
Lara meletakkan ponselnya di atas ranjang dengan wajah sedih. Baru saja ia mendapat kabar kalau Fiona telah tewas. Wanita itu dikabarkan bunuh diri dengan cara melompat dari gedung apartemen.
Lara merasa bersalah. Ia tidak pernah menyangka kalau aksi balas dendamnya akan memakan korban. Bahkan wanita yang sedang hamil. Ada anak yang tidak berdosa di dalam rahim wanita itu.
"Fiona. Padahal baru tadi kami bertemu." Lara menunduk dan menutup wajahnya dengan tangan. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud melukaimu hingga separah ini. Aku hanya ingin kau merasakan apa yang pernah aku rasakan. Aku sakit hati ketika kau merebut Kak Alex bahkan bermesraan dengan Kak Alex waktu itu. Aku ingin kau juga merasakan saktinya di abaikan. Sakitnya di duain. Sakitnya dicampakkan. Aku tidak pernah memiliki niat untuk membuatmu depresi apa lagi sampai bunuh diri."
Lara mengangkat kepalanya dan memandang ke depan. "Ini semua salah Kak Alex. tidak seharusnya ia memperlakukan Fiona sekasar tadi. Dia memang pria yang tidak memiliki hati. Bahkan tangannya juga pernah menampar wajahku. Aku pernah ada di posisi Fiona jadi aku tahu apa yang dia rasakan. Walaupun Fiona salah, tapi kesalahan ini berasal dari Kak Alex.
Kalau saja dia tidak pernah melanjutkan hubungannya dengan Fiona pasti semua ini tidak akan terjadi. Orang yang harus bertanggung jawab atas semua masalah ini adalah Kak Alex! Aku pastikan ia menderita hingga tidak sanggup lagi menghadapi semua masalah ini! Dia harus bertanggung jawab!"
Di ruang lain, Fabio menyusun peluru di atas meja hingga berbentuk sebuah huruf L. Pria itu seperti tidak sadar dengan apa yang sedang ia lakukan. Sesekali bibirnya tersenyum. Entah apa yang kini sedang memenuhi pikirannya.
Walter yang sejak tadi berdiri di sana hanya bisa menghela napas tanpa berani mengatakan satu katapun. Ia tahu apa arti huruf L itu. Sudah pasti nama Lara. Kini Big Boss mafia itu sedang memikirkan wanita yang tidur di salah satu kamar yang ada di mansionnya.
Fabio mengangkat kepalanya dan memandang Walter dengan alis saling bertaut. "Apa yang kau lihat?"
"Bos, apa itu sebuah peta?" tanya Walter pura-pura tidak tahu.
Fabio melirik susunan pelurunya yang ada di meja sebelum berdehem pelan. "Ya. Ini sebuah peta. Lokasi yang akan kita serang besok," dusta Fabio.
"Rumahnya berbentuk huruf 'L' Bos?"
Fabio terlihat bingung. "Peta ini belum selesai," sangkalnya. Ia mengambil beberapa peluru lagi dan meletakkannya di atas meja. Hingga akhirnya bentuk yang tadinya huruf L kini menjadi huruf U.
__ADS_1
Walter mengangguk. "Bos, anda tidak mau menemui Nona Lara?"
"Untuk apa?" Fabio beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu mengambil anggur merah dan sebuah gelas. "Dia pasti sudah tidur." Fabio menuang anggur tersebut di dalam gelas sebelum meneguknya secara perlahan.
"Sepertinya Nona Lara sedang bersedih. Baru saja ada yang memberi kabar kalau ternyata Fiona bunuh diri. Wanita seperti Nona Lara, pasti akan memikirkan kejadian itu. Apa lagi wanita itu bunuh diri di lokasi apartemen yang ditempati Nona Lara."
"Bukannya bagus jika wanita itu mati?" jawab Fabio. Ia meneguk lagi minumannya. "Itu hal yang biasa."
