Unperfect Wife

Unperfect Wife
Bab 64. Musuh Dadakan


__ADS_3

Walter berlari kencang ketika orang yang ia incar berusaha untuk kabur. Pria itu sudah menggengam senjata apinya. Ia tidak mau sampai musuhnya lolos begitu saja. Walter bertekad untuk menangkap musuhnya itu hidup-hidup sebelum nanti menyeretnya ke depan Fabio.


Di atap gedung mall itu ada tempat untuk helikopter. Pria yang kini di incar Walter berlari menuju ke lift karena ingin kabur ke atap gedung. Walter sendiri masih tidak menyerah. Ia masuk ke lift yang ada di sebelahnya agar bisa menangkap musuh.


Ketika pintu lift terbuka, keadaan di atas sana sunyi. Tidak ada apapun selain embusan angin yang dingin. Langit sudah berwarna orange pertanda kalau tidak lama lagi malam akan segera tiba. Dengan langkah yang hati-hati, Walter mencari pria itu. Ia yakin, kalau orang yang ia cari pasti ada di sekitar sana.


“Anda mencari saya, Tuan?” Seorang wanita berdiri dengan senyum merekah di bibirnya. Wanita itu memegang senjata api dan siap untuk menembak. Walter memutar tubuhnya dan menodongkan senjatanya. Ia syok ketika melihat sosok wanita berdiri di sana. Bukan pria seperti yang tadi ia kejar.


“Siapa kau? Untuk apa kau ada di sini?” tanya Walter sambil mengulur waktu. 


Wanita itu melangkah maju. Ia sama sekali tidak takut kalau kini ada senjata api yang ditodongkan ke arah tubuhnya. “Saya di sini karena ingin membantu Bos saya untuk menghabisi bos anda!” jawab wanita itu dengan tatapan penuh percaya diri. Ia berpikir kalau bisa dengan mudah mengalahkan Walter agar tidak pernah bisa bertemu dengan Fabio.


Walter sadar kalau semua ini adalah jebakan agar ia tidak bisa melindungi Fabio. Pria itu segera melayangkan pukulan ke arah wanita jahat yang kini ada di depan matanya. Namun, dengan sigap wanita itu menghindarinya. Ia tidak lupa untuk membalas perbuatan Walter dengan memberinya tendangan di kaki.


Pertengkaran hebatpun terjadi. Walter berjuang keras mengalahkan wanita itu agar ia bisa membantu Fabio yang mungkin detik ini juga sedang berjuang menyelamatkan dirinya dan Lara.


Di parkiran, Fabio membawa Lara masuk ke dalam mobil. Pria itu memandang ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada yang aneh di sana. Ia segera masuk setelah memastikan keadaan aman. Setelah duduk di balik jok, Fabio segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


“Di mana Walter? Apa dia dalam bahaya?” gumam Fabio dengan wajah khawatir.


Lara memandang ke arah jendela. Wanita itu lagi-lagi di buat kaget ketika melihat Alex berdiri sambil menatap wajahnya. Namun kali ini Lara tidak mau mengatakan satu katapun. Ia takut semua yang ia lihat hanya halusinasi semata. 


“Lara, apa kau bisa mengemudi?” 


“Bisa kak,” jawab Lara cepat.


Fabio segera memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Pria itu menatap wajah Lara dengan begitu serius. “Naiklah ke mobil yang ada di depan sana.”Fabio menunjuk mobil yang berhenti di pinggiran jalan. Mobil itu juga bagian dari property miliknya. “Aku akan selalu ada di dekat mobil itu. Tapi, demi menyelamatkanmu. Aku harus membiarkanmu naik mobil di depan.”

__ADS_1


“Ada apa kak?” tanya Lara khawatir.


Fabio memegang kedua pipi Lara. Ia menatap wanita itu dengan tatapan tidak tega. “Pergi ke hotel Alexander dan tunjukkan pistol tadi kepada pria yang berdiri di dekat pintu masuk memakai jas warna putih. Kau akan aman. Hotelnya 10 kilometer dari sini.”


“Tapi, Kak.”


“Sekarang!” ucap Fabio dengan tegas.


Lara tidak berani banyak bicara. Ia segera turun dari mobil dan berlari ke mobil depan. Setelah Lara masuk dan melajukan mobilnya, Fabio segera melajukan mobilnya juga. Pria itu mengiringi mobil Lara yang ada di depan.


“Aku tidak bisa melibatkanmu. Ini sangat beresiko,” gumam Fabio di dalam hati.


