengan tatapan setengah sadar.


"Apa aku bermimpi?" tanya Lara pelan.


"Anggap saya. Iya," jawab Fabio pelan juga. Pria itu membuka pintu kamar dan masuk ke dalam kamar tidur Lara. Ia ingin segera tiba di dekat tempat tidur agar bisa meletakkan Lara di atas sana.


Lara mengucek kedua matanya. Ketika Fabio meletakkannya di atas tempat tidur, Lara memegang leher Fabio dan tersenyum manis.


"Kenapa mimpiku indah sekali?" igau Lara dengan mata setengah ngantuk. Bahkan seperti ingin tidur lagi.


Fabio menghela napas. Ia tidak mau debaran tidak karuan itu muncul lagi. Dengan cepat Fabio melepas tangan Lara yang ada di lehernya.

__ADS_1


"Tidurlah. Kau pasti lelah." Fabio menarik selimut yang ada di bawah kaki Lara. Tanpa mau mengatakan satu katapun, Fabio melangkah pergi meninggalkan kamar itu. Sedangkan Lara. Ia berusaha bangun untuk memastikan semua ini bukan hanya mimpi.


"Kak Bi? Apa pria tadi adalah Kak Bi? Kak Bi yang sudah membawaku masuk ke kamar ini? Kak Bi menggendongku?" ucap Lara masih tidak yakin. Ia melebarkan kedua matanya dan duduk di atas tempat tidur.


Lara melihat ponselnya yang berdering. Wanita itu mengambil tas miliknya agar bisa mengambil ponselnya. Lara mengucek matanya lagi sebelum melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Greta?" Lara duduk di atas tempat tidur dan mengangkat panggilan masuk dari Greta. Ia sangat penasaran. Sebenarnya apa yang ingin disampaikan Greta hingga wanita itu menghubunginya selarut ini.


"Halo Greta. Apa kau baik-baik saja?"


"Kak, tolong Greta."


Lara mengeryit dengan wajah khawatir. "Ada apa Greta? Apa kau dalam masalah?"


"Kak Alex kak."


Lara diam sejenak. Setiap kali mendengar nama Alex, luka yang sudah hampir sembuh itu kembali terasa perih. Namun Lara juga tidak tega mendengar Greta menangis lirih seperti itu. Apa lagi kini posisinya Greta itu sebatang kara. Lara tidak mau Greta merasakan penderitaan yang pernah ia rasakan dulu.


"Tadi Greta mau ke apartemen untuk ngambil barang. Lara ngelihat Kak Alex keluar dari kamar Greta. Sepertinya dia lagi cariin Greta. Tapi Greta gak mau muncul. Lalu, Greta ikuti Kak Alex sampai ke hotel yang sekarang dia jadiin tempat tinggal. Greta gak tega lihat keadaan Kak Alex yang sekarang. Jadi Greta putuskan untuk menemui Kak Alex. Tapi, waktu Greta belum sempat bertemu Kak Alex. Tiba-tiba ada tiga pria yang datang menemui Kak Alex. Mereka memukul Kak Alex dan membawa Kak Alex pergi kak. Greta gak tahu sekarang harus bagaimana. Pria-pria itu terlihat sangat menyeramkan. Mereka membawa senjata api!"


"Greta, tenang dulu ya. Jangan nangis," bujuk Lara.


"Kak, apa yang harus Greta lakukan? Hanya Kak Alex yang sekarang Greta punya. Sejahat apapun Kak Alex, dia tetap kakak kandung Greta," lirih Greta yang dilengkapi dengan isak tangis.


"Greta, apa kau kenal dengan pria yang sudah membawa Kak Alex? Apa mereka orang-orang terdekat Kak Alex?"


"Gak kak. Mereka memakai jaket hitam. Tapi Greta sempat foto. Greta kirim ke kakak ya sekarang."


Lara diam sejenak sembari menunggu kiriman foto tersebut. Setelah pesannya masuk, Lara segera membuka dan melihat foto pria yang sudah menangkap Alex.


"Walter?" Ekspresi wajah Lara kaget bukan main ketika melihat pria yang menangkap Alex adalah orang yang sangat ia kenali.

__ADS_1


"Kak, apa kakak sudah lihat fotonya? Kakak kenal sama orang itu?"


"Greta, ini sudah malam. Sebaiknya kau tidur. Besok pagi kakak hubungi lagi ya." Lara segera memutuskan panggilan telepon tersebut. Ia kembali memastikan kalau wajah pria yang di kirim Greta adalah wajah Walter.


"Walter? Kenapa dia menangkap Kak Alex?"


Lara memandang ke depan. "Tadi di mobil Kak Bi sempat teleponan sama seseorang. Apa itu Walter? Apa Kak Bi meminta Walter menangkap Kak Alex? Tapi, untuk apa? Apa sekarang Kak Alex ada di mansion ini? Di ruang eksekusi?"


Lara melirik ponselnya ketika Greta mengirim pesan singkat. "Kak, besok kakak sibuk gak? Kakak temui Greta ya. Di rumah ini. Rumah kakak."


Lara segera membalas pesan Greta. "Besok kakak ke sana ya. Sekarang Greta tenang dulu. Istirahat karena sudah malam."


Lara beranjak dari tempat tidur. Wanita itu melangkah ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Karena terbangun di tengah malam, Lara jadi sulit untuk tidur. Ia menatap wajahnya di depan cermin sambil memikirkan kabar Alex sekarang. Satu-satunya hal yang membuatnya merinding adalah ketika membayangkan Alex berada di ruang gelap itu dan dalam keadaan di siksa. Lara tidak sanggup. Sejahat apapun Alex dulu. Tapi Lara tidak suka membalas dengan cara melukai apa lagi sampai menyiksa.


"Aku harus memastikan sendiri. Apa benar orang yang ada di ruangan itu adalah Kak Alex."


Lara segera mengeringkan wajahnya. Ia berjalan ke arah pintu dengan langkah yang hati-hati. Ketika membuka pintu, Lara mengeluarkan kepalanya lebih dulu untuk mengintip sebelum keluar.


Debaran jantung Lara menjadi tidak karuan ketika ia membayangkan lorong menuju ke ruang eksekusi itu gelap dan sangat dingin. Menakutkan sekali memang. Apa lagi jika harus berjalan di jam tengah malam seperti sekarang.


"Aku harus berani. Gak boleh takut!" gumam Lara menguatkan dirinya sendiri. Lara memandang ke belakang sebelum lanjut melangkah ke depan. Ia menelusuri lorong panjang dan dingin itu dengan langkah yang hati-hati. Lara juga ingin memastikan kalau tidak ada orang yang melihatnya.


Ketika tiba di sebuah ruangan luas, Lara menatap satu persatu pintu yang ada di sana. "Waktu itu pintunya yang mana ya," gumam Lara bingung.


Sudah enam bulan Lara tidak muncul di tempat tersebut. Lara lupa masuk ke ruang bawah tanah melalui pintu yang mana.


"Mungkin yang ini." Lara berjalan ke arah pintu yang menurutnya adalah pintu yang akan menghubungkannya ke ruang bawah tanah tempat ia melihat pria yang diikat dulu.


Ketika Lara memegang handle pintu, Lara mendengar teriakan seseorang. Wanita itu menjadi ragu. Ia menutup mulutnya sendiri.


"Suara itu. Kenapa suaranya mirip Kak Alex? Apa benar kini Kak Alex lagi di siksa di ruang bawah tanah itu oleh Kak Bi?"

__ADS_1


__ADS_2