"Tapi, tidak biasa bagi wanita seperti Nona Lara, Bos," jawab Walter. Bagaimanapun juga, Walter jauh lebih peka dengan wanita jika dibandingkan dengan Fabio. Di kantor, Walter sering bertemu dengan banyak wanita. Berbeda dengan Fabio yang lebih tertutup bahkan anti dengan wanita.
Fabio diam sejenak. "Dia tidak bisa seperti itu. Balas dendamnya masih setengah jalan. Jika di titik ini saja dia sudah bersedih, ia tidak akan sanggup melanjutkan permainan selanjutnya. Alex bukan pria yang biasa. Saya tahu siapa dia." Fabio meneguk minumannya lagi.
"Alex Moritz maksud Anda, Bos? Dia pria yang tidak bisa apa-apa. Penakut!"
Fabio menggeleng. "Dia bertingkah seperti itu karena dia sedang menutupi jati dirinya. Itu kenapa, aku meminta pengawal untuk menjaga Lara selama ini. Aku tidak mau Lara sampai celaka."
"Sejauh ini tidak. Tapi, aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan nanti ketika dia tahu kalau Lara sudah berhasil memiliki rumah dan beberapa aset berharga yang ia miliki." Fabio menepuk pelan pundak Walter. "Musuh yang paling berbahaya adalah musuh yang terlihat lemah!"
Fabio pergi meninggalkan Walter. Pria itu ingin pergi ke kamar tidurnya dan beristirahat. Sedangkan Walter masih berdiri di sana memikirkan perkataan Fabio yang setengah-setengah. "Apa ada rahasia yang tidak aku ketahui?" gumamnya di dalam hati.
...***...
Alex baru saja tiba di rumah sakit. Seorang perawat mengantarkan Alex menuju ruang jenazah. Sepanjang perjalanan, Alex terus saja membayangkan tingkah manja Fiona. Ia tidak menyangka kalau Fiona akan senekad itu.
__ADS_1
"Silahkan, Tuan." Perawat itu membukakan pintu. Alex segera masuk ke dalam.
Di dalam ruangan tersebut, terdapat satu jenazah yang kini di tutup oleh selembar kain putih. Alex menatap jenazah tersebut dengan tatapan tidak terbaca. Perawat itu berdiri di samping jenazah dan membuka kain bagian atas untuk memperlihatkan wajahnya.
"Tuan, anda kenal dengan nona ini?" tanya perawat itu. Ia berharap kalau Alex kenal dengan korban bunuh diri tersebut.
Alex tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika wanita yang terbaring kaku itu benar adalah Fiona. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Membuang napasnya dengan kasar.
"Ya, benar. Dia kekasih saya."
"Tuan, anda bisa mengurus administrasinya sebelum membawa jenazah untuk dikebumikan besok."
"Baiklah. Bisa tinggalkan saya sendiri?"
"Baik, Tuan." Perawat itu pergi tanpa menutup kembali wajah Fiona dengan kain. Alex melangkah maju dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Fiona. Aku tahu, tidak sepantasnya aku bersikap sekasar ini padamu." Alex berhenti di samping jenazah Fiona dan menatap wajah pucat itu dengan tatapan sedih.
"Bagaimana rasanya? Apa ini sakit? Apa kau sempat berteriak sebelum jatuh?"
Tidak lama kemudian wajah Alex berubah menjadi ceria. Pria itu tersenyum dan tertawa di depan jenazah Fiona.
"Tapi, aku merasa lega karena akhirnya kau mati Fiona. Kalau saja kau masih hidup, kau akan mempersulit jalanku untuk mendapatkan Lara. Kau adalah wanita licik, Fiona!"
__ADS_1
Alex tertawa kencang hingga memenuhi ruangan tersebut. Pria itu terlihat sangat bahagia karena akhirnya Fiona telah tewas.
"Selamat jalan Fiona. Aku harap kau bahagia bersama dengan Hana!" Alex memegang ujung kain putih dan menutup wajah Fiona. Pria itu memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan jenazah Fiona sendiri di ruangan sunyi tersebut.