Di dalam mobil, Lara terlihat tidak tenang. Ia tidak kosentrasi lagi melajukan mobilnya. Ada perasaan khawatir dan  takut. Ia tidak mau sampai Fabio celaka. Tapi, Lara juga tidak mau membantah apa yang dikatakan Fabio. 


“Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Lara. Ia menambah laju mobilnya agar bisa segera tiba di hotel yang tadi dikatakan Fabio. Setelah Lara membelokkan mobilnya masuk ke dalam hotel, Fabio terus melanjutkan perjalanannya. Lara memberhentikan mobilnya sejenak sebelum menghela napas. “Kak Bi. Semoga dia baik-baik saja.”


Lara segera masuk menuju ke tempat parkir. Ia turun dari mobil dan melangkah dengan sangat cepat. Setelah ia  berhasil menemukan pria yang tadi dikatakan Fabio, Lara segera mendekati pria itu. Dengan napas yang terputus-putus, Lara berusaha mengatakan sesuatu.


“Kak Bi.  Kak Bi.” Lara terlihat kesulitan bicara. Wanita itu tadi berlari dengan jarak yang cukup jauh antara tempat parkir dan pintu masuk hotel.


“Kak Bi? Siapa Nona?” tanya pria itu bingung.


Lara segera membuka tasnya. Ia mengeluarkan senjata api yang membuat pria itu langsung waspada. “Fabio Casssano. Dia memberikan ini padaku dan memintaku untuk menemui anda,” ucap Lara dengan napas yang mual stabil.


Ekspresi wajah pria itu berubah. Ia mengambil senjata yang dipegang Lara dan memeriksa tanda pengenal yang tersemat di sana. “Nona, ikut dengan saya.” Pria itu memberikan senjata api itu kepada Lara lagi. Ia membawa Lara masuk ke dalam hotel.


Pria itu adalah bagian dari pasukan mafia milik Fabio. Ia memang di tugaskan ada di depan pintu hotel untuk menjaga keamanan hotel tersebut. Tetapi, selain menjaga tamu hotel ia juga bertugas untuk membantu Fabio jika berada dalam keadaan genting seperti sekarang.

__ADS_1


Pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Ia ingin memberi kabar rekannya yang lain kalau Fabio dalam bahaya dan kini ada seorang wanita yang harus mereka lindungi. Mungkin nyawa mereka taruhannya jika mereka sampai gagal menjaga Lara.


Lara masih terus saja memikirkan Fabio. Ia tidak bisa tenang apa lagi setelah tahu kalau Fabio adalah seorang big boss mafia. “Tuan, apa anda mengenal Tuan Fabio?” tanya Lara pelan.


“Tuan Fabio adalah orang baik, Nona,” jawab pria itu dengan senyuman.


“Tuan, saya akan baik-baik saja di sini. Jika Kak Bi sekarang dalam bahaya, tolong bantu dia. Saya tidak keberatan di tinggal sendiri,” ucap Lara dengan wajah memohon. 


Pria itu hanya bisa tersenyum. Setelah lift terbuka ia membawa Lara menuju ke kamar yang sudah ia persiapkan untuk Lara. Sebelum Lara muncul, Walter memang sudah memesan dua kamar untuk Lara dan Fabio. 


“Nona, ini kunci kamar anda.” Pria itu memberikan sebuah kunci kepada Lara. Lara menerima kunci tersebut dengan perasaan yang ragu. Ingin sekali ia mencari keberadaan Fabio untuk memastikan pria itu baik-baik saja. Namun, ia tidak memiliki kemampuan apapun. Lara sadar, kalau hadirnya hanya akan membuat Fabio dalam masalah.


“Nona,” ucap pria itu lagi ketika Lara hanya berdiri melamun.


“Terima kasih,” ucap Lara. Ia menerima kunci tersebut dan segera membuka pintu. 


“Nona.” Pria itu mencegah Lara masuk ke dalam. 


“Ya.”


“Sebaiknya anda tidak membuka pintu untuk siapapun,” ucap pria itu memperingati.


Lara mengangguk. Namun, belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, tiba-tiba.


DUARRR


Sebuah peluru mendarat di pelipis kanan pria itu. Lara syok bukan main melihatnya. Bahkan wajah Lara terkena darah pria tersebut. 

__ADS_1


Pria itu segera terjatuh. Lara memandang ke kiri. Ia melihat seorang pria bersenjata berdiri di sana dengan senjata api. Lara segera masuk ke dalam. Ia sangat-sangat ketakutan. Lara mengunci pintu kamar itu sebelum masuk lebih dalam lagi. Tubuhnya gemetar hebat karena ketakutan.


“Kak Bi, tolong Lara,” gumamnya lirih.


__ADS_2